Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Budaya & Adat Batak’ Category

Pertanyaan diatas mungkin sedikit menggelitik. Namun akan membuat rasa penasaran bagi orang yang belum mengerti apa itu sisuan bulu.

Umpasa sijolojolo tubu mandok:

Sinuan bulu sibaen na las
Pinungka partuturon asa horas-horas.

Sinuan bulu sibaen na las

Dahulu kala setiap membuka perkampungan baru (mamungka huta) maka akan dibuat parik(tanggul) yang mengelilingi kampung, parik tersebut  juga ditanami bambu (disuan bulu). Adapun tujuan pembuatan parik adalah sebagai benteng untuk menyulitkan binatang buas yang akan mengganggu/mengusik ketentraman warga kampung. Adapun tujuan menanam bambu selain bertujuan sebagai pagar pengaman juga untuk melindungi warga kampung dari dinginnya terpaan angin. Maklumlah hembusan angin sangat dingin bahkan bisa menusuk hingga ke sendi-sendi tulang.

Gelar ”sisuan bulu” disebut karena setiap kampung baru diawali dengan menanam bambu disekitar kampung sebagai pagar atau benteng kampung. Gelar sisuan bulu “diberikan”  kepada mereka yang membuka perkampungan. Selanjutnya mereka dinamai “Raja Huta”. Raja Huta ini adalah orang yang memprakarsai pembukaan ”huta” yang baru dan dia disebut juga sebagai ”sipungka huta” atau ”sisuan bulu”.  Raja huta ini bukan merupakan penguasa tunggal dan tertinggi tetapi dalam penyelenggaraan kepemimpinan teritorial dan pemerintahan dia bersama dengan sejumlah ”pangitua ni huta” (sesepuh atau pemuka masyarakat) sehingga kepemimpinan huta bersifat kolektif bukan partial.

Selanjutnya mereka (pemimpin kolektif – sisuan bulu dan sesepuh/pemuka masyarakat) inilah yang membuat aturan/tatanan hukum dikampung tersebut dan merekalah tempat bertanya. Kelak kemudian jika terjadi pelanggaran maupun perselisihan kepada merekalah dimintakan pertimbangan atas sanksi atau hukuman yang akan diberikan.

Demikian juga halnya jika akan melaksanakan kegiatan adat maka

Pusuk ni tobu na poso, uramuram ni situma,
Sungkunon ma gogo tu na poso, ruhut adat tu natuatua.

Kepada kaum muda kita tanyakan hal yang berkaitan dengan kesiapsediaan (kemampuan tenaga dan persiapan) untuk melaksanakan kegiatan dimaksud. Kepada para tetua kita tanyakan tentang ruhut-ruhut paradaton(aturan maupun adat istiadat).

Pinungka partuturon asa horas-horas.

Dahulu kala sangat lumrah terjadi perang antar kampung maupun antar marga mengingat satu kampung biasanya hanya dihuni satu marga tertentu. Jadi tak jarang jika terjadi perang antar kampung maka melibatkan marga dan umumnya belum memiliki ikatan kekerabatan (partuturon). Untuk menghindari perang antar kampung yang sudah pasti akan merugikan semua pihak, maka beberapa marga sepakat untuk menjalin hubungan kekerabatan baik itu melalui pernikahan putra putri mereka maupun melalui ikatan janji (marpadan). Sangat logis dan masuk akal apabila telah terjalin hubungan kekerabatan, maka kemungkinan perang antar marga/kampung tersebut akan sangat kecil karena bagaimana mungkin pihak hulahula menyerang kampung parboruonnya, demikian sebaliknya tidak mungkin pihak parboruon menyerang kampung hulahulanya.

Jika demikian halnya maka gelar sisuan bulu hanya kepada mereka yang membuka perkampungan baru. Jadi jika ada orang yang merasa sisuan bulu padahal dia tidak membuka perkampungan baru, maka sesungguhnya orang tersebut adalah pembual/pembohong besar yang gila hormat dan merasa dirinya orang terpandang.

Sai daoma sian hita angka sisongon i ate ? (Jauhlah dari kita sikap seperti itu, bukan?).

Semoga tulisan ini menambah wawasan kita tentang sisuan bulu.

Pinadomu ni (dirangkum oleh):

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Referensi dan daftar pustaka:

http://haumanarata.wordpress.com/2009/12/09/jabatan-tohonan-sintua-majelis-di-hkbp/

Panuturion ni angka natuatua.

(more…)

Read Full Post »

Disetiap kegiatan mandok hata maka hampir pasti kita akan mendengar beberapa umpasa yang merupakan doa dan harapan dari si yang menyampaikan umpasa. Begitu satu umpasa selesai di sampaikan maka secara otomatis khalayak ramai yang hadir pada acara tersebut menyahutinya Ima tutu (yg sering terdengar emma tutu).

Seorang kawan bertanya apa makna “Ima tutu” tersebut ?. Sepanjang pengetahuan saya maka arti dan makna “Ima tutu” tersebut adalah mengaminkan doa dan harapan dari si yang memberikan petuah maupun umpasa tersebut.

Dalam beberapa kali kesempatan bertemu dan berbincang tentang Budaya Batak dan KeKristenan dengan amang Pdt. A. Silitonga, BSM, menurut beliau sesungguhnya dahulu kala kata “Ima tutu” itu masih harus diikuti kata “Olop olop” yang bermakna dengan suka cita kami menerima doa dan harapan tersebut. Menurut beliau saat ini sudah sangat jarang mendengar kata “Olop olop” tersebut dan itu menandakan terjadinya pergeseran pada budaya Batak.

Penasaran akan hal tersebut saya juga bertanya kepada beberapa “natua-tua” dan umumnya mereka membenarkan bahwa sesungguhnya sesudah kata “Ima tutu” maka langsung diikuti kata “Olop olop”.

Contoh ketika Hulahula menyampaikan umpasa:

Bintang na rumiris ma tu ombun nasumorop.
Anak pe antong di hamu riris boru pe tung torop.

Langsung di sahuti oleh pihak parboruon( keluarga yang menerima petuah dan umpasa tersebut) dengan ungakapan “Ima tutu, Olop olop”.

Memang saya akui sepanjang pengamatan saya di setiap pesta unjuk (pesta nikah) hampir tidak pernah mendengar kata “Ima tutu” yang langsung diikuti kata “Olop olop”.  Yang umum berlaku  ialah mardalan ma Olop olop dung sidung mangampu (dipenghujung acara adat sebelum ditutup dengan doa oleh Hulahula/Parboru, maka dilaksanakan acara Olop olop) yang menurut hemat saya maknanya jauh berbeda.

Lantas apa upaya kita ?. Saya mulai mempraktekkan hal tersebut. Sabtu 27 Agustus 2011 lalu ketika saya menjadi Raja Parhata ulaon pasahat sulang sulang pahompu marga Sitorus tu hulahula i Raja Sirait di Aula Gereja Oikumene Perumnas I Bekasi (Jl. Komodo Raya), maka setiap Hula-hula Sirait menyampaikan umpasa saya langsung jawab “Ima tutu, Olop olop”.

Saya akan berupaya untuk konsisten melakukan hal itu dalam setiap kesempatan mengingat makna yang luar biasa dari kata “Ima tutu, Olop olop” tersebut.

Semoga tulisan ini dapat menjadi bagian dari upaya pencerahan kepada generasi muda Batak yang rindu untuk mengenal dan mempelajari budaya Batak.

Tangerang 01 September 2011.

Teriring salam dan doa.

St. Sampe Sitorus/ br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Saya sedang berupaya untuk mengerti betul arti umpasa. Rasa penasaran membuat saya untuk mencari tahu arti setiap kata dan makna yang terkandung pada setiap umpasa. Saya juga berupaya agar tahu latar belakang / filosopi yang terkandung didalamnya.

Tulisan ini akan terus saya perbaharui setiap mendapatkan pengetahuan yang baru tentang umpasa. Berikut beberapa yang dapat saya posting.

1.   Paukpauk hudali, Pagopago tarugi.
      Natading taulahi, Nasega tapauli.
 
Hudali = cangkul
Tarugi=kayu batang pohon enau(pakko), jenis kayu ini biasanya dipakai sebagai patok batas tanah karena terkenal tidak mudah busuk. Biasanya kayu batang enau ini dipantikkon (dikubur) di parbalohan (sudut batas sawah dengan sawah milik orang lain). Sangat pantang untuk memindahkan patok , namun jika rusak secepatnya untuk diganti dengan disaksikan oleh pemilik sawah yang berbatasan dengan kita.

Jika kita artikan maka umpasa diatas mengandung makna sbb:

Jika kita membajak sawah maka bagian yang tertinggal/terlewatkan belum terbajak akan kita ulangi bajak kembali agar tidak ada bagian sawah yang tidak terbajak.

Ada batas (patok) yang jelas yakni pago yang biasanya terbuat dari kayu batang enau. Jika kayu batas tersebut rusak maka kita akan memperbaikinya agar batas tetap ada dan tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Dalam artian sehari-hari bila ada tindakan atau perbuatan yang kurang maupun lebih (ter) mohon maaf dan mari kita perbaiki bersama agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.

Demikian sementara yang dapat kami bagikan, sambil menunggu masukan dari para pembaca untuk menambah khasanah pengetahuan kita tentang umpasa.

Medang Lestari 28 Agusutus 2011

Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Sabtu 09 Juli 2011 kami menghadiri pesta pernikahan (pesta unjuk)mempelai pria marga Siburian dan mempelai perempuan boru Manullang bertempat di Gedung Sejahtera Pondok Gede. Kami Sitorus sian Lumban Tongatonga Silamosik hadir sebagai Hulahula Anak Manjae dari keluarga Parboru (Manullang).

Sudah menjadi kebiasaan saya setiap menghadiri undangan adat Batak maka saya akan dengan seksama memperhatikan setiap tahapan pelaksanaan adat. Maklumlah saya sedang semangat belajar menjadi Raja Parhata. Berikut ini menurut pengamatan saya yang kurang lazim di pesta unjuk tersebut sbb:

Tintin Marangkup sesama marga Manullang.

Parboru adalah marga Manullang (mempelai wanita boru Manado diain menjadi boru Manullang/menjadi boru Tulangnya mempelai pria). Hulahula dari paranak berarti marga Manullang. Dengan demikian pengantin pria mangalap boruni Tulangnya (menikah dengan paribannya). Jadi seyogyanya untuk pernikahan seperti ini TIDAK BERLAKU Tintin Marangkup, melainkan SURUNG SURUNG Tulang tangkas.

Namun apa yang terjadi di pesta unjuk tersebut ?. Tintin marangkup dan semua “panghataion dohot umpasa” berjalan sebagaimana lazimnya seorang mempelai pria menikah dengan boru marga lain. Seolah Parboru dan Hulahula ni Paranak (Tulangnya mempelai pria) beda marga. Bahkan umpasa ini dikatakan Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, boru marga dia pe dialap bere i sai tong doi boru ni Tulang. Bukankah berenya menikahi boru mereka yakni boru Manullang ? Jadi seharusnya umpasa tersebut TIDAK mereka kemukakan. Bagaimana mungkin marga Manullang mengatakan kepada sesama marga Manullang mulai sadarion sisada boru ma hita. Bukankah sudah sejak dahulu kala marga Manullang sisada boru ?. Menurut hemat saya seharusnya pihak parboru hanya pasahathon surung surung Tulang tangkas ni helanya. Menggelitik juga ketika pihak Tulang tangkas agak “tertawa cenderung seperti kurang serius” ketika mangalusi hata ni parboru.

Menurutku hal tersebut sebuah bagian rangkaian adat yang terkesan dipaksakan untuk terlaksana, seolah olah setiap pesta unjuk harus ada tintin marangkup.

Note: Tintin marangkup secara gamblangnya adalah kesepakatan/berjanji antara Tulangnya mempelai pria dengan orangtua mempelai wanita bahwa meskipun mempelai pria menikah bukan dengan putri mereka melainkan dengan putri dari marga lain, namun mereka akan memperlakukan mempelai wanita sama seperti putri mereka sendiri. Pihak Tulangnya mempelai pria akan memperlakukan si mempelai perempuan sama seperti putri mereka. (Sisada boru ma nasida). Kesepakatan ini sesungguhnya membawa konsekuensi logis dalam banyak hal.

Boha pandapot ni angka dongan ?. Bahen hamu pandapot muna ate?

Tabe mardongan olop-olop.

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Jotjot pinarrohahon hatiha mandok hata diangka rumang ni ulaon, ulaon nametmet (dijabu) manang ulaon nabalga (mangajana) didok angka namandok hata tarsongon on:

Pinuji ma Tuhanta ala asi dohot holong ni rohaNa boi hita marnatampak marpungu di tingki on, marbonsir ma i naung manjalo pandidion nabadia …. , sipata dipartingkian naasing hatiha mangapuli binege adong namandok: marbingkas ma i naung jumolo dialap Tuhanta ina na tahaholongi on.

Panuturion ni natua-tua (ala nuaeng on ahu marsiajar gabe Raja Parhata jadi godang do pinangido panuturion sian angka natua-tua termasuk ma angka Raja Parhata Senior), didok SITONGKA do dohonon hata marbonsir manang marbingkas hatiha mandok hata iba.

Aha umbahen na di dok nasida songon i on do:

Marbonsir sian hata bonsir marlapatan do i (dalam bahasa Indonesia-  penyebab, yang menyebabkan, disebabkan karena), namun lebih cenderung ke hal yang negatif. Contoh: Bonsir soada do nian parbadaan nasida. Bonsir hasesega, Bonsir hamamago.

Marbingkas sian hata bingkas, molo na bingkas ima “sambil” (dalam bahasa Indonesia perangkap). Dikampung halaman kami “sambil” adalah sejenis perangkap. Untuk menangkap burung Silopak dipasanglah “sambil” – perangkap berupa sangkar burung dimana didalam sangkar ada burung Silopak betina, maka burung Silopak jantan akan datang mendekat dan ketika burung jantan masuk, maka otomatis “sambil” tertutup (masuk perangkap). Demikian juga untuk menangkap “aili” (babi hutan) maka dipasang “sambil” -sejenis ranjau, ketika babi hutan tadi menginjak maka otomatis  kawat sling melibas leher maupun bagian tubuh babi hutan tersebut.

Molo songon i aha do sidohonon ? Tarsongon on ma nian:

Pinuji ma Tuhanta ala asi dohot holong ni rohana boi hita marnatampak marpungu di tingki on, SIALA naung manjalo pandidion nabadia …. , SIALA naung jumolo dialap Tuhanta ina na tahaholongi on.

Siala sian hata ala, namarlapatan (bahasa Indonesia) oleh karena.

Contoh:

Marbonsir ma i -> maknanya sesungguhnya kita kurang menyukai hal itu terjadi.

Marbingkas ma i -> maknanya sesungguhnya kita menghindari hal tersebut terjadi, tapi apa daya kita telah terperangkap didalamnya.

Siala -> maknanya oleh karena, cenderung positif.

Memang sulit menjelasakan perbedaan kata Bonsir, Bingkas dan Siala, namun jika dalam rangkaian kalimat maka maknanya akan jauh berbeda.

Alai nang pe songon i hatangki di tambai angka dongan ate ?

Tabe mardongan tangiang,

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus).

Read Full Post »

Dalam beberapa kali perbincangan dapat saya simpulkan secara umum kita merasakan bahwa hampir semua ulaon adat Batak “sangat menyita waktu” (parsadarian) dan terkesan bertele-tele. Mengapa bisa demikian ?. Dari beberapa pendapat yang mengemuka dapat saya rangkum sbb:  (contoh pesta unjuk)

  1. Banyak unsur “kura-kura dalam perahu” terkesan berbasabasi. Contoh di Jabotabek marhata sinamot dilaksanakan sewaktu pesta unjuk sehingga terkesan basabasi karena pada prinsipnya semuanya sudah dibicarakan ketika patua hata dan marhusip nagogo. –> Masalahnya adalah ketika Patua Hata dan Marhusip nagogo pihak Hulahula dan horongnya Tulang tidak ikut serta sehingga kepada mereka (dijolo ni mangajana) harus di sampaikan perihal sinamot dan mereka harus mendengar pembicaraan kedua belah pihak (paranak maupun parboru).
  2. Terlalu banyak waktu tersita ketika akan pasahathon manang manjalo todoan/panandaion. –> Seringkali orang yang sudah dihunjuk untuk pasahathon/manjalo todoan masih harus di cari terlebih dahulu (ndang pintor mangarade).
  3. Terlalu banyak waktu terbuang ketika mandok hata sewaktu akan mangulosi. –> Mandok hata bertele-tele dan mengulang persis apa yang sudah disampaikan pembicara sebelumnya (isarana pulik mandok hata  jala mangido musik boru sian hulahula). Disisi lain terkadang yang disampaikan tidak ada relevansinya dengan ulaon (malah ada yang terkesan seperti martarombo).

Point 1 agak sulit solusinya, dibutuhkan kesepakatan semua pungun marga jika hendak mengubahnya. Note: Nasomal di Bonapasogit (Toba dohot nahumaliangna) ulaon marhata sinamot dipatupa dung mulak sian martumpol di gareja. Molo di Jabotabek mulak sian martumpol dipatupa ma Martonggo Raja manang Marria Raja.

Point 2 & 3 dapat kita minimalisir dengan mudah. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran dan disiplin.

Pihak paranak dan parboru haruslah punya prinsip bahwa manjanghon haroro ni parumaen di jabu ni paranak ingkon di torang ni ari. (Menyambut kedatangan menantu dirumah pihak laki-laki haruslah sebelum fajar menyingsing).

Boha pandapot ni angka dongan ? Di tambai dongan ma ate !.

Tabe mardongan tangiang.

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Marsogot Jumat 10 Juni 2011 pukul 15.00 WIb, naeng Martumpol ma anaknami Martin Octavianus Sitorus, SH dohot oroanna Penny Juniska br Situngkir, SH maringanan di HKBP Ressot Slipi – Jakarta Barat. (Putra kel. Robinson Sitorus/br Sijabat – Slipi Jakarta Barat)

Songon na somal tontu dung sidung acara partumpolon pintor pasahaton ni pangula ni huria do partingkian tu hasuhuton paranak nang parboru laho mandok hata. Sian dos ni roha ni hami paranak ditingki tonggo saripe, marsogot mandok hata pinasahatma tu anggidoli St. Biller Sitorus (A.Alex) bapatua ni si Martin (ompu martinodohon). Tarsongon on ma hata na naeng sipasahaton ni nasida:

Tamada do hita mandok mauliate tu Amanta Debata Pardenggan Basa siala asi dohot holong ni roha na natongtong mangiringiring hita saluhutna sian angka ari naung salpu rodi tingki on tarlumobi ma i  sadarion mansai denggan jala une ulaon Partumpolon ni anak nami dohot oroanna ima na naeng parumaennami,  boru ni Hulahulanami Raja i Raja Situngkir. Tangkas do nangkin nunga di patumpolhon nasida di jolo ni huria ni Tuhanta  marhite naposona amang pandita.

Asa dohonon nami ma antong mauliate godang tu amang pandita …………………… suang songoni tu saluhut parhalado ni hurianta HKBP Ressort Slipi naung manghobasi jala patupahon ulaon partumpolon i. Udut tusi pasahaton nami do mauliate tu organist dohot sude punguan koor naung mamuji  pasangaphon goar ni Tuhanta marhite ende dohot puji-pujian naung ni endehon nasida, marsangap ma antong goar ni Tuhanta jala hita pe saluhut taruli pasu-pasu hinorhon ni ende puji-pujian i.

Namangihut, mauliate godang ma hupasahat hami tu saluhut hamu nahuparsangapi hami, Hula-hula nami Raja Sijabat, Tulang dohot Bona Tulang nami  Raja Manurung, Tulang Rorobot nami Raja Sitohang, saluhut horong ni Hula-hula dohot Tulang,  suang songon i ma nang di hita namardongan tubu pomparan ni ompunta Raja Sitorus, Boru dohot Bere/Ibebere nami, ale-ale, pariban, dongan sahuta nang  dongan sahuria, suang songoni ma di hamu Hula-hula nami Raja i Raja  Situngkir dohot saluhut uduran muna, mauliate godang ma hupasahat hami di haradeon dohot harentaon muna mangadopi acara partumpolon ni anak nami dohot boru ni Raja i di namarsangkap nasida naeng mamungka pardongan saripeon jala naeng manjalo pasu-pasu parbogason nasida di ari Jumat 17 Juni 2011 na naeng ro marhite naposo ni Tuhanta di bagas joro on.

Ala ni i,  marhite on tung  gomos do pangidoon nami asa rap taboan nasida di tangiangta, asa tiur sude sangkap nasida, jala dao ma angka abat-abat. Suang songoni ma nang di hami bona ni hasuhuton paranak dohot Hula-hula nami Raja Situngkir, boan hamu hami ditagiangmuna asa dipagogoi jala di parbisuhi hami di na naeng mangarade patupahon angka nahombar tu pamasupasuon dohot pesta unjuk ni ianakhon nami.

Dibagasan las ni roha, sian asi dohot holong ni Tuhanta marhite pasu-pasuNa, huparade hami do kopi, teh manis dohot lampet asa rap manghalashon ma hita saluhutna. Botima mauliate. Horas.

Note: Ulaon Tonggo Raja nunga dipatupa diari Sabtu 28 Mei 2011 na salpu.  Ido umbahen dang pola hatahononhon asa rap udur hita Sitorus, Boru dohot bere tu bagas ni hasuhuton. Jadi dung mulak sian gareja molo tung rap udur pe hami namarhahamaranggi tu bagas ni hasuhuton paranak dang tonggo raja be, holan na manaringoti angka pangaradeon nama i.

Tarsongon i ma gambaranna, boi ma dipahantus.

Tabe mardongan tangiang.

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: