Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2018

Sebaiknya anda ingat hal ini, bila akan menggelar pesta ingatlah order Sedulur Fresh Juice.

Revisi Harga Cup Seal ukuran-14-12-10-oz

Arti Parmualmualan

Peti jenazah seperti pada gambar dibawah ini disebut PARMUALMUALAN  atau di sebagian daerah di bona pasogit (kampung halaman) dikenal sebagai ABAL-ABAL yang akan menjadi rumah abadi pemiliknya apabila kelak yang bersangkutan meninggal dunia. PARMUALMUALAN  adalah peti jenazah yang telah dipersiapkan seseorang saat dia masih hidup, oleh karenanya layak disebut jabu napinauli ni tanganna (rumah yang dibangunnya). Berbeda dengan peti jenazah yang dipesan setelah seseorang meninggal dunia,  yang biasanya orang Batak menyebutnya sebagai jabu nasopinauli ni tanganna (rumah yang bukan dibangun olehnya).

Parmualmualan biasanya dipersiapkan bagi seseorang jauh hari sebelum dia meninggal dunia yakni mereka yang sudah cukup tua dan terberkati dengan 3H (hamoraon, hagabeon, hasangapon). Hamoraon (kekayaan) adalah relatif tetapi paling tidak mapan secara ekonomi. Hagabeon adalah “marpahompu sian anak, marpahompu sian boru sahat ro di na marnini marnono” (memiliki putra dan putri, cucu-cucu dari putra dan putri dan bahkan cicit). Hasangapon (kehormatan) ini juga relatif tetapi paling tidak yang bersangkutan tidak tercela dan dihormati oleh lingkungannya. Ketiga aspek 3H tersebut tentu bukan harga mati, karena raja-raja adat berperan memutuskan dengan berbagai pertimbangan. Proses pembuatan parmualmualan tergolong sulit, lama dan tentu harganya mahal.

 

Parmualmualan dibuat dari satu batang kayu besar (hau sada) yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mempunyai tempat yang pas untuk dapat menampung mayat pemesannya apabila kelak telah meninggal dunia. Pembuatan parmualmualan itu melalui proses yang lama dan umumnya dibuat dari kayu yang keras yakni kayu pinasa (nangka) atau jati ataupun hariara. Tidak semua orang bisa mengerjakan pembuatan parmualamualan karena harus ada jiwa seni pahat/ukir dimana semuanya dikerjakan secara manual. Sebelum di bentuk, kayu itu harus direndam dulu beberapa lama di dalam air supaya awet dan tidak termakan oleh rayap. Setelah dibentuk lalu dipahat dengan ornamen Batak (di gorga), juga diberi warna Batak yakni merah, hitam dan putih.

Apabila seseorang telah mempunyai parmualmualan biasanya diberitahu kepada para “Raja” secara adat dalam hubungan kekerabatan Batak “Dalihan Na Tolu” melalui suatu acara adat dimana keturunannya (pinompar) memberi sulangsulang hariapan (memberi makan orangtua) kepada si orang tua tersebut.  Kelak apabila telah menerima sulangsulang hariapan maka orangtua tersebut tergolong nunga singhop be adatna (paripurna secara adat) yang berrarti bahwa orangtua tersebut tidak lagi memiliki hak dan kewajiban atas adat. Segala hak dan kewajibannya atas adat telah dianggap selesai, tinggal menunggu adat kematiaannya yang akan dilaksanakan oleh keturunannya.

Orangtua yang meninggal dan sudah mempunyai parmualmualan akan diberangkatkan dengan adat Batak yang lengkap, pulik pangarapotna, pulik partuatna,  dan diiringi dengan ogung sabanguan dan tortor (musik gendang dan tarian) Batak.

Dahulu kala untuk menyatukan bagian penutup dan bagian utama dari parmualmualan tidak boleh di paku tetapi memakai rotan kecil yang dililitkan. Rotan itulah yang mengikatnya agar tertutup dan tidak boleh ada sanggahannya semacam kaki-kaki peti, tetapi langsung diletakkan dilantai.
Prosesi mengikat penutup dan bagian utama ini dinamakan Ulaon Mangarapot, dimana tetua adat (Raja Pangarapot) akan melaksanakan prosesi adat Pangarapoton disaksikan oleh seluruh keturunan almarhum dan unsur Dalihan Natolu.

Bagaimana dengan prosesi adat kematian almarhum DR. Sutan Raja DL Sitorus terkait dengan Parmualmualan ?

TUHAN berkehendak, pada hari Kamis tanggal 3 Agustus 2017 sekitar pukul 14.15 Wib, bapak DR. Sutan Raja Darianus Lungguk Sitorus meninggal dunia di pesawat Garuda Indonesia yang akan membawanya dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menunju Bandara Kualanamu Sumatera Utara.

Dibalik peristiwa kematiannya ada hal yang menarik dan unik, ternyata almarhum Dr (HC) Sutan Raja DL Sitorus telah mempersiapkan parmualmualan (peti jenazah) nya sejak tiga tahun lalu. Seperti biasanya, parmualmualan yang dipersiapkan harus sepasang, satu untuk suami dan satu lagi untuk isteri (Ompu si Diorantaria boru Siagian).  Parmualmualan beliau pesan dari sahabatnya bernama Tuan Nasser Sirait dan seyogianya akan di ompoi (diresmikan secara adat) pada bulan September 2017. Namun, manusia boleh berencana tetapi Tuhan berkehendak.

Ndada simanukmanuk sibontar andora

Ndada sitodo turpuk siahut lomo ni roha

Dengan demikian parmualmualan akan segera dipergunakan, namun masalahnya belum paulak tukkang (mengembalikan tukang pembuat peti – serah terima peti mati dari pembuatnya kepada pemesan) yang merupakan ritual adat Batak yang perlu dilakukan agar sah dan punya makna parmualmualan tersebut.

Hasil perundingan keluarga dan panuturion (pencerahan) Raja Panuturi dari Desa Parsambilan (kampung halaman almarhum), disepakati untuk melaksanakan Tonggo Raja mengenai Parmualmualon.  Hari Sabtu tanggal 5 Agustus 2017 pukul 19.30 Wib bertempat dirumah almarhum dan dihadiri oleh unsur Dalihan Natolu, dilaksanakan Tonggo Raja membicarakan rangkaian adat yang akan dilaksanakan terkait parmualmualan dan persiapan Mompo (memasukkan jenazah ke peti jenazah).

Lazimnya mangompoi parmualmualan dilaksanakan semasa hidup dengan terlebih dahulu orang tua tersebut manjalo sulang sulang hariapan  dari keturunannya. Dalam hal ini karena Bapak DR. Sutan Raja DL Sitorus sudah terlebih dahulu meninggal dunia sebelum hal itu dilaksanakan dan atas pemaparan Raja Panuturi (tetua adat) yang datang dari Parsambilan, maka ulaon mangompoi parmualmualan tidak bisa dilaksanakan dengan alasan  ndang boi pasadaon ulaon ni namangolu dohot naung monding  (adalah pantang untuk menggabungkan acara adat bagi orang yang masih hidup dan bagi yang sudah meninggal dunia). Acara adat mangompoi parmualmualan dari sang isteri (Ompu si Diorantaria boru Siagian) yang masih hidup dapat dilaksanakan di kemudian hari.

Hasil Tonggo Raja sepakat melaksanakan sbb:

  1. Paulak Tukkang dohot Mangarajahon Parmualmualan.

Minggu tanggal 6 Agustus 2017 dimulai dengan Ibadah Minggu dan dilanjutkan dengan Paulak Tukkang dohot Mangarajahon Parmualmualan yang dihadiri unsur Dalihan Natolu.

  1. Minggu tanggal Agustus 2017 pukul 19.00 Wib setelah rangkaian Paulak Tukkang dohot Mangarajahon Parmualmualan selesai dilaksanakan, maka dilaksanakan Mompo (memasukkan jenazah almarhum ke parmualmualanna).
  1. Setelah Mompo, Senin tanggal 6 Agustus 2017 jenazah diberangkatkan ke kampung halaman untuk pelaksanaan rangkaian adat kematian bertempat di Ruma Parsaktian di desa Cinta Damai Parsambilan. Adapun rangkaian adatnya sbb:

Rabu tanggal 9 Agustus 2017 Panangkok Ogung Sabangunan laos Mangido Tua ni Gondang.

Kamis 10 Agustus 2017 Ulaon Mangarapot (Pangarapoton).

Jumat 11 Agustus 2017 Ulaon Partuatna.

Sabtu 12 Agustus 2017 Ulaon Manuan Ompuompu.

Filosopi Hau Sada dan Pinasa

Dari informasi yang diperoleh Tim Redaksi Soara Parsibona, peti jenazah sudah dipersiapan sejak 3 tahun lalu, terbuat dari kayu pilihan dan dihiasi Gorga Batak. Keberadaan peti jenazah yang langka itu mengundang perhatian khalayak umum mengingat peti jenazah gorga (ukiran motif gorga) biasanya untuk para raja-raja orang Batak sehingga sangat langka dan biaya pembuatan peti jenazah tentu bukanlah murah, tidak bisa dikerjakan sembarangan orang serta memakan waktu yang cukup lama.  Pecinta media sosial dan para pelayat bertanya-tanya, siapa pembuat peti jenazah gorga untuk Sutan Raja DL Sitorus dan berapa biayanya ?

Mendengar kabar bahwa parmualmualan (peti jenazah) untuk Op.si Diorantaria doli (Sutan Raja DL Sitorus) dan Op.si Diorantaria boru (Ny. DL. Sitorus br Siagian) telah lama dipersiapkan dan telah selesai terbuat dari kayu bulat (Hau Sada) dari pohon nangka (Pinasa), rasa penasaran mendorong Tim Redaksi Soara Parsibona mencari tahu pemahaman akan makna dan filosopi dibalik kata dari Hau Sada dan mengapa dari jenis kayu nangka.

Untuk ini, Pimpinan Redaksi Soara Parsadaan, Bapak DR. Tarmiden Sitorus melakukan wawancara eksklusif dengan Bapak Raja Gorga Panjaitan, sang pemahat/pengukir (Pande) yang menempah parmualmualan. Beliau memaparkan filosopi Hau Sada dan Pinasa serta cerita dibalik proses pembuatannya sbb:

  1. Hau Pinasa (pohon nangka), berkaitan dengan sebutan Bona ni Pinasa. Bagi orang Batak sebutan Bona ni Pinasa mengacu pada arti penting dari kampung halaman, seperti didendangkan dalam lagu berikut.

ARGA DO BONA NI PINASA

Arga do bonani pinasa di angka naserep marroha,

ai ido tona ni ompunta tu hita angka pinomparna.

Argado bonani pinasa di angka naburju marroha,

sai ingot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.

Ai tano hatubuanhi do tu si do ingkon mulak au,

Nang pe arga sinamot muna sai ingot ma mulak tu huta.

Arga do bona ni pinasa di angka na burju marroha,

Sai ingot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.

Dao pe au nuaeng marjalang, sambuloki  sai hot do i,

Sai i ngot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa,

Sai i ngot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.

Terjemahan bebas lagu tersebut diatas kira-kira seperti ini:

Kampung halaman sangat berharga (berkesan mendalam) bagi orang yang bijaksana,

sebagaimana pesan orangtua bahkan nenek moyang kita.

Kampung halaman sangat dikenang (dirindukan) oleh orang yang baik hati,

Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Aku harus pulang melihat Tanah Kelahiranku (asal-usulku),

meskipun aku telah termasyhur, banyak harta benda di negeri orang, tak kulupakan kampung halamanku.

Kampung halaman sangat dikenang (dirindukan) oleh orang yang baik hati,

Ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Meskipun jauh di rantau di negeri orang, hati/jiwaku tetap tertuju pada kampung halamanku.

Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Dahulu kala orang Batak selalu menanam pohon nangka di kebun sekitar perkampungan. Kayu pohon nangka termasuk kategori kayu keras dan kuat, namun lebih mudah dipahat sehingga menjadi pilihan untuk bahan utama pembuatan parmualmualan (abalabal). Memang ada beberapa jenis kayu lain diantaranya Pokki namun sulit untuk dijadikan parmualmualan karena kerasnya, demikian juga Hariara (sejenis beringin) proses pengerjaannya lebih rumit.

  1. Hau sada” bermakna satu batang pohon cukup untuk kebutuhan pembuatan peti jenazah tanpa dipotong-potong maupun dibilah-bilah dan tidak ditambah dari pohon lain. Sang pemahat Raja Gorga Panjaitan menjelaskan bahwa Bapak DR Sutan Raja DL Sitorus telah memesan parmualmualan kepada sahabatnya Tuan Nanser Sirait sejak sekitar 3 tahun lalu. Ada dua pohon kayu telah dipersiapkan di Subang. Sutan Raja DL Sitorus meminta Tuan Nanser Sirait menemui Raja Gorga Panjaitan yang bermukim di Sitorang Kecamatan Silaen-Tobasa untuk mengajaknya melihat kayu yang telah dipersiapkan sebagai bahan pembuatan peti jenazah. Tuan Nanser Sirait bersama Raja Gorga Panjaitan berangkat ke Subang untuk memeriksa kedua pohon kayu tersebut. Kesimpulan mereka ternyata bentuk dan ukuran tidak cocok dan tidak cukup untuk kebutuhan pembuatan parmualmualan baik bagi Sutan Raja DL Sitorus (Op si Diorantaria doli) maupun bagi Ny. DL Sitorus br Siagian (Op si Diorantaria boru). Oleh karena dinilai tidak memenuhi kebutuhan, maka hal itu dilaporkan kepada Sutan Raja DL Sitorus. Sebagai alternatif  solusi Raja Gorga Panjaitan menawarkan kayu di Pintu Bosi, Tarutung Tapanuli Utara. Segera mendapat persetujuan dari Sutan Raja DL Sitorus, selanjutnya Tuan Nasser Sirait bersama Raja Gorga Panjaitan berangkat ke Pintu Bosi memeriksa kayu dimaksud dan mengambil gambarnya. Tuan Nasser Sirait melaporkan hasil pemeriksaan dan menunjukkan foto kayu tersebut kepada Sutan Raja DL Sitorus dan beliau setuju untuk dilanjutkan.

Proses pembuatan parmualmualan dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan dikediaman Raja Gorga Panjaitan di Sitorang, Silaen – Tobasa. Dua batang kayu nangka utuh dijadikan dua parmualmualan dengan ornamen gorga Batak sesuai peruntukan. Setelah selesai dikerjakan, kedua peti parmualmualan hendak diberangkatkan ke Jakarta, namun berhubung parmualmualan dari ibunda Sutan Raja DL Sitorus yakni Ompu Sabar boru masih berada di Jakarta dan saat itu Sang ibunda masih hidup, maka secara adat Batak pantang untuk membawanya ke Jakarta. Raja Gorga Panjaitan menyarankan agar membawanya ke perusahaan Sutan Raja DL Sitorus di daerah Lampung dengan maksud agar lebih dekat ke Jakarta sebelum secara resmi ditunjukkan kepada para Raja (unsur Dalihan Natolu). Mendapat penjelasan itu Sutan Raja DL Sitorus setuju menyimpannya di daerah Natar-Lampung dan merencanakan pelaksanaan acara adat terkait hal itu pada bulan September 2017.

Penutup

Ritual adat Batak pembuatan parmualmualan atau abalabal merupakan kejadian yang langka kita temukan dewasa ini. Bahkan sebagian besar generasi muda orang Batak tidak pernah melihat bahkan mendengar adanya ritual adat parmual-mualan. Banyak orangtua Batak yang memenuhi syarat 3H akan tetapi tidak terlalu terdorong untuk  melakukannya dengan berbagai alasan tentunya. Bapak DR. Sutan Raja DL. Sitorus (Ompu si Dioranta doli) adalah pengecualian. Beliau sangat peduli dalam upaya pelestarian adat Batak dalam setiap sendi kehidupannya, sepanjang tidak bertentangan dengan agama yang dianutnya.

Bagi generasi muda orang Batak khususnya anggota Parsibona apa yang dilakukan oleh natua-tua i DR. Sutan Raja DL. Sitorus merupakan suatu pembelajaran atau ajakan bagi kita semua agar kita jangan lupa akan bona ni pinasa (kampung halaman), dan senantiasa melanjutkan nilai-nilai budaya leluhur. Seperti kata umpasa Batak

Tuat na di dolok martungkothon siala gundi,

Adat dohot uhum pinungka ni ompunta na parjolo Ihuthonta sundut naumpudi.

 

Dirangkum dari berbagai sumber, termasuk wawancara eksklusif Tim Redaksi Soara Parsadaan (Majalah PARSIBONA) dengan bapak Raja Gorga Panjaitan.

 

Tangerang 13 Agustus 2017

Dr. Ir. Tarmiden Sitorus

St. Sampe Sitorus, SE

Read Full Post »

%d bloggers like this: