Feeds:
Posts
Comments

Archive for March 26th, 2020

Oleh : Thomson Hutasoit

Parsinabul atau Parsaut adalah juru bicara adat yang dipilih melalui kesepakatan berjenjang mulai dari lingkar terdekat ahli bait atau punya hajatan (baca: Hasuhuton) hingga ke tingkat paling atas dalam satu ompu ataupun satu kelompok marga Batak-Toba.

Proses kesepakatan berjenjang untuk memilih Parsinabul atau Parsaut di dalam Batak-Toba disebut Marsirenggetan atau Marsiarisan na Mardongan Tubu sebagai implementasi Manat Mardongan Tubu yakni hati-hati, waspada, saling hormat-menghormati, seia sekata, sehati sepikir, serasa dan sepenanggungan seperti bunyi umpama,” Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru”, si sada anak, si sada boru, si sada adat, si sada ulaon, si sada tano, si sada las ni roha, si sada arsak ni roha, dan lain sebagainya.

Komunitas Batak-Toba dengan falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) yakni somba Marhula-hula, manat Mardongan Tubu, dan elek Marboru merupakan pranata tata hubungan interaksi Batak-Toba, termasuk di dalam melaksanakan adat-budaya yang merupakan peradaban serta jati diri Batak-Toba dimanapun berada.

Batak-Toba terkenal sebagai masyarakat beradat dan beradab yang diwarisi sejak zaman nenek moyang dan hingga kini dipertahankan serta dilestarikan untuk merekat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan yakni; marhula-hula, mardongan tubu, dan marboru, bere/ibebere.

Hubungan interaksi kekeluargaan dan kekerabatan na mardongan tubu ataupun satu marga yang hingga kini sudah ada generasi ke 20-25 (baca: sundut 20-25) tetap sedemikian kompak, harmonis menjadikan keakraban Batak, khususnya Batak-Toba merupakan suatu hubungan istimewa jika dibandingkan dengan suku-suku bangsa lain di atas dunia ini.

Bila diperhatikan dengan cermat kata kunci perekat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan Batak-Toba tidak terlepas dari falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) apalagi bisa dilakukan dengan baik dan benar sesuai posisi masing-masing menurut adat-budaya warisan leluhur.

Prinsip somba (baca: hormat), manat (baca: hati-hati), elek (baca: sayang, pengayom) adalah salah satu gambaran karakter berpikir dan bertindak Batak-Toba. Sehingga bila prinsip somba, manat, dan elek selalu dikedepankan di dalam hubungan komunikasi antar sesama maka kekompakan, keakraban pasti tercipta dengan baik dan benar. Semua pihak harus menyadari hak dan tanggung jawab sesuai aturan, norma, serta nilai-nilai luhur adat-budaya yang menjadi pedoman pola tingkah laku Batak-Toba. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, bahwa kemajuan yang tidak dilandasi karakter, jati diri bangsa akan mengeliminasi seseorang dari komunitas bangsanya, serta capaian kemajuan tanpa fondasi.

Sebaliknya, bila generasi Batak-Toba sudah meninggalkan prinsip somba, manat, dan elek maka akan sulit melakukan komunikasi yang baik dan benar antar sesama karena tidak bisa lagi memosisikan diri dengan tepat sesuai adat-budaya Batak-Toba yang menjadi nilai luhur warisan nenek moyang.

Parsinabul atau Parsaut adalah sebuah bentuk demokrasi langsung yang dilakukan melalui musyawarah menuju mufakat bertingkat berjenjang, mulai dari paidua ni suhut, oppu martinodohon, maroppu-oppu, dan/atau tingkatan marga yang disebut panamboli pada suatu ulaon adat Batak, khususnya Batak-Toba.

Tingkatan Panamboli inilah biasanya (baca: Kota Medan) menjadi Parsinabul atau Parsaut pada satu pesta atau ulaon adat Batak-Toba. Kedudukan Parsinabul atau Parsaut pada suatu pesta atau ulaon adat adalah juru bicara tunggal memiliki otoritas memandu, mengarahkan, mengatur seluruh lalu lintas prosesi adat, baik Parsinabul atau Parsaut pihak mempelai laki-laki (baca: paranak) maupun Parsinabul atau Parsaut pihak mempelai perempuan (baca: parboru).

Seluruh prosesi ulaon adat dipandu, diarahkan, serta diatur oleh Parsinabul atau Parsaut sebagai juru bicara tunggal atas nama satu oppu dan/atau satu marga, sehingga bila prosesi pesta atau ulaon adat telah diserahkan kepada Parsinabul atau Parsaut maka keluarga, kerabat pihak paranak maupun pihak parboru sangat tidak elegan lagi bila masih mencampuri pembicaraan (baca: manjullukhon hatana) ketika Parsinabul atau Parsaut sedang berbicara.

Posisi strategis Parsinabul atau Parsaut pada sebuah pesta atau ulaon adat sama seperti seorang moderator sebuah seminar ilmiah yang mengatur, memandu, mengarahkan lalu lintas seminar agar berjalan dengan baik dan lancar sesuai aturan berseminar.

Demikian halnya, seorang Parsinabul atau Parsaut bertugas, berperan mengatur, memandu, mengarahkan seluruh mekanisme prosesi pesta atau ulaon adat sejak dari pelimpahan hak dan tanggung jawab Parsinabul atau Parsaut melalui proses Marsirenggetan atau Marsiarisan na mardongan tubu memegang tanggung jawab penuh dengan otoritas legalitas hukum adat yang dibangun melalui musyawarah bertingkat berjenjang dari lingkaran terdekat ke lingkaran terluar dari suatu struktur komunitas Batak, khususnya Batak-Toba.

Umpama Batak-Toba mengatakan,”Molo sandunuk dangkana, sandunuk do rantingna. Molo hasuhuton hahana, angina ma parsautna, dohot sabalikna”. Artinya, jika si abangan hasuhuton maka adiknya lah Parsinabul atau Parsaut yang mengatur, mengarahkan, memandu ataupun juru bicara pesta atau ulaon adat tersebut.

Karena Parsinabul atau Parsaut diangkat dan/atau ditunjuk melalui musyawarah bertingkat dan berjenjang (baca: Marsirenggetan manang Marsiarisan) maka kedudukan atau posisi seorang Parsinabul atau Parsaut adalah mewakili seluruh hasuhuton, paidua ni suhut, maroppu-oppu, ataupun satu marga tertentu maka seorang Parsinabul atau Parsaut bertindak atas nama seluruh komunitas tersebut. Sehingga seorang Parsinabul atau Parsaut sering mengatakan, ”sada si lompa gadong, dua si lompa puli. Tung sada pe sidok hata, sude ma hita dapotan uli”. Artinya, jika satu orangpun berbicara (baca: Parsinabul atau Parsaut) maka seluruh komunitas mendapat berkat atau kebahagiaan.

Sebagai juru bicara tunggal memiliki otoritas seorang Parsinabul atau Parsaut harus mampu memerankan diri perekat (baca: mangarangkum) seluruh pihak-pihak yang terlibat pada suatu pesta atau ulaon adat dengan selalu berikhtiar atau beraksioma, ”Marsilanlan uruk-uruk, marsilanlan aek toba, na metmet ndang marungut-ungut, na matua pe tongtong marlas ni roha”. Artinya, Parsinabul atau parsaut harus mampu serta berupaya keras untuk menciptakan kenyamanan, keamanan, kebahagiaan, suka cita pihak-pihak yang terlibat di dalam pesta atau ulaon adat dengan demikian tidak ada yang bersungut-sungut atau merengkel mulai dari anak-anak hingga para orang tua.

Karena itu, seorang Parsinabul atau Parsaut harus memiliki kualifikasi antara lain;

1.Seseorang yang sudah manggarar adat (baca: Marunjuk/Mangadati, Manggarar Sulang-sulang ni pahompu) karena menurut konsep dasar adat Batak-Toba seseorang yang belum manggarar adat tidak layak menerima adat. Konon lagi menjadi Parsinabung atau Parsaut yang memikul hak dan tanggung jawab adat satu marga. Apakah layak dan masuk akal seseorang yang belum mangadati menuntut adat kepada pihak lain ? Bukankah prinsip dasar adat Batak, khususnya Batak-Toba adalah menerima dan memberi (baca: manjalo dohot mangalehon) ketentuan adat-budaya yang menjadi pranata aturan komunitas ?

Sehingga seseorang yang tidak pernah memberi (baca: manggarar adat) bagimana dia berhak menerima (baca: manjalo) adat dari pihak lain. Apalagi bertindak sebagai raja adat (baca: Parsinabul atau Parsaut) ? Ini adalah salah satu elemen paling dasar menentukan layak tidaknya seseorang Parsinabul atau Parsaut pada Batak-Toba.

2.Seseorang harus na Gabe (baca: Maranak, Marboru) bukan hanya didasarkan pada kecakapan, kepintaran berbicara saja, tetapi memiliki kualifikasi na Gabe. Karena seorang raja Parsinabul atau Parsaut di dalam memberikan wejangan, umpasa atau poda natur kepada pihak lain bertindak atas nama ompu ataupun marga. Kedudukan seseorang telah ditentukan Tuhan Yang Maha Kuasa dan tidak seorang pun bisa menolaknya seperti dikatakan umpama, ”Tu ginjang ninna porda, tu toru pambarbaran. Tu ginjang ninna roha, patoruhon do sibaran”. “ Ndada simanuk-manuk si bontar andora, Ndada si todo turpuk siahut lomo ni roha”. “Andilo na hinan hadang-hadangan saonari, turpuk ni badan na hinan ingkon jaloon ma saonari”. Artinya, apa yang telah digariskan sang Pencipta terhadap seseorang tidak ada yang mampu menolaknya. Na Gabe, Na Marurat (baca: holan baoa), Na Marbulung (baca: holan boru/punu), dan ada pula tidak berketurunan (baca: purpur). Jenis kategorial ini adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap diri seseorang sehingga harus diterima sebagai garis kehidupan atau takdir (baca: turpuk, gurat-gurat ni tangan) manusia.

3.Kestabilan emosi, sejuk, dan karakter luhur (baca: lambok, sorta, lambas, hormat, raja) agar mampu menjadi panutan atau tiruan kepada pihak lain. Parsinabul atau Parsaut tidak bisa orang emosional, merasa paling pintar dan menggurui pihak lain karena ulaon adat adalah, “aek toba tu aek laut, dos ni roha sibahen na saut”, bukan hata dokhu. Artinya, ulaon adat adalah kata sepakat bersama, bukan adu urat leher (baca: jogal rungkung, jogal baut) memaksakan kehendak kepada pihak lain. Pesta atau ulaon adat bukan seminar atau diskusi publik sehingga harus dihindarkan perdebatan yang memicu pergesekan atau perselisihan. Mengutarakan pendapat atau mengajukan pertanyaan harus selalu diusahakan dengan sopan-santun, lembut, tenang, jelas dan tegas karena pembicaraan yang diutarakan dengan lembut dan tenang akan mendapat respons positif dari lawan bicara.
Sebaliknya, setiap perkataan yang terlontar dilatari emosi serta ego pribadi akan mendapat umpan balik keras, bahkan kasar sebagai dampak timbal-balik atau reaksi dari perkataan tidak sejuk tersebut.
Parsinabul, atau Parsaut tidak boleh menonjolkan ego pribadi, tetapi justru harus menyadari bahwa dirinya adalah personifikasi komunitas yang diwakilinya. Sehingga segala tindak tanduknya pada saat mengemban tugas Parsinabul atau Parsaut akan berdampak secara langsung terhadap komunitas (baca: oppu, marga) bersangkutan.

4.Memiliki kehati-hatian (baca: manat), hormat (baca: somba), serta sayang, pengayom (baca: elek) sebagaimana falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) dan mampu menjaga harmoni hubungan antar sesama, termasuk kepada Dongan Sahuta. Sikap dan sifat sebagaimana disebutkan merupakan syarat dasar yang perlu dimiliki seorang Parsinabul atau Parsaut karena sangat mustahil mampu menjadi seorang Parsinabul atau Parsaut yang mantap tanpa mengerti, memahami, serta mengamalkan arti dan makna Dalihan Na Tolu (DNT) paopat Sihal-sihal (Baca: Dongan Sahuta). Umpama Batak-Toba mengatakan, ”Tarida do imbo sian soarana, tarida do hau sian parbuena, tarida do gaja sian bogas ni patna”. Artinya, eksistensi seseorang dibuktikan pola tingkah lakunya. Parsinabul atau Parsaut tidak bisa serampangan tetapi harus hati-hati (baca: anit, enet, ampit, tutur, nonor, jamot, tiar, tiur, tota) seperti umpama mengatakan, ”Jamot si ida hutu, jamotan si ida gomit. Jamot unang tarrobung, anit sotung tarsulandit”. Karena bisa saja akibat kekurang hati-hatian Parsinabul atau Parsaut menimbulkan ekses negatif kepada hasuhuton, keluarga ataupun kerabat. Parsinabul atau Parsaut tidak boleh berikhtiar memuaskan hasrat dan kehendak pribadi (baca: pasombu-sombu tagas), melainkan berupaya keras memperbaiki yang kurang baik dengan prinsip, ”Pauk-pauk hudali, pauk-pauk tarugi, na tading diulahi, na hurang di pauli. Asa nakkok si puti, turun si deak, tusi na ummuli, tusi ma ta pareak”. Artinya, bila ada yang kurang pas pada suatu pesta atau ulaon adat, Parsinabul atau Parsaut harus mampu untuk memberi solusi yang terbaik, bukan sebaliknya justru menambah kekeruhan (baca: manggunturi, manggaori, manggugai) pada ulaon adat tersebut. Ulaon adat harus mampu melahirkan keharmonisan dan kebahagiaan seperti ungkapan menyatakan “Sinuan bulu sibahen n alas, Sinuan partuturan sibahen na horas”. Artinya, ulaon adat adalah salah satu wadah untuk membangun dan mempererat harmoni hubungan keluarga dan kekerabatan, bukan sebaliknya.

5.Menguasai bahasa Batak-Toba dengan baik dan benar (baca: marhata Batak na polin) karena seorang Parsinabul atau Parsaut adalah personifikasi lembaga adat-budaya Batak-Toba sehingga dituntut kemampuan menggunakan bahasa yang baik dan benar yang merupakan salah satu unsur adat-budaya. Bila seorang Parsinabul atau Parsaut mampu berbicara dengan bahasa Batak-Toba tulen, termasuk pada saat penyampaian umpasa ataupun umpama maka jiwa, nurani kebatakan akan terasa tersentuh, bergelora, maka umpasa atau umpama akan bernas, penuh arti dan makna nilai-nilai luhur budaya original. Sebaliknya, bila Parsinabul atau Parsaut berbahasa Batak-Toba sepotong-sepotong atau janggal akan mengundang kelucuan, serta perasaan geli (baca: geok) bagi pendengarnya. Menyampaikan umpasa atau umpama bukan sekadar untaian kata-kata seperti pantun, tetapi makna kata yang saling berkaitan menjadi sebuah petuah, wejangan, nasehat (baca: poda natur) serta permintaan berkat dari Tuhan Yang Maha Esa terhadap yang punya hajatan (baca: hasuhuton).

6.Tidak tamak dan rakus (baca: ndang mongkus, ndang ahut, ndang ormus) pada parjambaran, baik jambar hata, jambar uang maupun jambar daging (baca: jagal). Parsinabul atau Parsaut harus selalu mengutamakan kepentingan umum, bukan sebaliknya, menggunakan segala kesempatan untuk kepentingan pribadi. Bila seorang Parsinabul atau Parsaut selalu berkaedah untuk keuntungan pribadi akan menuai ocehan ataupun cibiran yang pada akhirnya menjatuhkan marwah atau martabat bersangkutan. Pendaulatan seseorang sebagai Parsinabul atau Parsaut harus disadari adalah sebuah pelimpahan kepercayaan dari suatu komunitas terhadap seseorang karena memiliki karakter unggul sesuai dengan aturan, norma, serta nilai-nilai luhur adat-budaya Batak-Toba. Ada adagium mengatakan,” ingkon pos do roha manjaga na pinadar”. Artinya, seseorang harus dipercayai menjaga titipan, jangan seperti pagar makan tanaman. Milik bersama tidak boleh dijadikan milik sendiri yang di dalam bahasa Batak-Toba disebut, ”ndang boi ripe-ripe gabe pangumpolan”. Dumenggan do marbagi di bulung ni sarapit-pit unang apala mardua di bulung ni dulang manang sorat mamboan taban-taban. Artinya, lebih bagus sama rata sama rasa daripada mendapat banyak sementara yang lain tidak mendapat sama sekali (baca: adong na borat mamboan jambar, na deba luangan manang ndang dapotan) karena hal itu merupakan cerminan ketidakadilan serta diskriminasi.

7.Tidak reaktif dan paranoid (baca: ndang olo mananggoi hata, manang pantang so ummalo) yaitu mengomentari, menyela, mengkritik lawan bicara (baca: sesama Parsinabul atau Parsaut) karena merasa paling pintar dan paling tahu apa yang sedang diperbincangkan. Seorang Parsinabul atau Parsaut harus mampu menjadi pendengar yang baik sekaligus pembicara yang baik pula. Mampu menahan diri walaupun ada hal-hal yang kurang tepat atau pas (baca: na hurang ampit, dasip, andos) di dalam pembicaraan lawan Parsinabul atau Parsaut. Tidak boleh mendikte lawan bicara, menggurui, apalagi mengintervensi karena hal itu akan menimbulkan ketersinggungan dan ketidaksenangan pihak lain.

8.Memiliki kemampuan diplomasi yang baik untuk mencari solusi permasalahan disebabkan kemungkinan perbedaan adat-istiadat antar komunitas dengan ilmu pengetahuan, kemampuan berdiplomasi, pemahaman dan kemahiran nilai-nilai luhur adat-budaya yang menjadi kearifan lokal di dalam kesetaraan dan kesejajaran. Parsinabul atau Parsaut harus mampu membangun diplomasi, lobi, serta kesepakatan melalui musyawarah diatas fondasi saling menghormati, sehingga tidak ada salah satu pihak dibawah tekanan, intervensi maupun dominasi. Dialog antar Parsinabul atau Parsaut pada suatu pesta atau ulaon adat adalah komunikasi dua arah yang sejajar dan setara saling menguntungkan melahirkan kebahagiaan bersama, seperti umpama mengatakan, ”Sinuan bulu sibahen na las, sinuan partuturan sibahen na horas”. Segala upaya untuk menggapai hal itu menjadi ikhtiar dasar Parsinabul atau Parsaut pada suatu acara pesta atau ulaon adat.

9.Memahami psikologi massa, yaitu mengetahui dan memahami situasi kondisi pihak-pihak yang terlibat pada acara pesta atau ulaon adat, bukan syor sendiri. Parsinabul atau Parsaut harus pintar membaca situasi kondisi setempat, waktu, maupun psikologi seluruh pihak-pihak. Hal ini bertujuan agar seluruh prosesi adat-budaya mendatangkan kegembiraan, kebahagiaan, bukan sebaliknya, justru menimbulkan berbagai protes misalnya, Parsinabul atau Parsaut berbicara bertele-tele, melantur, mengambang yang hanya menyita waktu tanpa arti dan makna hakiki apapun.

10.Demokratis (baca: hata ninta), yakni memberi ruang partisipasi keterlibatan para pihak karena keterlibatan seluruh pihak di dalam sebuah pesta atau ulaon adat Batak-Toba merupakan sukses pelaksanaan pesta atau ulaon adat yang mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan bagi yang punya hajatan (baca: hasuhuton).

Parsinabul atau Parsaut tidak boleh lupa bahwa parjambaran pada Batak-Toba ada tiga jenis, yakni; jambar hata, jambar juhut, dohot jambar hepeng (baca: berbicara, daging, dan uang), sehingga apabila pihak-pihak yang seharusnya berhak mendapatkan parjambaran terabaikan akan timbul ekses negatif dikemudian hari. Dalam bahasa Batak-Toba disebut “ di tean mangolu, di tanom jongjong, di apus bulung rata”. Artinya, dihitung tetapi tidak diperhitungkan atau tidak berarti apa-apa. Hal ini sangat menyakitkan karena kedatangannya pada sebuah pesta atau ulaon adat seperti “raja naro” yaitu tamu tak diundang. Selain daripada itu, seorang Parsinabul, Parsaut harus selalu berusaha menghindarkan kata-kata menurut saya, aku (baca: ningku), tetapi menurut kami, kita (baca: hami, hita) karena apa yang diutarakan seorang Parsinabul, Parsaut adalah mengatasnamakan komunitas.

Dari berbagai kualifikasi seperti diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa eksistensi seorang Parsinabul atau Parsaut di dalam sebuah pesta atau ulaon adat Batak-Toba sangatlah strategis karena itu harus merupakan pilihan putera-putera terbaik dari suatu komunitas yang bertindak atas nama komunitas tersebut.
Karena merupakan personifikasi komunitas maka seorang Parsinabul atau Parsaut perlu dipersiapkan melalui kaderisasi terencana, terprogram, dan berkesinambungan agar tidak terputus mata rantai regenerasi alamiah. Artinya, Parsinabul atau Parsaut yang mumpuni tidak pernah kering pada suatu komunitas tertentu.
Parsinabul atau Parsaut tidak boleh lagi hanya mengandalkan pengetahuan yang sering dilihat atau terjadi (baca: na niida, na somal diulahon halak) seperti ungkapan yang mengatakan, ”Eme na masak digagat ursa, ima na masa ima taula”, tetapi benar-benar melalui penggalian nilai-nilai luhur adat-budaya agar seluruh pelaksanaan pesta atau ulaon adat-budya tidak hanya bermakna seremonial buang-buang waktu dan biaya saja.

Peranan Parsinabul atau Parsaut untuk mengatur, mengarahkan, memandu, serta meningkatkan efektifitas serta efisiensi ulaon adat-budya sangatlah diperlukan dengan tetap mempertahankan, melestarikan nilai-nilai luhur original adat-budaya walaupun singkat padat, tetapi tepat sasaran, sarat arti dan makna. Dengan demikian pelaksanaan adat-budaya bisa dilaksanakan dengan efektif dan efisien tetapi tetap lestari nilai original.

Parsinabul atau Parsaut adalah sistem demokrasi musyawarah bertingkat berjenjang yang belakangan ini dikenal paradigma dari bawah ke atas (Bottom Up) merupakan salah satu nilai adat-budaya Batak-Toba yang perlu digali maksimal menjadi sebuah model manajemen publik ataupun pemerintahan demokratis seperti demokrasi Pancasila yang dianut republik ini.

Nilai-nilai luhur adat-budaya seperti ini tumbuh subur ditengah-tengah komunitas masyarakat bumi Nusantara, dan ada baiknya jika diinventarisasi maksimal untuk memperkuat hasanah budaya nasional, dan tidak mustahil akan menjadi kajian akademik bermakna luar biasa dalam sistem pemerintahan berdasar kearifan lokal.
Horas !
Medan, 28 Nopember 2011

Drs. Thomson Hutasoit.

Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat Kajian Transparansi Kinerja Instansi Publik (ATRAKTIP), Penasehat Punguan Borsak Bimbinan Hutasoit, Boru, Bere Kota Medan Sekitarnya, Wakil Sekretaris II Parsadaan Pomparan Toga Sihombing (PARTOGI) Kota Medan Sekitarnya, Penasehat Punguan Toga Lumban Gaol Sektor Helvetia Medan Sekitarnya, Penulis Buku Keluhuran Budaya Batak-Toba.

Read Full Post »

%d bloggers like this: