copy posting from http://www.facebook.com/?ref=home#!/topic.php?uid=114557341917321&topic=96
LATAR BELAKANG
Disadari dan sangat dirasakan bahwa dimulai akhir 80-an dan berkembang pesat pada dasawarsa 90an, kemudian mulai melegenda sampai saat ini, telah muncul istilah yang sangat populer dikalangan orang muda suku batak (halak kita) dan terutama bagi mereka yang berada di daerah perantauan (luat parjalangan) yang biasanya adalah wilayah perkotaan.
Dikatakan bagi orang muda karena secara umum dan awalnya hal ini tidak pernah disebutkan dan berlaku bagi orang-orang tua (natua-tua), yang karena pengetahuan dan asal langsung dari kampung halaman (bona pasogit) sehingga tidak merasakan perlu memakai istilah tersebut, dimana seperti kita ketahui bersama bahwa mereka memiliki pengetahuan kekerabatan yang jauh lebih kental dan melekat dibandingkan orang-orang muda apalagi yang telah lahir dan atau tumbuh besar diperkotaan.
Disebutkan juga di perantauan, karena di kampung halaman atau daerah asal orang batak tidak memerlukan penggunaan istilah tersebut akibat saling tahu, saling kenal dan saling memahami hubungan antara satu dengan lainnya mengenai garis silsilah dan kekerabatan (tarombo) setiap orang yang ada di lingkungannya.
Namun demikian secara makna dan secara hakekat masih banyak kita yang belum sepenuhnya mengerti dan memahami arti yang sebenarnya dari istilah tersebut, termasuk penggunaannya dalam hubungan kekerabatan sehari-hari, sehingga tanpa kita sadari sebenarnya kerap kali kita keliru mengartikan dan menggunakannya.
Berdasarkan hal-hal tersebut saya melakukan penelitian kecil melalui penelahaan dan penelusuran berdasarkan keterangan-keterangan yang saya peroleh dari berbagai sumber untuk mencoba mendefinisikan dan meletakkan penggunaan yang tepat untuk istilah yang populer tersebut.
DEFINISI dan PEMBAHASAN
Istilah yang popular dan mulai melegenda itu adalah AMPARA (appara) yang dalam kata yang lainnya disebutkan juga dengan SANINA (senina).
Ampara/appara/sanina/senina adalah sebuah bentuk hubungan kekerabatan dalam masyarakat suku batak antara dua orang yang berasal dari satu leluhur yang sama (biasanya satu marga) dan belum mengetahui secara jelas dan pasti detail dari letak kekerabatannya (tarombo) siapakah yang secara kedudukan adat (parhundul sian partubu) lebih tua (hahang) atau lebih muda (anggi), dan juga masing-masing belum mengetahui secara generasi siapakah menjadi bapak (amang) dan siapa yang menjadi anak (anaha).
Selanjutnya setelah antara kedua orang tersebut bercerita (martutur) dan menjelaskan posisi masing-masing menurut garis leluhur (martarombo) sampai ditemukannya kedudukan dan posisi yang sahih pada masing-masing mereka, secara otomatis penggunaan istilah ampara/appara/sanina/senina tersebut akan gugur dan tak lagi boleh digunakan, digantikan dengan sebutan menurut garis dan kedudukan yang ada seperti disebut sebelumnya, hahang, anggi, amanguda, amangtua, anaha, ompung dan lain-lain sesuai adat dan budaya masyarakat batak.
Lebih jelasnya apabila kita sertakan contoh dalam kesehariannya,
Saya (penulis) yang bernama Apul Rudolf Silalahi suatu ketika melalui media facebook diperkenalkan dengan seorang yang bernama Herry Togu Silalahi. Selama masing-masing mereka belum bercerita secara detail mengenai garis leluhur dan kekerabatan (martutur huhut martarombo) marga Silalahi yang kami sandang, maka antara kami akan menyebutkan “ampara/appara” bila saling berjumpa dan mengobrol.
Kemudian salah satu bertanya sama lainnya : Silalahi mana? Oleh penulis mengatakan bahwa dia Silalahi Sondiraja dan Herry mengatakan bahwa dia Silalahi Baturaja. Setelah mengetahui hal ini jelas terlihat bahwa penulis dalam kedudukan marga Silalahi (sian partubu) lebih tua (hahang-an) dari Hery (anggi-an). Maka selanjutnya sebutan “ampara/appara” akan berubah menjadi “abang/hahang” dari Herry ke penulis dan penulis akan memanggil Herry dengan sebutan “adek/anggia”.
Lebih mendalam lagi masing-masing akan menanyakan satu sama lain generasinya (nomor-na) dari leluhur pertama yang menurunkan marga Silalahi. Diketahui bahwa penulis adalah generasi ke 16 dan Herry generasi ke 15 dari Silahisabungan. Maka tuntas sudah hubungan kekerabatan mereka dimana penulis secara adat dan budaya batak berkedudukan sebagai anak dan Herry berkedudukan sebagai bapak. Begitu juga dengan penyebutannya, penulis akan menyebut “bapauda/amanguda” kepada Hery dan Hery akan menyebut “anak/anaha” kepada penulis.
Bila kita melihat kenyataan yang ada sekarang ini, penggunaan istilah ampara/appara/sanina/senina sudah membias dan meluas dari definisi, batasan dan aturan yang sebenarnya. Dimana dalam keseharian sudah jamak dan terbiasa kita saksikan pemakaian istilah ampara/appara/sanina/senina berlaku terhadap sesama orang yang tahu bahwa mereka berada dalam satu persatuan antar marga (parsadaan-ni pomparan) dalam sebuah silsilah kekerabatan. Bahkan meskipun sudah jelas-jelas memiliki marga yang berbeda namun masih memiliki kekerabatan yang erat dari leluhur yang sama dengan lainnya, istilah ampara/appara/sanina/senina selalu diucapkan dalam setiap hubungan dan komunikasi.
Sebagai contoh, secara definisi dan aturan yang sebenarnya antara marga Marpaung dan Pardede yang tergabung dalam persatuan marga-marga dalam wadah Sonak Malela (parsadaan pomparan Raja Sonak Malela) tidaklah boleh berlaku istilah ampara/appara, karena jelas secara kedudukan lahiriah leluhur mereka (parhundul sian partubu) bahwa Marpaung adalah abang dari Pardede. Namun pada kenyataannya setiap antar mereka saling bertemu tetap saja saling menyapa dengan sebutan ampara/appara. Demikian juga pada keseluruhan hubungan kekerabatan marga lainnya dalam suku batak, antara Siahaan-Simanjuntak-Hutagaol (Tuan Somanimbil), Simbolon-Saragi-Sigalingging-dan lainnya (Naiambaton) dan yang lain sebagainya.
KESIMPULAN
Membias dan meluasnya lingkup pengertian ampara/appara/sanina/senina yang boleh dibenarkan hanyalah terbatas pada penyebutan dalam tindakan memberi atau menaruh rasa hormat dari yang secara kedudukan leluhur dan generasinya lebih tinggi (abang/hahang) kepada yang lebih rendah (adik/anggi). Contoh nyatanya adalah Lamdor Sihaloho boleh menyebut penulis dengan sebutan ampara/appara mengingat secara usia penulis lebih tua dari dirinya, namun dengan alas an apapun tidak dibenarkan dan jelas keliru apabila penulis menyebut dan memanggil Lamdor dengan sebutan ampara/appara.
Contoh yang paling sahih untuk istilah dan penyebutan ampara/appara adalah sebagai berikut :
antara penulis dengan saudara Moge Silalahi, setelah berbincang diketahui bahwa kami berdua adalah sama-sama keturunan dari Silahisabungan, namun demikian belum ditemukan secara jelas dan pasti antara satu dengan lainnya kedudukan leluhur keduanya secara lahiriah (parhundul-na sian partubu), untuk itu dalam setiap komunikasi maka penyebutan dan pemanggilan antara kami berdua adalah ampara/appara.
Sebagai penutup, akhirnya semua berpaling kepada masing-masing individu untuk memahami setiap ucapan ampara/appara/sanina/senina yang dilakukan kepada rekan se-marganya (dongan tubu-na), dan yang lebih penting lagi mengerti bahwa pengucapan tersebut semata-mata hanyalah untuk menunjukkan kedekatan hubungan antar keturunan yang berasal dari satu leluhur yang sama.
Sama juga seperti istilah “lae” yang telah popular dan melegenda lebih dulu, yang mana asal dan aslinya hanya berlaku bagi hubungan yang menunjukkan kekerabatan antara saudara ipar laki-laki, namun saat ini telah sangat meluas dan berlaku pada setiap ucapan dan panggilan antar sesama orang batak yang berlainan marga. Bahkan lebih dari itu, setiap orang yang bukan suku batak akan memanggil temannya orang batak dengan sebutan “lae”. Begitu juga dengan istilah “ito” seperti yang sama-sama kita ketahui.
Akhir kata penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan dapat memberi kesegaran bagi kita semua. Untuk kekeliruan yang mungkin ada mohon diberikan tanggapan dan perbaikan dan untuk kekurangan yang pasti ada mohon diberikan tambahan sehingga tercapai tingkat kelengkapan dan kesempurnaannya.
Gabe jala Horas.
molo huingot i sude,
loja ni da inang i,
marguru au sian na met-met tu na balga;
di-abing au di-oppa au,
asa sonang modom au,
di-dang di-deng didok tu au : DA HASIAN…!
Lippo Cikarang, January 26, 2010
Apul Rudolf Silalahi

Tnx sudah menyebut namaku disini. Aku tahu ini berdasarkan searching di Google.
Sedikit menambahkan…memang sebutan appara adalah sepertinya yang paling logis dan paling ‘adil’ bagi kedua belah pihak jika memang belum mengetahui asal – usul kedudukan leluhur keduanya secara lahiriah (parhundul-na sian partubu). Karena sebutan Hahang atau Anggi akan berlaku buat Hahaanggi kita yang satu horong sama kita.
Contoh kasus…. seandainya aku menyebut penulis sebagai “hahang” maka semua Hahaanggiku baik yang SARIPE maupun yang satu horong, dalam hal ini SILALAHI RAJA akan memanggil HAHANG ke Semua Hahaanggi dari penulis, baik yg SARIPE maupun yang satu Horong.
Jadi memang pemanggilan HAHANG maupun ANGGI tidak semudah pemanggilan nama atau gelar, karena itu akan terkait dengan hahaanggi yg satu horong. Nah…inilah yang mungkin menjadikan pemanggilan APPARA semakin populer di kalangan kaum muda Orang Batak terlebih lagi di dunia nyata (kehidupan sehari – hari)
Menurut saya, jika itu memang baik untuk kedua belah pihak (secara pribadi-bukan horong) sah – sah aja. Kalau secara horong, bukan kapasitas saya menilai.
Btw…tnx buat penulis…. saya sangat tertarik dengan tulisan2 seperti ini, menambah wawasan dan pengetahuan di kehidupan HABATAKON.
Salut n Sukses Selalu