Feeds:
Posts
Comments

Ikan Batak (Tor soro) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai budaya dan nilai ekonomis penting khususnya bagi masyarakat Batak, Jawa Barat dan Sumatera Utara. Di danau Toba (Sumatera Utara) Tor soro serta tiga jenis ikan lainnya yaitu Neolissochilus thienemanni, N. sumatranus, N. longipinis dikenal sebagai ikan Batak.

Ikan Batak mempunyai ukuran relatif besar, yang tersebar di Sumatra dan Jawa antara lain di Kabupaten Kuningan, Kabupaten Sumedang (Jawa Barat) dan di Kabupaten Kediri (Jawa timur). Di Kabupaten Kuningan, ikan tersebut dipelihara di beberapa kolam tua dengan sumber air yang cukup dan dianggap keramat, dengan sebutan ikan “Dewa”.

Ikan Batak belum dapat dibudidayakan secara intensif karena pasok benih hanya mengandalkan hasil pemijahan di alam, sedangkan populasinya di alam semakin menurun dan cenderung langka, sehingga dikhawatirkan akan punah. Selanjutnya masalah yang dihadapi dalam pembenihan jenis-jenis ikan perairan umum adalah kesulitan untuk mendapatkan induk yang matang kelamin dengan kualitas telur yang baik.

Kegiatan penelitian domestikasi ikan Batak (Tor soro) di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor saat ini telah dapat membiakan secara alami dan buatan. Hasil pemijahan ikan tersebut berupa benih telah dipergunakan sebagai bahan restoking di danau Toba, Sumetera Utara.

PERSYARATAN KUALITAS AIR

Ikan Batak cocok dengan air yang jernih dan mengalir terus serta suhu relatif rendah, dengan dasar kolam berbatu-batu koral dan berpasir. Contoh kualitas air yang cocok bagi pembenihan ikan Batak adalah di Instalasi Penelitian Perikanan Air Tawar Cijeruk, (lihat padaTabel 1).

Tabel 1 .Parameter sifat Fisika dan Kimia air Instalasi Penelitian Perikanan Air Tawar Cijeruk.

Parameter Kisaran
Oksigen terlarut (mg/l) 6,8 – 7,0
pH 6,0
Suhu (°C) 21-24
C02 (mg/l) 2,2-4,5
Kesadahan (mg/l) 12,3
Debit Air (litcr/detik) 6-6,35
Kecerahan Air >2,5m

 

 

PEMELIHARAAN INDUK Ikan dapat matang gonad dengan baik dengan diberi pakan berupa pelet, dengan kandungan protein sekitar 28-30 % dan lemak sekitar 7 %, dengan jumlah 2-3 % bobot badan per hah. Induk-induk sangat responsif terhadap pakan buatan ini.

Induk betina yang matang kelamin di Cijeruk mempunyai bobot 1450-2270 g, sedangkan jantan 1380-3500 g. Telur ikan Batak yang siap dipijahkan mempunyai ukuran diameter 29-3,3 mm.

PEMIJAHAN

Ikan Batak mudah berbiak secara dengan cara mengatur tinggi air diturunkan sekitar 30 cm selama 7 kemudian dinaikan sedikit demi s mencapai tinggi maksimal. Ikan jantai betina disimpan di dalam ki pemeliharaan. Perbandingan jumlah jantan dan betina adalah 1:2. Ikan memijah secara alami sekitar 9-14 Kemudian induk-induk akan membersihkan dasar kolam (batu kerikil) dengan radius sekitar 30 cm. Ikan akan memijah di habitat tersebut dan telur berada di sela-sela batu koral. Telur menetas 4 5 hari pada suhu air 19 – 21° C. Benih akan nampak sekitar 5 hari kemudian.

• Pemijahan dengan pembuahan buatan.

Induk yang telah matang gonad dirangsang dengan hormon gonadotropin (HCG) 500 u/kg untuk ikan betina setelah 24 jam dilanjutkan dengan Ovaprim dosis 0,8 ml/kg bobot badan, sedangkan induk jantan hanya dengan Ovaprim 0,5 ml/kg bobot badan. Sekitar 18 24 jam setelah penyuntikan induk betina akan ovulasi.

Ikan yang akan mengeluarkan telur (nampak gelisah) ditangkap dan perutnya dialin (diurut) untuk mengeluarkan Kemudian dicampur dengan sperm diaduk dengan bulu ayam. Satu induk ukuran 1,650 – 3,200 kg i menghasilkan 1.050 -2.650 butir telur.

PERAWATAN TELUR, LARVA DAN BENIH Telur ditetaskan di aquarium atau corong penetasan. Larva dipelihara di akuarium dan diberi pakan zooplankton(Brachionus, Moina) atau naupli Artemia sampai larva berukuran 2-3 cm, dan kemudian ditebar dalam bak atau kolam dan di pakan Tubifex dilanjutkan pakan berupa tepung. Benih ukuran panjang 5 cm akan dicapai setelah pemeliharaan 60 hari. Selanjutnya benih tersebut siap didederkan di bak atau dibesarkan di kolam.

Ihan Sudah langka.

Ihan memiliki nilai religius tersendiri, terutama dalam upacara adat. Sekarang, ikan tersebut mulai langka. Karena penangkapan terus berlangsung, tapi perkembang biakan di alam menurun.

Pada jaman dulu penangkapan ihan di danau toba biasanya dengan menggunakan sabaran berupa susunan batu di tepi danau sehingga ihan masuk dengan tenang. Setelah mereka masuk, pintu sabaran ditutup lalu dilakukan penangkapan. Tidak terjadi pemburuan ke lubuk pemijahannya yang dapat mengganggu pertumbuhan jentik. Pamijahan ikan lazimnya di hulu sungai yang jernih untuk menghindari prederator yang ada dikolam raksasa itu. Sungai Binangalom di Kecamatan Lumbanjulu adalah alam habitat ihan batak. Masyarakat sekitar yang hendak menangkap ihan dari sungai itu sudah punya aturan dan cara tersendiri. Aturan dan cara itu tujuannya untuk tidak terjadi perusakan apalagi niat menghancurkkan ikan sakral itu. Namun, masyarakat disana pernah mengutarakan kekecewaan mereka, ketika masyarakat dari kota datang menangkap ikan di sungai itu dengan menggunakan stroom listrik. Itu akan membunuh anak ikan, keluh mereka. Belum ada peraturan daerah untuk perlindungan ikan langka itu.

Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan Tobasa, melaksanakan kegiatan “Pembuatan Kolam Penampungan”. Tujuannya, agar ikan yang keluar dari lubuk dimaksud, dapat tertampung . Diharapkan, lubuk larangan yang menjadi habitat ihan yang menjadi kebanggan orang Batak ini, bisa dilestarikan. Tujuan paling utama, yaitu pelestarian. Lubuk larangan akan dipagari berdasarkan nilai etika dan estetika. Sehingga, pada gilirannya bisa berpeluang menjadi objek agro wisata minat khusus. Eksistensi ihan batak yang legendaris, harus dapat dipertahankan.

Aek Sirambe, diyakini merupakan habitat paling sesuai. Juga, merupakan situs menarik yang unik dan legendaris. Disana sudah dibangun sebuah kolam untuk pembiakan ihan itu dan selanjutnya dilepas kehilir sungai. Bila ini berhasil, sungai itu akan dipenuhi ihan yang dapat ditangkap dan dimakan.

Kualitas air sirambe sangat bagus, memungkinkan untuk syarat hidup ikan yang sudah hampir langka ini. Yaitu, hanya bisa hidup pada air jernih yang terus mengalir deras, dengan suhu relatif rendah 21 – 25 derajat Celcius. Kebiasaan dari ikan ini, berkelompok dan beriring (mudur-udur).

Dengke Simudurudur

Ada pemahaman saat ini bahwa dikatakan simudurudur karena ikan yang sudah dimasak dijajarkan beberapa ekor diatas nasi dalam piring. Namun leluhur kita yang arif dan bijak itu tidak menggambarkan sifat mati untuk harapan sifat hidup. Ihan dan porapora memiliki sifat hidup mudurudur ke satu arah tertentu. Ini tidak dimiliki sifat ikan mas, menurut pengamatan para leluhur.

Yang dikatakan masyarakat batak dengke simudurudur adalah ihan dan porapora. Ikan mas tidak termasuk kategori dengke simudurudur, tapi disebut dengke namokmok. Kedua jenis ihan dan ikan mas dikategorikan juga dengke sitiotio, tidak termasuk porapora. Simudurudur adalah sebutan dari sifat ikan itu semasih hidup, yaitu ihan dan porapora. Simudurudur bukan menggambarkan (sifat) ikan yang sudah mati, dimasak dan dibariskan dalam piring. Leluhur selalu menggambarkan sifat hidup dan untuk hidup. Porapora adalah pilihan kedua dalam acara mangupa setelah ihan. Ikan mas adalah pilihan ketiga. Saat ini masyarakat adat sudah melupakan sifat ikan itu yang marudurudur dan telah mengatakan itu pada ikan mas dan menjadi pilihan pertama (karena Ihan langka).

Pandohan tingki pasahat upa –upa (pasahat dengke).

Dengke Sitiotio do ginoaran dengke na huupahon hami on, asa anggiat tio parngoluan mu tujoloan on; Dengke Simudurudur do huhut goarna asa sai tongtong tu joloan on sai denggan hamu mudurudur marsihaholongan di sude parngoluanmuna; Dengke Saur do deba goarna, asa anggiat nian saur hamu rap saur matua, saur di hahipason; ginoaran dope on Dengke Sahat asa sahat ma nian sude nauli nadenggan sahat pangabean sahat parhorasan di hamu lehonon ni Amanta Debata Pardenggan basa i.

Ihan Batak = Ikan Kancra / Ikan Dewa ?

Konon ikan sejenis dapat kita temukan di tempat pemandian Cibulan (masuk wilayah Cilimus) dekat kaki Gunung Ciremai Desa Manislor, Kuningan- Jabar. Oleh masyarakat sekitar di kenal dengan sebutan ikan dewa / kancra. Warga sekitar “meng-keramat-kan” ikan-2 tsb dimana konon menurut cerita bahwa ikan-2 tsb merupakan klangenan dari para leluhur suatu kerajaan Pasundan dan hidup di lokasi tsb secara turun-temurun

Sumber :

Balai Riset perikanan Budidaya Air Tawar Bogor Jln. Sempur No.1 Bogor Telp. 0251- 313200 Fax. 0251- 327890 E-mail : brpbat@telkom.net

Monang Naipospos ->http://tanobatak.wordpress.com/

Berikut berita terbaru tentang pandemik Flu H1N1 yang ternyata sudah merambah hingga ke wilayah Curug – Tangerang.

H1N1

Sumber :

INFLUENZA A – H1N1 ( UPDATE NEWS 16 JULI 2009)
General Announcement PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk

Bagi yang berencana mudik lebaran atau natal/tahun baru di kampung halaman (Sumut) berikut Sketsa Jalan  Lintas  Sumatera

jalan-lintas-sumatera-sept-2007

Dalam setiap “ulaon” (kegiatan/pertemuan) orang batak di yakini terdiri atas 2 pihak yakni pihak yang datang (na ro) dan pihak tuan rumah (na niambangan).

Di “ulaon” di jabu secara umum terdiri atas 2 bagian yakni Pra Acara (bercengkrama ,  berbagi kabar, ngobrol bahkan ngalor ngidul terkadang hingga membahas masalah politk dan budaya), dan Inti Ulaon dimana pembicaran akan meningkat ke hal yang agak serius (marsintuhu).

Bagaimana proses “change over” (mengalihkan) dari cengkrama ke acara yang serius terkadang perlu ada trik tersendiri. Maklum orang batak bila sudah ketemu dan asyik ngobrol suka lupa waktu. Nah biasanya ini menjadi peran dari pihak boru untuk mengalihkan pembicaraan tersebut. Tentunya harus elegan dan sopan. Berikut contoh cara mengalihkan: Santabi di hamu hula-hula nami, mardomu tu angka tingki boa nunga boi ta uduti ulaon na mangihut. (Mohon maaf Hula-hula kami…mengingat waktu bagaimana jika kita lanjutkan acara berikutnya).  Nah kalau sudah ada omongan seperti itu biasanya semua yang lagi asyik ngobrol langsung berhenti dan merapihkan posisi “parhundul” (duduk) dan suasana langsung “homi” (khusuk).

Acara selanjutnya yang dimaksud adalah marhata si gabe-gabe maupun “mandok hata”. Bila diterjemahkan secara bebas “mandok hata” berarti “berbicara”. Tapi terminologi “mandok hata” sesungguhnya tidak sekedar berbicara, karena mandok hata juga merupakan bentuk nasehat, doa dan permohonan, atau bahkan memberikan “pasu-pasu” (berkat) kepada suhut na niambangan (tuan rumah).

Bagi orang batak, mandok hata merupakan bagian dari demokrasi dan pembelajaran untuk berbicara di depan umum, menyampaikan gagasan serta pemikiran. Oleh karenanya tidaklah  mengherankan jika umumnya orang batak berani tampil di hadapan khalayak ramai. Namun bukan berarti serta merta semua orang batak lancar dan tidak bermasalah dengan “mandok hata”. Di tano parserahan (perantauan) “mandok hata” bisa menjadi masalah yang rumit, terlebih jika yang ditunjuk untuk “mandok hata”, tidak terbiasa melakukan hal itu. Mengapa hal itu terjadi ? Jawabannya kemungkinan karena hal-hal berikut:

  • Ybs jarang “marsaor” (bergaul) dan jarang mengikuti kegiatan (tu ulaon)
  • Bisa jadi sebenarnya sudah “marsaor” dan rajin mengikuti kegiatan (tu ulaon) namun hanya sekedar hadir dan tidak ada keinginan untuk belajar. (asal ma na ro jala dang pola di parate-atehon)
  • Setiap di beri kesempatan selalu mengandalkan yang lebih tua (biasanya sahata ma hita ninna tu na lobi tumua)
  • Terlalu memegang teguh umpama “sada silompa gadong, dua silompa ubi” tung sada pe hita na mandok hata sude ma hita taruli
  • dsb

Adakalanya orang yang kurang memahami, main “pukul rata” dalam mandok hata, kurang memperhatikan posisi dan perannya sebagai apa dan kepada siapa “hata” tersebut di sampaikan. Makna “hata” yang disampaikan juga menjadi melenceng.

Akhirnya mandok hata itu menjadi salah kaprah. Namun ada juga yang bertele-tele sehingga orang lain jadi bosan. Dan yang paling sering terjadi adalah apa yang sudah di sampaikan temannya itu lagi yang disampaikan (kata-katanya persis sama / copy paste).

Apa yang harus kita sampaikan ketika mandok hata ?

Berbicara di depan orang banyak, bukan hal yang mudah, apalagi bila pada acara formal. Mandok hata adalah berbicara secara formal didepan umum. Tidak ada acara adat yang tidak dilengkapi mandok hata.

Secara umum yang harus kita sampaikan harus sesuai dengan konteks ulaon (kegiatan), misalnya jika mamoholi maka berikut panduan hal-hal yang akan kita sampaikan :

  • Ucapan Selamat atas kelahiran si ucok / si butet
  • Ungkapan syukur kepada Tuhan atas karuniaNya tersebut
  • Doa dan harapan agar si bayi sehat dan bertumbuh dan berkembang dengan baik
  • Harapan agar suami istri bekerja sama dan saling membantu untuk menjaga  dan merawat si bayi. Secara khusus suami agar berperan lebih banyak dan memahami kondisi istri.
  • Permohohan agar suami / istri tersebut membimbing dan membesarkan si bayi sesuai dengan iman dan kepercayaannya (bila kristen agar menjadi pengikut kristus dan selekasnya di baptis).
  • Doa dan harapan kiranya Tuhan mencurahkan berkatnya bagi keluarga tersebut (seiring bertambahnya angota keluarga tentunya biaya hidup pun bertambah)
  • dsb, sesuai dengan apa yang ingin disampaikan si pembicara.

Pada dasarnya mandok hata juga merupakan keterampilan, oleh karena itu marilah kita bersama-sama mengasah kemampuan kita.

Beberapa hal yang harus kita ingat yakni :

  • Somalna do peamna (ala bisa karena biasa)
  • Practice make perfect (jadi kita harus berani mempraktekkannya jangan pernah malu atau takut salah, karena para “pande hata / raja parhata” itu pun lancar karena jam terbang mereka yang sudah tinggi. Artinya awalnya mereka pun sama seperti kita.
  • Belajar dan senantiasa belajar (jangan pernah merasa puas / sudah mahir).

Jangan didik anakmu

Jangan didik anakmu laki-laki
Bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya
Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu laki-laki

Untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan
Ajari dia untuk mengejar cinta kasih dan kebijaksanaan
Jangan larang anakmu laki-laki jika ia menangis
Dan jangan katakan padanya bahwa laki-laki tak boleh cengeng
Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya
Bahwa air mata adalah anugerah Tuhan yang indah
Sehingga ia belajar untuk tidak frustasi oleh emosinya
Dan jika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya

Jangan didik anakmu perempuan

Bagaimana menjadi cantik
Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu perempuan

Bagaimana untuk menyenangkan laki-laki
Ajari dia untuk menyenangkan hati Tuhan

Jangan larang anakmu perempuan

Jika ia menikmati melompat, berlari, dan memanjat
Jika ia suka menjelajah dan mengutak-atik benda-benda
Jangan kaupaksa dia untuk duduk manis diam dan tenang
Karena jiwanya yang ingin bebas jadi dirinya sendiri
Dan juga rasa ingin tahunya yang telah Tuhan anugerahkan
Telah kaubonsai dan kaurusak sejak dini

Isilah rumahmu

Dengan cinta, hikmat, dan kebijaksanaan
Bukan dengan harta, keindahan tubuh, gelar, dan kekuasaan

Bagikanlah kepada anakmu laki-laki dan perempuan

Keindahan menikmati mentari pagi
Kehangatan rasa ketika menggenggam pasir
Kemesraan seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga
Dan merdunya suara tetes-tetes hujan

Jika kau ingin anakmu rajin beribadah

Gemakan keberadaan Tuhan dalam dirimu
Ia takkan bisa kaupaksa berdoadan memuji Tuhan
Ketika dia tak dapat menangkap makna ibadah darimu

Jika kau ingin anakmu mencintai pengetahuan

Pancarkan rasa ingin terus belajar
Nasihatmu tak akan bisa membuatnya mau membaca
Ketika dia tak pernah menyaksikan engkau menikmati buku

Jika kau ingin anakmu penuh kasih

Tunjukkan cinta kasihmu kepadanya dan sesama
Kata-kata saja tidak akan mempan membuatnya mengasihi
Jika ia tak pernah merasakan cinta darimu

Untuk anakmu

Engkau adalah teladan yang utama
Tak perlu banyak kata, tiada perlu jutaan nasihat
Jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kauinginkan
Hiduplah demikian!

Sumber :

dosroha_medanglestari@yahoogroups.com

Nyalip atau mendahului mobil saat nyetir di jalan raya tidak cukup hanya dengan menekan klakson dan menambah kecepatan. Ada serangkaian etika dan tata cara yang perlu kita perhatikan. Bukan hanya karena alasan sopan santun berkendara, tetapi juga demi keamanan dan menghindari kecelakaan fatal. Intinya, pastikan kondisi jalan sudah kondusif dan memungkinkan Anda mendahului mobil di depan; serta jangan lupa memberi kode kepada pengendara lain agar mereka tidak terkejut dengan gerakan mobil kita.
Secara lengkap, sepuluh poin yang perlu kita perhatikan saat hendak mendahului mobil di depan kita, klick link berikut :

http://www.astraworld.com/FooterMenu/TipsTricks.aspx?ID_BERITA=200979945594&CurPage=1&FPage=1

Andaliman2Begitu eksotiknya rempah Nusantara membuat perusahaan persatuan dagang Belanda untuk Hindia Timur atau VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) sekitar 400 tahun lampau datang untuk menguasainya. Namun, setelah kita lepas dari tangan penjajah, kekayaan ini belum sepenuhnya digali dan hanya mengandalkan komoditas primer. Industri pengolahan rempah tidak berkembang sebab petani dan pelaku usaha kurang memahami kebutuhan pasar ekspor yang menginginkan produk siap pakai yang telah diolah.

Andaliman

Andaliman

Salah satu jenis rempah yang pemanfaatannya hingga sekarang masih sebatas komoditas primer adalah andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC). Di Indonesia, tumbuhan rempah yang satu ini hanya terdapat di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada daerah berketinggian 1.500 m dpl. Selain di Sumatera Utara, andaliman yang masuk dalam famili Rutacea (keluarga jeruk-jerukan) terdapat di India, RRC, dan Tibet.

Bentuknya mirip lada (merica) bulat kecil, berwarna hijau, tetapi jika sudah kering, agak kehitaman (lihat gambar). Bila digigit tercium aroma minyak atsiri yang wangi dengan rasa yang khas-getir-sehingga merangsang produksi air liur.

Sumber :.
Kompas, 26-08-2002,
copy posting dari http://ambaritafamilys.blogspot.com
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 877 other followers

%d bloggers like this: