Feeds:
Posts
Comments

Falsafah orang Batak ini biasanya disampaikan para tetua kepada mereka yang mengalami kesusahan hidup tanpa jelas penyebabnya, semua usaha dan karyanya gagal bahkan dipandang kesialan selalu dialaminya.

Mereka yang mengalami hal itu diminta untuk “introspeksi’ jangan-jangan orangtua, kakek moyang maupun leleuhur mereka melakukan sesuatu ketidakadilan, menzolimi orang lain terutama kaum lemah.
Orang Batak sangat meyakini bahwa perbuatan tersebut akan mendapatkan balasan (karma) pada generasi berikutnya.

Hai kamu para penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, pengacara) termasuk para saksi, saya peringatkan anda agar:
Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar. (Keluaran 23:8).

Ingat…. jika karena terima suap seseorang memutarbalikkan fakta, maka kelak anak cucunya akan mengalami hal buruk akibat dari perbuatannya. Maukah kamu mereka akan memeriksa penyebab keruhnya hidup mereka ? Tentu tidak bukan ?

PARTORDING NI ULAON SAUR MATUA (Ina) di tano parserahan Jabodetabek.

ULAON MANOGOT Dimulai pkl 10 wib
1.Hulahula Raja…..
Pasahat Saput
2. Tulang Raja
Pasahat Ulos Sampetua
3.Manjalo Sude horong ni
Hulahula dohot Tulang mamboan parbue pir.
4.Pangarapoton
5.Marsipanganon (mangan panungkir)
6. Manjalo tumpak

ACARA MARALAMAN
1.Hata huhuasi sian
Paidua ni Hasuhuton
2.Manjaha Jujur Ngolu
3.Manortor Hasuhuton
Raja …
4.Manortor Paniaran
Raja….
5.Manortor Natua tua ni Raja ….. seJabodetabek
6.Manortor Boru bere
7.Manortor Simatua ni Boru Muli Raja…Raja..Raja…
8.Manortor Dongan
Sahuta
9.Manortor Ale2 /Teman
sejawat
10.Manortor Pemerintah
setempat

_20180912_224341

ACARA MARALAMAN TU HULAHULA dohot TULANG (laos dison ma pasahat jambar mangihut):
1.Manortor Hulahula
Raja …..
2.Manortor Tulang
Raja ……
3.Manortor Bona Tulang
Raja……
4.Manortor Bona ni Ari
Raja……
5.Manortor Tulang
Rorobot Raja……

Partinghian SAHAT tu HULAHULA NAMARTINODOHON
6.Manortor Raja…
7.Manortor Raja…
8.Manortor Raja…

PARTINGHIAN SAHAT HULAHULA ANAK MANJAE
09.Manortor Raja….
10.Manortor Raja…
11. Manortor Raja…

MANGGOHI ULAON
12.Tortor Panggohi
Natuatua Raja…. (marga ni suhut).
13.Mangampu
Hasuhuton
14.Mardondon Tua
15.Dipasahat tu Huria dungi borhat tu
Udean
16. Parbandaan (pemakaman)

Naporlu siingotonta ia nadigoari Jambar mangihut marlapatan ma i ndang jambar tata jala pintor dipasahat ndung sidung Hulahula/Tulang mandok hata ( ndang pulik partingkian laho laho marbagi jambar, molo di bona pasogit somal marbagi jambar ndung mulak sian udean jala jambar tata).

Songon i ma namasa niparrohahon di Jabodetabek.

Tabe mardongan tangiang,

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang( A. Managam) – 08129052462

 

 

Prasmanan atau buffet (baca: buffé) merupakan cara penyajian makanan dalam pesta maupun restoran pada beberapa meja panjang sehingga kita dapat mengambil sendiri makanan yang diinginkan.

Penyajian ini tentu lebih praktis, ketimbang harus dilayani oleh pelayan.
Namun seringkali masih ada orang yang tidak dapat menjaga sikapnya sehingga menggangu kenyamanan orang lain.

Dalam beberapa kesempatan menghadiri Pesta Unjuk (Pesta Penikahan) orang Batak, saya sengaja makan di tempat undangan umum (tamu nasional), kesempatan itu saya pergunakan untuk memperhatikan perilaku orang saat mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan. Sejumlah orang terlihat mengambil makanan dengan kasar, bahkan membuat orang lain merasa tidak selera makan lagi.

_20180912_224341Menyadari hal itu, maka sebagai pengusaha catering berikut ini saya bagikan Etiket/Aturan makan prasmanan agar tidak bikin malu.

1. Pertama, berkelilinglah terlebih dahulu untuk melihat jenis makanan yang disajikan, agar kita bisa memilih makanan yang akan diambil.

2. Jangan menyerobot antrean walau orang di depan kita terlihat masih ragu dengan pilihannya. (Nah budaya antri perlu kita tingkatkan).

Jika kita masih ragu ingin mengambil makanan yang mana, jangan masuk antrean dulu. Lebih baik tentukan dulu pilihan, baru ikut antrean.

3. Jangan menyentuh makanan yang disajikan dengan jari seolah ingin mencicipi. INI SANGAT PANTANG.

4. Saat mengambil makanan, Anda ingin batuk atau bersin jauhkan tubuh Anda dari meja saji makanan.

5. Ambillah makanan secukupnya sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Jangan langsung memenuhi piring Anda. Jika masih lapar, Anda bisa mengambilnya lagi.
Jangan lapar mata ! Masih ingatkah tulisan saya sebelumnya mengenai lapar mata ?
https://sitorusdori.wordpress.com/2018/09/16/lapar-mata/

6. Jangan desak orang lain di depan kita ketika ia pun sedang mengambil makanan. Berikan ia ruang untuk mengambil makanan dengan leluasa.

7. Tawarkan bantuan untuk mereka yang kesulitan untuk memegang piring sekaligus mengambil minuman.

8. Utamakan anak-anak sudah menerima makanan terlebih dahulu, sebelum kita.

9. Makanlah makanan ketika Anda sudah sampai di tempat duduk atau mengambil posisi berdiri jauh dari meja prasmanan. Jangan makan sambil berjalan atau makan disekitar meja prasmanan (membuat tidak nyaman orang lain).

10. Jika Anda membawa anak, anda bertanggung jawab jangan sampai anak anda mengganggu kenyamanan orang lain saat makan.

11. Selesai makan letakkanlah peralatan bekas makan anda ke tempat yang telah disediakan oleh pihak catering.

Selamat menikmati sajian yang disediakan tuan rumah.

Dirangkum dari berbagai sumber oleh St. Sampe Sitorus, diantaranya:
1.http://intisari.grid.id/read/0392242/jangan-sampai-bikin-malu-makan-prasmanan-atau-buffet-itu-ada-etiketnya
2. Pelajaran Table Manner.

_20180912_224341Dalam beberapa pesta saya melihat sejumlah orang sibuk mengambil hampir semua jenis makanan yang disajikan hingga piringnya menggunung, cilakanya orang lain tidak kebagian makanan yang sama.

Namun tahukah anda dalam sekejap mereka meninggalkan makanan tersebut di piring. Hal itu disebabkan sesungguhnya mereka tidak lapar makanan namun lapar mata.

Kurang enakkah makanannya ? Atau tidak cocok dilidah ? Belum tentu !
Apapun alasannya tindakan itu tetap salah.

Melihat sisa makanan di piring membuat saya teringat petuah almarhum bapak dan ibu. Dari kecil kami diajarkan bahwa tidak boleh 1 butir pun nasi termasuk sayur maupun lauk tersisa di piring bekas makan.
Menurut mereka, bila makanan bersisa maka andaikan bisa bicara, makanan itu akan menangis. Disisi lain bukankah makanan yang kita ambil itu telah kita doakan dan TUHAN berkati ?
Lantas bila bersisa dan terbuang ke tempat sampah bukankah kita membuang berkat TUHAN. Jika TUHAN melihat hal itu dan bertindak seperti manusia, tentu saja berikutnya Dia tidak akan memberkati makanan yang kita doakan (percuma diberkati toh nanti dibuang).

IMG_20180902_091717Ajaran itu saya teruskan kepada putra/i kami. Mereka kami ajarkan untuk ambil sedikit dulu dan bertanggungjawab menghabiskan apa yang sudah diambil. Bila merasa kurang boleh tambah dan pastikan tidak bersisa.

Hidup adalah pilihan, bila kita telah memilih ambil makanan maka konsekuensinya kita harus menikmatinya hingga tidak bersisa.

Mungkin ada diantara kita yang merasa toh itu sudah dibayar, atau makanan itu dihidangkan cuma-cuma buat oleh tuan rumah bagi tamunya. Tetapi ingatlah, di balik makanan sisa itu ada jerih payah dan tetesan keringat para petani.

Berbulan-bulan para petani mengolah pertaniannya agar panennya berhasil. Para petani harus menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit. Terkadang mereka berkirim doa khusus agar panennya tak gagal. Terkena terik matahari, mandi keringat dan kehujanan adalah hal yang biasa mereka nikmati demi hasil panen yang baik.

Betapa teganya kita menyisakan makanan tanpa beban sedikitpun di dalam pikiran dan hati kita.

Ingatlah diluar sana banyak orang yang kesulitan untuk makan. Puluhan juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan masih sangat rentan kekurangan gizi.

Beberapa suap nasi bagi mereka sangat berarti. Begitu tegakah Anda menyisakan makanan dengan percuma?

Ayo berubah oleh pembaharuan budi.

Salam NATABOI
Lapo dan Catering

#cateringjabodetabek
#cateringadat
#terjangkauprofessional

dalihan natolu

“Dalihan” artinya sebuah tungku yang dibuat dari batu. Kalau diartikan langsung, “Dalihan Natolu”  ialah tungku tempat memasak yang diletakkan diatas dari tiga batu. Ketiga batu yang disusun sedemikian berfungsi sebagai tempat tungku tempat memasak diatasnya. Dalihan yang dibuat haruslah sama besar dan diletakkan atau ditanam ditanah serta jaraknya seimbang satu sama lain serta tingginya sama agar dalihan yang diletakkan tidak miring dan menyebabkan isinya dapat tumpah atau terbuang.

Dulunya, kebiasaan ini oleh masyarakat Batak khususnya Batak Toba memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku jika diterjemahkan langsung dalam bahasa Batak Toba disebut juga dalihan natolu. Namun kemudian munc sebutan dalihan natolu paopat sihalsihal, falsafah yang dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.

Sehari-hari alat tungku merupakan bagian peralatan rumah yang paling vital untuk memasak. Makanan yang dimasak baik makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga. Biasanya memasak di atas dalihan natolu terkadang tidak rata karena batu penyangga yang tidak sejajar. Agar sejajar maka digunakanlah benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa sehari-harinya kebanyakan orang Batak Toba, tambahan benda untuk mengganjal disebut Sihal-sihal.

Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu? Dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.

Poda ni sijolojolo tubu mandok:”manat” mardongan tubu, “somba” marhulahula, “elek” marboru. Laos dipaihuthon do dohot uhum tusi, molo sala tu Dalihan Natolu, ingkon; “sulangan” dongan tubu, “parpisoan” hulahula, “parulosan” boru.

_20180912_224341

Berikut penjabaran singkat tentang makna filsafah Dalihan Natolu dalam kehidupan Batak Toba serta contoh penerapan bersosial dalam adat Batak Toba.

1. Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki, sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.

Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.

Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.

Disebutkan, Na so somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).
Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isi nya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.

Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru).

2. Manat Mardongan Tubu.
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Salah satu diantarannya pinompar ni Nairasaon terdiri atas rumpun marga Manurung, marga Sitorus, marga Sirait, marga Butabutar.

Dongan Tubu dalam adat Batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga Sitorus mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga Sitorus (namarhaha maranggi: Pane, Dori, Boltok).

Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan perkelahian. seperti umpama: “Angka naso manat mardongan tubu, na tajom ma adopanna’. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik.

Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kimpoi atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.

3. Elek Marboru
Boru ialah kelompok orang dari saudara perempuan kita, dan pihak marga suaminya atau keluarga perempuan dari marga kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah elek marboru yang artinya agar saling mengasihi supaya mendapat berkat(pasu-pasu). Istilah boru dalam adat batak tidak memandang status, jabatan, kekayaan oleh sebab itu mungkin saja seorang pejabat harus sibuk dalam suatu pesta adat batak karena posisinya saat itu sebagai boru.

Pada hakikatnya setiap laki-laki dalam adat batak mempunyai 3 status yang berbeda pada tempat atau adat yg diselenggarakan misalnya: waktu anak dari saudara perempuannya menikah maka posisinya sebagai Hula-hula, dan sebaliknya jika marga dari istrinya mengadakan pesta adat, maka posisinya sebagai boru dan sebagai dongan tubu saat teman semarganya melakukan pesta.

Diedit seperlunya oleh Sampe Sitorus bersumber dari tulisan di:

*Nasihat (Poda) Orang BATAK* 🙏🏻🙏🏻

1. *Pantun do Hangoluan, Tois do Hamagoan*

Poda ini pasti disampaikan orangtuanya kepada anaknya agar anaknya santun terhadap siapapun dan jangan Egois atau nakal dan kurang ajar terhadap siapapun itu, Baik yang dibawahnya ataupun yang diatasnya.
Kalau diartikan dalam bahasa indonesia, Pantun yaitu Santun, Ramah dan Tois Adalah angkuh, biadap, kurang ajar, nakal, ceroboh, suka melawan, bangkang.

Poda ini juga tidak lupa dititipkan orangtuanya kepada anaknya sewaktu mau merantau, Termasuk Admin, juga dititipkan bapak dengan poda ini.

_20180912_224341

2. *Mata Guru, Roha Sisean*

Nah… Poda ini juga sangat sering disampaikan orang tua kepada anaknya. Poda ini sangat mengandung arti yang sangat luar biasa. Kurang lebih artinya seperti ini : Jadikan Mata sebagai guru kemanapun menginjak tanah dan Nurani sebagai tuntunan hidup kemanapun melangkah.

Karena apa yang kita lihat, maka bisa kita perbuat demikian. Baik atau tidaknya yang kita lihat, maka Sisean (hati) kitalah sebagai penentunya.

3. *Marbisuk Songon Ulok Marroha Songon Darapati.*

Poda ini bukanlah sembarangan poda saja, Sangat besar atinya untuk seseorang, dan ini bisa jadi modal seseorang dimanapun berada.

Yang berarti kita harus Bisuk (Cerdik) terhadap sebuah yang akan kita lakukan, Dan Marroha songon darapati (Berpikir, bersikap seperti merpati,). Bahkan dalam arkitab juga disinggung mengenai hal ini “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Matius 10:16.

Kata Ulok (Ular), sebenarnya tidak dikategorikan sebagai hewan yang cerdik. Seringkali justru dikaitkan sebagai binatang yang licik. Bisanya yang mematikan, dan pagutannya yang secepat kilat ketika menyergap mangsa yang tak siap, menunjukkan sikap ke “licik” an dari ular.

Kemudian Darapati (Burung Merpati), adalah sejenis burung yang mampu terbang berkilo-kilometer jauhnya, kembali ke tempat asalnya. Oleh karena itu, merpati dipakai sebagai lambang pt pos, yang mengantarkan surat ke tempat tujuannya, walaupun jaraknya jauh.

Jadi Poda ini biasa ditafsirkan orang batak bahwa seseorang itu harus memiliki hati yang tulus seperti merpati, tetapi juga harus bertindak cerdik, seperti ular.

4. *NASOOLO MANARUS GUAMON, JALA NASOOLO PATARUSHON ANDURABION*

Atinya adalah, Orang batak itu diajari supaya jangan belajar untuk menjadi orang bodoh, Dan kalau pun kamu sudah pintar, maka jangan mengajari orang untuk bodoh.

5. *Pasomal-somal ma dirim tu na denggan asa gabe bakko*

Kalau diartikan kata-kata ini seperti ini: Biasakan lah dirimu untuk melakukan sesuatu itu dengan kebaikan biar jadi darah daging bagimu ,atau Supaya kamu kebiasaan melakukan yang baik.

Dalam bahasa indonesia juga pasti sudah pernah kita dengar “Ala Bisa Karena Biasa”, Hampir sama artinya dengan ungkapan “Pasomal-somal ma dirim tu na denggan asa gabe bakko”. Namun ada sedikit perbedaan, dimana dalam Poda batak ini lebih ditekankan kepada kebaikan dan ketulusan terhadap membantu sesama.

6. *Pasangap Natorasmu*

Ini juga adalah Poda yang sangat sering diucapkan oleh orang batak untuk anaknya. Orangtua menasehati anaknya agar hormat terhadap orangtuanya sendiri dan orang yang lebih tua dari dirinya.

Jadi bukan cuma orangtuanya sendiri yang harus Dipasangap (dihormati), Orang yang lebih tua dari dia juga harus dihormati.

7. *Jolo Nidilat Bibir Asa Nidok Hata*

Poda ini disampaikan kepada anaknya agar tidak menjadi orang Jabir, atau agar tidak mengada-ada kata yang tidak benar sehingga menimbulkan kemarahan seseorang. Jadi seseorang itu diharuskan berpikir dulu sebelum bertindak.
(Molo on cocokma akka tu pangota ate.)

8. *Talu maralohon dongan, monang maralohon musuh.*

Jadi orang batak itu selalu mamodai agar anaknya menjadi anak yang sangat baik. Bahkan anaknya disuruh mengalah terhadap Teman. Atau istilahnya Tidak apalah kalaupun kalah/ mengalah terhadap teman asalkan menang melawan musuh. Hebatnya lagi, Kalau musuh itu mesti diselesaikan secara jantan.

9. *Unang Monang di surak-surak, Alai talu di olop-olop*.

Poda ini juga sangat besar maknanya, dimana seringkali kita Keburu bersorak karena dikira sudah menang padahal ternyata kalah. Jadi dalam poda ini diajarkan agar tetap menjadi orang yang biasa saja meskipun itu kalah atau menang dalam segala hal. (Unang sipanggaron attong).

10. *Naso matanggak di hata, naso matahut di bohi*.

Poda ini juga sangat dituntut dalam kehidupan seseorang. Dimana diharuskan agar Berani mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. (Molo sala, Nihatahon sala, Molo Tikkos, Nihatahon Tikkos). Jika ya, katakan ya… Jika tidak, ya katakan tidak.

11. *Na tinaba ni tangke martumbur, na tinamba ni gana ripur.*

Kalau poda yang satu ini diartikan dalam bahasa indonesia adalah “Yang ditebang kampak akan bertunas, yang ditebang sumpah mati tak akan berketurunan”. Poda ini diingatkan orangtuanya agar tidak mengatakan Sumpah terhadap seseorang, apalagi sama pacarnya .Hal ini bertujuan supaya jangan sampai termakan sumpah sebab berat risikonya.

12. *Nang pe di bagasan sunuk manuk sabungan, sai tong do martahuak.*

Poda ini diibaratkan dengan seeokor Ayam dalam keranjang. Dimana kalaupun terkurung di dalam keranjang, ayam sabung akan tetap berkokok. Artinya, Kalau memang pemberani maka si pemberani itu akan selalu menunjukkan keberaniannya di mana pun ia berada. ( Jadi unang asang-asang ala di hutana)

13. *Marsitijur dompak langit, sai madabu do tu ampuan.*

Meskipun seorang batak itu ganteng, Cantik, Tajir, jadi tetap diajarkan agar rendah hati dan jangan sepat menghina seseorang apabila dia lebih jelek. Dan supaya tidak menjelekkan saudara sendiri Dimana arti poda diatas adalah “meludah ke langit dengan sendirinya jatuh ke pangkuan”. Artinya ; menjelekkan saudara sendiri sama dengan menjelekkan diri sendiri.

14. *Na teal so hinallung na teleng so hinarpean.*

Arti ungkapan diatas adalah yang berat sebelah tidak dipikul, yang mirik tidak dialasi. Jadi anaknya diberi peringatan agar tidak angkuh dan merasa memiliki harta melimpah. Karena bagaimana pun itu tidak ada artinya bagi yang lain

15. *Tedek songon indahan di balanga.*

Ini termasuk poda yang sangat penting bagi seorang anak., Supaya ia Terbuka atau transparan seperti nasi dalam kuali. Artinya tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Orang tua sesungguhnya tidak menyukai jika anaknya menutupi sesuatu, jadi diajarkan agar dicurhatkan lansgung pada orangtuanya.

16. *Ndang uasan halak di toru ni sampuran.*

Jadi seorang anak itu dipodai juga agar mencari kemakmuran ditempat yang akan diinjak. Dimana arti poda diatas adalah seseorang itu Tidak akan kehausan orang di dekat air terjun. Jadi, Jika kamu makmur, maka pastilah kamu tidak akan kelaparan.

17. *Maila raut so dapotan.*

Poda ini juga menganjurkan anaknya supaya tidak menggunakan Sajam (senjata Tajam) Untuk melukai siapapun. dimana maksudnya juga adalah malu pisau tidak melukai . Ini dikatakan untuk melarang keras orang yang suka mempermainkan pisau, sebab bukan tak mungkin akan melukai orang.

18. *Songon tuhil, ia pinasak masuk, ia tinait ro.*

Bagaikan pahat dipukul; masuk, ditarik kembali. Maksudnya; janganlah bekerja kalau disuruh, ambil inisiatif. Ini cocok bagi orang yang selalu disuruh baru dikerjakan. Poda ini diucapkan orang batak untuk anaknya yang bekerja. Agar dia disukai atasannya dan juga orang lain, maka langsung ambil Inisiatif.

19. *Ndang boi sambariba tangan martopap *

Ini biasanya diucapkan orang batak terhadap anaknya yang mencintai terhadap seseorang namun seseorang itu tidak mencintai anaknya. jadi dipodakanlah bahwa Tak mungkin hanya bertepuk tangan sebelah.

Sebaiknya anaknya mencari yang lain karena cintanya tidak akan pernah diterima. (heheheh Lungunnai ate)

20. *Tiptip alai sai adong masiganjangi, dosdos alai sai adong mansiboloni.*

Poda ini dikatakan orangtuanya supaya anaknya tidak cemburu melihat saudaranya lebih sukses/kaya dari dia. Karena Walaupun bersaudara tetapi semuanya tidak akan sama jalan pikiran maupun harta kekayaannya.

21. *Tigor do ransang hapit*

Poda ini diumpamakan seperti kayu ransang yang lurus namun terjepit. Artinya, Meskipun nanti anaknya Selalu bebuat benar dan tulus bisa saja terjepit, sehingga ia merasa serba salah. Jadi harus tetap Sabar.

22. *Mambuat mas sian toru ni rere.*

Nah… Meskipin pangkat dan jabatan anak orang batak sudah tinggi, namun selalu diajarkan agar tetap adil. Karena arti poda diatas adalah seseorang yang mengambil emas dari bawah tikar buruk. Maksudnya agar jangan mengambil keuntungan dari jalan terkutuk ( korupsi dan menipu).

23. *Maraprap na so magulang.*

Orang yang tidak jatuh, malah ikut terluka. Maksudnya, jangan ikut terlibat dan melibatkan orang lain pada sesuatu yang bukan urusannya. Jadi poda ini dikatakan agar anaknya tidak mencampuri urusan orang lain.

24. *Tu sundungna do hau marumpak.*

Poda ini sangat bagus dikatakan kepada anaknya agar anaknya selalu berbuat baik dan beramal. Dimana artinya adalah “Pohon akan tumbang ke arah condongnya”. Yang berarti, seseorang itu akan menjadi seperti apa kelak, akan sesuai bakat, talenta serta amal perbuatannya.

25. *Bolus do mula ni hadengganon, jujur do mula ni hasesega*

Arti poda diatas adalah seseorang yang Cepat melupakan perbuatan yang tidak baik seseorang maka akan bersumber kebaikan, tetapi suka menghitung perbuatan baik kita menjadi sumber perselisihan.

26. *Risi-risi hata ni jolma, lamot-lamot hata ni begu.*

Poda ini disampaikan kepada anaknya, dimana arti poda ini adalah bahwa Ucapan manusia itu kasar, tetapi ucapan iblis itu halus lemah-lembut. Ungkapan ini mengingatkan supaya Anaknya itu jangan cepat tergiur pada kata-kata rayuan yang hanya enak didengar kuping, padahal maksud dan tujuannya untuk menusuk dari belakang atau tipuan.

27. *Sahalak maniop sulu, sude halak marsuluhonsa.*

Jadi poda ini dititipkan orangtuanya kepada anaknya supaya tetap berbuat baik. Dimana jika ia terus berbuat baik, semua keluarganya akan bergembira karena merasakan hasil perbuatan baiknya tersebut. Ini diucapkan untuk menghargai perbuatan baik seseorang sekaligus mengharap agar semakin banyak orang yang menjadi ”berkat” untuk orang lain dan keluarga.

28. *Sidapot solup do na ro.*

Jika anaknya menjadi seorang Pendatang nanti di negeri orang, maka anaknya diajarkan agar mematuhi atau tunduk pada kebiasaan adat yang berlaku setempat, Tidak boleh mengatakan, wah.. kalau yang berlaku di daerah kami… begini atau begitu.

29. *Mulak-ulak songon namangusa botohon.*

Berulang sulang atau bolak-balik bagaikan membersihkan tangan. Artinya, tidaklah salah walaupun apa yang telah diucapkan pembicara terdahulu diulangi lagi oleh pembicara belakangan.

30. *Ulu balang na so mida musu*.

nah, poda ini juga disampaikan kepada anaknya supaya jangan sok dan mengaku jagoan dan pemberani tetapi tak pernah berhadapan dengan musuh.

Sebaiknya anda ingat hal ini, bila akan menggelar pesta ingatlah order Sedulur Fresh Juice.

Revisi Harga Cup Seal ukuran-14-12-10-oz

Arti Parmualmualan

Peti jenazah seperti pada gambar dibawah ini disebut PARMUALMUALAN  atau di sebagian daerah di bona pasogit (kampung halaman) dikenal sebagai ABAL-ABAL yang akan menjadi rumah abadi pemiliknya apabila kelak yang bersangkutan meninggal dunia. PARMUALMUALAN  adalah peti jenazah yang telah dipersiapkan seseorang saat dia masih hidup, oleh karenanya layak disebut jabu napinauli ni tanganna (rumah yang dibangunnya). Berbeda dengan peti jenazah yang dipesan setelah seseorang meninggal dunia,  yang biasanya orang Batak menyebutnya sebagai jabu nasopinauli ni tanganna (rumah yang bukan dibangun olehnya).

Parmualmualan biasanya dipersiapkan bagi seseorang jauh hari sebelum dia meninggal dunia yakni mereka yang sudah cukup tua dan terberkati dengan 3H (hamoraon, hagabeon, hasangapon). Hamoraon (kekayaan) adalah relatif tetapi paling tidak mapan secara ekonomi. Hagabeon adalah “marpahompu sian anak, marpahompu sian boru sahat ro di na marnini marnono” (memiliki putra dan putri, cucu-cucu dari putra dan putri dan bahkan cicit). Hasangapon (kehormatan) ini juga relatif tetapi paling tidak yang bersangkutan tidak tercela dan dihormati oleh lingkungannya. Ketiga aspek 3H tersebut tentu bukan harga mati, karena raja-raja adat berperan memutuskan dengan berbagai pertimbangan. Proses pembuatan parmualmualan tergolong sulit, lama dan tentu harganya mahal.

 

Parmualmualan dibuat dari satu batang kayu besar (hau sada) yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mempunyai tempat yang pas untuk dapat menampung mayat pemesannya apabila kelak telah meninggal dunia. Pembuatan parmualmualan itu melalui proses yang lama dan umumnya dibuat dari kayu yang keras yakni kayu pinasa (nangka) atau jati ataupun hariara. Tidak semua orang bisa mengerjakan pembuatan parmualamualan karena harus ada jiwa seni pahat/ukir dimana semuanya dikerjakan secara manual. Sebelum di bentuk, kayu itu harus direndam dulu beberapa lama di dalam air supaya awet dan tidak termakan oleh rayap. Setelah dibentuk lalu dipahat dengan ornamen Batak (di gorga), juga diberi warna Batak yakni merah, hitam dan putih.

Apabila seseorang telah mempunyai parmualmualan biasanya diberitahu kepada para “Raja” secara adat dalam hubungan kekerabatan Batak “Dalihan Na Tolu” melalui suatu acara adat dimana keturunannya (pinompar) memberi sulangsulang hariapan (memberi makan orangtua) kepada si orang tua tersebut.  Kelak apabila telah menerima sulangsulang hariapan maka orangtua tersebut tergolong nunga singhop be adatna (paripurna secara adat) yang berrarti bahwa orangtua tersebut tidak lagi memiliki hak dan kewajiban atas adat. Segala hak dan kewajibannya atas adat telah dianggap selesai, tinggal menunggu adat kematiaannya yang akan dilaksanakan oleh keturunannya.

Orangtua yang meninggal dan sudah mempunyai parmualmualan akan diberangkatkan dengan adat Batak yang lengkap, pulik pangarapotna, pulik partuatna,  dan diiringi dengan ogung sabanguan dan tortor (musik gendang dan tarian) Batak.

Dahulu kala untuk menyatukan bagian penutup dan bagian utama dari parmualmualan tidak boleh di paku tetapi memakai rotan kecil yang dililitkan. Rotan itulah yang mengikatnya agar tertutup dan tidak boleh ada sanggahannya semacam kaki-kaki peti, tetapi langsung diletakkan dilantai.
Prosesi mengikat penutup dan bagian utama ini dinamakan Ulaon Mangarapot, dimana tetua adat (Raja Pangarapot) akan melaksanakan prosesi adat Pangarapoton disaksikan oleh seluruh keturunan almarhum dan unsur Dalihan Natolu.

Bagaimana dengan prosesi adat kematian almarhum DR. Sutan Raja DL Sitorus terkait dengan Parmualmualan ?

TUHAN berkehendak, pada hari Kamis tanggal 3 Agustus 2017 sekitar pukul 14.15 Wib, bapak DR. Sutan Raja Darianus Lungguk Sitorus meninggal dunia di pesawat Garuda Indonesia yang akan membawanya dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menunju Bandara Kualanamu Sumatera Utara.

Dibalik peristiwa kematiannya ada hal yang menarik dan unik, ternyata almarhum Dr (HC) Sutan Raja DL Sitorus telah mempersiapkan parmualmualan (peti jenazah) nya sejak tiga tahun lalu. Seperti biasanya, parmualmualan yang dipersiapkan harus sepasang, satu untuk suami dan satu lagi untuk isteri (Ompu si Diorantaria boru Siagian).  Parmualmualan beliau pesan dari sahabatnya bernama Tuan Nasser Sirait dan seyogianya akan di ompoi (diresmikan secara adat) pada bulan September 2017. Namun, manusia boleh berencana tetapi Tuhan berkehendak.

Ndada simanukmanuk sibontar andora

Ndada sitodo turpuk siahut lomo ni roha

Dengan demikian parmualmualan akan segera dipergunakan, namun masalahnya belum paulak tukkang (mengembalikan tukang pembuat peti – serah terima peti mati dari pembuatnya kepada pemesan) yang merupakan ritual adat Batak yang perlu dilakukan agar sah dan punya makna parmualmualan tersebut.

Hasil perundingan keluarga dan panuturion (pencerahan) Raja Panuturi dari Desa Parsambilan (kampung halaman almarhum), disepakati untuk melaksanakan Tonggo Raja mengenai Parmualmualon.  Hari Sabtu tanggal 5 Agustus 2017 pukul 19.30 Wib bertempat dirumah almarhum dan dihadiri oleh unsur Dalihan Natolu, dilaksanakan Tonggo Raja membicarakan rangkaian adat yang akan dilaksanakan terkait parmualmualan dan persiapan Mompo (memasukkan jenazah ke peti jenazah).

Lazimnya mangompoi parmualmualan dilaksanakan semasa hidup dengan terlebih dahulu orang tua tersebut manjalo sulang sulang hariapan  dari keturunannya. Dalam hal ini karena Bapak DR. Sutan Raja DL Sitorus sudah terlebih dahulu meninggal dunia sebelum hal itu dilaksanakan dan atas pemaparan Raja Panuturi (tetua adat) yang datang dari Parsambilan, maka ulaon mangompoi parmualmualan tidak bisa dilaksanakan dengan alasan  ndang boi pasadaon ulaon ni namangolu dohot naung monding  (adalah pantang untuk menggabungkan acara adat bagi orang yang masih hidup dan bagi yang sudah meninggal dunia). Acara adat mangompoi parmualmualan dari sang isteri (Ompu si Diorantaria boru Siagian) yang masih hidup dapat dilaksanakan di kemudian hari.

Hasil Tonggo Raja sepakat melaksanakan sbb:

  1. Paulak Tukkang dohot Mangarajahon Parmualmualan.

Minggu tanggal 6 Agustus 2017 dimulai dengan Ibadah Minggu dan dilanjutkan dengan Paulak Tukkang dohot Mangarajahon Parmualmualan yang dihadiri unsur Dalihan Natolu.

  1. Minggu tanggal Agustus 2017 pukul 19.00 Wib setelah rangkaian Paulak Tukkang dohot Mangarajahon Parmualmualan selesai dilaksanakan, maka dilaksanakan Mompo (memasukkan jenazah almarhum ke parmualmualanna).
  1. Setelah Mompo, Senin tanggal 6 Agustus 2017 jenazah diberangkatkan ke kampung halaman untuk pelaksanaan rangkaian adat kematian bertempat di Ruma Parsaktian di desa Cinta Damai Parsambilan. Adapun rangkaian adatnya sbb:

Rabu tanggal 9 Agustus 2017 Panangkok Ogung Sabangunan laos Mangido Tua ni Gondang.

Kamis 10 Agustus 2017 Ulaon Mangarapot (Pangarapoton).

Jumat 11 Agustus 2017 Ulaon Partuatna.

Sabtu 12 Agustus 2017 Ulaon Manuan Ompuompu.

Filosopi Hau Sada dan Pinasa

Dari informasi yang diperoleh Tim Redaksi Soara Parsibona, peti jenazah sudah dipersiapan sejak 3 tahun lalu, terbuat dari kayu pilihan dan dihiasi Gorga Batak. Keberadaan peti jenazah yang langka itu mengundang perhatian khalayak umum mengingat peti jenazah gorga (ukiran motif gorga) biasanya untuk para raja-raja orang Batak sehingga sangat langka dan biaya pembuatan peti jenazah tentu bukanlah murah, tidak bisa dikerjakan sembarangan orang serta memakan waktu yang cukup lama.  Pecinta media sosial dan para pelayat bertanya-tanya, siapa pembuat peti jenazah gorga untuk Sutan Raja DL Sitorus dan berapa biayanya ?

Mendengar kabar bahwa parmualmualan (peti jenazah) untuk Op.si Diorantaria doli (Sutan Raja DL Sitorus) dan Op.si Diorantaria boru (Ny. DL. Sitorus br Siagian) telah lama dipersiapkan dan telah selesai terbuat dari kayu bulat (Hau Sada) dari pohon nangka (Pinasa), rasa penasaran mendorong Tim Redaksi Soara Parsibona mencari tahu pemahaman akan makna dan filosopi dibalik kata dari Hau Sada dan mengapa dari jenis kayu nangka.

Untuk ini, Pimpinan Redaksi Soara Parsadaan, Bapak DR. Tarmiden Sitorus melakukan wawancara eksklusif dengan Bapak Raja Gorga Panjaitan, sang pemahat/pengukir (Pande) yang menempah parmualmualan. Beliau memaparkan filosopi Hau Sada dan Pinasa serta cerita dibalik proses pembuatannya sbb:

  1. Hau Pinasa (pohon nangka), berkaitan dengan sebutan Bona ni Pinasa. Bagi orang Batak sebutan Bona ni Pinasa mengacu pada arti penting dari kampung halaman, seperti didendangkan dalam lagu berikut.

ARGA DO BONA NI PINASA

Arga do bonani pinasa di angka naserep marroha,

ai ido tona ni ompunta tu hita angka pinomparna.

Argado bonani pinasa di angka naburju marroha,

sai ingot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.

Ai tano hatubuanhi do tu si do ingkon mulak au,

Nang pe arga sinamot muna sai ingot ma mulak tu huta.

Arga do bona ni pinasa di angka na burju marroha,

Sai ingot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.

Dao pe au nuaeng marjalang, sambuloki  sai hot do i,

Sai i ngot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa,

Sai i ngot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.

Terjemahan bebas lagu tersebut diatas kira-kira seperti ini:

Kampung halaman sangat berharga (berkesan mendalam) bagi orang yang bijaksana,

sebagaimana pesan orangtua bahkan nenek moyang kita.

Kampung halaman sangat dikenang (dirindukan) oleh orang yang baik hati,

Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Aku harus pulang melihat Tanah Kelahiranku (asal-usulku),

meskipun aku telah termasyhur, banyak harta benda di negeri orang, tak kulupakan kampung halamanku.

Kampung halaman sangat dikenang (dirindukan) oleh orang yang baik hati,

Ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Meskipun jauh di rantau di negeri orang, hati/jiwaku tetap tertuju pada kampung halamanku.

Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Dahulu kala orang Batak selalu menanam pohon nangka di kebun sekitar perkampungan. Kayu pohon nangka termasuk kategori kayu keras dan kuat, namun lebih mudah dipahat sehingga menjadi pilihan untuk bahan utama pembuatan parmualmualan (abalabal). Memang ada beberapa jenis kayu lain diantaranya Pokki namun sulit untuk dijadikan parmualmualan karena kerasnya, demikian juga Hariara (sejenis beringin) proses pengerjaannya lebih rumit.

  1. Hau sada” bermakna satu batang pohon cukup untuk kebutuhan pembuatan peti jenazah tanpa dipotong-potong maupun dibilah-bilah dan tidak ditambah dari pohon lain. Sang pemahat Raja Gorga Panjaitan menjelaskan bahwa Bapak DR Sutan Raja DL Sitorus telah memesan parmualmualan kepada sahabatnya Tuan Nanser Sirait sejak sekitar 3 tahun lalu. Ada dua pohon kayu telah dipersiapkan di Subang. Sutan Raja DL Sitorus meminta Tuan Nanser Sirait menemui Raja Gorga Panjaitan yang bermukim di Sitorang Kecamatan Silaen-Tobasa untuk mengajaknya melihat kayu yang telah dipersiapkan sebagai bahan pembuatan peti jenazah. Tuan Nanser Sirait bersama Raja Gorga Panjaitan berangkat ke Subang untuk memeriksa kedua pohon kayu tersebut. Kesimpulan mereka ternyata bentuk dan ukuran tidak cocok dan tidak cukup untuk kebutuhan pembuatan parmualmualan baik bagi Sutan Raja DL Sitorus (Op si Diorantaria doli) maupun bagi Ny. DL Sitorus br Siagian (Op si Diorantaria boru). Oleh karena dinilai tidak memenuhi kebutuhan, maka hal itu dilaporkan kepada Sutan Raja DL Sitorus. Sebagai alternatif  solusi Raja Gorga Panjaitan menawarkan kayu di Pintu Bosi, Tarutung Tapanuli Utara. Segera mendapat persetujuan dari Sutan Raja DL Sitorus, selanjutnya Tuan Nasser Sirait bersama Raja Gorga Panjaitan berangkat ke Pintu Bosi memeriksa kayu dimaksud dan mengambil gambarnya. Tuan Nasser Sirait melaporkan hasil pemeriksaan dan menunjukkan foto kayu tersebut kepada Sutan Raja DL Sitorus dan beliau setuju untuk dilanjutkan.

Proses pembuatan parmualmualan dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan dikediaman Raja Gorga Panjaitan di Sitorang, Silaen – Tobasa. Dua batang kayu nangka utuh dijadikan dua parmualmualan dengan ornamen gorga Batak sesuai peruntukan. Setelah selesai dikerjakan, kedua peti parmualmualan hendak diberangkatkan ke Jakarta, namun berhubung parmualmualan dari ibunda Sutan Raja DL Sitorus yakni Ompu Sabar boru masih berada di Jakarta dan saat itu Sang ibunda masih hidup, maka secara adat Batak pantang untuk membawanya ke Jakarta. Raja Gorga Panjaitan menyarankan agar membawanya ke perusahaan Sutan Raja DL Sitorus di daerah Lampung dengan maksud agar lebih dekat ke Jakarta sebelum secara resmi ditunjukkan kepada para Raja (unsur Dalihan Natolu). Mendapat penjelasan itu Sutan Raja DL Sitorus setuju menyimpannya di daerah Natar-Lampung dan merencanakan pelaksanaan acara adat terkait hal itu pada bulan September 2017.

Penutup

Ritual adat Batak pembuatan parmualmualan atau abalabal merupakan kejadian yang langka kita temukan dewasa ini. Bahkan sebagian besar generasi muda orang Batak tidak pernah melihat bahkan mendengar adanya ritual adat parmual-mualan. Banyak orangtua Batak yang memenuhi syarat 3H akan tetapi tidak terlalu terdorong untuk  melakukannya dengan berbagai alasan tentunya. Bapak DR. Sutan Raja DL. Sitorus (Ompu si Dioranta doli) adalah pengecualian. Beliau sangat peduli dalam upaya pelestarian adat Batak dalam setiap sendi kehidupannya, sepanjang tidak bertentangan dengan agama yang dianutnya.

Bagi generasi muda orang Batak khususnya anggota Parsibona apa yang dilakukan oleh natua-tua i DR. Sutan Raja DL. Sitorus merupakan suatu pembelajaran atau ajakan bagi kita semua agar kita jangan lupa akan bona ni pinasa (kampung halaman), dan senantiasa melanjutkan nilai-nilai budaya leluhur. Seperti kata umpasa Batak

Tuat na di dolok martungkothon siala gundi,

Adat dohot uhum pinungka ni ompunta na parjolo Ihuthonta sundut naumpudi.

 

Dirangkum dari berbagai sumber, termasuk wawancara eksklusif Tim Redaksi Soara Parsadaan (Majalah PARSIBONA) dengan bapak Raja Gorga Panjaitan.

 

Tangerang 13 Agustus 2017

Dr. Ir. Tarmiden Sitorus

St. Sampe Sitorus, SE

%d bloggers like this: