Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2009

Punguan Pomparan Raja Mandidang Se-Jabodetabek akan manise ke rumah Kel. Pahotan Sitorus/br Marbun (A. Vinsensius) oleh karena beberapa waktu yang lalu Tuhan telah memanggil Ayahanda mereka (Op. Vinsensius doli) ke pangkuanNya.

Acara manise tersebut akan dilaksanakan pada:

Hari/tgl   : Sabtu 23 Mei 2009

Waktu      : pukul 12.00 wib (mohon hadir 30 menit sebelumnya)

Tempat  : Jl. Kutai II No. 9 Perumnas III Karawaci, Tangerang

hp. 081317697720

Kehadiran sdr/i untuk ” pasahathon hata togar-togar” sangat kami harapkan.

Ttd

Ketua

Read Full Post »

Ulaon Tardidi

Akan menerima Sakramen Baptisan Kudus yakni:

Nama : Namora Gabe br Sitorus

Putri dari : Bp. Sampe Sitorus / Ibu Priska br Sitanggang

Hari/ Tgl : Minggu 31 Mei 2009

Waktu : pukul 06.30 pada saat Kebaktian Minggu Pagi

Tempat : HKBP Bonang Indah – Tangerang

Syukuran atas baptisan tersebut akan di laksanakan pada siang hari pukul 12.00 s/d selesai di rumah Medang Lestari B3 K11-12 Medang Pagedangan Tangerang.

Kepada seluruh Pomparan Raja Mandidang se Jabotabek di mohon kehadirannya.

Pengumuman ini merupakan Gonghon dohot Jou-jou.

Ttd

Sampe Sitorus (A. Hitado Managam)

Read Full Post »

BAPTIS

Pelbagi macam cara aturan cerdik diciptakan untuk mepengaruhi orang-orang percaya dengan mempermasalakan atau dengan sengaja membuat masalah, sehingga banyak orang terperdaya atau terpengaruh dengan bujukan yang menyesatkan. Sepanjang sejarah Baptisan tidak pernah dipertentangkan, karena Baptisan dalam Alkitab tidak begitu rumit, namun setelah berdiri Anabaptis, baptisan mulai dipertentangkan, dan saat ini ada sekte tertentu (red. gerakan Kharismatik) yang mempertentangkan dengan tujuan untuk mengelabui orang-orang yang tidak mengerti apa itu Baptisan yang telah dia terima. Yang sering mempertentangkan Baptisan adalah kelompok Anabaptis dan sekte Kharismatik. Mereka berusaha membuat berbagai cara untuk mengatakan, bahwa ajaran mereka yang paling benar dari semua ajaran. Secara khusus menyangkut “Baptisan Kudus” yang banyak dipermasalahkan. Dampaknya banyak angkatan muda yang begitu gampang terpengaruh, jatuh dalam rayuan si penyesat, bukan orang muda saja, diperkirakan ada orang tua yang terpengaruh tetapi tidak terus terang. Orang-orang yang telah jatuh rayuan si penyesat, biasanya tidak bersedia meninggalkan gereja asalnya (red.HKBP, GKI, GPIB dll), mendatangkan dua pertanyaan, pertama: apakah dia mau mencari korban lain? Akan banyak korban lain, apabila kita tidak mengetahui secara benar Baptisan yang telah kita terima ketika kita masih kecil, ini dipersoalkan untuk mempengaruhi dan ini dapat membawa akibat yang buruk bagi iman seseorang. Kedua apakah dia karena malu kepada temannya, sebenarnya di tidak perlu malu kepada temannya yang lain. Ya jika Ya, tidak jikalau tidak, dia harus berani meninggalkan gereja asalnya jika sudah dibaptis ulang, yang menurut imannya itu yang benar, tidak mendua hati (red ½ HKBP, ½ Kharismatik) ,sudah sepantasnya dia malu pada Tuhan yang telah dipermainkannya.

Biasanya begitu gampang mereka menghukum dengan cap “Baptisan anak-anak yang kita terima” tidak syah, tidak benar, tidak sempurna, tidak alkitabiah dll, harus diulang. Untuk itulah orang – orang percaya “waspada kepada si penyesat” yang dengan rayuan dan tipuannya selalu berseru – seru “Baptisan gereja tertentu tidak syah, tidak ada Roh Kudusnya”. Perlu diberi penjelasan arti Baptisan secara theologis, dengan harapan angkatan muda dan kita semua tidak terpengaruh oleh ajaran – ajaran tertentu, yang hanya mengombang – ambingkan iman kepercayaan kita.

Pengertian Baptisan!

Istilah “baptisan” ada dua, yakni pertama “bapto, I dip, dipped in blood, I dye” yang diartikan “celup dan membenamkan” biasanya dipergunakan dalam konteks pengertian literal (Luk 16: 24; Yoh 13: 26; Why 19: 13 Holy Bible ABS – 1964 & A pocket Lexixon to the Greek New Testamen, 1972) dan kedua “baptizo” yang diartikan memandikan, membersihkan, dipakai dalam pengertian peribadatan (Mrk 7: 4). Di sisi lain Baptisan merupakan kultus pembersihan yang menghadirkan suatu yang baru melalui suatu perubahan. Proses ini biasanya melalui pemasukan kaki ke dalam air (Yos 3: 15) dan mencellupkan jari tangan ke dalam darah Perjanjian dan memercikkan sedikit dari darah itu (Im 4: 6, 17), artinya membenamkan ketidak kudusan sehingga terjadi penyucian. Bagi orang Yunani ini dikenal dalam Baptisan “Proselyt”, merupakan ritus penyucian bagi orang-orang yang berasal dari kafir, yang hendak memasuki persekutuan Yahudi. Sama seperti seorang anak kecil yang baru dilahirkan, yang kemudian terjadi banyak perubahan hidupnya dari hidup keberdosaan (kematian) kepada hidup yang baru.

Baptisan Yohanes!

Baptisan Yohanes, memperkenalkan suatu kesadaran akan Kuasa Mesias, yang mirip dengan baptisan proselyte dan itu dilakukan sekali untuk selamanya. Sedikit perbedaan antara kedua baptisan ini, yakni yang berhubungan dengan “eschatology”. Baptisan Proselyt menekankan terjadi dalam ruang lingkup mereka sendiri, sebaliknya lebih jelas dan urgen bagi Yohanes, yakni untuk mempersiapkan semua orang terhadap kedatangan TUHAN yang begitu dekat. Itulah yang membuat Yohanes pergi untuk mempersiapkan jalan, yang berhubungan dengan nubuat para nabi (Yes 1: 16; 4: 4, Yer 2: 22). Ini menunjuk kepada Kerajaan Allah yang akan datang dan dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.

Baptisan yang dilakukan Yohanes merupakan prakarsa terhadap pengumpulan “community Mesiani”, memanggil mereka untuk menyerahkan diri dibaptis dengan air, yang mendatangkan pertobatan, mencakup pembersihan moral dan sangat menentukan kepada pengampunan dosa. Kala itu baptisan Yohanes merupakan persiapan terhadap pelayanan dari “Seorang” yang akan datang dan sekali gus membawa penghakiman, Yohanes membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasutNya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api (Mat 3: 11).
Yohanes melihat ini dan meyakini penghakiman yang dibawaNya merupakan “Pembabatan”, kapak itu sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api (Mat
3: 10; Luk 3: 9 17).

Relevansi baptisan Yohanes kepada Yesus!

Mengapa Yesus datang kepada Yohanes, jika Dia tidak membutuhkan baptisan pertobatan? Yang pasti Yesus datang kala itu ke Yohanes, bukan menunjuk kepada pertobatan atau penyucian. Namun itu suatu penunjukkan akan suatu pemisahan diriNya untuk pelayanan Mesias yang telah diperdengarkan pada saat Dia menerima baptisan itu. Roh Allah turun atas Dia, terbukanya pintu surga yang mendahului pencurahan Roh yang dinampakkan melalui api dan cahaya sebagai gambaran penerimaan Tuhan. Halnya dengan seekor burung merpati sebagai pemurnian, kita melihat dari segi tradisi, bahwa peristiwa itu dalam tradisi Yahudi diyakini sebagai “kemurnian” yang mengungkapkan adanya suatu “pemilihan atau pengangkatan Yesus sebagai Raja”.
Dua hal yang perlu dipahami dalam peristiwa tersebut, yaitu: Pertama Baptisan itu memasukkan Yesus ke dalam maut dan kematian, kedua Baptisan itu merupakan penobatan atau pengurapanNya dalam dunia, untuk memulai tugas-tugasNya, misi pelayananNya di dalalm dunia ini sebagai Raja.

Sekilas menjadi pertanyaan, supaya kita tidak saling menuduh baptisan orang lain salah, baptisan kami yang benar yaitu: ”apakah kita mau menerima baptisan seperti yang diterima Yesus?” Kalau jawaban kita mau, kita harus ramai – ramai ke sugai Yordan, hanya untuk menerima baptisan? Tentu itu repot. Atau apakah kita mau menjadi pesaing utama baptisan Yesus. Kitalah yang paling kerdil dan picik, jika kita menganggap hanya Baptisan di sugai Yordan dan di sugai lainnya yang syah dan kudus. Kita membatasi kuasa Tuhan akan baptisan.

Penetapan Baptisan!

Penetapan diawali dari Amanat Agung / Perintah Yesus sendiri kepada murid – muridNya untuk pergi ke seluruh dunia. Dalam The Greek New Testament disebut “Mateteusate, baptizontes, teach, baptizing, ajari semua orang, baptis” di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Lalu bagaimana itu dilakukan? Pertama sekali, sebenarnya Pelayanan Baptisan hanya dibatasi pada jemaat – jemaat di Palestina. Tapi setelah kebangkitan Yesus berlalu, pelayanan Baptisan memperolah bidang cakup yang lebih luas, sesuai dengan tugas/perintah yang diberikan kepada para muridNya (Mat 28: 18 – 20). Perlu kita ingat bahwa Yesus sendiri tidak pernah melakukan pelayanan Baptisan melainkan murid-muridNya (Yoh 4: 2). Namun Ia menugaskan kepada murid-muridNya agar melakukan pelayanan Baptisan untuk membawa orang-orang yang percaya ke dalam persekutuan dengan Tuhan, dan orang yang dibaptis menjadi anak Allah berdasar pada karya penebusan AnakNya dan sekaligus pemberian Roh Kudus.

Kiasan Baptisan!

Kita harus sepakat mengerti, bahwa Keselamatan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia diberikan melalui baptisan, itu kita lihat dari beberapa kiasan yang dipakai, yaitu:

Pertama : Paulus mengatakan bahwa Baptisan itu sebagai “partisipasi” dalam kematian dan kebangkitan Yesus (Rom 6: 3 – 4; Kol 2: 12) dan yang menerima baptisan memperoleh keselamatan. Bapak Reformasi Marthin Luther katakana bahwa “hidup orang Kristen adalah baptisan, tiap saat manusia lama yang ada dalam diri kita, harus disalibkan dan dikuburkan dengan Yesus”. Ini dilakukan dengan menjalankan perbuatan kita sehari-hari sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan, manusia harus dibangkitkan bersama Yesus.

Kedua : Baptisan sebagai “pemberian Roh Kudus” yang membuat kita masuk dalam persekutuan dengan Yesus. Dengan Roh Kudus, keselamatan yang terkandung dalam kematian dan kebangkitan Kristus dapat kita terima dan hayati dalam hidup kita, karena di tanpa Roh Kudus, pelayanan baptisan menjadi ritual gereja yang tidak berarti. Roh yang sama menyatakan Yesus adalah Anak Allah (Mrk 1: 10 – 11), itulah yang memberikan kuasa dan mempersatukan para murid pada hari Pentakosta dan itulah yang mempersatukan kita dalam baptisan hingga kini.

Ketiga: Sebagai tanda “sunat” di dalam Kristus Yesus, karena sunat yang dilakukan manusia dalam Perjanjian Lama, tidak dapat menyelamatkan. Sunat dalam Kristus terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa (Kol 2: 11 – 12) yaitu penghapusan dosa dalam penumpahan darah dalam Yesus melalui sengsara dan kematianNya, dikuburkan dan dibangkitkan. Dalam Kristus, orang beriman telah menerima sunat hati dan itu terjadi dalam baptisan.

Keempat: Baptisan itu adalah tanda “Perjanjian Allah” dan oleh karena kurban Kristus, Allah berkenan mengampuni dosa orang yang dibaptis dan memberikan hidup yang kekal.

Kelima: Baptisan sebagai “materai” keselamatan dari Allah sekali dan untuk selamanya (Rum 6: 3 – 4; Kol 2: 12 – 13), dimateraikan oleh Roh Kudus (Ef 1: 13) dan memberikan kepastian .

Bagaimana Baptisan dilaksanakan

Kita tidak menerima perintah dari Yesus untuk melakukan baptisan dengan cara, tempat dan waktu tertantu. Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang membecirakan baptisan harus dilaksanakan di sugai, dicelupkan (red, ada yang melaksanakan di bak mandi), dipercikan dan dituangkan. Tidak ada satu ayatpun dalam Perjanjian Baru yang menunjukkan pada batas-batas umur untuk dibaptis, harus dewasa, harus bayi, tetapi yang ada hanya kepada kira-kira 3000 orang Yahudi yang dibaptiskan pada peristiwa Pentakosta (Kisah 2). Baptisan yang dilaksanakan haruslah apa yang diperintah Yesus: “Baptislah mereka di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus” dan baptisan yang dilaksanakan muridNya. Baptisan di Aion dekat Salim, itu yang diputuskan manusia Yohanes dengan alasan karena di situ banyak air (Yoh 3: 23). Bukan air Aion yang menyelamatkan, bukan air itu yang mempunyai kekuatan, melainkan Firman Tuhan yang ada di dalam air itu, tanpa Firman Tuhan di dalam air itu, air itu hanyalah air biasa saja dan bukan baptisan. Firman Tuhan itu yang memerintahkan untuk dibaptis. Tidak ada alasan untuk mengatakan baptisan yang di Aion dekat Salim itu yang melepaskan orang dari hukuman dosa kematian, melainkan “Perintah Yesus dan Firman Tuhan itulah yang membebaskan”

Dalam perkembangan gereja masa kini, ada beberapa cara teknis yang dilakukan dalam membaptis. Ada gereja yang sangat berkeras (red. terutama aliran Kharismatik dan Pentakosta) menentukan baptisan sesuai dengan tradisi Yohanes, dan bahkan menclaim baptisan selam yang mereka lakukanlah yang benar (red. jangan lupa itu juga merupakan keputusan manusia yang bernama Yohanes sebagai perintis kedatangan Mesias Yesus), karena Yesus tidak pernah menentukan baptisan dilakukan diselamkan di sugai, dicelupkan, dipercik, dituangkan, tapi Dia katakan “baptislah”. Namun itu tidak perlu dipersoalkan, sejauh pelayanan baptisan itu dilayani dengan air di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Simbolis air diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan tidak diremehkan. Penggunaan air itu menyatakan “penyucian ciptaan”, mereka yang dibaptis ke dalam tubuh Kristus diberi bagian pada hidup yang diperbaharui. Ada 3 cara baptisan yang dilakukan oleh gereja-gereja masa kini, yaitu:

Pertama : Menyiramkan, baptisan ini dilakukan dengan menyiramkan air ke kepala yang menerima baptisan dengan satu keyakinan, bahwa air itu bukanlah air biasa, melainkan air yang berisikan Firman dan Titah Allah yang telah dikuduskan. Bukan karena air itu si penerima baptisan mendapat Keselamatan dari keampunan dosa, melainkan Firman Tuhan itu, maka baptisan itu menyelamatkan.

Kedua : Memercikkan, baptisan ini dilakukan dengan memercikkan berulang kali ke atas kepala yang menerima baptisan. Baptisan seperti ini biasanya dilakukan dalam gereja Katolik dan gereja Ortodok

Ketiga : Menyelamkan, biasanya orang yang dibaptis diselamkan di dalam kolam air, di sugai dan sejenisnya secara langsung, ini mengikuti baptisan tradisi Yahudi yang dilakukan Yohanes dan Petrus di sugai dan umumnya dilakukan oleh Pentakosta dan Kharismatik.

Bukan disiram, dipercikkan dan diselam yang menjamin kebenaran pelaksanaan baptisan, yang menjamin hanya dilaksanakan dalam Perintah Yesus, yaitu baptis mereka dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sekali lagi untuk dipahami “diselamkan di sugai adalah yang dibuat manusia Yohanes Pembaptis dalam tradisi kehidupan Palestina”.
Kita tidak dapat memaksakan pendapat, bahwa baptis yang diselam itu yang benar, apabila itu terjadi, kita sama dengan apa yang dikatakan Yesus: “ Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat perintah manusia” (Markus 7: 8), karena baptis selam di sugai adalah tradisi kehidupan Palestina, apakah kita mau menjadi orang yang hidup menurut tradisi Palestina atau mengikut Perintah Yesus?
Sebagai pengikut Kristus, jangan berani mengatakan bahwa dengan baptis selam tradisi Yohaneslah yang benar. Hal ini dengan beberapa alasan, yaitu:

Pertama : Baptisan yang benar hanya sesuai dengan Perintah Yesus, tidak boleh ditawar-tawar lagi, yaitu baptisan dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Diluar itu adalah sesat, hanya karena kemauan dan keputusan manusia.

Kedua :Pperlu kita pahami, andaikan Yohanes Pembaptis hidup dalam tradisi bangsa Batak,di Tapanuli mungkin Yohanes membaptis bukan di Aion dekat Salim karena banyak airnya, mungkin saja Yohanes membaptis di aek Sarulla, aek Sibundong, aek Sigeaon, atau mungkin saja Yohanes membawa baptisan itu di Danau Toba supaya lebih luas dan lebih bersih. Jadi bukan diselamkan menjadi jaminan Baptisan itu benar. Baptisan itu pun benar, jika dilakukan di dalam Perintah Yesus

Ketiga : Seseorang yang hidup di gurun pasir, yang tidak ada sugai untuk menyelamkan yang mau dibaptis, tidak ada air, apakah yang perlu kita pakai untuk membaptisnya agar menerima keselamatan melalui baptisan. Apakah dia harus kita gotong ke Aion dekat Salim, mencari sugai untuk diselamkan. Atau maukah Yesus memaafkan saya, apabila saya baptis dia dengan air ludah, bukan air ludah itu yang menyelamatkan dia, melainkan Firman Tuhan yang saya percaya begitu tajam. Dalam Ibrani 4: 12 dikatakan: “ Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun, Ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum. Bnd. Yesus memberikan kesembuhan dengan kuasaNya dengan air ludahNya (Yoh 9: 6)

Itu juga yang dilakukan para Misioner ke tanah Batak, ketika mereka mengkhotbahkan Yesaya 1: 18 “Sekali pun dosamu…seperti salju”. Nenek moyang kami bangsa Batak tidak mengenal salju, jangankan kenal, melihatpun belum. Tetapi para Misioner menggantikan salju menjadi “bontar songon itak” (tepung dari beras yang dijadikan lapet, kue ombus-ombus, putu Silindung dan sejenisnya). Itaklah yang dikenal nenek moyangku bukan salju. Itulah yang saya yakini bahwa bukan harus diselam, dicelupkan yang benar dan syah baptisan. Kita harus mampu menyabarkan bahkan merubah diselamkan menjadi dipercikan atau disiram, yang paling penting kembali kepada Perintah Yesus: “Baptislah mereka di dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus”.

Baptisan anak-anak (bayi)

Syahkah baptisan bayi? Hal ini masih banyak yang mempertentangkannya, karena bayi belum mengerti dan belum percaya. Oleh karena itu, harus tegas dikatakan: “Tidak ada alasan mengatakan bayi belum percaya tidak dapat menerima keselamatan melalui baptisan”. Orang yang tidak percayapun diselamatkan Yesus oleh karena iman orang lain. Di Kapernaun, anak pegawai istana, diselamatkan Yesus, bukan iman anaknya yang menyelamatkan, melainkan iman orang tuanya (Yoh 4: 46 – 53). Iman kepala rumah ibadah Yairus yang percaya, bukan putrinya dan putrinya diselamatkan dari kematian (Luk 8: 40 …), orang lumpuh yang diusung oleh sahabat-sahabatnya, membongkar atap tempat Yesus mengajar dan menurunkan tepat di hadapan Yesus, Yesus memuji iman mereka, bukan iman orang yang lumpuh yang menyelamatkan dia, tetapi dia disembuhkan (Luk 5: 17 …), seorang perwira berkata kepada Yesus: “katakanlah sepata kata, maka hambaku itu akan sembuh”, bukan iman hamba perwira yang menyelamatkannya, melainkan iman perwira tersebut dan hambanya diselmatkan (Luk 7: 1…) dan bahkan seorang janda yang menangis karena anak tunggalnya mati, tidak dikatakan bahwa janda itu beriman, tetapi Yesus tergerak oleh belas kasih dan menghidupkan anak muda di Nain, sekali lagi bukan iman anak muda itu (Luk 7: 11…) dll.
Jangan mempersoalkan bayi belum mengerti dan belum percaya, tetapi persoalkan apakah baptisan yang saya lakukan dan terima sesuai dengan perintah Yesus? Semua yang diselamatkan Yesus dari kisah di atas, tidak ada satupun dari antara mereka yang percaya, melainkan kepercayaan orangtuanya, temannya, atasannya, tetapi mereka diselamatkan Yesus. Terlampau kerdil kita, kalau masih mempertentangkan bayi belum percaya, sehingga tidak layak menerima Keselamatan dari Yesus melalui baptisan. Bayi yang belum percaya, melainkan ia diselamatkan oleh iman orangtuanya dalam baptisan Kudus, bukan iman bayi itu, namun sekali lagi iman orangtuanya.

Tidak heran, apabila banyak orang yang belum mengerti arti baptisan itu, terombang-ambing imannya dan bahkan mau menerima kembali baptisan ulang. Aliran Kharismatik dan sejenisnya dengan getol menyuarakan lewat sebuah ajarannya mengatakan: “tidak akan ada keselamatan bagi orang-orang yang menerima baptisan semasa anak-anak”. Ajaran ini cukup menyesatkan orang-orang percaya, khususnya banyak warga Kristen yang mau mendengarkannya ajaran tipu daya tersebut. Artinya ajaran ini, mau menyatakan bahwa bapak-bapak gereja terdahulu, yang menyebarkan Firman Tuhan (dan mungkin tanpa mereka Injil tidak pernah sampai kepada yang mereka yang mengatakan baptisan anak-abak tidah syah), seperti: Polycarpus mati martir (167/8 AD), Pdt Samuel Munson dan Pdt Henry Lyman (1834) yang mati dibunuh di Lobu Pining Tapanuli Utara, Pdt. DR I L Nommensen yang kadang disebut Rasul suku Batak dll, semuanya menerima baptisan semasa bayi, juga tidak menerima keselamatan.

Baptisan anak-anak/bayi sejauh dilakukan berdasarkan Printah Yesus, itu baptisan yang benar dan syah. Dengan kata lain, tidak ada dasar untuk tidak membaptis anak-anak dalam keluarga dan tidak ada suatu kuasa apaun yang dapat melarang anak-anak untuk berpatisipasi dalam menerima keselamatan yang Allah berikan kepada manusia dalam Yesus Kristus melalui baptisan. Kisah Rasul menuliskan: “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu… (2: 38 – 39). Anak-anak dan bayi juga termasuk dalam Perjanjian Allah yaitu melalui baptisan, yang diutamakan dalam baptisan itu adalah “Perjanjian Allah”. Berkat Perjanjian Allah diperluas hingga kepada keturunan orang beriman. Yang pasti anak-anak pun turut serta dalam peringatan-peringatan bersama dengan orang tua mereka.

Baptisan bayi di Huria Kristen Batak Protestan. (HKBP)

HKBP dengan konfessinya mengatakan: “Kita percaya dan menyaksikan Pembatisan Kudus jalan pemberian anugerah kepada manusia, sebab dengan pembaptisan disampaikan kepada yang percaya keampunan dosa, kebaruan hidup, kelepasan dari maut dan iblis, serta sejahtera yang kekal”.

“Dengan baptisan ini kita menyaksikan: Anak kecil pun harus dibaptiskan karena dengan baptisan itu, mereka juga masuk ke dalam persekutuan yang menerima anugerah pengorbanan Kristus, berhubungan dengan pemberkatan anak-anak oleh Tuhan Yesus”

HKBP membatiskan bayi berdasarkan Perintah Tuhan Jesus “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku, dan baptislah mereka dalam Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus…” (Matius 28: 18 – 2). Firman Tuhan Yesus dalam Injil Markus: “ Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus supaya Ia menjamah mereka, akan tetapi mudi-muridNya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu dating kepadaKu, jangan manghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa tidak menyembut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. Lallu Ia memeluku anak-anak itu dan meletakkan tanganNya atas mereka Ia memberkati mareka”.

Dalam Pelayanan baptisan anak-anak di HKBP ada beberapa janji yang diikrarkan orangtuanya berjanji di hadapan Tuhan yang mengetahu segala segala sesuatu dan di hadapan jemaat yang percaya akan Perintah Yesus, janji itu adalah:
Pertama : Bahwa mereka menghendaki agar anak-anak mereka dibaptis ke dalam Na Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus (red Batak “tu na hinaporseaanmuna = kepada yang mereka percayai).

Kedua : Bersedia membimbing anak-anak agar mereka mengetahui dan melakukan Firman Allah

Ketiga : Bersedia menyuruh anak-anak ke gereja dan membersarkannya dalam pengajaran Kristen Protestan agar mereka menjadi anggota jemaat yang hidup dalam Yesus Kristus.

Ketiga janji itulah yang menghantarkan mereka membawa anak-anak (bayi) untuk menerima baptisan Kudus kepada apa yang mereka Percayai. Sesungguhnya bukan air itu yang mempunyai kekuatan melainkan Firman Tuhan yang ada di dalam dan menguatkan air itu, serta iman yang mempercayai bahwa Firman Tuhan berada di dalam air itu. Karena tanpa Firman Tuhan di dalamnya,m air itu hanyalah air biasa saja dan bukan baptisan. Inilah air yang penuh berkat kehidupan dan menyucikan kalahiran kembali di dalam Roh Kudus seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada Titus: “Tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Toh Kudus, yang sudah dilimpahkanNya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita sebagai orang yang dibenarkan oleh kasihNya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita” (3: 5 …) Itu yang biasa dilakukan Protestan khususnya Huria Kristen Batak Protestan (red. HKBP, baptisan itu yang penulis lakukan).

Vonis yang dilemparkan gerekan Kharismatik dan kelompoknya untuk menarik (kadang-kadang disebut mencuri) anggota-anggota jemaat lainnya dengan semboyan “baptis bayi tidak syah karena belum percaya”. Vonis ini mempengaruhi orang percaya yang imannya kerdil dan tidak mengetahui apa dan bagaimana makna dari baptisan. Sebenarnya tidak patut lagi mempersoalkan baptisan “anak-anak” atau “baptisan dewasa”, yang perlu dipersoalkan bagaimana Berita Keselamatan sampai ke ujung bumi, bukan baptisan kita benar, baptisan orang lain salah. Kita kembali meninjau ke sejarah baptisan yang terjadi setelah Kebangkitan dan Kenaikan Yesus.

Untuk melihat kebenarannya atas penilaian Kharismatik, ada baiknya kita kembali kepada dasar pertama, yaitu bahwa “baptisan” yang kita laksanakan adalah perintah Yesus dan bukan kemauan manusia. Persoalan baptisan “anak-anak dan baptisan dewasa”, tidak ada kita temui dalam Perjanjian Baru, yang kita temui adalah dua jenis baptisan, yaitu:

Pertama : Baptisan “persekutuan/keluarga”. Ini banyak kita temui, Krispus dibaptis bersama-sama seisi rumahnya (Kisah 18: 8; bnd 1 Kor 1: 14), Lydia dibaptis dengan seisi rumanya (Kisah 10: 48), kepala penjara dibaptis dengan seisi rumahnya (Kisah 16: 33) dan Stepanus dibaptis dengan seisi rumahnya (1 Kor 1: 16).

Yang dimaksud dengan seisi rumah/keluarga, pastilah persekutuan hidup, dan anggotanya bukan saja terdiri dari suami, istri, anak-anak, tetapi mungkin juga termasuk hamba-hamba yang hidup dan bekerja dalam keluarga itu. Persekutuan itu dikenal dengan “Oikos” (dari sinilah asal kata Okumene) dan kepala keluarga mempunyai kuasa yang besar, pemegang pimpinan. Baptisan dalam oikos tentulah dilayani dalam dan berdasarkan iman, bukan iman individual, melainkan iman persekutuan. iman korporatif, jadi baptisan keluarga itu berdasarkan pengetahuan dan iman. Paulus mencatat dalam surat pertama ke jemaat Korintus (10: 1 – 4): “ Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengkut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Mereka semua makan makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dbatu karang itu ialah Kristus”. Semua telah dibaptis, orangtua, dewasa, anak-anak, bayi. Bayi tidak ditinggalkan Musa menjadi korban Firaun dalam kekuatan bala tentaranya

Kedua : Baptisan Individu. Ini dilakukan kepada dua orang saja, yaitu kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia (Kisah 8: 26…) dan Paulus, keduaduanya adalah orang-orang yang tidak terlibat hidup dalam hubungan rumah tangga.

Baptis Ulang mempermainkan Perintah Yesus dan dosa

Mengapa harus dibaptis ulang? Yang jelas, karena baptisan itu sekali untuk selamanya, maka baptisan tidak perlu diulang lagi. Dalam Perjanjian Baru (Kisah 19: 1 – 6) kita temui baptisan ulang hanya sekali dilakukan, itu pun disebabkan beberapa alasan yang tertentu, yaitu:

Pertama: Baptisan Yohanes pada saat itu mengajak orang kepada pertobatan dan memperbaharui diri, sedangkan baptisan yang kita terima adalah materai pengesahan Allah, bahwa kita telah turut mati dan dibangkitkan bersama Yesus dan berhak menjadi pewaris kerjaan Allah.

Kedua : Karena mereka dibaptisan dalalm baptisan Yohanes, mereka harus percaya kepada Yesus (red. yang memerintahkan “baptis dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus) dan mereka menerima baptis ulang dalam Nama Tuhan Yesus.

Ketiga : Baptisan itu kurang sempurna dan tidak menyelamatkan bangsa Yahudi, itulah maka mereka harus dibaptis ulang

Karena baptisan itu kudus adanya dan merupakan perintah Yesus, maka tidak perlu diulang-ulang hanya untuk memenuhi kemauan hati manusia belaka. Oleh karena itu: “Celakalah orang-orang yang mempermainkan Perintah Yesus”.

Oleh karena Baptisan merupakan sakramen yang diperintahkan Yesus, itunya sebabnya, jika kita mengulang baptisan yang kita terima, kita telah mempermainkan Perintah Yesus dan berdosa. Biasanya orang-orang yang mau dibaptis ulang karena doktrin dari Kharismatik dan sejenisnya adalah orang-orang yang paling celaka, karena tanpa disadari, dia telah mempermainkan Perintah Yesus, mereka mau dibaptis ulang dengan diselamkan seperti yang dilakukan Yohanes demi kemauan dan kepuasan manusia. Baptis ulang saat ini hanyalah permainan dari yang menamakan dirinya pengkhotbah dan pembaptis, tetapi kadang kadang dia seperti musang berbuluh domba untuk mencari mangsanya.
Karena ini, tidak patut lagi mempertentangkan atau mempersoalkan syah tidaknya baptisan anak-anak maupun baptisan dewasa, walau pun banyak orang yang sudah terlanjur. Jangan memvonis bahwa baptisan anak-anak tidak benar dan baptisan dewasa yang benar, baptisan percik dan dituangkan tidak benar, melainkan baptisan selam. Semua baptisan Kudus benar apabila dilakukan sesuai dengan perintah Yesus sendiri “baptislah mereka di dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Baptisan itu sekali untuk selamanya.

Yang terpenting harus dipahami, bahwa “baptisan” yang dilaksanakan dengan percik, dituangkan, diselamkan harus dipercayai bahwa Firman Tuhan itu yang menyelamatkan dan sekali untuk selamanya. Firman Tuhan tidak pernah mengajarkan baptisan harus diulang-ulang, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (Ef 4: 5). Lalu bagaimana kita menghadapi musuh yang ternyata paling berbahaya selama ini, dengan mengatakan “tidak syah baptisan gereja lain”? Jawaban yang pasti: “w a s p a d a l a h s i p e n y e s a t”

Bonang, 14 Januari 2009

Pdt. Johannes Siregar STh
HKBP Ressort Bonang Indah Tangerang
Distrik XXI Jak. 3

Tulisan ini sebelumnya telah di posting di:

http://lammagodang.wordpress.com/

Read Full Post »

Adong do sada istilah pelayanan / panghobasion di hurianta na mansai porlu taulahon di parngoluan na marhuria.

Digoari do di bagasan istilah bahasa Jerman: Seele Sorge, molo di bahasa Indonesia Pastoral Konseling. Alai molo di bahasa batak na marlapatan ma on “pangaramotion ni tondi manang pangurusion di ngolu partondion” jala na lebih tumangkas “panopoton tu sasahalak manang sasakeluarga laho marmahani ngolu partondionna, manang pe uju adong permasalahan ni tondi, manang pe uju so adong.”

Boasa mansai ringkot panghobasion on taulahon di tongatonga ni hurianta:

  1. Jamita na dipatolhas di partangiangan – parmingguan, hurang boi do pe laho pasinghophon panghilalaan ni ruas maradophon angka gulmit ni ngoluna.
  2. Di parmingguan dohot partangiangan hurang adong do kebebasan paboahon sude arsak ni roha ni sadasada halak manang maila paboahon.
  3. Sipata sai adong do ruas na losok roha manopot parmingguan manang partangiangan .
  4. Sada dalan di panghobasion asa lam mananda angka ruas sian ngolu partondionna manang ngolu pardagingonna pe. (Joh 10:14)

Godang do pe angka na asing na mambahen mansai ringkot panghobasionon taulahon.

Angka ise do na porlu mangulahon panghobasion on? Tontu sahali, na paling utama ima angka parhalado ni huria : Pandita, Guru Huria, Bibelvrow, Diakones, dohot Sintua, na ingkon rap manghobasi, marsiurupan jala boi do marbagi tugas. Songon di sada keluarga, natuatua na bijak ima natuatua na umboto mangadopi angka ianakhonna na marragam parrohaon, tudos songoni ianggo ngolu parhuriaon na sian angka keluarga na marragam, individu na marasingasing sian saluhut parngoluonna. Alani mansai porlu tatanda ganup angka ruas i asa taboto mambahen pelayanan tu nasida.

Na boi tabereng angka na masa pada umumna di panghobasion ni sintua ima holan di tingki parmingguan, partangiangan: maragenda, mamalu giringgiring, papungu pelean manang sada istilah didok saonnari SINTUA SSSST ala holan pahohomhon angka parminggu na gaor di tingki parmingguan, jala sasahali do i marjamita. Sasintongna mulak tu penghayatan di TUGAS PANGGILAN (PODA TOHONAN) NI SINTUA na 7 butir i, mansai godang do na ingkon diulahon.

Kenyataan na boi idaonta, sasintongna lebih tumandaan do sintua tu ruas ala sintua do na langsung rap marsaor tu angka ruas alani i do adong dibahen sintua lingkungan. Ingkon do tandaon ni sintua lingkungan i do boha ruas na adong di lingkunganna baik secara ngolu pardagingonna manang ngolu partondionna.

Nunga taboto nangkin Seele Sorge ima panopotion laho marmahani ngolu partondion. Sada kelemahan do pe di hurianta na hurang manang ndang adong tingki ni angka parhalado laho manopot ruas ni huria i tu bagasna be, hape mansai las do roha ni ruas molo ditopot parhalado ibana tu bagasna ala pintor songon na diparrohahon do ibana dohot parngoluonna. “Manopot laho marmahani” gabe parmahan di huria marhite panjouon ni Debata tu hita alani i do panghobasion i pe ndang hadirionta sitonjolhonon manang boanonta alai pandonganion, pangajarion sian Debata marhite Tondi Parbadia.


Tekhnik Seele Sorge
Di tingki nuaengon godang do angka na masa, lam martambatamba angka persoalan, jadi boi do dohononnta ruas ima lahan permasalahan na ingkon urupannta nasida dalam arti bukan secara langsung. Salah satu ima seele sorge songon berdialog. Sebelum mangulahon on adong do pedoman pribadi na porlu botoonta.

1. Kebutuhan ni ruas

Nangkin nunga didok jamita ndang boi mangalusi sude angka parsorion ni ruas, alani i seele sorge on merupakan kebutuhan ni ruas na mansai ringkot.

2. Boi mangantusi angka permasalahan na mansai pribadi

3. Dua arah komunikasi – proses perbincangan antara ruas dohot parhalado

4. Dampak na denggan, berpengaruh, terkesan, jala menyentuh tu roha perbagasan ni individu

5. Parbinotoan/habisuhon

Parhalado ro manopot ruas ndang na naeng manjamitai alai manangihon sude angka holso ni rohana. Alai tongtong do ingkon diparade parhalado i dirina di hata ni Debata ala ndang boi malua sian i.

6. Keterampilan

- Trampil di bagasan tehknik komunikasi 2 arah (mamuhai, mengembangkan dohot mangujungi)

- Rade mambege jala mamparrohahon sude na dipaboa ruas

- Rade manjalo hadirion ni ruas jala mangantusi di keadanna

- Manghilalahon arsak manang parsorion ni ruas alai ndang gabe parsidohot di sudena (terbawa perasaan)

- Ndang menguasai perbincangan, mangatur tingki sepenuhna tu ruas i asa leluasa paboahon sude na masa di ibana.

7. Pertumbuhan Pribadi

- Parhaporseaon na togu jala parholong di bagasan holong na sian Debata

- Haposan, boi manjaga rahasia na binoto na tentang ruas.

- Sabar manangihon

- Parroha na lambok

- Olo mamparrohahon humaliangna dohot lan na asing

Molo dipompom sasahalak angka permasalahan na mansai pribadi dibagasan dirina jala ndang diboto jalan keluarna, boi do manghorhon na so denggan di pamatang nang di partondionna ala holan tusi pingkiranna manang aha pe na diula ibana siganup ari. Asa boi ibana malua sian roha na songon dihimpit, rade ma nian ibana paboahon parsorionna tu donganna na dihaposi ibana, on ma na ingkon boi idaon ni parhalado nang pe so dipaboa secara langsung tu parhalado i.

Adong do piga guna ni manopot ruas di ngolu na secara pribadi:

  1. Penyembuhan

Manopot angka na marsahit dalam arti luas. Mansai balga do panghilalaan ni na marsahit molo ro parhalado manopot, manangianghon ibana gabe adong di rohana ai diparrohahon huria do ibana diparsorionna. Sahit, ndang holan di pamatang alai termasuk do sahit di partondion.

  1. Penopangan

Molo tahilala mansai borat do boban na diadopi ruas marhite naung dipaboa ibana taringot tu ngoluna, parhalado menempatkan posisi sebagai dongan na boi mangalehon semangat, mangapuli, menggugah kepercayaan diri asa tetap margogo ruas i mangadopi permasalahanna.

  1. Bimbingan

Mangalehon bimbingan, arahan jala memampukan ruas mambahen keputusan-keputusan berhubungan tu masalah pribadi nang tu ngoluna.

  1. Pendamaian/Padamehon

Godang do ala ni angka na masa di bagasan ngolu ni ruas gabe lam mandao ibana sian Debata. Parhalado berperan mangalehon torang ni pingkiran asa mulak ibana tu dalan na hinalomohon ni Debata.

Di pihak lain, keretakan hubungan sesama ruas na gabe manimbulhon parbadaan, ndang masiantoan, saling marsiparoaan. Parhalado ro manopot masingmasing pihak, manangihon keluhkesah nasida – mangantusi permasalahan na masa – jala padamehon nasida.

On ma pigapiga gunana, molo ro parhalado manopot ruas na ndang holan manghatai sambing, lobi sian i ima na mangantusi ngolu ni ruas i.

Kode Etik Seele Sorge

  1. Gabe haposan marahasiakan permaslahan pribadi ni ruas
  2. Betul-betul hadir di ruas i; mangalehon rohana
  3. Tidak memaksa manang mengambil alih tugas ni ruas i laho mambuat haputusan tu dirina. Parhalado holan mangalehon arahan na terbaik, asa boi ruas i mandiri, percaya diri mambahen haputusan di angka masalah na diadopi
  4. Adong batasan-batasan tertentu
  5. Menghargai ruas – adong do ruas na menolak paboahon arsak/parsorionna na lebih bersifat pribadi – jla adong do na so rade do pe rohana manjalo haroro ni parhalado i.

Haringgason, haradeon mangalehon roha, pingkiran, tenaga, nang tingki na laho mengadakan kunjungan rumah tangga/ manopot ruas sangat berdampak positif tu ngolu partondion ni parhalado tarlumobi tu ngolu partondion ni ruas i asa disi ma tarida ngolu na masitangiangan, ingot di saluhut ruas dohot ngoluna baik secara individu nang huria i. Keberhasilan Seele Sorge didukung adong pembinaan hubungan segitiga timbal balik na denggan antara Parhalado – Ruas – Debata, alani porlu taparrohahon:

  1. Boha do konteks masalah
  2. Latar belakang ni marsasada halak na mengalami masalah
  3. Pengaruh lingkungan
  4. Situasi na asing (di luar) na boi mempengaruhi

Molo naeng manopot ruas tu bagasna, denggan ma nian di tingki na sesuai asa unang menggangu angka ulaon ni ruas i jala attar pigapiga halak sian parhalado asa terbuka ruas i paboahon gulmit ni ngoluna.

Sumber: http://mawae.multiply.com/

Read Full Post »

Tohonan Sintua bukanlah jabatan, profesi atau pekerjaan tetapi pelayanan (panggilan Allah atas seseorang) dalam cakupan yang sangat luas dan sekaligus spesifik. Disebut luas karena cakupan pelayanan tergolong luas, namun spesifik karena para partohonan memiliki fungsi yang lebih spesifik menurut uraian tugas tohonan masing-masing.

Sebenarnya sulit menterjemahkan istilah tohonan ke dalam bahasa Indonesia dengan terjemahan yang tepat: ‘pekerjaan’, ‘jabatan’, ‘pelayanan’ semuanya bersifat umum. Tohonan dalam bahasa Batak : “orang yang tepat”: na mar tohonan, dia tepat untuk melakukan sesuatu tugas tertentu. Dari segi maknanya tohonan bukanlah “jabatan” atau “kuasa” melainkan pemilihan orang yang tepat dalam melaksanakan tugas pelayanan.

Jika tohonan diterjemahkan sebagai jabatan atau professi maka harus dilihat terutama di dalam pengertian suatu fungsi bukan sebagai suatu posisi. Menerima tohonan berarti menunaikan tugas pelayanan kepada Allah dan kepada sesama manusia sebagai wujud iman kepada Kristus Raja Gereja.

Tohonan diterima dari Allah untuk menggembalakan jemaatNya agar tetap setia dan mendekat kepada Tuhan (Joh.13 : 4-15). Tohonan memiliki perananan yang sangat penting dalam perjalanan Gereja, ibarat jantung yang memompakan darah keseluruh tubuh manusia. Perkembangan pelayanan terletak pada penghayatan dan pelaksanaan panggilan partohonan dalam menunaikan pelayanannnya.

Ada 7 pokok uraian tugas pokok ”Partohonan Sintua”, yakni: (Agenda HKBP hal. 35),

1. Pangula ni huria do Sintua mamatamatahon angka na pinasahat tu nasida dohot mangaramoti parangenasida. Molo diboto nasida, na hurang ture perange ni manang ise, ingkon pinsangonnasida i, manang paboaonnasida tu Guru dohot tu Pandita, asa dipature.

2. Mandasdas tu parmingguan dohot manangkasi alana umbahen na so ro.

3. Mandasdas anakboru sikola, asa ondop ro.

4. Maningkir angka na marsahit jala paturehon na ringkot tu nasida dohot nasa na tarpatupasa, alai na rumingkot, pasingothon Hata ni Debata tu nasida dohot tumangiangkonsa.

5. Mangapuli angka na marsak, paturehon angka na dangol      dohot  na pogos.

6. Mangapuli angka sipelebegu, angka patugamo na asing dohot angka na lilu, asa dohot marsaulihon hangoluan na pinatupa ni Tuhan Jesus.

7. Mangurupi paturehon angka guguan dohot ulaon na ringkot tu Harajaon ni Debata.

Pelayanan sebagai SINTUA di HKBP adalah merupakan persembahan, karena itu hendaknya setiap Sintua hendaknya memberi persembahan yang paling berharga dalam pelayanannya.

Sumber : (Pdt. Hitler Hutapea, STh) http://www.hkbp.or.id/

Read Full Post »

Molo mate punu didok ma i na so marindang anak baoa, holan boru do ianakhonna. Songon i do huroha pangalahona. Ai so adong na manorushon dohot na manguduti goarna. Hansit do si songon on molo sian adat-paradaton ni hita Batak. Molo najolo jala masa dope i di tingki on, ndang boi dope dibahen maralaman si songon on. Asa holan angka hata apul-apul do panghataion di si, lumobi sian angka horong ni hula-hula dohot horong ni tulang. Alai, taringot tu goar manang ulaon si songon on hombar ma i nian tu keputusan ni panghataion ni angka tutur dohot raja, lumobi sian hula-hula dohot tulang.

Tar dos do ulaon di na Mate Purpur dohot na Mate Punu

Mardalan do dison ulaon napasahat Ulos Saput dohot Ulos Tujung.

Molo monding Ina, Simatua ni namabalui ma pasahat Ulos Tujung tu Helana jala Tulang ni Ina na monding i do na pasahat Ulos Saputna.

Di pasidung ma namangungkap Tujung dung mulak sian udean.

Molo monding Ama dipasahat hula-hula ni namondingi (parboru) ma Ulos Tujung tu Ina namabalui (tu boruna), jala Tulang ni Ama na monding i do na pasahat Ulos Saputna.


Aha latar belakang dohot philosofina ?

1. Unduk marmeme Anak unduk do marmeme Boru: ido pandohan ni Ompunta sijolojolo tubu, jala songoni do nang di parsorang ni dakdanak di Pamoruon, dakdanak baoa manang dakdanak Boru-boru migor do ro Hula-Hulana (Tulangna) mamboan Aek ni Unte dohot pasahat Ulos tu dakdanak nabaru sorangi jala didok ma Ulos Parompa.

2. Mangoli Anak Baoa manang Muli Borui ba Tulangna do napasahat Ulos, jala didok ma nuaeng goar ni Ulosi Ulos Holong.

3. Monding pe Bere Baoa manang Bere Boru-Boru Tulangna ma napasahat Ulos Saput. Ima Ulos parpudi tu Berena namondingi.

4. Secara umum holan 3 hali do sasahalak manjalo ulos sian Tulangna, ima :Ulos Parompa, Ulos Marhasohotan(marbagas), Ulos Saput. Terkecuali molo ama adong kemungkinan 4 hali, ima 1 nai Ulos Mamongoti Bagas hatiha Mangompoi Jabu.(Boasa di dok kemungkinan1 hali nai ? Ala dang sude halak boi manang patuhaon olaon Mangompoi Jabu).

Contoh Skenario:
Sada Ama monding nunga adong boruna alai dan adong dope anakna(baoa), jala Tulang na dimaksud di son ima Tulangni na monding, Hula-hula tangkas Parboru dope, jala mangolu dope paranak(tilahaon matua).

Tarsongon on ma si ulahononhon:

a. Tujung do pe sipasahotan tu na mabalu i, jala ndang adong dope ianggo “Boan Na” di goari ma on “Mardalan Na Bolon”.

b. Molo ama do na monding i, “Tulang na ma mambahen saputna”, somalna tu na mate purpur ima “Ulos Sibolang” .

c. Hula-hulana ma mambahen tujung ni boru na, na mabalu  ima “Ulos Sibolang”.

d. Patupaon do songon ulaon “Marhata Raja”, jala laos di si ma pabotohon ni Paidua ni Suhut songon riwayat singkat (Barita Jujur Ngolu) dohot parsorion ni na monding i di tingki ni ngolu na.

e. Di ulaon na “Marhata Raja”, ndang pola patupaon ni hasuhuton sipanganon.

f. Ndang sijalo on do pe na margoarhon “Ulos Holong” sian Hula-hula dohot sian Tulang ianggo apala di tingki manang di ulaon na songon i.

g. Di tingki partutano na i, ianggo sian ruhut ni paradaton ndang adong do pe sipatupaon ni hasuhuton jala dan adong ulaon maralaman.

h. Tangkas do jalo on ta haroro ni hula-hula dohot tulang, hombar tu tingki naung di tontuhon di tingki na “Marhata Raja” i.

i. Dung mulak sian udean, udutan ma ulaon di na ro raja ni hula-hula “Mangungkap Tujung” ni na mabalu i. Sipatupaon ni Hula-hula di tingki na mangungkap tujung ni na mabalu i ima : dengke sitio-tio, indahan masak, mual (aek) na tio dohot parbue na pir.

j. Di tingki na mangungkap tujung i raja ni hula-hula, molo tung dipatupa hasuhuton pe sipanganon na marsintuhu boi do i alai ndang adong marbagi jambar.

Asa ummura antusanta tar songonon ma partording ni ulaon i.

1. Manjalo haroro ni Tulang pasahat Ulos Saput (somalna jam 10.00 wib)

Laos di acara i ma nasida mar acara penghiburan (pasahat hata apul-apul)

MANOGOTNA DI NA MANJALO HARORO NI TULANG (Ulos Saput)

Mangarade Paranak dohot manang piga nasida na marhaha-maranggi dibagas manjalo dohot mangampu ulaon na pinatupa ni Tulang dohot Hula-Hula.
Mangarade ma Boru laho manjalo Boras si Pir ni Tondi nabinoan ni Hula-Hula:

Paidua ni Suhut:

Di hamu saluhutna Tulangnami, dohot sude hamu Hula-Hulanami, ala naung sahat ma tingkina Rajanami, pungkaonta ma ulaon namanjalo hula-hula di ulaon parmonding ni Ama na ta haholongi on.

Di hamu Tulangnami, (Raja i ..……..) nunga rade hami Rajanami manjalo haroromuna laho pasahathon ULOS SAPUT tu Ama namonding on.

(Note: molo Ina namonding, Tulang Rorobot/Tulang ni ina na monding i ma dijou pasahat Ulos Saput).

Jongjong ma Tulang sipasahat Ulos Saput dohot rombonganna di sabola siamun ni namondingi (tong do mamereng partonding/parpeakni bangke ni namate i /kondisi rumah), jala andorang so dipasahat Ulos Saput, Marende, Martangiang, didok ma hatana:

Hata ni Tulang ni namonding Pasahat ULOS SAPUT (somalna “Ulos Sirara”):

Di hamu Ito dohot Lae… (Natoras ni namonding) songoni nang di borunghu Nai…… (namabalu), pahompuku si…… dohot di hamu berenami na marhaha maranggi, suang songoni di sude hamu namardongan tubu, na dohot do hami Tulangmuna, Nantulangmuna dohot Ompungmuna, sude hami na pungu on marhabot ni roha diparmonding ni Bere nami ima Ama na ta haholongi on.

Najolo diparsorang ni Berenami on, hupasahat hami Tulangna do Ulos Parompa ima songon lampin ni Berenami on. Nuaeng nunga monding ibana, ro ma hami Tulangna pasahat Ulos Saputna.Asa dohononnami ma tu hamu Inang borunghu (namabalu)Nai ..……, pahompuku si……….. dohot tu sude hamu Berenami (haha-anggi dohot iboto ni namonding): Hupasahat hami ma Ulos Saput on tu Berenami naung monding on, dohot pangidoan di tangiangnami tu Amanta Debata Parasi Roha i, asa manaputi Parhorason, Panggabean sian pasu-pasu ni Tuhanta di hamu sude na tinadingkon ni Berenami on.

Borhat ma ho berengku mandapothon Tuhan Jesus Kristus di surgo hasonangan i. (Laos diampehon ma Ulos Saputi tu na mondingi)

Paidua ni Suhut:

Rajanami, mauliate ma di hamu, nunga tangkas di pasahat hamu ulos saput ni beremu ima Ama na hu haholongi hami naung bostang di jolonta on, sahali nari dohonon nami maulitae godang ma di hamu Tulangnami.

Note: dang pala si alusan ni paranak /pasahathon piso-piso tu Tulang dohot Hula-hula alana na mate punu do on, jala Tulang dohot Hula-hula pe ingkon mangantusi do di si. Si tongka ni na unang, sotung adong sarita sian Tulang dohot Hula-hula molo so di pasahat suhut piso-piso (alus ni ulos nasida).

2. Manjalo haroro ni Hula-hula pasahat Ulos Tujung (dung sahat Ulos Saput)

Paidua ni Suhut:

Mauliatema. Di hamu nahuparsangapi hami Hula-Hulanami (Raja ……….……) nunga mangarade hami Rajanami manjalo haroromuna laho pasahathon Ulos Tujung.

Jongjong ma Hula-Hula sipasahat Ulos Tujung dohot rombonganna di sabola siamun ni namondingi (tong do mamereng partonding/parpeakni bangke ni namate i /kondisi rumah), jala sipasahat Ulos Tujung di jolo ni namabalu i.

Andorang so dipasahat Ulos Tujung, Marende, Martangiang, didok ma hatana:

Hata ni Hula-hula (Parboru) Pasahat ULOS TUJUNG (somalna “Ulos Sibolang”):

Di ho Inang, Borunghu: . Di tingki on dipaporsanhon Tuhanta do tu ho sitaonon na mansai dok-dok, mansai borat do sitaonon on songon udan nasohasaongan, songon alogo na so hapudian. Dison ro do hami Hula-Hulamu mandapothon hamu, paboa na rap do hita marsitaonon di parmonding ni Helanami on. Ala naung parjolo monding Helanami on, di son ro hami laho pasahat ULOS TUJUNG tu hamu na paboahon naung marsirang hamu di hangoluan on dohot Helanami naung monding on. Huampehon hami ma Ulos Tujung on tu simanjujungmu, napaboahon naung mabalu hamu, tanda naung holip sian parnidaanmuna Helanami/Laenami naung monding on, jala marhite nahuampehon hami Tujung on tu hamu didongani tangiangnami tu Amanta Debata Parasi Roha i, asa tanganNa nasumurungi ma mangondingi hamu sian sude arsak ni roha on, ditamparhon sian rohamu roha namandele, jala sai ditogu-togu Tuhanta ma hamu laho mandalani ngolumuna tu angka ari nanaeng ro.
(Mangampehon Ulos Tujung: sian siamun ni namabalui, tu simanjujungna torus tu hambirang, jala ingkon satonga pardompahan ni namabalui ditutup tujungi)

Andorang so ditutup hula-hula dohot tangiang panutup, pintor alusan ni Paidua ni Suhut do mandok mauliate, songon on ma hatana:

Mauliate malambok pusu ma Rajanami di holong ni rohamuna i di hami pamoruonmuna on, lumobi ma di naung pinasahatmuna Ulos Tujung tu Inanami namabalu on.
Sai anggiat ma songon pangidoanmuna i, sai asi ma Roha ni Tuhanta, dao ma pandelean sian Ina naung mabalu on, sai tumibu ma tarapul rohana siala ni angka tangiangmuna hula-hulanami.
Rajanami, songon naung hutariashon hami di “Marhata Raja” nabodari, di namulak sian udean annon rap ma hita mulak tu bagasnami on laho pasidunghon ulaonta ima: Ungkap Tujung jala laos di ulaon i ma Rajanami mangido tangiang hami sian hamu hula-hula nami jala apuli hamu hami tarlumobi Ina naung mabalu on, Sahali nari dohononnami ma mauliate godang ma di hamu saluhutna hula-hulanami dohot sude uduranmuna Rajanami.

Dung i ditutup Hula-hula ma dohot tangiang.

3. Diuduti ma muse tu acara mandok hata.

  1. Parjolo manjahahon Riwayat Hidup (Jujur ngolu) ni almarhum.
  2. Mandok hata sian Natua-tua ni Raja Gultom dohot punguan namangihut.
  3. Mandok hata sian Hula-hula na marhaha maranggi
  4. Mandok hata horong ni angka tulang (Bona Tulang, Bona niari) -> jika memang hubungan terjalin bak dan mereka hadir maka harus diberi kesempatan.
  5. Mandok hata Ale-ale
  6. Mandok hata dongan sahuta
  7. Mandok hata pemerintah setempat

4. Diuduti ma muse tu acara paampuhon (mandok hata Tulang & Hula-hula). Rap masuk ma nasida alai sasintongna ingkon Tulang (Raja …..) do na paampuhon ai nasida na nampuna bere (istilahna bilang-bilang nasida do na moru) ai nasida na gabe Partogi di ulaon jala ingkon nasida do na gabe Pargomgom.

5. Mangampu Hasuhuton

6. Di pasahat ma tu Huria

7. Borhat ma tu udean (pemakaman)

8. Ulaon Ungkap Tujung (dung mulak sian udean)

Dung mulak sian sian udean pintor di uduti ma dohot ulaon Ungkap Tujung.

Somalna dung mulak sian udean dibahen do partangiangan. Andorang so mangan na torop, jolo di ungkap suhut parboru ma tujung ni boruna.

Hata sidohonon tingki mangungkap tujung on ma:

Di ho ito. Adat napinungka ni Ompunta siolo-jolo tubu, dung ni ampehon tujung ni namabalu, ingkon ungkapon do muse asa gok ulaon adat i.

Nuaeng pe ro do ahu mangungkap tujung mon. Dung i diungkap ma tujung i, jala di jomput ma boras 3 hali tu simanjujung ni namabalu i jala didok ma: sai pir ma tondim olat ni on tu joloanon. Udut tusi di taburhon ma boras liat-liat, liat gabe liat horas. Salpu i di painumhon ma aek sian galas, jala didok ma: ingot ma ito hata ni Tuhanta na mandok; Ahu do namambugangi, alai laos ahu do na pamalumhon. On pe sai di pamalum Tuhanta ma na hansit jala na bernit na ampe tu borunghu, sai tiur ma pardalananmu tu joloan on bahenon ni Tuhanta Parasi Roha i. Di usaphon ma saotik tu simalolong ni na mabalu i jala didok ma; Tuhanta ma namangapus ilu sian simalolongmon. Dipadao ma angka na holom, sai tiur ma pemerenganmu tu joloan on. Dung i disuhaphon ma muse tu bohi ni namabalu i (disuhapi) jala didokma: sai minar ma bohim, jala sai ro ma las ni roham tu joloan on. Salpu i dilehon ma mangan na mabalu i, ima dengke na pinatupa ni hula-hula.

Dung i marsipanganon ma. Ndang adong marbagi jambar di ulaon on.

Dung sidung marsipanganon di uduti ma muse dohot panghataion ganup ma mandok hata apul-apul na be, parpudi ma Hula-hula hasuhuton (hula-hula tangkas).

Dang adong be sihatahonon ni Hula-hula taringot boru nasida na mabalu i, alana adong do tading-tading ni amanta na jumolo monding i jala hot do ina i di hutana

Ina na mabalu tersebut tidak di mungkinkan untuk kembali ke rumah orang tuanya.

Dia tetap bagian dari keluarga besar suaminya karena dia punya anak dan dia berkewajiban untuk membesarkannya.

Pinadomuni (dirangkum oleh) : Sampe Sitorus, SE (A. Hitado Managam Sitorus)

Medang Lestari B3/K11 08129052462

Referensi & Daftar Pustaka :

1. Jambar Hata, T.M Sihombing, CV Tulus Jaya

2. Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak,

Drs. DJ Gultom Rajamarpodang, CV Armada –Medan

3. Garis Besar Ruhur-Ruhut Paradaton Sitorus, Buku Parsadaan

Raja Sitorus Dohot Boruna (PARSIBONA) JABOTABED

4. Situs Simanjuntak Sitolu Sada Ina http://simanjuntak.or.id

5. Situs Partungkoan http://tanobatak.wordpress.com

6. Seri Diskusi Injil & Adat Pdt Daniel Taruli Asi Hararap STh,

http://rumametmet.com

7. Situs Parsadaan Toga Manurung Cileungsi

http://patambor1.multiply.com

8. St. D.P.Hutagalung/Br. Simorangkir (O. ni Salomo)

http://www.rajaparhata.com

9. Literatur lain dan angka panuturion ni angka natua-tua.

Read Full Post »

Monding Baoa manang Boru-boru naung hot ripe alai ndang mardakdanak dope di gori ma i mate purpur .

Mate purpur ma peristiwa na humansit di parmate ni jolma di ngolu ni halak Batak. Mate Purpur digoari di halak Batak do si songon on “siranggapuri” siborgat hau na somardangka so marranting so marbulung, dang adong be sihirimon, soadong be sitatapon manang sipaimaon. Na marlapatan ndang adong tubuna, anak dohot boru.

Tung hira na so dapot do apulan na matean i alani balga ni arsak i. Asa molo tung masa pe si songon i, holan angka hata togar-togar, hata apul-apul do sian angka tutur.
Note: Adat habatakon do mandok nahumansit mate pur-pur. Molo sian hakristenon, di hita naporsea di Jesus Kristus, dos do hamatean i, jala ingkon sude do mamolus i. Parhitean do hamatean laho mandapothon Tuhanta. Jala didok hata ni Tuhanta do muse, ditompa Debata jolma i asa marguna jala hasea di Tuhan i do. (more…)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 878 other followers

%d bloggers like this: