Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Budaya & Adat Batak’ Category

Tano Pauseang

Apa sih pauseang ?
Pauseang adalah pemberian Hulahula dari harta benda miliknya(parbagiananna) kepada borunya.
Tentu proses pemberiannya secara adat dan diketahui oleh haha anggina untuk menghindari perselisihan dikemudian hari.
Berikut adalah penjelasan yang saya kutip dari buku Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak, ditulis oleh Drs DJ. Gultom Raja Marpodang- hal 507.
Pauseang adalah benda pemberian oleh hulahula kepada boru dalam bentuk lahan. Sekarang ini dikenal dengan tanah pauseang. Tano pauseang pada mulanya berasal dari bawaan putri waktu perkawinananya termasuk lahan yang diberikan oleh hulahula waktu maningkir tangga yang menjadi modal dasar untuk mandiri rumah tangga baru tersebut. Ulos na sora buruk-indahan arian juga masuk kategori tano pauseang. Sifat dari tano pauseang adalah USAKO yang tidak boleh dibagi tetapi diwarisi dan dikuasai oleh keluarga yang mendapat (menerima dari hulahulanya), tetap terikat kepada nilai pemersatu untuk rumpun keluarga dan bernilai restu dari hula-hula. Masih ada ikatan moral tanah pauseang dengan hulahula yang memberikan. Pauseang tidak boleh berada pada marga lain selain kepada turunan penerima tano pauseang.
Pada suatu saat Hulahula pada tingkat Bona ni ari akan menuntut pauseang dikembalikan kepada mereka dengan versi lain, apabila dari pihak boru(penerima pauseang) tidak ada yang “manguduti” (menikah kembali dengan boru marga pemberi tano pauseang).
Dari sifat dan makna nilai tanah pauseang dapat kita lihat bahwa tanah pauseang tidak hanya bernilai materi tetapi mengandung nilai moral yang berkelanjutan pemersatu antara hulahula dengan boru.

Horas,
St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Agam)

Read Full Post »

NANG HUMUNTAL PE ANGKA ROBEAN
Cipt: Drs. Bonar Gultom (Gorga)

Molo masa angka parungkilan
Molo songgop manang hangalutan
Holan sada natau sitiopon
Hata ni Tuhan ni padan nai

Nang humuntal pe akka robean
Manang munsat dolok tu toruan
Padan asi roha hada mean
Padan ni Tuhan i sai hot doi

Sai ingot padan ni Tuhan mu
Manipat ari manang borngin golomonmu
Dang jadi ganggu be rohamu
Tuhan i nampuna ngolumi
Ngolumi

Nang humuntal pe akka robean
Manang munsat dolok tu toruan
Padan asi roha hada mean
Padan ni Tuhan i sai hot doi

(kembali ke: Molo masa….)

Pada setiap pemberkatan pernikahan pastilah bapak/ibu pendeta menekankan dasar penikahan bagi umat Kristen. Matius 19: 6 “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Bagi orang Batak Kristen pernikahan bukan hanya mempersatukan dua insan yang telah sepakat membentuk rumah tangga yang baru, melainkan juga setidaknya mempersatukan dalam tatanan adat 2 keluarga besar yakni keluarga besar (marga) mempelai pria dan keluarga besar (marga) mempelai wanita.
Ketika orangtua mempelai perempuan akan menyampirkan ulos hela, tentu mereka menekankan kembali nats Matius 19:6 tadi demikian juga rombongan Tulang dan horong ni Hulahula pastilah mengingatkan mempelai: “Tung na so jadi hamu marsirang, so sinirang ni hamatean”.
Hal tersebut jugalah yang mengikat kedua mempelai untuk senantiasa hidup rukun dan bilapun kemudian hari ada perselisihan dalam rumah tangga maka keduanya berupaya semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan persoalan dan menghindari perceraian (jangan sedikit-sedikit minta cerai).
Bagi orang Batak Kristen perceraian adalah aib.
Mungkin terdengarnya terlalu ideal. Namun hal itulah yang diharapkan oleh setiap orang Batak Kristen, perceraian adalah hal yang tabu dan sangat dihindari.

Belakangan ini dalam kenyataan sehari-hari mulai ada perceraian pada keluarga Batak Kristen. Apakah ini pengaruh perubahan zaman ?. Dari sisi agama jelas hal itu dilarang kecuali jika salah satu dari mereka secara sah dan meyakinkan (dengan bukti yang kuat) melakukan perzinahan. Salah satu hal yang diajarkan Yesus di bukit (Khitbah di bukit), Matius 5:32 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.

Dari perspektif adat Batak proses perceraian pun sangat berat dan rumit karena istri adalah boruni raja dan suami anak ni raja, maka segala tindak tanduk harus juga raja (ada etika dan sopan santun yang menunjukkan kedudukannya) sehingga kalaupun harus bercerai (sirang) maka yang boleh menggugat cerai hanyalah suami karena istrinya sudah “dialap”(dilamar dari keluarga besar perempuan dan dinikahi dengan prosesi adat) maka bila terpaksa harus bercerai haruslah “dipaulak” (dikembalikan kepada secara adat kepada keluarga besar perempuan).
Tentu secara adat bukan perkara mudah bagi pihak keluarga suami”paulak parumaen” (mengembalikan menantu kepada besan). Hal inilah yang membuat meskipun kenyataannya suami istri tidak lagi serumah (padaodao) pihak suami tidak mengembalikan istrinya kepada mertuanya.
Bila hal itu terjadi berikut adalah beberapa pertanyaan yang akan muncul dikemudian hari.

1. Bagaimana bila ternyata istri tersebut belum melahirkan anak bagi suaminya, si istri tidak “dipaulak” malah sisuami menikah lagi dengan wanita lain. Tidak ada alasan menceraikan istri karena belum dikarunia anak dan si suami pun dengan alasan tersebut tidak dibenarkan untuk menikah lagi (ingat pernikah Kristen adalah monogami). Si istripun tidak diperkenankan kembali sendiri kepada orangtuanya. Bila suaminya meninggalkannya maka dari sisi adat batak dia berhak untuk tetap dikeluarga suaminya, bila perlu dia menetap dirumah mertuanya. Namun demikian dia berhak meminta kepada mertuanya untuk mengembalikannya kepada orangtuanya. Nah ini yang bikin mertua pusing 7 keliling, sulit melaksanakannya tetapi bila sudah diminta oleh menantu maka HARUS dilaksanakan, dan rasa malu luar biasa karena ini termasuk aib besar.

2. Bila istri tidak “dipaulak” padahal dia telah melahirkan anak bagi suaminya, bagaimana kedudukannya ?. Selama dia tidak “dipaulak” maka dia tetap menjadi istri sah, adapun anak-anak yang dilahirkannya adalah anak sah dari sisuami, bahkan bila pun kemudian sisuami menikah lagi dan mendapatkan keturunan dari istri keduanya maka putera dan putri dari istri pertama adalah sulung (siangkangan) dari putera dan putri istri kedua. Putra putri istri pertama memiliki hak waris dari harta kekayaan kakeknya(ompung) dan bapaknya(among).

Selama seorang istri tidak “dipaulak” maka dia TIDAK BOLEH menikah karena dia masih paniaran (menyandang nyonya dari marga suaminya). Bila telah”dipaulak” maka dia telah putus hubungan dengan keluarga besar mantan suaminya termasuk dengan anak-anaknya, segala hak dan kewajibannya terhadap keluarga besar suami telah berakhir. Dengan demikian dia boleh menikah kembali dan segala hak dan kewajibannya mengikuti suami yang baru.

Bagaimana bila tidak “dipaulak” tetapi si perempuan tersebut menikah kembali ?. Sebelum melangsungkan pernikahan, maka seharusnya pihak laki-laki yang akan menjadi suaminya harus menanyakan status dari si perempuan karena bila ternyata belum “dipaulak” mereka telah melangsungkan pernikahan, maka secara adat hal itu dianggap “selingkuh” karena si perempuan masih paniaran (nyonya) marga suami terdahulu.
Bila ternyata belum “dipaulak” maka solusinya adalah marga pria calon suami datang menemui marga suami si perempuan dan mengutarakan maksud dan tujuannya serta meminta melepas si perempuan dari ikatan tentu dengan “membayar kompensasi” (salah satu diantaranya mengembalikan sinamot yang telah disampaikan keluarga pihak suami kepada pihak perempuan). Bila keluarga pihak suami tersebut menerima permintaan tersebut maka status si perempuan sudah sama dengan “dipaulak”.

Bila belum “dipaulak” semua anak yang lahir dari hasil pernikahan tersebut adalah anak dari marga terdahulu. Bahkan bila kemudian hari perempuan tersebut meninggal dunia maka putra putri dari suami pertama berhak untuk meminta ibunya dimakamkan di makam keluarga mereka, karena hak dan kewajiban perempuan tersebut belum lepas. Sebaliknya bila sudah “dipaulak” maka putra putri dari suami pertama tidak berhak apapun bahkan bila mereka hadir diacara adat meninggal “mantan” ibunya, kehadiran mereka sama seperti pelayat umum bukan sebagai anak.

Dengan demikian perceraian dalam masyarakat Batak Kristen adalah hal yang sangat tabu dan bila terpaksa dilakukan prosesnya sangat rumit, mendapat sanksi sosial dan dari sisi gereja (secara khusus HKBP) maka orangtua dan keluarga tersebut akan mendapat RPP (siasat penggembalaan). )* dibeberapa gereja lain istilahnya berbeda namun pada umumnya mendapat penggembalaan.

Catatan penting:
Seorang perempuan selama belum “dipaulak” suaminya maka dia adalah istri sah, memiliki hak dan kewajiban dikeluarga marga suaminya sepanjang hidupnya. Bila sudah “dipaulak” maka terhitung hari tersebut hak dan kewajiban dikeluarga marga suaminya berakhir dengan sendirinya.

Demikian pemahaman saya berdasarkan apa yang saya pelajari dan yang saya terima dari penjelasan para tetua adat.

Tabe mardongan tangiang.

Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam)

Read Full Post »

Betapa kecewanya saya hari ini (Sabtu 28 September 2013) mendengar permintaan lagu dari Parboru, Dongan Sahuta maupun para Hula-hula dan Tulang ketika akan mangulosi di pesta unjuk di Gedung Serba Guna Puri Agung Cengkareng -Jakarta Barat.

Bisakah pembaca yang budiman bayangkan bukankan lagu yang dinyanyikan mengiringi saat mangulosi adalah bagian dari doa dan harapan dari yang mangulosi. (note: mangulosi menyampikan ulos dengan terlebih dahulu menyampaikan doa dan harapan kepada TUHAN Sumber Segala Berkat dan Kasih Karunia).
Apakah ada makna doa pada lagu O Burung, Anak Medan, Boru Toba (ada bait body sexy, goyang aduhai), Goyang Deli, Selayang Pandang ?. Hancur generasi berikutnya oleh karena ulah para orangtua yang “gintal” berjoget.

Menurut hemat saya kalau hanya ingin joget datangnya ke tempat berjoget jangan ke pesta unjuk (pesta adat pernikahan), silahkan berjoget sepuasnya disana.

Harus kita yakini setiap ucapan dan bait lagu yang dinyanyikan adalah bagian dari doa dan harapan.
Ayo kita berubah oleh pembaharuan budi.

Teriring doa dan salam.
St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Sahat tu sadarion ndang polin dope pangantusionku (belum lengkap/belum puas – jawaban yang saya dapat belum memuaskan pertanyaanku) taringot tu suhi ni ampang naopat.
Didok natuatua di Bona Pasogit ia namargoarhon suhi ni ampang naopat sasintongna ninna ima:
1. Dongan tubu,
2. Hulahula,
3. Boru
4. Raja (Raja Huta/Natuatua ni Huta),
Poda ni sijolojolo tubu mandok manat” mardongan tubu, “somba” marhulahula, “elek” marboru, “pantun” marraja. Laos dipaihuthon do dohot uhum tusi, molo sala tu suhi ni ampang naopat, ingkon; “sulangan” dongan tubu, “parpisoan” hulahula, “parulosan” boru, “bulangbulangan” raja.

Hape molo ditano parserahan on namasa niida diangka pesta unjuk tarsongon on ma:
Suhi ni ampang naopat di horong ni Paranak:
1. Pamarai/Pangamai – amangtua ni namangoli,
2. Simanggokhon/amanguda ni namangoli,
3. Sihunti ampang/iboto ni namangoli manang namboruna
4. Hulahula/Tulang ni namangoli (sijalo tintin marangkup)
On ma tugas & peran ni Pamarai & Simanggokhon:

http://sitorusdori.wordpress.com/2009/06/30/tugas-pamarai-simanggokhon-paranak-di-ulaon-unjuk-pesta-nikah/

On ma Tugas & Peran ni Sihunti Ampang dohot Boru Parlopes:

http://sitorusdori.wordpress.com/2010/08/10/tugas-boru-parlopes-dan-sihunti-ampang/

On ma Tugas & Peran Hulahula/ Tulang ni namangoli:

http://sitorusdori.wordpress.com/2009/06/30/tugas-peran-hula-hula-ni-paranak-tulang-ni-pangoli-di-ulaon-unjuk/

Suhi ni ampang naopat di horong ni Parboru:
1. Sijalo Bara-amangtua ni namuli,
2. Simandokhon/iboto ni namuli,
3. Sijalo Upa Parorot/Pariban manang Namboru ni namuli
4. Hulahula/Tulang ni namuli (sijalo upa Tulang).

On ma tugas & peran ni Sijalo Bara & Simandokhon:

http://sitorusdori.wordpress.com/2009/06/30/tugas-sijalobara-simanggokhon-paidua-ni-suhut-pihak-parboru-di-ulaon-unjuk-pesta-nikah/

Tugas & Peran ni Sijalo Upa Parorot dohot Boru Parlopes hampir sama dengan Sihunti Ampang dohot Boru Parlopes ni pihak paranak, bedanya adalah mereka menerima Upa Parorot.

On ma Tugas & Peran Hulahula/ Tulang ni namuli:

http://sitorusdori.wordpress.com/2009/06/30/tugas-peran-hula-hula-ni-parboru-tulang-ni-boru-muli-di-ulaon-unjuk/

Molo mangihuthon pandohan ni natua-tua na sian Bona Pasogit i, diparserahan on nunga dihalupahon halak hita hape Dongan Tubuna dohot Raja ni Dongan Sahuta (Natuatua ni huta).
Suang songon i pe nang angka Raja ni Huta (diparserahan tarajumi ma i pangurus ni parsahutaon/stm) ndang diharingkothon be laho panuturi diangka ulaon ni dongan sahutana ima ruasni punguan naginomgomanna. Holan patoroptorophon jala manolopi nama nasida ? Boha nama i ate ?.

Hulului pangantusion laho pamorahon parbinotoan dapot ma naginurathon ni amang Monang Naipospos, boima tajaha marhite on:

http://tanobatak.wordpress.com/2007/11/16/suhi-ni-ampang-naopat/

Marhite on pinangidohon tu amanta raja dohot inanta soripada, tuturi hamu hami angka sundut naumposo asa lam dasip pangatusion dohot parbinotan nami taringot tu paradatonta i.
Disiala haradeon muna manuturi hami, parjolo hupasahat hami mauliate godang.

Tabe Mardongan Tangiang

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus).

Read Full Post »

Saat ini kami keluarga besar Pomparan Op. Paralatan Sitorus (Lumban Tongatonga – Silamosik) yang berdomisili di Jabodetabek sedang bergumul untuk meyakinkan anak kami Benny Sitorus agar rencana pernikahannya dapat berlangsung secara adat Batak. Tidak dapat dipungkiri bahwa pergumulan kami ini juga dialami oleh para orangtua yang anaknya telah lahir dan besar di tanah perantauan (misal Jabodetabek), dimana secara umum saat ini para pemuda/i Batak mulai mengkritisi makna adat Batak dalam pernikahan, bahkan tidak jarang disertai argumen akan kalkulasi biaya dimana berdasarkan pemahaman mereka pernikahan adat Batak tidak efisien dan cenderung pemborosan dengan asumsi sejumlah biaya yang harus dikeluarkan tersebut bila dimaamfaatkan sudah bisa menjadi uang muka (DP) untuk pembelian rumah.

Sebagai keluarga yang masih muda saya pribadi dapat menerima argumen mereka, namun saya juga punya kewajiban untuk menjelaskan kepada mereka apa itu adat Batak dan apa mamfaatnya.
Oleh karenanya saya berencana melalui tulisan memberikan pencerahan kepada generasi muda tentang pernikahan adat Batak, mamfaat serta konsekuensinya bila tidak menikah secara adat Batak.
Sementara saya sedang mencoba merangkai kata-kata dan membuatnya dalam bentuk tulisan, tiba-tiba di Facebook grup HATA BATAK (Partungkoan) anggidoli Freddy Bahara Hutajulu bertanya dan meminta masukan dari saya akan hal yang sedang dihadapinya. Berikut korespondensi kami melalui Facebook :

Pembicaraaan 2

Apa kesimpulan dari korespondensi kami tersebut ?.
Seorang ibu yang telah berusia 80 tahun meninggal dunia, semua anak-anaknya (baik anak maupun boru) telah berumah tangga dan telah dikarunia cucu baik dari anak maupun boru. Dalam adat Batak maka seyogyanya status meninggal ibu tersebut Saur Matua (tidak ada lagi kedukaan karena sudah tidak ada beban hidup yang masih dipergumulkan). Yang dapat saya “tangkap” secara ekonomi (finansial) semua keturunan almarhumah mampu untuk melaksanakan adat Saur Matua, namun terbentur karena ternyata putera sulungnya yang sudah menikah dan dikaruniai anak ternyata belum mangadati (nikah secara adat Batak).
Oleh karena hal tersebut diatas maka selama anaknya belum mangadati (pasahat sulang-sulang pahompu kepada keluarga besar mertuanya) maka adat Saur Matua tidak akan bisa dilaksanakan dan nama cucunya almarhum ibu dari putera sulungnya tidak akan pernah bisa disandangnya bahkan di makamnya tidak ditulis Op…. (nama anak dari putera sulung tersebut). Bahkan yang paling mengerikan adalah putera sulungnya dan menantunya tidak boleh menerima ulos holong dari siapapun di acara adat pemakaman sang ibu, jika ingin menerima ulos maka hanya putera sulung tersebut tanpa didampingi istrinya. Kenapa demikian ? Karena secara adat Batak mereka belum menjadi suami isteri karena mereka belum pernah menerima Ulos Hela (Ulos Marhasohotan)
Prinsip dalam adat Batak : Na so manjalo adat ndang talup pasahathon adat, na so pasahathon adat ndang talup manjalo adat. (Yang belum melaksanakan rangkaian adat tidak layak menerima adat, yang belum menerima adat tidak layak melaksanakan adat).
Dalam hal yang kami bahas diatas maka putera sulung almarhumah tersebut belum mangadati, oleh karenanya mereka (sebagai suami istri) tidak layak menerima ulos holong dan acara adat meninggal bagi ibunya tidak boleh mencantumkan nama cucu (anak) dari si sulung.
Bagaimana menjembatani hal tersebut ? Harus membujuk pihak keluarga mertua si sulung agar bersedia memberikan “dispensasi” dengan janji akan segera mangadati. Tapi sesungguhnya betapa malunya kita harus minta “dispensasi” saat orangtua kita meninggal dunia agar layak menerima ulaon Saur Matua ?.
Ya, kalau pihak mertua berbesar hati dan mau, bila tidak ?.

Itulah contoh nyata yang akan kita alami bila kita menikah tidak secara adat Batak. Perihal argumen kaum muda tentang pemborosan, tidak efisien dan ribet, sesungguhnya hal itu karena apa yang mereka lihat adalah merujuk kepada pesta pernikahan orang Batak yang dilakukan di gedung-gedung besar dan mewah. Pada hakekatnya pesta adat pernikahan orang Batak akan sah bila pesta adat tersebut dihadiri oleh unsur Dalihan Natolu, paopat sihalsihal. Siapakah mereka tersebut ? Yakni Hulahula dohot Tulang(Parboru dan Tulang Pangoli -mertua ayah kita, serta Tulangnya ayah kita), Dongan Tubu (kelompok marga ayah kita), Boru (kelompok saudara perempuan ayah kita) dan dilengkapi Dongan Sahuta(termasuk aleale dan warga gereja). Tidak perlu banyak orang yang diundang dan sangat memungkinkan dilaksanakan dirumah, artinya sederhana dan tidak perlu mewah (besarnya seperti ungkapan syukur baptis anak maupun lepas sidi).
Lho… bagaimana dengan prosesi adat yang terkesan berteletele dan satu harian penuh ?. Sesungguhnya banyak hal yang dilaksanakan berupa “bumbu-bumbu” (lebih banyak bumbu daripada ikannya) sebagai contoh bila di gedung sering kita lihat ketika akan memberikan Ulos Hela ada grup penari, ada lagu khusus sebelum mandok hata (memberi petuah, doa dan harapan),setelah menerima Ulos Hela pengantin diiringi lagu berjalan membawa bunga atau buah kepada Tulangnya kedua mempelai (sesungguhnya hal ini tidak ada dalam budaya Batak), dan lain sebagainya. Dapat kita bayangkan jika dilakukan dirumah maka akan jauh lebih simpel dan hemat biaya.

Sekarang ini banyak orang Batak “napatealtealhon”, karena dilihatnya orang lain pesta digedung yang kapasitas 1.000 orang maka dia tak mau kalah dicarinya gedung yang lebih besar, bahkan konon ada yang sampai berhutang asalkan pernikahan anaknya terkesan wah dan meriah. Lebih hebatnya lagi ada orang Batak yang dengan bangga mengatakan ” ah naramean pesta pangoli ni anakta i maradu so hasiatan hundulan ni natorop jala godang na sodapotan sipanganon” (ah luar biasa ramenya pesta pernikahan anak kita, sampai-sampai orang tidak kebagian tempat duduk dan banyak yang tidak makan). Lho bukankah hal tersebut aib (hailaon) bagi keluarga tersebut ? Mengapa ? Karena mereka mengundang tamu tanpa mempersiapkan tempat dan makanan bagi tamu yang diundangnya. artinya mereka mempermalukan dirinya dengan mengundang jauh lebih banyak dibanding kemampuan atau yang mereka persiapkan. Lha yang terjadi kok malah bangga bercerita, kalau boleh saya katakan “bursik deh, malumaluin”.

Mari kita kembali ke makna yang sesungguhnya, ADAT DO NA METMET, ADAT DO NA BALGA. Sah tidaknya pernikahan adat Batak tidak ditentukan oleh wah dan meriahnya pesta, YANG PENTING dihadiri unsur Dalihan Natolu paopat sihalsihal.
Mari kita renungkan, apakah yang baik bagi kita. Saya tidak ingin memaksakan bahwa harus nikah secara adat Batak, tetapi saya mengingatkan jika kita mengaku orang Batak maka kita berkewajiban melestarikan budaya yang tidak bertentangan dengan keyakinan (agama dan kepercayaan) kita. Mari kita sesuaikan tanpa menghilangkan makna.

Semoga tulisan ini menjadi pencerahan bagi kaum muda Batak agar tidak memandang pernikahan adat Batak hanyalah sebuah pemborosan, tidak efisien dan berteletele.

Tangerang Minggu 16 Juni 2013, tabe mardongan tangiang.
St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

NARASAON anak dari Datu Pejel

NARASAON anak dari Datu Pejel

Banyak pertanyaan muncul menanyakan mana yang benar Pomparan Nai Rasaon atau Pomparan Na Rasaon ?
Tuan Sorimangaraja mempunyai 3 istri yakni: 1.Boru Paromas/Boru Antingantingsabungan yang melahirkan Ompu Tuan Nabolon (ada juga penulis yang menyebut namanya Ompu Sorbadijulu). Anak-anak Ompu Tuan Nabolon inilah si Bolontua (Simbolon – seluruhnya), Tambatua – melahirkan banyak marga-marga, Saragitua – melahirkan banyak marga-marga, dan Muntetua – yang juga melahirkan banyak marga-marga. Dikemudian hari istri pertama Tuan Sorimangaraja ini dikenal dengan panggilan Nai Ambaton. Estimasi terkini keturnanan Nai Ambaton menurunkan 70-an marga yang disebut dengan PARNA (Parsadaan Nai Ambaton) “na boloni”. 2. Boru Bidinglaut melahirkan 1 anak yakni Datu Pejel (beberapa penulis menyebut nama Datu Pejel = Ompu Tuan Sorbadijae) Dikemudian hari istri kedua Tuan Sorimangaraja ini dikenal dengan panggilan Nai Rasaon. Anak Datu Pejel bernama Narasaon. Narasaon punya 2 anak (kembar dalam balutan) yakni Raja Mangatur(menurunkan marga Sitorus, Sirait, Butarbutar) dan Raja Mangarerak(menurunkan marga Manurung). 3. Boru Parsanggul Haomasan melahirkan satu anak, bernama Tuan Sorbadibanua (keturunan Tuan Sorbadibanua ada 8 anak) diantaranya: Sibagot ni Pohan, Sipaettua(Pangulu Ponggok, Partano Nai Borgin, Puraja Laguboti(Pangaribuan,Hutapea), Silahisabungan, Raja Oloan, Raja Hutalima, Raja Sumba, Raja Sobu, Raja Naipospos. Dikemudian hari istri ketiga Tuan Sorimangaraja ini dikenal dengan panggilan Nai Suanon/ Nai Tungkaon. Kembali ke topik NAI RASAON atau NA RASAON ? Jawabannya tergantung ke kata penanyanya. Misal Pomparan ni ? Maka jawabannya NAI RASAON. Jika kata penanyanya Pomparan ? Jawabannya NARASAON. Artinya jika kita menyebut NAI RASAON akan mengingatkan seluruh pomparan ni NAI AMBATON dan NAI SUANON bahwa dahulu kala ibu mereka kakak beradik (3 istri dari Tuan Sorimangaraja). Jika kita menyebut NA RASAON maka kita tahu kita adalah turunan DATU PEJEL. Kesimpulannya: NA RASAON adalah anak dari DATU PEJEL, NAI RASAON adalah Ibunya DATU PEJEL (boru Biding Laut). Jika hingga saat ini sebagian orang masih menyebut Pomparan Nai Rasaon itu adalah kebiasaan menyebut nama ibunya DATU PEJEL. Menurut hemat saya tidak ada yang salah dalam hal tersebut, yang penting kita mengetahui apa yang kita sebut.

Semoga tulisan ini menambah pemahaman kita.

Salam hangat Pomparan Narasaon

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Parsadaan Raja Sitorus Dohot Boruna se Jabodetabek, WILAYAH TANGERANG akan menggelar Pesta Bona Taon pada hari Minggu 03 Maret 2013 pukul 09.00 Wib bertempat di Gedung Pertemuan TNI YONKAV 09 COBRA, Jl. Raya Serpong – Pondok Jagung – Serpong, Tangerang. Informasi dan undangan dapat diperoleh di Ketua Sektor masing-masing.

Unang lupa mamboan ulosna be (Ama – Ragi Hotang/Sirara, Ina – Sadum, Dakdanak – Ulos Parompa/Mangiring).

Read Full Post »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 877 other followers

%d bloggers like this: