Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2011

Pertanyaan diatas mungkin sedikit menggelitik. Namun akan membuat rasa penasaran bagi orang yang belum mengerti apa itu sisuan bulu.

Umpasa sijolojolo tubu mandok:

Sinuan bulu sibaen na las
Pinungka partuturon asa horas-horas.

Sinuan bulu sibaen na las

Dahulu kala setiap membuka perkampungan baru (mamungka huta) maka akan dibuat parik(tanggul) yang mengelilingi kampung, parik tersebut  juga ditanami bambu (disuan bulu). Adapun tujuan pembuatan parik adalah sebagai benteng untuk menyulitkan binatang buas yang akan mengganggu/mengusik ketentraman warga kampung. Adapun tujuan menanam bambu selain bertujuan sebagai pagar pengaman juga untuk melindungi warga kampung dari dinginnya terpaan angin. Maklumlah hembusan angin sangat dingin bahkan bisa menusuk hingga ke sendi-sendi tulang.

FB_IMG_1551655078510

Gelar ”sisuan bulu” disebut karena setiap kampung baru diawali dengan menanam bambu disekitar kampung sebagai pagar atau benteng kampung. Gelar sisuan bulu “diberikan”  kepada mereka yang membuka perkampungan. Selanjutnya mereka dinamai “Raja Huta”. Raja Huta ini adalah orang yang memprakarsai pembukaan ”huta” yang baru dan dia disebut juga sebagai ”sipungka huta” atau ”sisuan bulu”.  Raja huta ini bukan merupakan penguasa tunggal dan tertinggi tetapi dalam penyelenggaraan kepemimpinan teritorial dan pemerintahan dia bersama dengan sejumlah ”pangitua ni huta” (sesepuh atau pemuka masyarakat) sehingga kepemimpinan huta bersifat kolektif bukan partial.

Selanjutnya mereka (pemimpin kolektif – sisuan bulu dan sesepuh/pemuka masyarakat) inilah yang membuat aturan/tatanan hukum dikampung tersebut dan merekalah tempat bertanya. Kelak kemudian jika terjadi pelanggaran maupun perselisihan kepada merekalah dimintakan pertimbangan atas sanksi atau hukuman yang akan diberikan.

PhotoGrid_1568641494670Demikian juga halnya jika akan melaksanakan kegiatan adat maka

Pusuk ni tobu na poso, uramuram ni situma,
Sungkunon ma gogo tu na poso, ruhut adat tu natuatua.

Kepada kaum muda kita tanyakan hal yang berkaitan dengan kesiapsediaan (kemampuan tenaga dan persiapan) untuk melaksanakan kegiatan dimaksud. Kepada para tetua kita tanyakan tentang ruhut-ruhut paradaton(aturan maupun adat istiadat).

Pinungka partuturon asa horas-horas.

Dahulu kala sangat lumrah terjadi perang antar kampung maupun antar marga mengingat satu kampung biasanya hanya dihuni satu marga tertentu. Jadi tak jarang jika terjadi perang antar kampung maka melibatkan marga dan umumnya belum memiliki ikatan kekerabatan (partuturon). Untuk menghindari perang antar kampung yang sudah pasti akan merugikan semua pihak, maka beberapa marga sepakat untuk menjalin hubungan kekerabatan baik itu melalui pernikahan putra putri mereka maupun melalui ikatan janji (marpadan). Sangat logis dan masuk akal apabila telah terjalin hubungan kekerabatan, maka kemungkinan perang antar marga/kampung tersebut akan sangat kecil karena bagaimana mungkin pihak hulahula menyerang kampung parboruonnya, demikian sebaliknya tidak mungkin pihak parboruon menyerang kampung hulahulanya.

Jika demikian halnya maka gelar sisuan bulu hanya kepada mereka yang membuka perkampungan baru. Jadi jika ada orang yang merasa sisuan bulu padahal dia tidak membuka perkampungan baru, maka sesungguhnya orang tersebut adalah pembual/pembohong besar yang gila hormat dan merasa dirinya orang terpandang.

Sai daoma sian hita angka sisongon i ate ? (Jauhlah dari kita sikap seperti itu, bukan?).

Semoga tulisan ini menambah wawasan kita tentang sisuan bulu.

Pinadomu ni (dirangkum oleh):

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Referensi dan daftar pustaka:

http://haumanarata.wordpress.com/2009/12/09/jabatan-tohonan-sintua-majelis-di-hkbp/

Panuturion ni angka natuatua.

(more…)

Read Full Post »

Disetiap kegiatan mandok hata maka hampir pasti kita akan mendengar beberapa umpasa yang merupakan doa dan harapan dari si yang menyampaikan umpasa. Begitu satu umpasa selesai di sampaikan maka secara otomatis khalayak ramai yang hadir pada acara tersebut menyahutinya Ima tutu (yg sering terdengar emma tutu).

Seorang kawan bertanya apa makna “Ima tutu” tersebut ?. Sepanjang pengetahuan saya maka arti dan makna “Ima tutu” tersebut adalah mengaminkan doa dan harapan dari si yang memberikan petuah maupun umpasa tersebut.

Dalam beberapa kali kesempatan bertemu dan berbincang tentang Budaya Batak dan KeKristenan dengan amang Pdt. A. Silitonga, BSM, menurut beliau sesungguhnya dahulu kala kata “Ima tutu” itu masih harus diikuti kata “Olop olop” yang bermakna dengan suka cita kami menerima doa dan harapan tersebut. Menurut beliau saat ini sudah sangat jarang mendengar kata “Olop olop” tersebut dan itu menandakan terjadinya pergeseran pada budaya Batak.

Penasaran akan hal tersebut saya juga bertanya kepada beberapa “natua-tua” dan umumnya mereka membenarkan bahwa sesungguhnya sesudah kata “Ima tutu” maka langsung diikuti kata “Olop olop”.

Contoh ketika Hulahula menyampaikan umpasa:

Bintang na rumiris ma tu ombun nasumorop.
Anak pe antong di hamu riris boru pe tung torop.

Langsung di sahuti oleh pihak parboruon( keluarga yang menerima petuah dan umpasa tersebut) dengan ungakapan “Ima tutu, Olop olop”.

Memang saya akui sepanjang pengamatan saya di setiap pesta unjuk (pesta nikah) hampir tidak pernah mendengar kata “Ima tutu” yang langsung diikuti kata “Olop olop”.  Yang umum berlaku  ialah mardalan ma Olop olop dung sidung mangampu (dipenghujung acara adat sebelum ditutup dengan doa oleh Hulahula/Parboru, maka dilaksanakan acara Olop olop) yang menurut hemat saya maknanya jauh berbeda.

Lantas apa upaya kita ?. Saya mulai mempraktekkan hal tersebut. Sabtu 27 Agustus 2011 lalu ketika saya menjadi Raja Parhata ulaon pasahat sulang sulang pahompu marga Sitorus tu hulahula i Raja Sirait di Aula Gereja Oikumene Perumnas I Bekasi (Jl. Komodo Raya), maka setiap Hula-hula Sirait menyampaikan umpasa saya langsung jawab “Ima tutu, Olop olop”.

Saya akan berupaya untuk konsisten melakukan hal itu dalam setiap kesempatan mengingat makna yang luar biasa dari kata “Ima tutu, Olop olop” tersebut.

Semoga tulisan ini dapat menjadi bagian dari upaya pencerahan kepada generasi muda Batak yang rindu untuk mengenal dan mempelajari budaya Batak.

Tangerang 01 September 2011.

Teriring salam dan doa.

St. Sampe Sitorus/ br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

%d bloggers like this: