Feeds:
Posts
Comments

Archive for May 15th, 2010

Dari dulu sudah banyak pemuda/i Batak yg telah memasuki usia 30 tahun namun belum juga menunjukkan tanda-tanda akan menikah.

Saat ini kondisi tersebut semakin “mendalam” karena telah menjadi trend dan sangat umum kita jumpai khususnya pemudi (boru) Batak yang belum menikah padahal usianya sudah mencapai 35 tahun. Di dok halak natua-tua nunga tobang.

Kira-kira faktor apa yang menyebabkan hal tersebut ?.

Tadi sore (Sabtu 15/5/2010) setelah selesai ulaon Patua Hata & Marhusip Nagogo rencana pernikahan pariban kami Mega br Sirait dengan calon mempelai pria Darwin Hutajulu, kami sempat berbincang-bincang dengan Tulang & Nantulang Sirait par Lumban Dolok.  Dari perbincangan tersebut beberapa hal yg menjadi penyebab kami simpulkan sbb:

  • Kesibukan

Saat ini di perantauan (JABODETABEK) angka naposo sibuk dengan pekerjaaan, berangkat pagi hari pulang larut malam.

  • Pendidikan & Karier

Secara umum angka naposo sekarang terkonsentrasi mengejar karier dan pendidikan. Baik pria maupun wanita

  • Kurang intensitas & wadah pertemuan

Disadari saat ini kurang intensitas pertemuan anatara naposo disebabkan beberapa hal misal naposo sekarang cenderung kurang aktif di kegaiatan gereja. Semangat kedaerahan (sahuta – sakecamatan) telah drastis menurun. Contoh: era 1980-an masih ada punguan naposo bulung LUNASI (Lumban Lobu, Nagatimbul, Silamosik), Naposo Parporsea, dsb. Padahal diakui wadah tersebut menjadi sarana saling bertemu dan kesempatan untuk saling mengenal (pantun Darimana datangnya lintah, Dari sawah turun ke kali, Darimana datangya cinta dari mata turun ke hati).

  • Terlalu banyak memilah & memilih

Ternyata budaya Jawa: bibit, bobot, bebet sudah mengkultur dalam diri naposo saat ini entah karena pergaulan atau jangan-jangan karena sudah ikut makan tempe :). Khusus untuk pemudi (boru Batak) yang menjadi penganut poin ini ada pesan natua-tua(angka namborum) sbb:

Tole ma anggia unang mamillithu, sotung gabe parsoban botari ho. (Jangan terlalu memilih, nanti seperti pencari kayu bakar yang kesorean). Konon pencari kayu yang berangkat pagi masih bisa milih kayu yang akan di tebang, misal yang lurus dan besar. Namun jika yang sudah kesorean maka apapun yang ditemui diambilnya daripada pulang tanpa membawa kayu bakar malah akan jadi omongan.

Saya jadi ingat akan pameo tentang anak gadis yang suka pilih-pilih sbb:

Usia remaja   16 – 19  -> siapa sih/ siap elo.

Usia Pemudi 20 – 22  -> siapa dia

Usia Pemudi 23 – 25 -> siapa ya

Usia Pemudi 26 – 28 -> siapa dong

Usia Tobang 29 – keatas  -> siapa aja deh (ini yg disebut Parsoban Botari)

Semoga pembaca tidak bagian dari yang terlalu mlah milih ate ?

Yakinlah bahwa: TUHAN akan membuat semuanya indah pada waktuNya. Ingat waktu TUHAN bukan waktu kita, artinya kita harus tetap berusaha, biarlah akhirnya TUHAN yang menentukan, Amin !

Tabe mardongan tangiang,

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

%d bloggers like this: