Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2010

Seorang teman yang mungkin juga penggemar lagu-lagu ciptaan amang Dakka Hutagalung, bertanya kepada saya (penulis) bagaimana tanggapan saya sebagai seorang Batak Kristen (Sintua pula) mengenai reff lagu:

Didia Rongkap hi (didia rokkap hi)
Cipt : Dakka Hutagalung

*
Aha na marsigorgor di roham
Ale inang pangintubu
Umbahen sai marsak ho
Umbahen sai tangis ho
Ganup ari ho di nabuni
Paboa ma jolo tu ahu anakhonmon (more…)

Read Full Post »

Terima kasih kepada amang Dakka Hutagalung yang telah menciptakan lagu

ANAKHON HU

Cipt. Dakka Hutagalung

Anakkon hu hasian                    (anakku sayang)
burju burju ma ho sikkola     (yang rajinlah sekolah)
sotung marisuang gogokki    (jangan siasiakan jerih payahku)

Bereng dainang mi, hasian      (sayang..lihatlah ibumu)
naung bukkuk nang so matua  (sudah membungkuk padahal belum tua)
holan pasari sari ho amang    (banting tulang tuk memenuhi kebutuhanmu)

Reff. (more…)

Read Full Post »

copy posting from http://www.facebook.com/?ref=home#!/topic.php?uid=114557341917321&topic=96

LATAR BELAKANG

Disadari dan sangat dirasakan bahwa dimulai akhir 80-an dan berkembang pesat pada dasawarsa 90an, kemudian mulai melegenda sampai saat ini, telah muncul istilah yang sangat populer dikalangan orang muda suku batak (halak kita) dan terutama bagi mereka yang berada di daerah perantauan (luat parjalangan) yang biasanya adalah wilayah perkotaan.

Dikatakan bagi orang muda karena secara umum dan awalnya hal ini tidak pernah disebutkan dan berlaku bagi orang-orang tua (natua-tua), yang karena pengetahuan dan asal langsung dari kampung halaman (bona pasogit) sehingga tidak merasakan perlu memakai istilah tersebut, dimana seperti kita ketahui bersama bahwa mereka memiliki pengetahuan kekerabatan yang jauh lebih kental dan melekat dibandingkan orang-orang muda apalagi yang telah lahir dan atau tumbuh besar diperkotaan. (more…)

Read Full Post »

Dalam beberapa kesempatan saya datang “manungkir” (melayat) orang tua yang meninggal, maka seperti yang berlaku umum dilakukan ulaon Tonggo Raja. Setelah Tonggo Raja selesai maka almarhum/almarhumah “mompo tu jabu-jabuna” (dimasukkan ke peti jenazah) oleh dongan tubunya dengan disaksikan oleh Tulang dan horongnya Hula-hula. Setelah itu maka akan dilanjutkan dengan mardaun pogu (makan).

Sepanjang pengamatan saya hampir di semua Tonggo Raja parmonding ni Natua-tua makanan melimpah dan terkesan berlebih. Apa gerangan yang menyebabkan ?. Berikut beberapa hal yang mungkin penyebabnya: (more…)

Read Full Post »

Apa sih Ungkap Tujung dan Mengapa harus dilakukan serta kapan seharusnya dilakukan ?.

Pertanyaan ini dikemukakan seorang pelayat yang hadir pada hari Sabtu 10 Juli 2010 lalu di Perumahan Duta Bintaro Cluster Kintamani yakni di ulaon partuatni/parmonding ni lae P.Sitanggang (Ama Charles).

Pertaanyaan itu mungkin sebenarnya sebagai ungkapan “protes” dari dalam hati si penanya karena Ulaon Ungkap Tujung langsung dilakukan oleh Hula-hulanya Sitanggang yakni Raja Manurung terhadap Inangbao namabalu (janda mendiang) setelah Ibadah Tutup Peti di tutup Tangiang Pasupasu oleh Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap (dari HKBP Serpong). Begitu peti ditutup, Hula-hula Raja Manurung langsung MANGUNGKAP TUJUNG ni boruna.

Konon katanya hal itu dilakukan karena sudah kesepakatan sewaktu marhata raja Jumat malam. Dugaan saya itu dilakukan pasti dengan alasan  efisiensi waktu (arga ni tingki) agar setelah pemakaman di TPU Petamburan JAKBAR, hula-hula tidak pulang lagi kerumah almarhum di Tangerang.

Beberapa orang ada yang membenarkan apa yang dilakukan Raja Manurung dengan alasan sudah umum (songoni na ma namasa nuaeng on). Saya pribadi tidak sependapat dan menurut saya hal tersebut sudah menyimpang dari filosopi yang mendasari Ulaon Ungkap Tujung.

Menjawab pertanyaan diatas berikut argumen dan penjelasan saya sepanjang yang saya ketahui dan atas dasar filosopi sbb: (more…)

Read Full Post »

Seseorang mampir ke partungkoan Raja Mandidang ini dan mencari tahu perihal judul diatas (kenapa ketika ditanya Hula-hula tentang partording ni tudu-tudu ni sipanganon naung pinasahat ni parboruonna umumnya di jawab surung-surung mu do i rajanami).

Penasaran tidak menemukan tulisan yang membahas hal tersebut, yg bersangkutan kirim email minta di jelaskan. Jujur… ini pertanyaan yg sulit untuk dijawab. Oleh karenanya saya memutuskan untuk memposting tulisan ini sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, semoga memenuhi harapannya.

Namun ada baiknya terlebih dahulu dibaca tulisan kami tentang jambar dan tudu-tudu sipanganon, berikut link nya:

https://sitorusdori.wordpress.com/2009/05/13/pangantusion-tu-jambar/

https://sitorusdori.wordpress.com/2009/05/24/tudu-tudu-sipanganon/

Setelah membacanya, dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya tudu-tudu sipanganon bukanlah serta merta menjadi surung-surung ni hula-hula, karena pada dasarnya tidak semua bagian dari tudu-tudu ni sipanganon itu menjadi hak/milik kepunyaaan hula-hula. Ada pihak lain yang berhak mendapatkan bagian yakni Tulang, Tulang Rorobot, Pariban, Boru, Dongan Sahuta/Ale-ale dan khusus ulaoan diluar pesta unjuk maka umumnya ihur-ihur menjadi hak milik hasuhuton paranak (yang punya hajat) bersama dengan dongan tubunya.

Lha kalau demikian adanya kenapa sering kita dengar Pande Hata hasuhuton paranak misalnya ulaon Pabosurhon dan Tardidi mengatakan Surung-surung ni hamu do i Rajanami ? (more…)

Read Full Post »

%d bloggers like this: