Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Budaya & Adat Batak’ Category

Disetiap kegiatan mandok hata maka hampir pasti kita akan mendengar beberapa umpasa yang merupakan doa dan harapan dari si yang menyampaikan umpasa. Begitu satu umpasa selesai di sampaikan maka secara otomatis khalayak ramai yang hadir pada acara tersebut menyahutinya Ima tutu (yg sering terdengar emma tutu).

Seorang kawan bertanya apa makna “Ima tutu” tersebut ?. Sepanjang pengetahuan saya maka arti dan makna “Ima tutu” tersebut adalah mengaminkan doa dan harapan dari si yang memberikan petuah maupun umpasa tersebut.

Dalam beberapa kali kesempatan bertemu dan berbincang tentang Budaya Batak dan KeKristenan dengan amang Pdt. A. Silitonga, BSM, menurut beliau sesungguhnya dahulu kala kata “Ima tutu” itu masih harus diikuti kata “Olop olop” yang bermakna dengan suka cita kami menerima doa dan harapan tersebut. Menurut beliau saat ini sudah sangat jarang mendengar kata “Olop olop” tersebut dan itu menandakan terjadinya pergeseran pada budaya Batak.

Penasaran akan hal tersebut saya juga bertanya kepada beberapa “natua-tua” dan umumnya mereka membenarkan bahwa sesungguhnya sesudah kata “Ima tutu” maka langsung diikuti kata “Olop olop”.

Contoh ketika Hulahula menyampaikan umpasa:

Bintang na rumiris ma tu ombun nasumorop.
Anak pe antong di hamu riris boru pe tung torop.

Langsung di sahuti oleh pihak parboruon( keluarga yang menerima petuah dan umpasa tersebut) dengan ungakapan “Ima tutu, Olop olop”.

Memang saya akui sepanjang pengamatan saya di setiap pesta unjuk (pesta nikah) hampir tidak pernah mendengar kata “Ima tutu” yang langsung diikuti kata “Olop olop”.  Yang umum berlaku  ialah mardalan ma Olop olop dung sidung mangampu (dipenghujung acara adat sebelum ditutup dengan doa oleh Hulahula/Parboru, maka dilaksanakan acara Olop olop) yang menurut hemat saya maknanya jauh berbeda.

Lantas apa upaya kita ?. Saya mulai mempraktekkan hal tersebut. Sabtu 27 Agustus 2011 lalu ketika saya menjadi Raja Parhata ulaon pasahat sulang sulang pahompu marga Sitorus tu hulahula i Raja Sirait di Aula Gereja Oikumene Perumnas I Bekasi (Jl. Komodo Raya), maka setiap Hula-hula Sirait menyampaikan umpasa saya langsung jawab “Ima tutu, Olop olop”.

Saya akan berupaya untuk konsisten melakukan hal itu dalam setiap kesempatan mengingat makna yang luar biasa dari kata “Ima tutu, Olop olop” tersebut.

Semoga tulisan ini dapat menjadi bagian dari upaya pencerahan kepada generasi muda Batak yang rindu untuk mengenal dan mempelajari budaya Batak.

Tangerang 01 September 2011.

Teriring salam dan doa.

St. Sampe Sitorus/ br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Saya sedang berupaya untuk mengerti betul arti umpasa. Rasa penasaran membuat saya untuk mencari tahu arti setiap kata dan makna yang terkandung pada setiap umpasa. Saya juga berupaya agar tahu latar belakang / filosopi yang terkandung didalamnya.

Tulisan ini akan terus saya perbaharui setiap mendapatkan pengetahuan yang baru tentang umpasa. Berikut beberapa yang dapat saya posting.

1.   Paukpauk hudali, Pagopago tarugi.
      Natading taulahi, Nasega tapauli.
 
Hudali = cangkul
Tarugi=kayu batang pohon enau(pakko), jenis kayu ini biasanya dipakai sebagai patok batas tanah karena terkenal tidak mudah busuk. Biasanya kayu batang enau ini dipantikkon (dikubur) di parbalohan (sudut batas sawah dengan sawah milik orang lain). Sangat pantang untuk memindahkan patok , namun jika rusak secepatnya untuk diganti dengan disaksikan oleh pemilik sawah yang berbatasan dengan kita.

Jika kita artikan maka umpasa diatas mengandung makna sbb:

Jika kita membajak sawah maka bagian yang tertinggal/terlewatkan belum terbajak akan kita ulangi bajak kembali agar tidak ada bagian sawah yang tidak terbajak.

Ada batas (patok) yang jelas yakni pago yang biasanya terbuat dari kayu batang enau. Jika kayu batas tersebut rusak maka kita akan memperbaikinya agar batas tetap ada dan tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Dalam artian sehari-hari bila ada tindakan atau perbuatan yang kurang maupun lebih (ter) mohon maaf dan mari kita perbaiki bersama agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.

Demikian sementara yang dapat kami bagikan, sambil menunggu masukan dari para pembaca untuk menambah khasanah pengetahuan kita tentang umpasa.

Medang Lestari 28 Agusutus 2011

Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Sabtu 09 Juli 2011 kami menghadiri pesta pernikahan (pesta unjuk)mempelai pria marga Siburian dan mempelai perempuan boru Manullang bertempat di Gedung Sejahtera Pondok Gede. Kami Sitorus sian Lumban Tongatonga Silamosik hadir sebagai Hulahula Anak Manjae dari keluarga Parboru (Manullang).

Sudah menjadi kebiasaan saya setiap menghadiri undangan adat Batak maka saya akan dengan seksama memperhatikan setiap tahapan pelaksanaan adat. Maklumlah saya sedang semangat belajar menjadi Raja Parhata. Berikut ini menurut pengamatan saya yang kurang lazim di pesta unjuk tersebut sbb:

Tintin Marangkup sesama marga Manullang.

Parboru adalah marga Manullang (mempelai wanita boru Manado diain menjadi boru Manullang/menjadi boru Tulangnya mempelai pria). Hulahula dari paranak berarti marga Manullang. Dengan demikian pengantin pria mangalap boruni Tulangnya (menikah dengan paribannya). Jadi seyogyanya untuk pernikahan seperti ini TIDAK BERLAKU Tintin Marangkup, melainkan SURUNG SURUNG Tulang tangkas.

Namun apa yang terjadi di pesta unjuk tersebut ?. Tintin marangkup dan semua “panghataion dohot umpasa” berjalan sebagaimana lazimnya seorang mempelai pria menikah dengan boru marga lain. Seolah Parboru dan Hulahula ni Paranak (Tulangnya mempelai pria) beda marga. Bahkan umpasa ini dikatakan Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, boru marga dia pe dialap bere i sai tong doi boru ni Tulang. Bukankah berenya menikahi boru mereka yakni boru Manullang ? Jadi seharusnya umpasa tersebut TIDAK mereka kemukakan. Bagaimana mungkin marga Manullang mengatakan kepada sesama marga Manullang mulai sadarion sisada boru ma hita. Bukankah sudah sejak dahulu kala marga Manullang sisada boru ?. Menurut hemat saya seharusnya pihak parboru hanya pasahathon surung surung Tulang tangkas ni helanya. Menggelitik juga ketika pihak Tulang tangkas agak “tertawa cenderung seperti kurang serius” ketika mangalusi hata ni parboru.

Menurutku hal tersebut sebuah bagian rangkaian adat yang terkesan dipaksakan untuk terlaksana, seolah olah setiap pesta unjuk harus ada tintin marangkup.

Note: Tintin marangkup secara gamblangnya adalah kesepakatan/berjanji antara Tulangnya mempelai pria dengan orangtua mempelai wanita bahwa meskipun mempelai pria menikah bukan dengan putri mereka melainkan dengan putri dari marga lain, namun mereka akan memperlakukan mempelai wanita sama seperti putri mereka sendiri. Pihak Tulangnya mempelai pria akan memperlakukan si mempelai perempuan sama seperti putri mereka. (Sisada boru ma nasida). Kesepakatan ini sesungguhnya membawa konsekuensi logis dalam banyak hal.

Boha pandapot ni angka dongan ?. Bahen hamu pandapot muna ate?

Tabe mardongan olop-olop.

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Jotjot pinarrohahon hatiha mandok hata diangka rumang ni ulaon, ulaon nametmet (dijabu) manang ulaon nabalga (mangajana) didok angka namandok hata tarsongon on:

Pinuji ma Tuhanta ala asi dohot holong ni rohaNa boi hita marnatampak marpungu di tingki on, marbonsir ma i naung manjalo pandidion nabadia …. , sipata binege adong namandok: marbingkas ma i naung jumolo dialap Tuhanta ina na tahaholongi on.

Panuturion ni natua-tua (ala nuaeng on ahu marsiajar gabe Raja Parhata jadi godang do pinangido panuturion sian angka natua-tua termasuk ma angka Raja Parhata Senior), didok SITONGKA do dohonon hata marbonsir manang marbingkas hatiha mandok hata iba.

Aha umbahen na di dok nasida songon i on do:

Marbonsir sian hata bonsir marlapatan do i (dalam bahasa Indonesia-  penyebab, yang menyebabkan, disebabkan karena), namun lebih cenderung ke hal yang negatif. Contoh: Bonsir soada do nian parbadaan nasida. Bonsir hasesega, Bonsir hamamago.

Marbingkas sian hata bingkas, molo na bingkas ima “sambil” (dalam bahasa Indonesia perangkap). Dikampung halaman kami “sambil” adalah sejenis perangkap. Untuk menangkap burung Silopak dipasanglah “sambil” – perangkap berupa sangkar burung dimana didalam sangkar ada burung Silopak betina, maka burung Silopak jantan akan datang mendekat dan ketika burung jantan masuk, maka otomatis “sambil” tertutup (masuk perangkap). Demikian juga untuk menangkap “aili” (babi hutan) maka dipasang “sambil” -sejenis ranjau, ketika babi hutan tadi menginjak maka otomatis  kawat sling melibas leher maupun bagian tubuh babi hutan tersebut.

Molo songon i aha do sidohonon ? Tarsongon on ma nian:

Pinuji ma Tuhanta ala asi dohot holong ni rohana boi hita marnatampak marpungu di tingki on, SIALA naung manjalo pandidion nabadia …. , SIALA naung jumolo dialap Tuhanta ina na tahaholongi on.

Siala sian hata ala, namarlapatan (bahasa Indonesia) oleh karena.

Contoh:

Marbonsir ma i -> maknanya sesungguhnya kita kurang menyukai hal itu terjadi.

Marbingkas ma i -> maknanya sesungguhnya kita menghindari hal tersebut terjadi, tapi apa daya kita telah terperangkap didalamnya.

Siala -> maknanya oleh karena, cenderung positif.

Memang sulit menjelasakan perbedaan kata Bonsir, Bingkas dan Siala, namun jika dalam rangkaian kalimat maka maknanya akan jauh berbeda.

Alai nang pe songon i hatangki di tambai angka dongan ate ?

Tabe mardongan tangiang,

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus).

Read Full Post »

Dalam beberapa kali perbincangan dapat saya simpulkan secara umum kita merasakan bahwa hampir semua ulaon adat Batak “sangat menyita waktu” (parsadarian) dan terkesan bertele-tele. Mengapa bisa demikian ?. Dari beberapa pendapat yang mengemuka dapat saya rangkum sbb:  (contoh pesta unjuk)

  1. Banyak unsur “kura-kura dalam perahu” terkesan berbasabasi. Contoh di Jabotabek marhata sinamot dilaksanakan sewaktu pesta unjuk sehingga terkesan basabasi karena pada prinsipnya semuanya sudah dibicarakan ketika patua hata dan marhusip nagogo. –> Masalahnya adalah ketika Patua Hata dan Marhusip nagogo pihak Hulahula dan horongnya Tulang tidak ikut serta sehingga kepada mereka (dijolo ni mangajana) harus di sampaikan perihal sinamot dan mereka harus mendengar pembicaraan kedua belah pihak (paranak maupun parboru).
  2. Terlalu banyak waktu tersita ketika akan pasahathon manang manjalo todoan/panandaion. –> Seringkali orang yang sudah dihunjuk untuk pasahathon/manjalo todoan masih harus di cari terlebih dahulu (ndang pintor mangarade).
  3. Terlalu banyak waktu terbuang ketika mandok hata sewaktu akan mangulosi. –> Mandok hata bertele-tele dan mengulang persis apa yang sudah disampaikan pembicara sebelumnya (isarana pulik mandok hata  jala mangido musik boru sian hulahula). Disisi lain terkadang yang disampaikan tidak ada relevansinya dengan ulaon (malah ada yang terkesan seperti martarombo).

Point 1 agak sulit solusinya, dibutuhkan kesepakatan semua pungun marga jika hendak mengubahnya. Note: Nasomal di Bonapasogit (Toba dohot nahumaliangna) ulaon marhata sinamot dipatupa dung mulak sian martumpol di gareja. Molo di Jabotabek mulak sian martumpol dipatupa ma Martonggo Raja manang Marria Raja.

Point 2 & 3 dapat kita minimalisir dengan mudah. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran dan disiplin.

Pihak paranak dan parboru haruslah punya prinsip bahwa manjanghon haroro ni parumaen di jabu ni paranak ingkon di torang ni ari. (Menyambut kedatangan menantu dirumah pihak laki-laki haruslah sebelum fajar menyingsing).

Boha pandapot ni angka dongan ? Di tambai dongan ma ate !.

Tabe mardongan tangiang.

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Marsogot Jumat 10 Juni 2011 pukul 15.00 WIb, naeng Martumpol ma anaknami Martin Octavianus Sitorus, SH dohot oroanna Penny Juniska br Situngkir, SH maringanan di HKBP Ressot Slipi – Jakarta Barat. (Putra kel. Robinson Sitorus/br Sijabat – Slipi Jakarta Barat)

Songon na somal tontu dung sidung acara partumpolon pintor pasahaton ni pangula ni huria do partingkian tu hasuhuton paranak nang parboru laho mandok hata. Sian dos ni roha ni hami paranak ditingki tonggo saripe, marsogot mandok hata pinasahatma tu anggidoli St. Biller Sitorus (A.Alex) bapatua ni si Martin (ompu martinodohon). Tarsongon on ma hata na naeng sipasahaton ni nasida:

Tamada do hita mandok mauliate tu Amanta Debata Pardenggan Basa siala asi dohot holong ni roha na natongtong mangiringiring hita saluhutna sian angka ari naung salpu rodi tingki on tarlumobi ma i  sadarion mansai denggan jala une ulaon Partumpolon ni anak nami dohot oroanna ima na naeng parumaennami,  boru ni Hulahulanami Raja i Raja Situngkir. Tangkas do nangkin nunga di patumpolhon nasida di jolo ni huria ni Tuhanta  marhite naposona amang pandita.

Asa dohonon nami ma antong mauliate godang tu amang pandita …………………… suang songoni tu saluhut parhalado ni hurianta HKBP Ressort Slipi naung manghobasi jala patupahon ulaon partumpolon i. Udut tusi pasahaton nami do mauliate tu organist dohot sude punguan koor naung mamuji  pasangaphon goar ni Tuhanta marhite ende dohot puji-pujian naung ni endehon nasida, marsangap ma antong goar ni Tuhanta jala hita pe saluhut taruli pasu-pasu hinorhon ni ende puji-pujian i.

Namangihut, mauliate godang ma hupasahat hami tu saluhut hamu nahuparsangapi hami, Hula-hula nami Raja Sijabat, Tulang dohot Bona Tulang nami  Raja Manurung, Tulang Rorobot nami Raja Sitohang, saluhut horong ni Hula-hula dohot Tulang,  suang songon i ma nang di hita namardongan tubu pomparan ni ompunta Raja Sitorus, Boru dohot Bere/Ibebere nami, ale-ale, pariban, dongan sahuta nang  dongan sahuria, suang songoni ma di hamu Hula-hula nami Raja i Raja  Situngkir dohot saluhut uduran muna, mauliate godang ma hupasahat hami di haradeon dohot harentaon muna mangadopi acara partumpolon ni anak nami dohot boru ni Raja i di namarsangkap nasida naeng mamungka pardongan saripeon jala naeng manjalo pasu-pasu parbogason nasida di ari Jumat 17 Juni 2011 na naeng ro marhite naposo ni Tuhanta di bagas joro on.

Ala ni i,  marhite on tung  gomos do pangidoon nami asa rap taboan nasida di tangiangta, asa tiur sude sangkap nasida, jala dao ma angka abat-abat. Suang songoni ma nang di hami bona ni hasuhuton paranak dohot Hula-hula nami Raja Situngkir, boan hamu hami ditagiangmuna asa dipagogoi jala di parbisuhi hami di na naeng mangarade patupahon angka nahombar tu pamasupasuon dohot pesta unjuk ni ianakhon nami.

Dibagasan las ni roha, sian asi dohot holong ni Tuhanta marhite pasu-pasuNa, huparade hami do kopi, teh manis dohot lampet asa rap manghalashon ma hita saluhutna. Botima mauliate. Horas.

Note: Ulaon Tonggo Raja nunga dipatupa diari Sabtu 28 Mei 2011 na salpu.  Ido umbahen dang pola hatahononhon asa rap udur hita Sitorus, Boru dohot bere tu bagas ni hasuhuton. Jadi dung mulak sian gareja molo tung rap udur pe hami namarhahamaranggi tu bagas ni hasuhuton paranak dang tonggo raja be, holan na manaringoti angka pangaradeon nama i.

Tarsongon i ma gambaranna, boi ma dipahantus.

Tabe mardongan tangiang.

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang.

Read Full Post »

Seorang teman mengajukan pertanyaan diatas (judul postingan) ini kepada saya. Jujur saya kaget mendengar pertanyaan tersebut, akhirnya saya jawab bahwa setahu saya tidak ada tarif Raja Parhata (emangnya ongkos naik pesawat terbang pakai tarif segala ?).

Rupanya dia masih penasaran dan sangat serius dengan pertanyaannya tersebut karena yang dia dengar bayaran seorang Raja Parhata setidaknya berkisar di     Rp. 4.00.000,- s/d Rp. 500.000,- bahkan lebih pada acara Pesta Unjuk dan untuk ulaon Patua Hata & Marhusip serta ulaon sejenis berkisar Rp. 300.000,- s/d Rp. 400.000,- . Memang ungkapan seperti itu pernah juga saya dengar, namun selama ini hal tersebut saya anggap sebatas berseloroh. Apa mau dikata mungkin yang berkembang dimasyarakat (halak hita) itu bukanlah seloroh tapi seolah-olah sudah menjadi “pegangan” dan hal itulah mungkin yang membuat teman saya tersebut dengan “berani dan yakinnya” mengajukan pertanyaaan tersebut kepada saya. Saya khawatir hal itulah yang membuat ada pandangan “miring” terhadap Raja Parhata bahwa seolah-olah sudah ada tarif  dan mangida bohi (pilih kasih/lihat dulu siapa hasuhutonnya).

Jujur saja sebagai parsiajar (sedang belajar) saya juga mengamati banyak hal termasuk “jalang-jalang songon upa ni loja” sian hasuhuton. Saya bersyukur atas apa yang pernah “dijalangkon” hasuhuton kepada saya (maaf tidak etis saya menyebut angkanya namun tidaklah sebesar angka diatas). Disisi lain saya juga mendengar suka duka dari beberapa senior termasuk diantaranya terkadang amplop “jalang-jalang upa loja” yang mereka terima setelah dibuka di rumah maaf hanya berisi Rp. 20.000,-.  Bahkan yang lebih tragis beberapa kali mereka alami hasuhuton tidak “manjalang” nasida. Hal terakhir ini juga sudah saya alami pribadi ketika beberapa waktu lalu manguluhon patua hata & marhusip.

Tujuan tulisan ini bukanlah untuk membela korps Raja Parhata, namun sebagai seorang parsiajar saya mau berbagi yang saya ketahui agar para pembaca juga tahu bahwa pada dasarnya tidak ada itu tarif Raja Parhata. Jika hasuhuton memberikan “jalang-jalang upa loja” saya rasa hal tersebut adalah sesuatu yang wajar, songon nidok ni natua tua:

Molo sinuan gadong di songgopi ambaroba
Molo niula siulaon, ingkon marlaba do naloja.

Jadi…. adalah wajar bila Raja Parhata diberi upa loja, perihal besar kecilnya tentu hasuhutonlah yang menyesuaikan dengan kemampuannya.

Saya sangat yakin bahwa tidak ada tarif Raja Parhata. Semoga sharing ini menambah pemahaman kita bersama, kenapa Raja Parhata dan Protokol umumunya diberi upa loja.

Tabe mardongan tangiang.

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Seorang kawan yang kebetulan tinggal diperumahan baru dimana mayoritas “halak kita” yang tinggal di sana umumnya keluarga baru dan punguan parsahutaon pun baru terbentuk bertanya kepada saya tentang peran Dongan Sahuta diangka ulaon adat Batak. Secara khusus di fokuskan pada ulaon tardidi karena kebetulan dalam waktu dekat ada Dongan Sahutanya yang akan membawa putranya menerima Sakramen Baptisan Kudus dan akan dibuatkan ulaon partangiangan manghalashon (syukuran). Saya berupaya menjawab pertanyaannya dengan memberikan pencerahan sambil berharap apa yang saya paparkan dapat bermamfaat bagi teman-teman lainnya.

Di Bona Pasogit (kampung halaman) umumnya Dongan Sahuta juga sekaligus na marhaha maranggi atau setidaknya na mardongan tubu termasuk dengan boru dan berenya. Jika ada ulaon maka otomatis kebiasaan apa yang umumnya mereka lakukan menjadi acuan bagi setiap warga kampung atau luat tersebut. (Note: lapatan ni adat, manang pangulahon di adat i; ima hasomalan ni sada-sada luat/huta (PARADATAN), boi do i muse manghangkam sada marga/suku, alai boi do muse masa nangpe sada marga/suku adong na so sarupa pangulahonon di adat i, isarani parpeak/patupahon parjambaran. Siala ni do umbahen didok ompunta si jolo-jolo tubu; asing ladang, asing do sihaporna. Asing luat, asing do adat na).

Nah … di tano parserahan (perantauan) Dongan Sahuta umumnya terdiri atas beragam marga serta berasal dari kampung halaman yang berbeda. Oleh sebab itu jika ada ulaon adat maka “umumnya” yang diberlakukan adalah “adat na masa” di parmargaon.

Contoh: Tardidi putri kami Namora Gabe br Sitorus, maka ulaon partangiangan tardidi mengacu pada na masa di Parsadaan Raja Sitorus dohot Boruna se Jabodetabek, dari pihak Hulahula Sitanggang juga mengacu kepada na masa di PURASITABOR (Punguan Raja Sitanggang dohot Boruna) se Jabotabek.

Kaitannya dengan pertanyaan kawanku tadi adalah jika demikian halnya maka apa peran Dongan Sahuta ?

Yang terjadi di tano parserahan on, peran Dongan Sahuta tidak begitu menonjol  karena umumnya pihak hasuhuton dan Hula-hulanya langsung marsiadopan. Molo tangkas do nasida na marhula – marboru (hasuhuton dohot Hulahulana) marsipaolo-oloan diangka panghataion maka peran dongan sahuta “kurang terlihat” (terkecuali dalam hal marhobas molo ringgas rohana dohot manghobasi). Sebaliknya jika terjadi “ketegangan” di antara na marhula – marboru, maka Dongan Sahuta haruslah mengambil peran untuk memberikan masukan kepada kedua belah pihak. Adapun dasarnya adalah hata ni natua-tua na mandok: “Tinallik bulu duri, sajongkal dua jari, dongan sahuta do raja panuturi dohot pengajari.”

Oleh karena itu adalah sangat penting untuk di ingat oleh hasuhuton (dalam hal ini paidua ni hasuhuton) manangkasi Dongan Sahuta andorang so di pungka dope panghataion. Contoh: Dihamu Raja ni Dongan Sahuta nami, di dok natua-tua: Jonok Dongan Partubu, jonokan Dongan Parhundul. Tutu… nunga marnatampak hami di son namarhaha-maranggi namardongan tubu, ala naeng pungkaonta ma panghataion di na naeng mangido pasu-pasu sian Tuhanta Debata marhite tangiang dohot elek-elek ni Hulu-hulanami, asa rap hundul ma hita di son, jala molo tung adong annon na hurang singhop dipanghataion nami asa denggan ma tuturi hamu hami dongan sahuta muna, botima.

Tar songon i ma jolo na boi pinaandar, hatangki ditambai angka dongan. (Demikian yang dapat saya kemukakan, silahkan memberikan masukan dan tanggapan untuk memperkaya pengetahuan kita).

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Referensi:

1. Disarikan dari berbagai sumber termasuk panuturion ni angka natua-tua.

2. Adat “Adopan Dongan Anjuon Tutur” Edberd Sihombing, Sehati.Blogsome.com

Read Full Post »

“Uju di Ngolunghon”   Cipt: Denny Siahaan

Hamu anakhonhu…

(hai anak-anakku)

Tampuk ni pusupusuki…

(belahan hatiku)

Pasabar ma amang, Pasabar ma boru,

( bersabarlah anak-anakku)

Lao patureture au…

(untuk merawat aku)

***

Nunga ma tua au…

(aku sudah tua)

Jala sitogutoguon i

(bahkan untuk berjalan pun harus dituntun)

Sulangan mangan au, Siparidion au,

(makan harus di suapin, mandi pun harus dimandikan)

Ala ni parsahitonki…

(karena sakit yang aku derita)

Reff:

So marlapatan marende, margondang, marembas hamu,

(tak berguna kalian bernyanyi, margondang, dan menari2 membuat pesta yang meriah)

molo dung mate au…

(jika aku sudah mati)

So marlapatan na uli, na denggan patupaonmu,

(tak ada lagi gunanya hal-hal yang baik, yang bagus kalian lakukan untukku)

molo dung mate au…

(jika aku sudah mati)

Uju di ngolungkon ma nian…

(semasa hidupku inilah)

Tupa ma bahen angka na denggan,

(kalian lakukan yang terbaik)

Asa tarida sasude…

(supaya nyata semua)

Holong ni rohami, marnatua-tua i.

(Hormat dan KASIH mu terhadap orangtuamu)

Balik ke:***

Dalam lagu Uju di Ngolungkon termaktub pesan yang mengkritisi adat Batak. Denny Siahaan menggubah lagu tersebut berlandaskan tema menghormati orang tua.  Liriknya mengilustrasikan kisah hubungan antara orangtua dan anak. Klimaks lagu menekankan pesan orang tua. Sang orangtua mendambakan agar putra-putrinya menyajikan perlakuan terbaik selagi ia masih hidup.

Lagu yang dipopulerkan oleh Putri Silitonga tahun 2008 itu menyoroti tradisi Batak, yakni pesta adat terhadap orangtua setelah meninggal. Ritus sedemikian dinilai sebagai hal yang tidak berguna. Karena bentuk penghormatan terhadap orangtua selagi hidup lebih berharga daripada setelah meninggal.

Penegasan sedemikian termaktub dalam teks: “So marlapatan marende, margondang marembas hamu, molo dung mate au…! So marlapatan na uli, na denggan patupaonmu, molo dung mate au…! Uju di ngolungkon ma nian. Tupa ma bahen angka na denggan! Asa tarida sasude. Holong ni rohami, marnatuatua i.”

Muatan kritiknya cukup menohok, terutama bagi orang Batak yang cenderung mengungkapkan rasa hormat ketika orangtuanya wafat. Yakni dengan menggelar ritual tortor diiringi nyanyian maupun gondang. Padahal tanda kasihnya kepada orangtuanya pada masa hidupnya terbilang tidak optimal.

Jujur… secara pribadi saya pun harus mengakui bahwa semasa hidup ayah dan ibuku (Op. Tamado Sitorus  – nahinan) rasanya masih banyak hal terbaik yang belum saya persembahkan kepada mereka.

Namun setidaknya saya telah berupaya memberikan apa yang dapat saya persembahkan untuk mereka.

Selagi masih ada waktu, saudaraku mari kita berikan yang terbaik kepada orang tua kita semasa hidupnya.

Tabe mardongan tangiang,

St. Sampe Sitorus / br Sitanggang (A.Hitado Managam Sitorus)

Sumber referensi tulisan:

Sahat P Siburian di: http://batakpos-online.com/content/view/7033/61/

Read Full Post »

Seorang kawan dengan santainya bercerita sekaligus bertanya kepada saya tentang arti kata yang sering dia dengar namun tidak cukup jelas dan dia tidak tahu artinya.

Percakapan kami kira-kira seperti ini:

Kawanku:

Saya itu sering mengikuti pembicaraan antar Raja Parhata baik di acara Ulaon Las Ni Roha (suka cita) maupun Ulaon Habot Ni Roha. Setiap akhir pembicaraan sebelum pembicaraan “diserahkan” kepada lawan bicara, saya sering dengar kata SIDOPOTI atau SIDOKBOTI atau apalah itu, tapi jujur… saya tidak bisa tangkap persis kata apa yang di ucapkan karena agak cepat diucapkannya. Nah berhubung lae sedang belajar menjadi Raja Parhata, bisa tolong jelaskan apa yang diucapkan tersebut dan artinya apa ?.

Sampe Sitorus:

Ya… saya juga sering mendengar kata yang sama namun sama seperti lae, saya juga kurang jelas kata apa yang sesungguhnya mereka katakan tapi saya sedang cari tahu. Jika saya sudah dapatkan maka akan saya share dan posting di blog saya agar para pembaca setia blog saya juga ter up date.

Memenuhi janji tersebut, berikut saya posting:

Setelah bolak-balik baca ulang semua buku tentang adat Batak yang pernah saya baca termasuk blog yang pernah saya kunjungi, maka saya tiba pada kesimpulan bahwa sesungguhnya dalam “kamus” panghataion ketika akan memberikan kesempatan kepada lawan bicara, TIDAK MENGENAL kata Sidopoti atau Sidokboti, NAMUN yang ada adalah BOTIMA.

Contoh:

Raja Parhata Parboru: ………………, Mauliate ma Amangboru, Botima, Partingkian on hupasahat hami ma tu hamu Rajani Parboruon nami.

Biasanya langsung di sambut

Raja Parhata Paranak:  Gabe ma jala Horas Rajanami, ………(utarakan apa yang ingin disampaikan selanjutnya diakhiri), Mauliate ma Rajanami, Botima.

Demikian selanjutnya langsung ditanggapi Raja Parhata Parboru. Dalam hal ini kata BOTIMA mengandung makna Demikian Kami Sampaikan.

Jadi dapat saya simpulkan bahwa penggunaan kata Sidopoti atau Sidokboti atau apapun itu (karena kurang jelas) sesungguhnya adalah untuk mengganti kata BOTIMA. (untuk selanjutnya kesempatan bicara beralih kepada lawan bicara).

Harap di ingat, para pengguna HT ketika akan memberi kesempatan kepada lawan bicara, sering dengar kata GITU, GANTI.

Jika demikian halnya apakah para Raja Parhata yang sering menggunakan kata SIDOPOTI atau SIDOKBOTI tersebut salah?.

Jujur saya tidak dalam posisi untuk memutuskan benar atau salah, mungkin ini lebih disebabkan kebiasaan. Yang penting harus kita pahami bersama adalah arti kata dan tujuan dari ungkapan tersebut.

Mari kita telaah bersama, kata SIDOPOTI mungkin berasal dari kata DOPOTI yang berarti pajonok (perdekat, susul). SIDOKBOTI mungkin berasal dari kata dasar BOTI (demikian), jadi SIDOKBOTI kira-kira artinya kami sampaikan demikian.

Demikian kami share, semoga menambah wawasan kita.

Tabe mardongan tangiang

St. Sampe Sitorus,SE/ br Sitanggang

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 877 other followers

%d bloggers like this: