Feeds:
Posts
Comments
dalihan natolu

“Dalihan” artinya sebuah tungku yang dibuat dari batu. Kalau diartikan langsung, “Dalihan Natolu”  ialah tungku tempat memasak yang diletakkan diatas dari tiga batu. Ketiga batu yang disusun sedemikian berfungsi sebagai tempat tungku tempat memasak diatasnya. Dalihan yang dibuat haruslah sama besar dan diletakkan atau ditanam ditanah serta jaraknya seimbang satu sama lain serta tingginya sama agar dalihan yang diletakkan tidak miring dan menyebabkan isinya dapat tumpah atau terbuang.

Dulunya, kebiasaan ini oleh masyarakat Batak khususnya Batak Toba memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku jika diterjemahkan langsung dalam bahasa Batak Toba disebut juga dalihan natolu. Namun kemudian munc sebutan dalihan natolu paopat sihalsihal, falsafah yang dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.

Sehari-hari alat tungku merupakan bagian peralatan rumah yang paling vital untuk memasak. Makanan yang dimasak baik makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga. Biasanya memasak di atas dalihan natolu terkadang tidak rata karena batu penyangga yang tidak sejajar. Agar sejajar maka digunakanlah benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa sehari-harinya kebanyakan orang Batak Toba, tambahan benda untuk mengganjal disebut Sihal-sihal.

Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu? Dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.

Poda ni sijolojolo tubu mandok:”manat” mardongan tubu, “somba” marhulahula, “elek” marboru. Laos dipaihuthon do dohot uhum tusi, molo sala tu Dalihan Natolu, ingkon; “sulangan” dongan tubu, “parpisoan” hulahula, “parulosan” boru.

 

Berikut penjabaran singkat tentang makna filsafah Dalihan Natolu dalam kehidupan Batak Toba serta contoh penerapan bersosial dalam adat Batak Toba.

1. Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki, sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.

Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.

Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.

Disebutkan, Na so somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).
Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isi nya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.

Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru).

2. Manat Mardongan Tubu.
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Salah satu diantarannya pinompar ni Nairasaon terdiri atas rumpun marga Manurung, marga Sitorus, marga Sirait, marga Butabutar.

Dongan Tubu dalam adat Batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga Sitorus mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga Sitorus (namarhaha maranggi: Pane, Dori, Boltok).

Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan perkelahian. seperti umpama: “Angka naso manat mardongan tubu, na tajom ma adopanna’. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik.

Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kimpoi atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.

3. Elek Marboru
Boru ialah kelompok orang dari saudara perempuan kita, dan pihak marga suaminya atau keluarga perempuan dari marga kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah elek marboru yang artinya agar saling mengasihi supaya mendapat berkat(pasu-pasu). Istilah boru dalam adat batak tidak memandang status, jabatan, kekayaan oleh sebab itu mungkin saja seorang pejabat harus sibuk dalam suatu pesta adat batak karena posisinya saat itu sebagai boru.

Pada hakikatnya setiap laki-laki dalam adat batak mempunyai 3 status yang berbeda pada tempat atau adat yg diselenggarakan misalnya: waktu anak dari saudara perempuannya menikah maka posisinya sebagai Hula-hula, dan sebaliknya jika marga dari istrinya mengadakan pesta adat, maka posisinya sebagai boru dan sebagai dongan tubu saat teman semarganya melakukan pesta.

Diedit seperlunya oleh Sampe Sitorus bersumber dari tulisan di:

*Nasihat (Poda) Orang BATAK* 🙏🏻🙏🏻

1. *Pantun do Hangoluan, Tois do Hamagoan*

Poda ini pasti disampaikan orangtuanya kepada anaknya agar anaknya santun terhadap siapapun dan jangan Egois atau nakal dan kurang ajar terhadap siapapun itu, Baik yang dibawahnya ataupun yang diatasnya.
Kalau diartikan dalam bahasa indonesia, Pantun yaitu Santun, Ramah dan Tois Adalah angkuh, biadap, kurang ajar, nakal, ceroboh, suka melawan, bangkang.

Poda ini juga tidak lupa dititipkan orangtuanya kepada anaknya sewaktu mau merantau, Termasuk Admin, juga dititipkan bapak dengan poda ini.

2. *Mata Guru, Roha Sisean*

Nah… Poda ini juga sangat sering disampaikan orang tua kepada anaknya. Poda ini sangat mengandung arti yang sangat luar biasa. Kurang lebih artinya seperti ini : Jadikan Mata sebagai guru kemanapun menginjak tanah dan Nurani sebagai tuntunan hidup kemanapun melangkah.

Karena apa yang kita lihat, maka bisa kita perbuat demikian. Baik atau tidaknya yang kita lihat, maka Sisean (hati) kitalah sebagai penentunya.

3. *Marbisuk Songon Ulok Marroha Songon Darapati.*

Poda ini bukanlah sembarangan poda saja, Sangat besar atinya untuk seseorang, dan ini bisa jadi modal seseorang dimanapun berada.

Yang berarti kita harus Bisuk (Cerdik) terhadap sebuah yang akan kita lakukan, Dan Marroha songon darapati (Berpikir, bersikap seperti merpati,). Bahkan dalam arkitab juga disinggung mengenai hal ini “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Matius 10:16.

Kata Ulok (Ular), sebenarnya tidak dikategorikan sebagai hewan yang cerdik. Seringkali justru dikaitkan sebagai binatang yang licik. Bisanya yang mematikan, dan pagutannya yang secepat kilat ketika menyergap mangsa yang tak siap, menunjukkan sikap ke “licik” an dari ular.

Kemudian Darapati (Burung Merpati), adalah sejenis burung yang mampu terbang berkilo-kilometer jauhnya, kembali ke tempat asalnya. Oleh karena itu, merpati dipakai sebagai lambang pt pos, yang mengantarkan surat ke tempat tujuannya, walaupun jaraknya jauh.

Jadi Poda ini biasa ditafsirkan orang batak bahwa seseorang itu harus memiliki hati yang tulus seperti merpati, tetapi juga harus bertindak cerdik, seperti ular.

4. *NASOOLO MANARUS GUAMON, JALA NASOOLO PATARUSHON ANDURABION*

Atinya adalah, Orang batak itu diajari supaya jangan belajar untuk menjadi orang bodoh, Dan kalau pun kamu sudah pintar, maka jangan mengajari orang untuk bodoh.

5. *Pasomal-somal ma dirim tu na denggan asa gabe bakko*

Kalau diartikan kata-kata ini seperti ini: Biasakan lah dirimu untuk melakukan sesuatu itu dengan kebaikan biar jadi darah daging bagimu ,atau Supaya kamu kebiasaan melakukan yang baik.

Dalam bahasa indonesia juga pasti sudah pernah kita dengar “Ala Bisa Karena Biasa”, Hampir sama artinya dengan ungkapan “Pasomal-somal ma dirim tu na denggan asa gabe bakko”. Namun ada sedikit perbedaan, dimana dalam Poda batak ini lebih ditekankan kepada kebaikan dan ketulusan terhadap membantu sesama.

6. *Pasangap Natorasmu*

Ini juga adalah Poda yang sangat sering diucapkan oleh orang batak untuk anaknya. Orangtua menasehati anaknya agar hormat terhadap orangtuanya sendiri dan orang yang lebih tua dari dirinya.

Jadi bukan cuma orangtuanya sendiri yang harus Dipasangap (dihormati), Orang yang lebih tua dari dia juga harus dihormati.

7. *Jolo Nidilat Bibir Asa Nidok Hata*

Poda ini disampaikan kepada anaknya agar tidak menjadi orang Jabir, atau agar tidak mengada-ada kata yang tidak benar sehingga menimbulkan kemarahan seseorang. Jadi seseorang itu diharuskan berpikir dulu sebelum bertindak.
(Molo on cocokma akka tu pangota ate.)

8. *Talu maralohon dongan, monang maralohon musuh.*

Jadi orang batak itu selalu mamodai agar anaknya menjadi anak yang sangat baik. Bahkan anaknya disuruh mengalah terhadap Teman. Atau istilahnya Tidak apalah kalaupun kalah/ mengalah terhadap teman asalkan menang melawan musuh. Hebatnya lagi, Kalau musuh itu mesti diselesaikan secara jantan.

9. *Unang Monang di surak-surak, Alai talu di olop-olop*.

Poda ini juga sangat besar maknanya, dimana seringkali kita Keburu bersorak karena dikira sudah menang padahal ternyata kalah. Jadi dalam poda ini diajarkan agar tetap menjadi orang yang biasa saja meskipun itu kalah atau menang dalam segala hal. (Unang sipanggaron attong).

10. *Naso matanggak di hata, naso matahut di bohi*.

Poda ini juga sangat dituntut dalam kehidupan seseorang. Dimana diharuskan agar Berani mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. (Molo sala, Nihatahon sala, Molo Tikkos, Nihatahon Tikkos). Jika ya, katakan ya… Jika tidak, ya katakan tidak.

11. *Na tinaba ni tangke martumbur, na tinamba ni gana ripur.*

Kalau poda yang satu ini diartikan dalam bahasa indonesia adalah “Yang ditebang kampak akan bertunas, yang ditebang sumpah mati tak akan berketurunan”. Poda ini diingatkan orangtuanya agar tidak mengatakan Sumpah terhadap seseorang, apalagi sama pacarnya .Hal ini bertujuan supaya jangan sampai termakan sumpah sebab berat risikonya.

12. *Nang pe di bagasan sunuk manuk sabungan, sai tong do martahuak.*

Poda ini diibaratkan dengan seeokor Ayam dalam keranjang. Dimana kalaupun terkurung di dalam keranjang, ayam sabung akan tetap berkokok. Artinya, Kalau memang pemberani maka si pemberani itu akan selalu menunjukkan keberaniannya di mana pun ia berada. ( Jadi unang asang-asang ala di hutana)

13. *Marsitijur dompak langit, sai madabu do tu ampuan.*

Meskipun seorang batak itu ganteng, Cantik, Tajir, jadi tetap diajarkan agar rendah hati dan jangan sepat menghina seseorang apabila dia lebih jelek. Dan supaya tidak menjelekkan saudara sendiri Dimana arti poda diatas adalah “meludah ke langit dengan sendirinya jatuh ke pangkuan”. Artinya ; menjelekkan saudara sendiri sama dengan menjelekkan diri sendiri.

14. *Na teal so hinallung na teleng so hinarpean.*

Arti ungkapan diatas adalah yang berat sebelah tidak dipikul, yang mirik tidak dialasi. Jadi anaknya diberi peringatan agar tidak angkuh dan merasa memiliki harta melimpah. Karena bagaimana pun itu tidak ada artinya bagi yang lain

15. *Tedek songon indahan di balanga.*

Ini termasuk poda yang sangat penting bagi seorang anak., Supaya ia Terbuka atau transparan seperti nasi dalam kuali. Artinya tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Orang tua sesungguhnya tidak menyukai jika anaknya menutupi sesuatu, jadi diajarkan agar dicurhatkan lansgung pada orangtuanya.

16. *Ndang uasan halak di toru ni sampuran.*

Jadi seorang anak itu dipodai juga agar mencari kemakmuran ditempat yang akan diinjak. Dimana arti poda diatas adalah seseorang itu Tidak akan kehausan orang di dekat air terjun. Jadi, Jika kamu makmur, maka pastilah kamu tidak akan kelaparan.

17. *Maila raut so dapotan.*

Poda ini juga menganjurkan anaknya supaya tidak menggunakan Sajam (senjata Tajam) Untuk melukai siapapun. dimana maksudnya juga adalah malu pisau tidak melukai . Ini dikatakan untuk melarang keras orang yang suka mempermainkan pisau, sebab bukan tak mungkin akan melukai orang.

18. *Songon tuhil, ia pinasak masuk, ia tinait ro.*

Bagaikan pahat dipukul; masuk, ditarik kembali. Maksudnya; janganlah bekerja kalau disuruh, ambil inisiatif. Ini cocok bagi orang yang selalu disuruh baru dikerjakan. Poda ini diucapkan orang batak untuk anaknya yang bekerja. Agar dia disukai atasannya dan juga orang lain, maka langsung ambil Inisiatif.

19. *Ndang boi sambariba tangan martopap *

Ini biasanya diucapkan orang batak terhadap anaknya yang mencintai terhadap seseorang namun seseorang itu tidak mencintai anaknya. jadi dipodakanlah bahwa Tak mungkin hanya bertepuk tangan sebelah.

Sebaiknya anaknya mencari yang lain karena cintanya tidak akan pernah diterima. (heheheh Lungunnai ate)

20. *Tiptip alai sai adong masiganjangi, dosdos alai sai adong mansiboloni.*

Poda ini dikatakan orangtuanya supaya anaknya tidak cemburu melihat saudaranya lebih sukses/kaya dari dia. Karena Walaupun bersaudara tetapi semuanya tidak akan sama jalan pikiran maupun harta kekayaannya.

21. *Tigor do ransang hapit*

Poda ini diumpamakan seperti kayu ransang yang lurus namun terjepit. Artinya, Meskipun nanti anaknya Selalu bebuat benar dan tulus bisa saja terjepit, sehingga ia merasa serba salah. Jadi harus tetap Sabar.

22. *Mambuat mas sian toru ni rere.*

Nah… Meskipin pangkat dan jabatan anak orang batak sudah tinggi, namun selalu diajarkan agar tetap adil. Karena arti poda diatas adalah seseorang yang mengambil emas dari bawah tikar buruk. Maksudnya agar jangan mengambil keuntungan dari jalan terkutuk ( korupsi dan menipu).

23. *Maraprap na so magulang.*

Orang yang tidak jatuh, malah ikut terluka. Maksudnya, jangan ikut terlibat dan melibatkan orang lain pada sesuatu yang bukan urusannya. Jadi poda ini dikatakan agar anaknya tidak mencampuri urusan orang lain.

24. *Tu sundungna do hau marumpak.*

Poda ini sangat bagus dikatakan kepada anaknya agar anaknya selalu berbuat baik dan beramal. Dimana artinya adalah “Pohon akan tumbang ke arah condongnya”. Yang berarti, seseorang itu akan menjadi seperti apa kelak, akan sesuai bakat, talenta serta amal perbuatannya.

25. *Bolus do mula ni hadengganon, jujur do mula ni hasesega*

Arti poda diatas adalah seseorang yang Cepat melupakan perbuatan yang tidak baik seseorang maka akan bersumber kebaikan, tetapi suka menghitung perbuatan baik kita menjadi sumber perselisihan.

26. *Risi-risi hata ni jolma, lamot-lamot hata ni begu.*

Poda ini disampaikan kepada anaknya, dimana arti poda ini adalah bahwa Ucapan manusia itu kasar, tetapi ucapan iblis itu halus lemah-lembut. Ungkapan ini mengingatkan supaya Anaknya itu jangan cepat tergiur pada kata-kata rayuan yang hanya enak didengar kuping, padahal maksud dan tujuannya untuk menusuk dari belakang atau tipuan.

27. *Sahalak maniop sulu, sude halak marsuluhonsa.*

Jadi poda ini dititipkan orangtuanya kepada anaknya supaya tetap berbuat baik. Dimana jika ia terus berbuat baik, semua keluarganya akan bergembira karena merasakan hasil perbuatan baiknya tersebut. Ini diucapkan untuk menghargai perbuatan baik seseorang sekaligus mengharap agar semakin banyak orang yang menjadi ”berkat” untuk orang lain dan keluarga.

28. *Sidapot solup do na ro.*

Jika anaknya menjadi seorang Pendatang nanti di negeri orang, maka anaknya diajarkan agar mematuhi atau tunduk pada kebiasaan adat yang berlaku setempat, Tidak boleh mengatakan, wah.. kalau yang berlaku di daerah kami… begini atau begitu.

29. *Mulak-ulak songon namangusa botohon.*

Berulang sulang atau bolak-balik bagaikan membersihkan tangan. Artinya, tidaklah salah walaupun apa yang telah diucapkan pembicara terdahulu diulangi lagi oleh pembicara belakangan.

30. *Ulu balang na so mida musu*.

nah, poda ini juga disampaikan kepada anaknya supaya jangan sok dan mengaku jagoan dan pemberani tetapi tak pernah berhadapan dengan musuh.

Sebaiknya anda ingat hal ini, bila akan menggelar pesta ingatlah order Sedulur Fresh Juice.

Revisi Harga Cup Seal ukuran-14-12-10-oz

Arti Parmualmualan

Peti jenazah seperti pada gambar dibawah ini disebut PARMUALMUALAN  atau di sebagian daerah di bona pasogit (kampung halaman) dikenal sebagai ABAL-ABAL yang akan menjadi rumah abadi pemiliknya apabila kelak yang bersangkutan meninggal dunia. PARMUALMUALAN  adalah peti jenazah yang telah dipersiapkan seseorang saat dia masih hidup, oleh karenanya layak disebut jabu napinauli ni tanganna (rumah yang dibangunnya). Berbeda dengan peti jenazah yang dipesan setelah seseorang meninggal dunia,  yang biasanya orang Batak menyebutnya sebagai jabu nasopinauli ni tanganna (rumah yang bukan dibangun olehnya).

Parmualmualan biasanya dipersiapkan bagi seseorang jauh hari sebelum dia meninggal dunia yakni mereka yang sudah cukup tua dan terberkati dengan 3H (hamoraon, hagabeon, hasangapon). Hamoraon (kekayaan) adalah relatif tetapi paling tidak mapan secara ekonomi. Hagabeon adalah “marpahompu sian anak, marpahompu sian boru sahat ro di na marnini marnono” (memiliki putra dan putri, cucu-cucu dari putra dan putri dan bahkan cicit). Hasangapon (kehormatan) ini juga relatif tetapi paling tidak yang bersangkutan tidak tercela dan dihormati oleh lingkungannya. Ketiga aspek 3H tersebut tentu bukan harga mati, karena raja-raja adat berperan memutuskan dengan berbagai pertimbangan. Proses pembuatan parmualmualan tergolong sulit, lama dan tentu harganya mahal.

 

Parmualmualan dibuat dari satu batang kayu besar (hau sada) yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mempunyai tempat yang pas untuk dapat menampung mayat pemesannya apabila kelak telah meninggal dunia. Pembuatan parmualmualan itu melalui proses yang lama dan umumnya dibuat dari kayu yang keras yakni kayu pinasa (nangka) atau jati ataupun hariara. Tidak semua orang bisa mengerjakan pembuatan parmualamualan karena harus ada jiwa seni pahat/ukir dimana semuanya dikerjakan secara manual. Sebelum di bentuk, kayu itu harus direndam dulu beberapa lama di dalam air supaya awet dan tidak termakan oleh rayap. Setelah dibentuk lalu dipahat dengan ornamen Batak (di gorga), juga diberi warna Batak yakni merah, hitam dan putih.

Apabila seseorang telah mempunyai parmualmualan biasanya diberitahu kepada para “Raja” secara adat dalam hubungan kekerabatan Batak “Dalihan Na Tolu” melalui suatu acara adat dimana keturunannya (pinompar) memberi sulangsulang hariapan (memberi makan orangtua) kepada si orang tua tersebut.  Kelak apabila telah menerima sulangsulang hariapan maka orangtua tersebut tergolong nunga singhop be adatna (paripurna secara adat) yang berrarti bahwa orangtua tersebut tidak lagi memiliki hak dan kewajiban atas adat. Segala hak dan kewajibannya atas adat telah dianggap selesai, tinggal menunggu adat kematiaannya yang akan dilaksanakan oleh keturunannya.

Orangtua yang meninggal dan sudah mempunyai parmualmualan akan diberangkatkan dengan adat Batak yang lengkap, pulik pangarapotna, pulik partuatna,  dan diiringi dengan ogung sabanguan dan tortor (musik gendang dan tarian) Batak.

Dahulu kala untuk menyatukan bagian penutup dan bagian utama dari parmualmualan tidak boleh di paku tetapi memakai rotan kecil yang dililitkan. Rotan itulah yang mengikatnya agar tertutup dan tidak boleh ada sanggahannya semacam kaki-kaki peti, tetapi langsung diletakkan dilantai.
Prosesi mengikat penutup dan bagian utama ini dinamakan Ulaon Mangarapot, dimana tetua adat (Raja Pangarapot) akan melaksanakan prosesi adat Pangarapoton disaksikan oleh seluruh keturunan almarhum dan unsur Dalihan Natolu.

Bagaimana dengan prosesi adat kematian almarhum DR. Sutan Raja DL Sitorus terkait dengan Parmualmualan ?

TUHAN berkehendak, pada hari Kamis tanggal 3 Agustus 2017 sekitar pukul 14.15 Wib, bapak DR. Sutan Raja Darianus Lungguk Sitorus meninggal dunia di pesawat Garuda Indonesia yang akan membawanya dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menunju Bandara Kualanamu Sumatera Utara.

Dibalik peristiwa kematiannya ada hal yang menarik dan unik, ternyata almarhum Dr (HC) Sutan Raja DL Sitorus telah mempersiapkan parmualmualan (peti jenazah) nya sejak tiga tahun lalu. Seperti biasanya, parmualmualan yang dipersiapkan harus sepasang, satu untuk suami dan satu lagi untuk isteri (Ompu si Diorantaria boru Siagian).  Parmualmualan beliau pesan dari sahabatnya bernama Tuan Nasser Sirait dan seyogianya akan di ompoi (diresmikan secara adat) pada bulan September 2017. Namun, manusia boleh berencana tetapi Tuhan berkehendak.

Ndada simanukmanuk sibontar andora

Ndada sitodo turpuk siahut lomo ni roha

Dengan demikian parmualmualan akan segera dipergunakan, namun masalahnya belum paulak tukkang (mengembalikan tukang pembuat peti – serah terima peti mati dari pembuatnya kepada pemesan) yang merupakan ritual adat Batak yang perlu dilakukan agar sah dan punya makna parmualmualan tersebut.

Hasil perundingan keluarga dan panuturion (pencerahan) Raja Panuturi dari Desa Parsambilan (kampung halaman almarhum), disepakati untuk melaksanakan Tonggo Raja mengenai Parmualmualon.  Hari Sabtu tanggal 5 Agustus 2017 pukul 19.30 Wib bertempat dirumah almarhum dan dihadiri oleh unsur Dalihan Natolu, dilaksanakan Tonggo Raja membicarakan rangkaian adat yang akan dilaksanakan terkait parmualmualan dan persiapan Mompo (memasukkan jenazah ke peti jenazah).

Lazimnya mangompoi parmualmualan dilaksanakan semasa hidup dengan terlebih dahulu orang tua tersebut manjalo sulang sulang hariapan  dari keturunannya. Dalam hal ini karena Bapak DR. Sutan Raja DL Sitorus sudah terlebih dahulu meninggal dunia sebelum hal itu dilaksanakan dan atas pemaparan Raja Panuturi (tetua adat) yang datang dari Parsambilan, maka ulaon mangompoi parmualmualan tidak bisa dilaksanakan dengan alasan  ndang boi pasadaon ulaon ni namangolu dohot naung monding  (adalah pantang untuk menggabungkan acara adat bagi orang yang masih hidup dan bagi yang sudah meninggal dunia). Acara adat mangompoi parmualmualan dari sang isteri (Ompu si Diorantaria boru Siagian) yang masih hidup dapat dilaksanakan di kemudian hari.

Hasil Tonggo Raja sepakat melaksanakan sbb:

  1. Paulak Tukkang dohot Mangarajahon Parmualmualan.

Minggu tanggal 6 Agustus 2017 dimulai dengan Ibadah Minggu dan dilanjutkan dengan Paulak Tukkang dohot Mangarajahon Parmualmualan yang dihadiri unsur Dalihan Natolu.

  1. Minggu tanggal Agustus 2017 pukul 19.00 Wib setelah rangkaian Paulak Tukkang dohot Mangarajahon Parmualmualan selesai dilaksanakan, maka dilaksanakan Mompo (memasukkan jenazah almarhum ke parmualmualanna).
  1. Setelah Mompo, Senin tanggal 6 Agustus 2017 jenazah diberangkatkan ke kampung halaman untuk pelaksanaan rangkaian adat kematian bertempat di Ruma Parsaktian di desa Cinta Damai Parsambilan. Adapun rangkaian adatnya sbb:

Rabu tanggal 9 Agustus 2017 Panangkok Ogung Sabangunan laos Mangido Tua ni Gondang.

Kamis 10 Agustus 2017 Ulaon Mangarapot (Pangarapoton).

Jumat 11 Agustus 2017 Ulaon Partuatna.

Sabtu 12 Agustus 2017 Ulaon Manuan Ompuompu.

Filosopi Hau Sada dan Pinasa

Dari informasi yang diperoleh Tim Redaksi Soara Parsibona, peti jenazah sudah dipersiapan sejak 3 tahun lalu, terbuat dari kayu pilihan dan dihiasi Gorga Batak. Keberadaan peti jenazah yang langka itu mengundang perhatian khalayak umum mengingat peti jenazah gorga (ukiran motif gorga) biasanya untuk para raja-raja orang Batak sehingga sangat langka dan biaya pembuatan peti jenazah tentu bukanlah murah, tidak bisa dikerjakan sembarangan orang serta memakan waktu yang cukup lama.  Pecinta media sosial dan para pelayat bertanya-tanya, siapa pembuat peti jenazah gorga untuk Sutan Raja DL Sitorus dan berapa biayanya ?

Mendengar kabar bahwa parmualmualan (peti jenazah) untuk Op.si Diorantaria doli (Sutan Raja DL Sitorus) dan Op.si Diorantaria boru (Ny. DL. Sitorus br Siagian) telah lama dipersiapkan dan telah selesai terbuat dari kayu bulat (Hau Sada) dari pohon nangka (Pinasa), rasa penasaran mendorong Tim Redaksi Soara Parsibona mencari tahu pemahaman akan makna dan filosopi dibalik kata dari Hau Sada dan mengapa dari jenis kayu nangka.

Untuk ini, Pimpinan Redaksi Soara Parsadaan, Bapak DR. Tarmiden Sitorus melakukan wawancara eksklusif dengan Bapak Raja Gorga Panjaitan, sang pemahat/pengukir (Pande) yang menempah parmualmualan. Beliau memaparkan filosopi Hau Sada dan Pinasa serta cerita dibalik proses pembuatannya sbb:

  1. Hau Pinasa (pohon nangka), berkaitan dengan sebutan Bona ni Pinasa. Bagi orang Batak sebutan Bona ni Pinasa mengacu pada arti penting dari kampung halaman, seperti didendangkan dalam lagu berikut.

ARGA DO BONA NI PINASA

Arga do bonani pinasa di angka naserep marroha,

ai ido tona ni ompunta tu hita angka pinomparna.

Argado bonani pinasa di angka naburju marroha,

sai ingot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.

Ai tano hatubuanhi do tu si do ingkon mulak au,

Nang pe arga sinamot muna sai ingot ma mulak tu huta.

Arga do bona ni pinasa di angka na burju marroha,

Sai ingot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.

Dao pe au nuaeng marjalang, sambuloki  sai hot do i,

Sai i ngot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa,

Sai i ngot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.

Terjemahan bebas lagu tersebut diatas kira-kira seperti ini:

Kampung halaman sangat berharga (berkesan mendalam) bagi orang yang bijaksana,

sebagaimana pesan orangtua bahkan nenek moyang kita.

Kampung halaman sangat dikenang (dirindukan) oleh orang yang baik hati,

Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Aku harus pulang melihat Tanah Kelahiranku (asal-usulku),

meskipun aku telah termasyhur, banyak harta benda di negeri orang, tak kulupakan kampung halamanku.

Kampung halaman sangat dikenang (dirindukan) oleh orang yang baik hati,

Ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Meskipun jauh di rantau di negeri orang, hati/jiwaku tetap tertuju pada kampung halamanku.

Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Dahulu kala orang Batak selalu menanam pohon nangka di kebun sekitar perkampungan. Kayu pohon nangka termasuk kategori kayu keras dan kuat, namun lebih mudah dipahat sehingga menjadi pilihan untuk bahan utama pembuatan parmualmualan (abalabal). Memang ada beberapa jenis kayu lain diantaranya Pokki namun sulit untuk dijadikan parmualmualan karena kerasnya, demikian juga Hariara (sejenis beringin) proses pengerjaannya lebih rumit.

  1. Hau sada” bermakna satu batang pohon cukup untuk kebutuhan pembuatan peti jenazah tanpa dipotong-potong maupun dibilah-bilah dan tidak ditambah dari pohon lain. Sang pemahat Raja Gorga Panjaitan menjelaskan bahwa Bapak DR Sutan Raja DL Sitorus telah memesan parmualmualan kepada sahabatnya Tuan Nanser Sirait sejak sekitar 3 tahun lalu. Ada dua pohon kayu telah dipersiapkan di Subang. Sutan Raja DL Sitorus meminta Tuan Nanser Sirait menemui Raja Gorga Panjaitan yang bermukim di Sitorang Kecamatan Silaen-Tobasa untuk mengajaknya melihat kayu yang telah dipersiapkan sebagai bahan pembuatan peti jenazah. Tuan Nanser Sirait bersama Raja Gorga Panjaitan berangkat ke Subang untuk memeriksa kedua pohon kayu tersebut. Kesimpulan mereka ternyata bentuk dan ukuran tidak cocok dan tidak cukup untuk kebutuhan pembuatan parmualmualan baik bagi Sutan Raja DL Sitorus (Op si Diorantaria doli) maupun bagi Ny. DL Sitorus br Siagian (Op si Diorantaria boru). Oleh karena dinilai tidak memenuhi kebutuhan, maka hal itu dilaporkan kepada Sutan Raja DL Sitorus. Sebagai alternatif  solusi Raja Gorga Panjaitan menawarkan kayu di Pintu Bosi, Tarutung Tapanuli Utara. Segera mendapat persetujuan dari Sutan Raja DL Sitorus, selanjutnya Tuan Nasser Sirait bersama Raja Gorga Panjaitan berangkat ke Pintu Bosi memeriksa kayu dimaksud dan mengambil gambarnya. Tuan Nasser Sirait melaporkan hasil pemeriksaan dan menunjukkan foto kayu tersebut kepada Sutan Raja DL Sitorus dan beliau setuju untuk dilanjutkan.

Proses pembuatan parmualmualan dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan dikediaman Raja Gorga Panjaitan di Sitorang, Silaen – Tobasa. Dua batang kayu nangka utuh dijadikan dua parmualmualan dengan ornamen gorga Batak sesuai peruntukan. Setelah selesai dikerjakan, kedua peti parmualmualan hendak diberangkatkan ke Jakarta, namun berhubung parmualmualan dari ibunda Sutan Raja DL Sitorus yakni Ompu Sabar boru masih berada di Jakarta dan saat itu Sang ibunda masih hidup, maka secara adat Batak pantang untuk membawanya ke Jakarta. Raja Gorga Panjaitan menyarankan agar membawanya ke perusahaan Sutan Raja DL Sitorus di daerah Lampung dengan maksud agar lebih dekat ke Jakarta sebelum secara resmi ditunjukkan kepada para Raja (unsur Dalihan Natolu). Mendapat penjelasan itu Sutan Raja DL Sitorus setuju menyimpannya di daerah Natar-Lampung dan merencanakan pelaksanaan acara adat terkait hal itu pada bulan September 2017.

Penutup

Ritual adat Batak pembuatan parmualmualan atau abalabal merupakan kejadian yang langka kita temukan dewasa ini. Bahkan sebagian besar generasi muda orang Batak tidak pernah melihat bahkan mendengar adanya ritual adat parmual-mualan. Banyak orangtua Batak yang memenuhi syarat 3H akan tetapi tidak terlalu terdorong untuk  melakukannya dengan berbagai alasan tentunya. Bapak DR. Sutan Raja DL. Sitorus (Ompu si Dioranta doli) adalah pengecualian. Beliau sangat peduli dalam upaya pelestarian adat Batak dalam setiap sendi kehidupannya, sepanjang tidak bertentangan dengan agama yang dianutnya.

Bagi generasi muda orang Batak khususnya anggota Parsibona apa yang dilakukan oleh natua-tua i DR. Sutan Raja DL. Sitorus merupakan suatu pembelajaran atau ajakan bagi kita semua agar kita jangan lupa akan bona ni pinasa (kampung halaman), dan senantiasa melanjutkan nilai-nilai budaya leluhur. Seperti kata umpasa Batak

Tuat na di dolok martungkothon siala gundi,

Adat dohot uhum pinungka ni ompunta na parjolo Ihuthonta sundut naumpudi.

 

Dirangkum dari berbagai sumber, termasuk wawancara eksklusif Tim Redaksi Soara Parsadaan (Majalah PARSIBONA) dengan bapak Raja Gorga Panjaitan.

 

Tangerang 13 Agustus 2017

Dr. Ir. Tarmiden Sitorus

St. Sampe Sitorus, SE

Apakah anda berencana melakukan perjalanan jauh dengan berkendara mobil ?

Bila ya, ada baiknya perhatikan hal berikut:

1. Kendaraaan. Cek kondisi mobil apakah prima untuk perjalanan jauh ? Ada baiknya diperiksa oleh teknisi handal. Pada hari H-1 sebelum memulai perjalanan, pastikan tekanan angin ban termasuk cadangan sesuai rekomendasi pabrikan (lihat dibody mobil sisi kanan pintu pengemudi).
Periksa perlengkapan standar (kunci roda, dongkrak, segitiga pengaman dan kunci standar).

2. Fisik dan mental pengemudi (minimal 4 hari sebelum keberangkatan mulai tabung stamina, istirahat yang cukup hindari begadang, lakukan aktivitas fisik agar bugar), konsumsi makanan bergizi, bila perlu konsumsi suplemen.

3. Rute. Pastikan anda telah menentukan rute yg akan ditempuh. Buatlah perhitungan jarak dan waktu tempuh sehingga anda bisa rencanakan waktu makan siang, malam dan istirahat dimana. Gunakan bantuan Google Maps untuk memperkirakan hal tersebut tambahkan spare 20 persen untuk antisipasi perubahan. Misal jarak tempuh dari titik A ke titik B menurut Google Maps 5 jam, maka hitunglah sebagai 6 jam, karena yang diperkirakan Google Maps adalah kondisi ideal. Kenyataannya seringkali meleset meskipun jalanan tidak macet, bisa disebabkan ditengah perjalanan mampir ke SPBU sekedar buang air kecil misalnya.

4. List kebutuhan pakaian, barang yg akan dibawa, susun berdasarkan urutan pemakaian (duluan dipakai ditempatkan ditempat yg mudah dijangkau).
Perlengkapan mandi agar dikantung terpisah.

5. Persiapkan makanan ringan dan air mineral utk kebutuhan 1 hari, selanjutnya beli di perjalanan utk hari berikutnya.

cup-seal-ukuran-14-12-10-oz

6. Persiapkan dokumen pendukung perjalanan (SIM, STNK, identitas/KTP semua penumpang, copy Kartu Keluarga) bila perlu kunci cadangan mobil sebaiknya dibawa.
Ada pengalaman kawan perjalanan tertahan hampir 2 hari karena kunci mobil tidak ketemu, terpaksa harus cari bengkel authorize dimana jarak dari penginapan ke bengkel 1/2 hari perjalanan.

6. Lengkapi kotak P3K dan obat darurat (alergi, diare, anti mabuk).

7. Uang Tunai dan Perhiasan. Bawa uang tunai secukupnya. Bila memungkinkan transaksi/pembayaran selama perjalanan agar Non Tunai. Hindari penggunaan perhiasan yang dapat mengundang perhatian orang. Hal ini mengurangi resiko yg tidak diinginkan.

8. Pakaian. Gunakan pakaian senyaman mungkin, jangan ketat, sempit, tipis maupun tebal.

9. Defensive Drive. Berkendaralah secara aman dan nyaman. Tanamkan dalam benak: SAYA PILIH SELAMAT. Jangan memancing atau terpancing untuk kebut-kebutan. Orang yg duduk di kiri pengemudi bertugas sebagai Navigator, hendaklah selalu memberi ketenangan sepanjang perjalanan, jangan justru memprovokasi.
Pengemudi DILARANG menggunakan hp. Urusan komunikasi selama mengemudi diserahkan kepada Navigator.
Sebelum berangkat pastikan nomor hp Navigator diberikan kepada keluarga di kota yang ditinggalkan dan kota yang dituju.
Bila ada hal yg perlu dikomunikasikan tidak perlu mengganggu pengemudi.

10. Istirahat. Setiap 3 jam berkendara, anda harus istirahat untuk peregangan dan keperluan toilet, menghirup udara bebas agar tubuh bugar kembali.

11. DOA. Diatas semua persiapan yang anda lakukan, jauh lebih penting doa mohon penyertaan DIA Yang Maha Kuasa agar anda selamat dan sukacita tiba ditempat tujuan.

Tambahan sebelum berangkat meninggalkan rumah, pastikan ikuti anjuran pada video berikut:

Tips ini dipersembahkan oleh SEDULUR Fresh Juice.

sticker-sedulur2

Disada ulaon Patua Hata/Marhusip nagogo disada luat di Sumatera nidohotan ni dongan dipaihutihut ninna panghataion ni Raja Parhata ni Paranak dohot Raja Parhata ni Parboru.

Ndung simpul sude namarsintuhu dihatai, didok Raja Parhata ni Parboru ninna asa diulaon unjuk i pasahaton ni Paranak Sirambe Manis tu nasida. Pangidoan i digabehon Raja Parhata ni Paranak.
NB: Ulaon Unjuk di Jakarta.

_20171013_195525

Simpul ma ulaon patua hata, di Jakarta do Tonggo Raja (ndang dipamasa Martumpol ala ndang masa dihuria nasida Partumpolon), diari mangihut naeng paradehon angka nahombar ma hasuhuton paranak.
Bingung ma nasida aha do jala tarsongon dia do Si Rambe Manis on ? Ditelepon nasida ma raja parhata i mangido panuturion taringot tusi. Raja Parhata i pe ninna ndang hantus alusna. Sandok parade hamu ma hepeng cadangan arga 10.000, 5.000 dohot 2.000, marnida di pesta i ma i haduan ninna mangalusi suhunan ni suhut i.

PhotoGrid_1500554864542

Ala hurang hantus alus i indok roha nasida, laho ma rohana manunghun tu naasing(second opinion). Tarjaha nasida gurathu di blog(internet) taringot tu angka paradaton, laos ditelp au jala marjanji pajumpa di lapo NATABOI diari manung nibuhul.

Pangantusionhu marhite panuturion dohot philosofi napinaandarni natuatua, ia Si Rambe Manis i tarsongon on ma :
Di Bona Pasogit diulaon unjuk masa do pasahat angka panandaion mansai torop tu angka na patut indok roha ni Parboru (uduranna, dongan sahuta dohot horongni Hulahula dohot Tulang), digorai ma i sada sada jala dipasahat ma panandaion i.
Sipata (santabi ate) asal dipasahat ma songon i (ndang maramplop i jala sipata digopu hepeng i), olo do sipata “hira nadisampathon” nama pasahathon.
Gabe taringot au tingki marhasohotan lae tunggane di Sidikalang, au boru parlopes jala di suru hulahula i ma au pasahathon angka panandaion i tu angka naginoraan ni Parboru. Ala sai hutarui jala hupasahat sada-sada tu hundulan naginoaran jala nadipatudu nasida i, sipata ingkon boluson halak nahundul (maklum ma hita hundul diamak do), didok Raja Parsinabung ni Parboru: molo songonido bere andigan be sidung ulaon on, ndang sala bere sian nadao ma pasahat hamu, sahat do i ninna. Tarhatotong au ai ndang huantusi lapatanni nanidokna i, ro ma nanaeng hasahatanna i mandok, sampathon hamu ma hutanghup pe ninna, gabe hohom au ai indok rohanghu ndang pantun jala raja sisongon i.

Dipiga luat ndang songoni be dipamasa nasida. Molo tu Hulahula dohot Tulang dipasahat ma i tu hasahatanna alai molo tu Parboru dohot Dongan Sahuta didokma pasahat hamu ma Si Rambe Manis i.
Boasa didok Sirambe Manis ? Ia rambe gelleng do parbuena alai godang sangharaung, natape nian ndang manis alai asom asom manis (hira permen nano nano).
Si Rambe Manis marlapatan ma i sahali pasahathon ma Paranak, dipapungu ma sude isarana 100 amplop alai naeng ma nian “manis” isi ni amplop i.
Ninna natuatua panuturi i, somal namasa di Sumatera Sirambe Manis on 2:1, molo di pangido Parboru 100 amplop pasahatonni Paranak, annon alusan ni Parboru do marhite na pasahathon 50 amplop tu Paranak.
Tarsongon dia hatorangan tusi ?
Napinasahat ni Paranak i, bagion ni Parboru ma i tu uduranna dohot dongan sahutana.
Baliksa napinasahat ni Parboru i, bagionni Paranak ma i tu uduranna dohot dongan sahuta.

Revisi Harga Cup Seal ukuran-14-12-10-oz

Boha do praktek ni on di Jabodetabek ?
Di Jabodetabek hira na somasa do pandohan Si Rambe Manis on, alai na tudos tusi ima natagoari Pinggan Panganan sian Paranak tu Parboru, Ulos ulos sian Parboru tu Paranak. Somal tadok masinanghohi balatukna be alai masitariparan. Marlapatan ma i Parboru ma umbotosa torop ni uduranna dohot dongan sahutana, baliksa Paranak ma umbotosa nasida. Molo di Jabodetabek sahat do i tu hasahatanna, hape ninna di Bonapasogit dohot di laut parserahan Sumatera, olo do ninna ndang sahat i tuhasahatanna ala sipata ninna laos disanghui Raja Parhata i do i ninna 🙂 (nda binoto toho manang daong i, atik gait ni namandok i do ra ).

Taringot tu horongni Hulahula dohot Tulang, Pinggan Panganan dipasahat tingki pasahat Upa Tulang suang songoni tingki pasahat Tintin Maranghup.

Pangarimpuni: Pandohan Si Rambe Manis ndang somal di Jabodetabek alai tudos tusi ima Pinggan Panganan tu Parboru, Ulos ulos tu Paranak.

Dihamu natuatuanami tuturi hamu hami, atik tung adong pangantusion na marimbar asa lam dasip pangantusionhu.
Diharadeonmuna manuturi, parjolo pinasahat mauliate godang.

Tabe
Sampe Sitorus (A.Agam).

Disada panghataion didok dongan:
Madabu jarum tu napotpot, ndang diida mata diida roha.

Tongon adong sahalak natuatua ditongatonga ni parpunguan i, laos dipaingot marhite suhununan manangkasi nanidok ni dongan i. Ndung diulakhon mandok, dipatorang natuatua i ma, ninna natingkos:
MADABU RABI TU NAPOTPOT, NDANG DIIDA MATA DIBOTO ROHA.

madabu=jatuh, rabi=sejenis clurit, napotpot=belukar, ndang=tidak, diida=dilihat, diboto=diketahui, roha=hati

Sesuatu hal yang terselubung yang dapat diduga, melihat dari gelagat atau dampaknya. Meskipun tidak nyata terlihat tapi marilah kita pertimbangkan dari gelagat/indikasinya.
Contoh meskipun tidak secara eksplisit meminta bantuan materi, marilah kita pertimbangkan kondisi sosial ekonomi ybs apakah layak untuk dibantu dari sisi materi.

Ambal ni hata pinaandar jolo link video on ate.

Tabe mardongan olopolop.

St.Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam Sitorus)

 

Dipudian ni ari on jotjot pinarrohahon diangka ulaon Patua Hata/Marhusip Nagogo ditariashon angka Raja Parhata ia panjuhuti di ulaon Pesta Unjuk (Marunjuk) didok Lombu Sitio Natinutungan.

Panuturion nahea nijalo sian angka natuatua marimbar do goar ni pinahan diangka rumang ni ulaon.
Molo di ulaon unjuk sisemet imbulu ma didok laho mandok Lombu (Lembu).

goarni-pinahan

Aha do lapatanni Natinutungan ?

Ia pandohan Natinutungan somalna masa di ulaon Sari Matua manang Saur Matua.
Najolo boan manang ola ni namonding, himpal do sada pinahan i jala tata do i ndang dirobus, pulik hosa do lompan ni natorop.
Tingki pasahathon jambar tata didabu (dipansampathon) do i sian pansapansa jala disi dope bangke ni monding i (ndang tu udean dope).
Dipudian niari masa ma nanidokna pasahat jambar mangihut ima pasahat jambar tata tu hasahatanna jolo dihalianghon bangke i laos dipasahat ma tu hasahatanna dung sidung mangulahon ruhut adat nasida. Isarana diulaon maralaman dung sidung manjanghon haroro ni Hulahula, dung mandok hata nasida laos pasahat angka sipasahatonna diuduti hasuhuton ma pasahat jambar tu nasida.

Dirajumi tung singgip do “unsur sinkretisme” disi ala najolo doshon naung dipelehon do juhut i tu sumangot ni angka daompung na ro laho mangalap namonding i (ai ninna ro do angka begu nasida laho mangalap namonding i).

Umbahen i do asa diorai HKBP ruasna padalan jambar natata di jolo ni bangke ni namonding asa unang madabu tu pangunjunan angka namangulahon adat i.
Molo tung pe padalan jambar natata ba ndung mulak ma sian udean.

Hinorhon ni i masa ma boan manang ola ni namonding dirobus laos didok ma i natinutungan.
Molo didok boan/olana Lombu Sitio Natinutungan marlapatan ma i Lombu Sitio himpal gabe jambar jala ndang tata be ai nunga ditutungi (dirobus).

Boha ia di pesta unjuk ?
Ninna sian najolo ndang masa jambar natata, sai naung dilompa do, alani i ndang masa didok natinutungan ai so masa jambar natata.😀

Hombar tu panuturion i, ginurathon ma di blog on pangantusion taringot tu Parjuhut dohot Ruhutna.
Denggan ma tapaandar angka pangantusionta asa rap mamora hita jala lam tu dasipna pangantusionta diadat Batak namansai uli i.

Tabe mardongan olopolop.
St.Sampe Sitorus(A.Managam)

https://sitorusdori.wordpress.com/2009/05/28/parjuhut-dohot-ruhutna/

%d bloggers like this: