Feeds:
Posts
Comments

Archive for May 25th, 2010

Manuk ni pea langge hotek-hotek laho marpira.
Sirang na marale-ale lobian sian na matean ini
Ayam Pea langge berkotek-kotek ketika hendak bertelur
Berpisah (putus hubungan) yang ber kawan karib lebih sedih dari yang kehilangan (ditinggal mati) ibu kandung.

Ungkapan diatas menggambarkan betapa dalamnya rasa kehilangan yang dialami seseorang ketika harus berpisah dengan sahabat karibnya.

Dalam pemahaman orang Batak, maka yang dikategorikan ale-ale(kawan karib) tersebut diantaranya teman sepermainan, teman saparmituan, sobat karib, teman “hang out” termasuk dongan sahuta (jika di perantauan ini), rekan seprofesi, bahkan teman se-Gereja, dsb.

Dalam konteks paradaton (adat Batak) ale-ale (sihal-sihal) memegang posisi strategis sebagai penyokong Dalihan Na Tolu. Dalam setiap ulaon adat selain unsur Dalihan Na Tolu maka Sihal-sihal memegang peranan penting. Oleh karenanya kita mendengar ungkapan Dalihan Na Tolu paopat Sihal-sihal. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi mengapa dongan sahuta harus hadir (ada) dalam setiap kegiatan adat.

Jika di gambarkan Dalihan Na Tolu merupakan 3 buah batu besar yang berfungsi menjadi tungku untuk menyokong wadah memasak, maka Sihal-sihal merupakan beberapa batu kecil untuk menyokong 3 buah batu tungku tersebut agar tetap tegak berdiri (penopang).

Demikian pemahaman mengenai ale-ale dalam konteks habatakon. Bila ada pemahaman yang lebih baik untuk mendukung silahkan di tambahkan. Komentar dan masukan dari pembaca kami tunggu.

St. Sampe Sitorus

Read Full Post »

%d bloggers like this: