Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2010

Ruma Gorga Batak

Postingan ini saya dedikasikan kepada putraku Hitado Managam Sitorus  (Agam) yang penasaran dengan Ruma Gorga warisan ompung (kakek)nya di Lumban Tongatonga Desa Silamosik I Porsea. Agam punya impian membangun rumah tinggal seperti Ruma Gorga tersebut. Pertanyaannya adalah pada saatnya nanti apakah masih ada Pande Jabu dan Panggorga (ahli bangunan dan ahli ukir Ruma Gorga) ?.

Saya jelaskan padanya  aslinya atapnya dari ijuk namun sekitar 20 tahun lalu atapnya rusak dan  almarhum  orangtua kami  (ompungnya Agam) kesulitan untuk mendapatkan ijuk dalam jumlah yang banyak sehingga diganti dengan atap seng, lainnya semuanya masih original.

Ruma Gorga dimaksud adalah gambar dibawah ini:

Ruma Gorga Op Tamado Sitorus @ Lumban Tongatonga – Silamosik

Salah satu permintaan almarhum orangtua kami (Op Tamado Sitorus) adalah: ‘saboi-boi na unang parumpak hamu jabunta i da” (sebisa mungkin jangan sampai “hancur”/punah Ruma Gorga tersebut).

Jika TUHAN berkenan, kami akan berupaya untuk melestarikannya. Atas dasar tersebut pertengahan tahun 2008 lalu kami melakukan perbaikan/ penggantian pada beberapa bagian yang telah “burburon” (keropos), dan ternyata untuk mencari kayunya saja butuh indent 3 bulan, itupun bukan kayu asli nomor satu. Upaya untuk melestarikan Ruma Gorga memang bukan perkara mudah. Butuh biaya besar dan sulit untuk mendapatkan bahan bangunan terutama kayu sebagaimana aslinya.  Saya juga terkadang berpikir apakah kami akan sanggup mempertahankan Ruma Gorga warisan tersebut?. Hal inilah barangkali dilema yang dihadapi para pemilik Ruma Gorga yang telah “diparumpak”.

Awal Januari 2010 lalu saya berkesempatan ngobrol santai dengan lae Sebastian Hutabarat (TobaArt-Balige) dan saya ceritakan tentang Ruma Gorga kami. Dia antusias dan ingin melihatnya. Siapa tahu dengan talenta fotografinya lae Sebastian mengabadikan Ruma Gorga tersebut sehingga setidaknya banyak orang yang melihat fotonya.

Kita patut bersyukur kepada Tulang T.B. Silalahi yang “merekonstruksi”  (membangun kembali) beberapa Ruma Gorga dan Sopo di parhutaan T.B. Silalahi Centre. Demikian juga kepada para keluarga ahli waris yang telah menyumbangkan warisan mereka. Setidaknya anak dan cucu kita masih dapat menemukan Ruma Gorga dan Sopo yang dalam bentuk asli di parhutaan T.B Silalahi Centre.

Gambar dibawah ini adalah Parhutaan T.B Silalahi Centre di Balige:

Ruma Gorga @ T.B Silalahi Centre, Pagaran Batu – Balige

Postingan dibawah ini copy paste dari :

http://sites.google.com/a/dosroha.com/www/Home/ko/rdodikson-sihombing/rumagorgabatakn

Di tulis oleh : Ama Morlan Simanjuntak (Panggorga)

Gorga Batak adalah ukiran atau pahatan tradisional yang biasanya terdapat di dinding rumah bahagian luar dan bagian depan dari rumah-rumah adat Batak. Gorga ada dekorasi atau hiasan yang dibuat dengan cara memahat kayu (papan) dan kemudian mencatnya dengan tiga (3) macam warna yaitu : merah-hitam-putih. Warna yang tiga macam ini disebut tiga bolit.

Bahan-bahan untuk Gorga ini biasanya kayu lunak yaitu yang mudah dikorek/dipahat. Biasanya nenek-nenek orang Batak memilih kayu ungil atau ada juga orang menyebutnya kayu ingul. Kayu Ungil ini mempunyai sifat tertentu yaitu antara lain tahan terhadap sinar matahari langsung, begitu juga terhadap terpaan air hujan, yang berarti tidak cepat rusak/lapuk akibat kena sengatan terik matahari dan terpaan air hujan. Kayu Ungil ini juga biasa dipakai untuk pembuatan bahan-bahan kapal/ perahu di Danau Toba.

Bahan-bahan Cat (Pewarna)

Pada zaman dahulu Nenek orang Batak Toba menciptakan catnya sendiri secara alamiah misalnya :
Cat Warna Merah diambil dari batu hula, sejenis batu alam yang berwarna merah yang tidak dapat ditemukan disemua daerah. Cara untuk mencarinya pun mempunyai keahlian khusus. Batu inilah ditumbuk menjadi halus seperti tepung dan dicampur dengan sedikit air, lalu dioleskan ke ukiran itu.
Cat Warna Putih diambil dari tanah yang berwarna Putih, tanah yang halus dan lunak dalam bahasa Batak disebut Tano Buro. Tano Buro ini digiling sampai halus serta dicampur dengan sedikit air, sehingga tampak seperti cat tembok pada masa kini.
Cat Warna Hitam diperbuat dari sejenis tumbuh-tumbuhan yang ditumbuk sampai halus serta dicampur dengan abu periuk atau kuali. Abu itu dikikis dari periuk atau belanga dan dimasukkan ke daun-daunan yang ditumbuk tadi, kemudian digongseng terus menerus sampai menghasilkan seperti cat tembok hitam pada zaman sekarang.

Jenis/ Macamnya Gorga Batak

Menurut cara pengerjaannya ada 2 jenis :

1. Gorga Uhir yaitu Gorga yang dipahatkan dengan memakai alat pahat dan setelah siap dipahat baru diwarnai
2. Gorga Dais yaitu Gorga yang dilukiskan dengan cat warna tiga bolit. Gorga dais ini merupakan pelengkap pada rumah adat Batak Toba. Yang terdapat pada bahagian samping rumah, dan dibahagian dalam.

Menurut bentuknya
Dilihat dari ornament dan gambar-gambarnya dapat pula Gorga itu mempunyai nama-namanya tersendiri, antara lain ;

• Gorga Ipon-Ipon, Terdapat dibahagian tepi dari Gorga; ipon-ipon dalam Bahasa Indonesia adalah Gigi. Manusia tanpa gigi sangat kurang menarik, begitulah ukiran Batak, tanpa adanya ipon-ipon sangat kurang keindahan dan keharmonisannya. Ipon-ipon ada beraneka ragam, tergantung dari kemampuan para pengukir untuk menciptakannya. Biasanya Gorga ipon-ipon ini lebarnya antara dua sampai tiga sentimeter dipinggir papan dengan kata lain sebagai hiasan tepi yang cukup menarik.

• Gorga Sitompi, Sitompi berasal dari kata tompi, salah satu perkakas Petani yang disangkutkan dileher kerbau pada waktu membajak sawah. Gorga Sitompi termasuk jenis yang indah di dalam kumpulan Gorga Batak. Disamping keindahannya, kemungkinan sipemilik rumah sengaja memesankannya kepada tukang Uhir (Pande) mengingat akan jasa alat tersebut (Tompi) itu kepada kerbau dan kepada manusia.

• Gorga Simataniari (Matahari), Gorga yang menggambarkan matahari, terdapat disudut kiri dan kanan rumah. Gorga ini diperbuat tukang ukir (Pande) mengingat jasa matahari yang menerangi dunia ini, karena matahari juga termasuk sumber segala kehidupan, tanpa matahari takkan ada yang dapat hidup.

• Gorga Desa Naualu (Delapan Penjuru Mata Angin), Gorga ini menggambarkan gambar mata angin yang ditambah hiasan-hiasannya. Orang Batak dahulu sudah mengetahui/kenal dengan mata angin. Mata angin ini pun sudah mempunyai kaitan-kaitan erat dengan aktivitas-aktivitas ritual ataupun digunakan di dalam pembuatan horoscope seseorang/sekeluarga. Sebagai pencerminan perasaan akan pentingnya mata angina pada suku Batak maka diperbuatlah dan diwujudkan dalam bentuk Gorga.

• Gorga Si Marogung-ogung (Gong), Pada zaman dahulu Ogung (gong) merupakan sesuatu benda yang sangat berharga. Ogung tidak ada dibuat di dalam negeri, kabarnya Ogung didatangkan dari India. Sedangkan pemakaiannya sangat diperlukan pada pesta-pesta adat dan bahkan kepada pemakaian pada upacara-upacara ritual, seperti untuk mengadakan Gondang Malim (Upacara kesucian). Dengan memiliki seperangkat Ogung pertanda bahwa keluarga tersebut merupakan keluarga terpandang. Sebagai kenangan akan kebesaran dan nilai Ogung itu sebagai gambaran/ keadaan pemilik rumah maka dibuatlah Gorga Marogung-ogung.

• Gorga Singa Singa, Dengan mendengar ataupun membaca perkataan Singa maka akan terlintas dalam hati dan pikiran kita akan perkataan: Raja Hutan, kuat, jago, kokoh, mampu, berwibawa. Tidak semua orang dapat mendirikan rumah Gorga disebabkan oleh berbagai faktor termasuk factor social ekonomi dan lain-lain. Orang yang mampu mendirikan rumah Gorga Batak jelaslah orang yang mampu dan berwibawa di kampungnya. Itulah sebabnya Gorga Singa dicantumkan di dalam kumpulan Gorga Batak

• Gorga Jorgom, Ada juga orang menyebutnya Gorga Jorgom atau ada pula menyebutnya Gorga Ulu Singa. Biasa ditempatkan di atas pintu masuk ke rumah, bentuknya mirip binatang dan manusia.

• Gorga Boras Pati dan Adop Adop (Tetek), Boras Pati sejenis mahluk yang menyerupai kadal atau cicak. Boras Pati jarang kelihatan atau menampakkan diri, biasanya kalau Boras Pati sering nampak, itu menandakan tanam-tanaman menjadi subur dan panen berhasil baik yang menuju kekayaan (hamoraon). Gorga Boras Pati dikombinasikan dengan tetek (susu, tarus). Bagi orang Batak pandangan terhadap susu (tetek) mempunyai arti khusus dimana tetek yang besar dan deras airnya pertanda anaknya sehat dan banyak atau punya keturunan banyak (gabe). Jadi kombinasi Boras Pati susu (tetek) adalah perlambang Hagabeon, Hamoraon sebagai idaman orang Batak.

• Gorga Ulu Paung, Ulu Paung terdapat di puncak rumah Gorga Batak. Tanpa Ulu Paung rumah Gorga Batak menjadi kurang gagah. Pada zaman dahulu Ulu Paung dibekali (isi) dengan kekuatan metafisik bersifat gaib. Disamping sebagai memperindah rumah, Ulu Paung juga berfungsi untuk melawan begu ladang (setan) yang datang dari luar kampung. Zaman dahulu orang Batak sering mendapat serangan kekuatan hitam dari luar rumah untuk membuat perselisihan di dalam rumah (keluarga) sehingga tidak akur antara suami dan isteri. Atau membuat penghuni rumah susah tidur atau rasa takut juga sakit fisik dan berbagai macam ketidak harmonisan.

Masih banyak lagi gambar-gambar yang terdapat pada dinding atau bahagian muka dari rumah Batak yang sangat erat hubungannya dengan sejarah kepribadian si pemilik rumah. Ada juga gambar lembu jantan, pohon cemara, orang sedang menunggang kuda, orang sedang mengikat kerbau. Gambar Manuk-Manuk (burung) dan hiasan burung Patia Raja perlambang ilmu pengetahuan dan lain-lain.

Apakah Jaha Jaha Gorga Itu ?

Orang sering bertanya dan mempersoalkan tentang manjaha (membaca) Gorga Batak yang sering membingungkan banyak orang. Membaca Gorga Batak tidak seperti membaca huruf-huruf Latin atau huruf Arab atau huruf Batak, huruf Kawi dan yang lainnya. Membaca Gorga Batak yakni mengartikan gambar-gambar dan warna yang terdapat di Rumah Gorga itu serta menghubungkannya kepada Sejarah dari pada si pemilik rumah tersebut.

Sebagai contoh : Disebuah rumah Gorga Batak terdapat gambar Ogung (gong), sedangkan pemilik rumah atau nenek serta Bapaknya belum pernah mengadakan pesta dengan memukul Ogung/Gendang, maka Gorga rumahnya tidak sesuai dengan keadaan pribadi pemilik rumah, maka orang yang membaca Gorga rumah itu mengatakan Gorga rumah tersebut tidak cocok.

Contoh lain : Si A orang yang baru berkembang ekonominya disuatu kampung, dan membangun satu rumah Gorga Batak. Si A adalah anak tunggal dan Bapaknya juga anak tunggal. Akan tetapi cat rumah Gorga itu banyak yang berwarna merah dan keras, dan lagi pula singa-singanya (Mata Ulu Paungnya) membelalak dan menantang, maka Gorga rumahnya itu tidak cocok karena si A tersebut orang yang ekonominya baru tumbuh (namamora mamungka). Maka orang yang membaca Gorga rumahnya menyebutkan untuk si A. Sebaiknya si A lebih banyak memakai warna si Lintom (Hitam) dan Ulu Paungnya agak senyum, Ulu Paung terdapat dipuncak rumah.

RUMA (RUMAH)

Jadi sudah kita ketahui bahwa gorga (ukiran) Batak itu membuat Rumah Batak itu sangat indah anggun dan sangat senang perasaan melihatnya, baik orang Barat/Eropah sangat senang perasaannya melihat bentuk rumah Batak itu serta hiasan hiasannya.
Bagaimanakah bahagian dalamnya? Apakah seindah dan seanggun yang kita lihat dari luarnya? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita lihat dahulu dari berbagai sudut pandang. Rumah Batak itu tidak memiliki kamar (pada zaman dahulu), jadi jelas perasaan kurang enak kalau di bandingkan pada zaman sekarang.

JABU NAMAR AMPANG NA MARJUAL

Para nenek moyang orang Batak (Bangso Batak) menyebut Rumah Batak iatu “jabu na marampang na marjual” Ampang dan Jual adalah tempat mengukur padi atau biji bijian seperti beras/kacang dll. Jadi Ampang dan Jual adalah alat pengukur, makanya Rumah Gorga, Rumah Adat itu ada ukurannya, memiliki hukum hukum, aturan aturan, kriteria kriteria serta batas batas.

Biarpun Rumah Batak itu tidak memiliki kamar/dinding pembatas tetapi ada wilayah (derah) yang di atur oleh hukum hukum. Ruangan Ruma Batak itu biasanya di bagi atas 4 wilayah (bahagian) yaitu:

1. Jabu Bona ialah daerah sudut kanan di sebelah belakang dari pintu masuk rumah, daerah ini biasa di temapti oleh keluarga tuan rumah.
2. Jabu Soding ialah daerah sudut kiri di belakang pintu rumah. Bahagian ini di tempati oleh anak anak yang belum akil balik (gadis)
3. Jabu Suhat, ialah daerah sudut kiri dibahagian depan dekat pintu masuk. Daerah ini di tempati oleh anak tertua yang sudah berkeluarga, karena zaman dahulu belum ada rumah yang di ongkos (kontrak) makanya anak tertua yang belum memiliki rumah menempati jabu SUHAT.
4. Jabu Tampar Piring, ialah daerah sudut kanan di bahagian depan dekat dengan pintu masuk. Daerah ini biasa disiapkan untuk para tamu, juga daerah ini sering di sebut jabu tampar piring atau jabu soding jolo-jolo.

Disamping tempat keempat sudut utaman tadi masih ada daerah antara Jabu Bona dan Jabu Tampar Piring, inilah yang dinamai Jabu Tongatonga Ni Jabu Bona. Dan wilayah antara Jabu Soding dan Jabu Suhat disebut Jabu Tongatonga Ni Jabu Soding.

Itulah sebabnya ruangan Ruma Batak itu boleh dibagi 4 (empat) atau 6 (enam), makanya ketika orang batak mengadakan pertemuan (rapat) atau RIA di dalam rumah sering mengatakan sampai pada saat ini; Marpungu hita di jabunta na mar Ampang na Marjual on, jabu na marsangap na martua on. Dan seterusnya……

BAGAS RIPE RIPE

Dihatiha nasalpui (zaman dahulu) terkadang suku bangsa Batak i mendirikan rumah secara kongsi atau rumah bersama antara abang dan adik dan rumah itu di sebut BAGAS RIPE RIPE.

Sebelum mendirikannya mereka terlebih dahulu bermusyawarah dan menentukan dan memutuskan; siapa yang menempati jabu BONA, siapa yang menempati jabu Soding jabu SUHAT dan jabu Tamparpiring. Tentunya rumah seperti ini sudah agak lebih besar, dan sifat seperti ini adalah sisa sisa sifat masyarakat kommunal. Namun biarpun adanya nampak sifat sifat kommunal pada keluarga seperti ini, mereka seisi rumah saling menghormati terutama terhadap wanita.

Tidak pernah ada perkosaan ataupun perselingkuhan seperti marak maraknya di zaman yang serba materialis ini. Para nenek Suku Batak pada hatiha (ketika) itu menghormati istri kawannya yang kebetulan suaminya berada di luar rumah.

Disinilah keindahan bahagian dalam rumah Batak itu terutama di bidang moral. Mereka menghormati hak hak orang lain dan menghormati ukuran ukuran (Ampang/Jual) hukum hukum wilayah didalam rumah yang tidak memiliki bilik (kamar) mereka sangat mengakui bahwa rumah itu memang jabu namar Ampang Marjual.

Rumah (Ruma) yang didalam bahasa asing disebut HOUSE mempunyai banyak cara untuk menyebutnya sesuai dengan fungsinya. Bilamana Ruma itu tempat penyimpanan padi maka para nenek nenek Suku Batak menyebutnya Sopo PARPEOPAN EME. Bilamana Ruma (Sopo) itu berfungsi sebagai tempat pemujaan DEWATA MULA JADI NA BOLON I (TUHAN ALLAH), maka tempat itu dinamakan Joro. Dan sampai sekarangpun masih banyak orang Batak menyebut Gereja itu dengan sebutan Bagas Joro ni DEBATA. Bagas Joro yang lama bentuknya persis seperti Ruma Batak dan sisa-sisanya masih ada pernah penulis lihat di daerah Humbang dan mereka beribadah pada hari Sabtu.

Ada juga Ruma itu khusus tempat musyawarah para keluarga dan para kerabat kerabat tempat membicarakan hal hal yang penting. Tempat tersebut di namakan Tari SOPO dan biasanya tari sopo tidak mempunyai dinding contohnya dapat kita lihat di Lumban Bulbul Kecamatan Balige yang pemiliknya bernama S.B Marpaung (Op. Miduk), atau di beberapa tempat masih ada lagi sisa sisa tari sopo yang dapat kita lihat.

Kenapa disebut BAGANDING TUA?

Kata kata yang lain untuk menyebut rumah itu ada juga mengatakan; SIBAGANDING TUA, menurut sunber yang layak di percayai BAGANDING TUA itu adalah sebuah mahluk yang juga ciptaan Allah, wujudnya seperti seekor ular yang panjangnya paling paling 2 jengkal jari tangan. Bagi orang yang bernasib mujur bisa saja BAGANDING TUA datang rumahnya dan pasti membawa rejeki yang melimpah ruah. Pokoknya bila Ruma itu memiliki BAGANDING TUA pemiliki Ruma itu akan kedatangan rejeki dari berbagai penjuru.
Demikianlah Suku Batak itu sering memakai kata kata penghalus dan sastra untuk menunjukkan ruma sebagai tempat tinggal manusia dengan menyebut JABU SI BAGANDING TUA.

Dari catatan yang dihimpun, Istilah Baganding tua juga diartikan sebagai peristilahan kepada perempuan (istri) pemilik rumah, dan untuk laki-laki (suami) diistilahkan Simanguliman. Bila dalam petuah upacara khusus mengartikan rumah sebagai “bagas Sibaganding tua Simanguliman on” artinya suami dan istri masih lengkap.
Perempuan (isteri) juga diartikan “pangalapan tua” sumber berkat, sementara rumah diartikan sama dengan perhimpunan berkat harta dan keturunan serta kehormatan.
“Namarampang Namarjual” diartikan bagi sebuah rumah yang memiliki kehidupan, memiliki harta, aturan dan penegakan hukum dalam keluarga serta masyarakat.
Kehilangan seorang isteri merupakan kehilangan kehormatan bagi sebuah keluarga dan rumah itu sendiri, sehingga penempatan istilah Sibagandingtua dan Namarampang Namarjual otomatis tidak lagi diucapkan sampai seorang perempuan (isteri) atau menantu dari salah seorang anak lelaki ada menempati rumah itu.
Menurut cerita rakyat, bila seorang isteri bijaksana yang menghidupi keluarga itu meninggal dunia, maka “boraspati” (cecak) akan meninggalkan rumah itu. Boraspati adalah lambang kesuburan dan selalu dibuat hiasan rumah adat batak. Kebenarannya belum pernah diteliti.

BALE BALE:

Berbagai macam penyebutan untuk menunjukkan Ruma (tempat tinggal manusia) di dalam bahasa Batak, kata BALE juga sering di sebut sebut, tetapi BALE kurang biasa di pakai sebagai hunian tempat berkeluarga (HOUSE dalam Bahasa Inggris). Bale artinya Balai tempat bertemu antara penjual dan pembeli. Contoh Balairung Balige yang modelnya seperti RUMA GORGA BATAK, akan tetapi fungsinya adalah sebagai tempat berjual beli kebutuhan sehari-hari.

Akan tetapi biarpun BALEBALE tidak biasa seperti hunian tempat berkeluarga dan anak beranak Orang Batak sekarang sering juga menyebutkannya sebagai rumah biasa (House). Buktinya; mereka berkata “PAJONG JONG BALE BALE do anakta nuaeng di Medan” artinya: Anak kita sedang membangun rumah di Medan. Padahal rumah yang dibangun anaknya di Medan adalah rumah gedong. Di sando “Bale balenta” (Disanalah rumah kita) “Nungnga adong Balebale ni lae i di Jakarta” (sudah ada rumah ipar kita itu di Jakarta.

Tangga gogop (genap)

Tadi kita sudah mengetahui bahwa Ruma Batak itu menurut tangga dan pintunya dibagi menjadi 2 (dua) bahagian yaitu Ruma Batak si Tolumbea dan Ruma Batak Di Baba ni Amporik. Namun kalau jumlah anak tangganya selalu ganjil apakah itu beranak tangga 9 atau 11 atau 7 pokoknya jumlahnya selalu ganjil. Bagi masyarakat Batak Toba jumlah anak tangga yang genap (gogop) adalah pantang, sebab jumlah anak tangga rumah adalah menunjukkan bahwa pemilik rumah adalah keturunan budak (Hatoban).

Hal seperti ini tidak terdapat bagi Ruma Batak sebab tidak mungkin seorang budak dapat mendirikan Rumah Batak, atau sebagai pemilik Ruma Batak. Kalaupun ada Rumah beranak tangga yang genap (gogop) itu mungkin pada rumah jenis lain. Karena di tanah Batak pada jaman dahulu dan jaman sekarang ada juga kita dapati rumah EMPER bahkan jumlahnya jauh melebihi dari Ruma Batak.

Menurut cerita yang didapat dari hasil bincang bincang antara penulis dengan orang yang layak dipercayai bahwa pada zaman dahulu ada terdapat budak di Samosir. Dan kalau budak itu mau makan terlebih dahulu bersuara ngeong (mar ngeong) seperti suara kucing barulah tuannya meletakkan nasi di lantai rumah.
Dan kalau budak sudah merdeka di buatlah rumah pondoknya dengan tanda jumlah anak tangga rumahnya genap seperti 2 atau 4.

Pada zaman zaman permulaan Kemerdekaan Indonesia penulis masih sempat mendengar bahwa anak pemilik rumah yang bertangga genap sangat sulit mendapat jodoh yang cantik. Jadi secara jelasnya bahwa Rumah Batak itu tidak ada yang beranak tangga yang gogop.

Read Full Post »

Mar Ultop

Agam mar Ultop (bermain Ultop)

An ultop is a traditional toy, made from bamboo and common in the Batak Highland of northern Sumatra, Indonesia. Children often make this toy.

The ultop consists of two pieces. The first is a small bamboo with a diameter around 2-5 cm, the inside of which is shaped like a funnel. Two edges of the bamboo are cut until both edges can be seen through the funnel. The second piece is a rod with an outside diameter slightly smaller than the inside diameter of the funnel. Grain or fruit, slightly larger than the diameter of the funnel, is placed in the funnel and the rod is pressed against it as hard as the child can. The fruit or grain will be forced out with great speed and the sound like a small explosion. This makes it the local equivalent of a pop gun.

Beberapa minggu yang terakhir ini putraku Hitado Managam Sitorus kembali kegandrungan bermain Tamiya. Tamiya kepunyaannya merk Auldey original yang dibeli tahun lalu seharga Rp.250.000,- motornya terbakar. Dia merengek-rengek minta dibelikan yang baru. Saya tidak setuju karena saya anggap itu pemborosan. Alhasil dia membujuk mamanya untuk beli yang harga Rp. 75.000,- dan kusetujui, namun akhirnya motornya terbakar juga.
Belakangan ku ketahui bahwa bisa hanya ganti dinamo seharga Rp. 30.000,-.
Dia merengek-rengek lagi untuk dibelikan yang baru, kali ini kutolak dan kuceritakan bahwa jaman bapaknya dulu mainan itu mainan tradisonal, bikin mobil-mobilan dari sanggar atau bambu dan rodanya kembang bunga “si teni manuk”, pistol-pistolan juga demikian termasuk jika bermain perang perangan dengan senjata “ULTOP” yang terbuat dari bambu. Tentunya saya jelaskan dengan berupaya memvisualisasikan melalui kata-kata.
Agam penasaran dengan cerita saya terutama mengenai ULTOP. Dia minta dibuatkan tapi saya tidak menemukan jenis bambu yang cocok untuk membuat ULTOP.
Rupanya rasa penasarannya tidak berhenti disitu saja.Tadi pagi Minggu 22/08/2010 sehabis Sekolah Minggu (sementara saya masih di konsistori ngobrol dengan sesama Majelis Jemaat), dia datang dengan bangganya membawa seperangkat mainan tradisional tersebut (ULTOP). Menurutnya ULTOP tersebut dia beli di abang-abang dekat gereja seharga Rp. 1.500,-.
Karena menurut saya harganya lumayan murah saya suruh dia beli 1 lagi agar kami bisa bermain ULTOP.
Singkat cerita, akhirnya jadilah kami bermain ULTOP. Tentunya saya jelaskan dulu cara dan aturan bermain serta bahaya dari permainan tersebut. Diantaranya  tidak boleh menembak ke arah wajah dan jarak tembak harus minimal 1 meter. INTINYA HARUS MENJUNGJUNG TINGGI SPORTIFITAS dan jiwa ksatria.
Agam sangat puas dengan permainan tersebut bahkan adiknya Abe kepingin ikut-ikutan bermain ULTOP.
Saya yakin masih banyak permainan tradisional lain yang sarat akan nilai-nilai yang baik untuk kita kenang dan ajarkan kepada anak-anak kita. Mari saling berbagi.

St. Sampe Sitorus

Read Full Post »

Beberapa orang search di blog ini mencari tulisan yang berkaitan dengan “Parmasukni tu gedung pesta unjuk” (tata cara rombongan paranak dan parboru masuk ke gedung setelah pulang dari gereja- umat Kristiani).

Sebenarnya hal tersebut sudah saya bahas dalam tulisan sebelumnya yakni menjadi bagian dari tulisan :

  • Pangantusion Ulaon Ditaruhon Jual (Pesta di Paranak – Bolahan Amak)

https://sitorusdori.wordpress.com/2009/06/04/pangantusion-ulaon-taruhon-jual-ulaon-di-paranak/

Secara khusus yang berlaku di marga SITORUS di Jabodetabek adalah bila SITORUS yang pangolihon anak (Paranak) dan ulaon taruhon jual, maka hasuhuton paranak akan manjanghon haroro ni parboru di pogu ni alaman (berdiri menerima kedatangan rombongan pengantin dan pihak parboru di depan panggung).

  • Pangantusion Ulaon Dialap Jual (Pesta di Parboru-Bolahan Amak)

https://sitorusdori.wordpress.com/2009/05/28/pangantusion-ulaon-di-alap-jual/

Secara khusus yang berlaku di marga SITORUS di Jabodetabek adalah bila SITORUS yang pahutahon/pamuli boru (Parboru) dan ulaon Dialap Jual, maka hasuhuton parboru dan hasuhuton paranak akan bersama-sama masuk sekaligus dengan penganten.

Perihal pelaksanaan yang berlaku di marga yang lain secara umum adalah sesuai yang disepakati dan menjadi pegangan dari marga tersebut.

Agar tidak menjadi polemik, biasanya hal ini telah disepakati sewaktu ulaon Marhusip sehingga pada saat hari H pelaksanaannya berjalan lancar.

Note: jika anda menghadiri ulaon marhusip dan anda tidak mendengar hal ini dibahas, tolong ingatkan Pande Hata(Parhata) ni paranak maupun parboru agar hal ini di bahas dan disepakati.

Semoga menambah wawasan kita bersama.

St. Sampe Sitorus, SE/br Sitanggang (Amani Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Biasanya dalam setiap ulaon unjuk (pesta pernikahan Batak), selalu ada orang yang dihunjuk menjadi Boru Parlopes dan Sihunti Ampang. 

Siapakah yang menjadi boru Parlopes dan Sihunti Ampang ?

Boru Parlopes dan Sihunti Ampang biasanya adalah pasangan suami- istri dimana si perempuan adalah boru tubu (putri kandung atau saudari perempuan dari Hasuhuton Paranak/yang  menikahkan putranya. Contoh: saat ini saya dikaruniakan 1 orang putra (Hitado Managam) dan adiknya 1 orang putri (Namora Gabe). Jika nanti Hitado Managam menikah maka Boru Parlopes dan Sihunti Ampang adalah saudara perempuan saya yakni Amangboru dan Namborunya si Agam (Lae dan Ito kel. Manullang, Gultom, Siwu, Silaban, Tampubolon maupun Pohan — mardos ni roha ma nasida, namun umumnya yang paling tua).

 Tugas dan Peran boru Parlopes dan Sihunti Ampang

Dikatakan boru Parlopes karena seiring dengan tugasnya sebagai “ikon” parhobas yang melayani dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan pada saat ulaon unjuk. Berikut gambaran umum tugas boru Parlopes :

  1. Mengecheck dan memastikan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk keperluan pesta unjuk. (termasuk ampang tempat manjalo tumpak, karung tempat beras dan tempat ulos, kantong plastik untuk jambar, demban/daun sirih  untuk pinggan panungkunan, dll).
  2. Mengkoordinir sesama boru (angka parhobas) sesuai dengan pembagian tugas masing-masing. Ada yang bertugas sijalo dengke dan sekaligus silehon ulak ni dengke, sijalo boras (yg memasukkan ke karung) dan sekaligus silehon ulak ni tandok, yang menghantarkan para Hulahula dan Tulang ke tempat yang telah disediakan.
  3. Siap dan Stand by diperintah Raja Parhata(duduk disamping protokol dan sudah menggunakan sarung di pinggang). Tugasnya diantaranya menghantarkan microphone dan daftar Hulahula dan Tulang ke pihak Hulahula ni paranak dan menghantarkan pinggan panungkunan.

Dikatakan Sihunti Ampang karena dia lah yang bertugas manghunti (menjinjing diatas kepala) boan-boan berupa sipanganon na tabo yang dibawa pihak paranak ke rumah pihak parboru. Secara umum di JABODETABEK Sihunti Ampang akan menghunti (menjinjing) makanan dalam wadah Ampang yang ditutup dengan ulos pada saat ulaon Sibuhabuhai.

Note: yang harus dipahami perihal ulos tutup ampang adalah  jika Sibolang tutup ni jual berarti menandakan bahwa parjuhutnya lomuk (pinahan lobu/B2), jika Ragi Hotang tutup ni jual berarti menandakan bahwa parjuhutnya sisemet imbulu (sapi/lembu), jika Pinunsaan atau Ragi Idup berarti menandakan bahwa parjuhutnya sitingko tanduk(kerbau). Artinya jika nanti siang diacara adat  tudu-tudu sipanganon adalah sapi maka tutup ampang yang di jinjing sewaktu sibuhabuhai adalah Ragi Hotang, jangan sampai tutup ampang Ragi Hotang padahal tudu-tudu sipanganon lomuk (pinahan lobu/B2).

Disamping itu tugas lainnya adalah membantu suaminya terutama poin 1 tugas boru Parlopes. Filosopinya adalah dia ikut membantu menanggung beban berat yang di tanggung Hulahulanya (saudara laki-lakinya). Pada saat acara mangulosi Sihunti ampanglah yang bertugas pasahat piso-piso (sejumlah uang dalam amplop yang diberikan kepada setiap orang rombongan Hulahula dan Tulang setelah menyampirkan ulos).

Pasangan boru Parlopes dan Sihunti Ampang akan menerima Ulos Sihunti Ampang. Secara umum ulos yang akan mereka terima adalah jenis Ragi Hotang.

St. Sampe Sitorus, SE (A. Hitado Managam)

Read Full Post »

Kalo orang Batak menghadiri acara adat apalagi ulaon las ni roha (sukacita) pastilah pakainnya rapih dan necis. Kaum ibu pasti menggunakan kebaya dan songket Palembangnya atau kain suji Tarutung. Dilain pihak kaum bapak pasti dandy dengan jasnya yang necis.  Bagi kaum bapak orang Batak rasanya kurang pas jika tidak lengkap dengan dasinya. Dapat kita katakan masih sangat jarang pria Batak pakai jas namun tidak pakai dasi. (meski sebenarnya model pun banyak yang tidak pakai dasi ketika menggunakan stelan jas).

Nah bagaimana jika seorang Hula-hula sudah tampil parlente tapi tidak pakai dasi ? Inlah yang saya alami sendiri hari Sabtu 07/08/2010 lalu ketika menghadiri ulaon unjuk (pesta penikahan) ibebere kami di Bandung.  Semasih di penginapan, begitu selesai mandi dan ganti pakain baru ketahuan kalo dasi tidak terbawa. Alhasil sang istri tercinta pun sangat merasa bersalah karena kelupaan tidak memastikan ada dasi di koper.

Dengan gaya ala iklan salah satu permen mint (ingat hak sepatu si cewek patah satu, setelah makan permen tersebut dia cuek bebek malah patahkan hak yang satu lagi), demikian juga saya dengan santainya kubilang sama istriku : Ah.. no problemo, aku ini kan sudah ganteng jadi tidak pakai dasi pun akan terlihat rapih. (red..puji diri hamamago).

Tiba di gedung pesta pun …. aku PD aja seolah-olah tidak ada yang kurang.  Toh apa yang bisa diperbuat, apa harus mampir dulu ke toko beli dasi ?. Nggak mampir dulu aja tetap terlambat tiba di gedung karena Jalan Soekarno Hatta- Bandung macet dan ternyata lampu TL nya yang buanyak banget tersebut penyebabnya..

At the end pelajaran apa yang bisa kita petik ? Khusus kita kaum bapak, kalo sudah begitu janganlah marah-marah sama istri karena toh tidak menyelesaikan masalah. Easy going aja. Untuk para istri….. 1. Please check and rechek ketika menyiapkan pakaian suami. Toh kalo hal seperti diatas terjadi, pasti penilaian orang yang melihat adalah bahwa istrinya tidak perhatikan suaminya atau bahasa Bataknya: ” Ai so di atturehon inanta i do hu roha amantana on”.  2. Jangan sampai si IBLIS menggoda, kalo sering begitu nanti ada orang lain yang lebih memberi perhatian, apalagi ma angka boruni halak ion dohonon ma i ? Bisa bahaya khan ?

Pos ma roham hasian inang ni gellenghu, sai dao ma angka si songoni ate ?

St. S. Sitorus,SE (Amani Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Pernahkah anda tiba-tiba terhenti berbicara karena blank (bisa disebabkan konsentrasi buyar/lupa apa yang mau dikatakan) ?. Kebayangkan seperti apa jadinya kalo hal itu terjadi di pesta nikah orang Batak ketika pihak tulang akan pasahat ulos (menyampirkan ulos) ke pengantin ?.

Nah ini yang terjadi  Sabtu 07 Agustus 2010 lalu dengan kami rombongan Hula-hula Namarhahamaranggi, abang saya (A.Tamado par Cilegon) pas waktu mau menyampaikan umpasa tiba-tiba “mago pusuk”.  Bukannya dia tidak biasa mandok hata (di Cilegon sudah masuk jajaran “parhata”), tapi itu terjadi begitu saja.

Pasaribu Habeahan br Manullang, Bandung Sabtu 07/08/2010

Pasaribu Habeahan br Manullang, Bandung Sabtu 07/08/2010

Walaupun akhirnya dia ingat kembali apa yang mau disampaikan tapi kami sempat saling berbisik bahkan pihak parhatanya parboru (yg duduk di depan berhadapan dengan parhatanya paranak) sempat nyeplos: “bah namago do pusuk tulang ?”.

Setelah selesai mangulosi kami tertawa terbahak-bahak bahkan hingga malam hari di penginapan kami masih bahas. E… tahe boi do hape mago pusuk ate ? (Oala bisa juga blank begitu yah).

Read Full Post »

Beberapa teman bertanya apa arti sticker one way yang ditempel dikaca belakang kucing (sebutan Panther oleh Panther Mania).

Bahkan ada yang mengira saya team sukses salah satu calon Bupati Tangerang Selatan. Berikut sticker yang mereka lihat:

One Way Sticker Raja Mandidang

Daripada simpang siur akhirnya kujelaskan ke mereka bahwa sticker one way dimaksud adalah sarana pemberitahuan kepada khalayak ramai bahwa kami Pomparan (keturunan) Raja Mandidang Sitorus punya blog tempat kami bisa berbagi informasi, pengetahuan, menambah wawasan dan apa saja untuk kemajuan bersama. Dengan menempelkannnya di mobil maka dia menjadi semacam kampanye berjalan agar orang2 tahu terutama yang merasa keturunan Raja Mandidang Sitorus. Populasi kami sedikit, sudah gitu tersebar dan sepertinya silaturahmi terputus. Semoga dengan mengkampanyekan seperti ini akan terjalin kembali. (Boi pajumpang hami angka namardongan tubu).

Partungkoan Raja Mandidang Sitorus

Horas

St. S. Sitorus

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: