Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Budaya & Adat Batak’ Category

Berikut adalah garis keturunan dan kurun waktu masa hidup dari mulai Raja Sitorus hingga generasi Sampe Sitorus (penulis) berdasarkan catatan yang dimiliki oleh almarhum ayahanda Op Tamado Sitorus (Paian Sahala Halomoan Sitorus). Detail silahkan klik link berikut. garis-keturunan-raja-sitorus-hingga-sampe-sitorus

Garis Keturunan

Kami belum menemukan catatan mengenai kurun waktu masa hidup Raja Sitorus dan Raja Dori. Bila diantara pembaca ada yang memiliki catatatn/data mengenai hal tersebut mohon kesediaannya untuk dapat berbagi informasi dan salaing cross check. Teriring salam dan doa. St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus).

Read Full Post »

Istilah AMPARA mulai populer dan berkembang pesat akhir tahun 80-an hingga saat ini dikalangan orang muda suku batak (halak kita) terutama mereka yang berada di daerah perantauan (di tano parserahan).

Secara umum istilah AMPARA tidak berlaku bagi orang-orang tua (natua-tua) khususnya yang tinggal di Bonapasogit karena pengetahuan dan pemahaman mereka atas TAROMBO (hubungan kekerabatan dari masing-masing). Hal ini disebabkan karena setiap orang di Bonapasogit pasti langsung tahu memanggil apa kepada “Dongan tubunya” (orang yang semarga dengannya).

Belakangan ini muncul istilah Ampara dan Ampiri khususnya didunia maya (Facebook, Twitter, dsb) seolah-olah Ampara untuk Pria, Ampiri untuk Wanita. Banyak diantara kita generasi muda yang belum memahami makna dan hakekat dari kata AMPARA, termasuk penggunaannya dalam hubungan kekerabatan sehari-hari, sehingga tanpa kita sadari sebenarnya seringkali kita keliru mengartikan dan menggunakannya.

Mencoba meluruskan hal tersebut, saya berbagi pemahaman melalui tulisan ini, tentu setelah mengumpulkan informasi termasuk “panuturion sian natua-tua”. Selanjutnya dapat saya paparkan sbb:
Istilah AMPARA (appara) yang dalam kata yang lainnya disebutkan juga dengan SANINA (sa ina-senina) adalah sebutan hubungan kekerabatan dalam masyarakat suku batak antara dua orang yang berasal dari satu leluhur yang sama (biasanya satu marga) dan belum mengetahui secara jelas dan pasti detail dari letak/kedudukan kekerabatannya (tarombo) siapakah yang secara kedudukan adat (parhundul sian partubu) lebih tua (siangkangan) atau lebih muda (sianggian), dan juga masing-masing belum mengetahui secara generasi siapakah menjadi bapak (amang) dan siapa yang menjadi anak (anaha).

Selanjutnya setelah kedua orang tersebut bercerita dan menjelaskan posisi masing-masing menurut garis leluhur (martarombo) sampai ditemukannya kedudukan dan posisi masing-masing, maka secara otomatis penggunaan istilah ampara/appara/sanina/senina tersebut akan gugur dan tak lagi boleh digunakan, dan harus digantikan dengan sebutan menurut garis dan kedudukan yang ada seperti disebut sebelumnya, hahadoli, anggidoli, amanguda, amangtua, anaha, ompung dan lain-lain sesuai adat dan budaya masyarakat batak.

Contoh:
Saya Sampe Sitorus ketika pertama kali berkenalan di Facebook dengan Lesden Sitorus kami bertegur sapa “Horas Ampara”.
Kemudian kami mulai berkenalan satu sama lain, saya memperkenalkan diri Pomparan Sitorus Dori sian Parompuon Raja Mandidang Sitorus
dan jika dirunut dari Sitorus, maka saya generasi ke 15 .
Lesden pun mengenalkan dirinya Pomparan Sitorus Dori dari Amborgang. Dari keterangannya tersebut saya langsung tahu bahwa dia Pomparan Raja Naohot( Lumban Nabolon), hal tersebut semakin tegas ketika Lesden katakan dia pomparan Op. Raup. Merujuk pada tarombo kami sebagaimana kami posting di https://sitorusdori.wordpress.com/tarombo-kami/ maka saya otomatis memanggilnya Hahadoli, seyogyanya jika urutan generasi kami sama maka dia akan memanggilku Anggidoli. Namun demikian karena Lesden “belum bisa” menjelaskan generasi ke berapa. Namun dapat saya perkirakan Lesden setidaknya generasi ke 16 mengingat Pomparan Raja Naohot torop partubu-sopar dibandingkan dengan Pomparan Raja Mandidang. Dengan pertimbangan perbedaan usia akhirnya kami sepakat Lesden memanggil saya bapauda(amanguda) dan saya memanggilnya anaha (level anak).
Contoh lain jika saya berkenalan dengan seorang Sitorus yang langsung memperkenalkan dirinya Sitorus Pane maka kami TIDAK BOLEH menggunakan sebutan Ampara. Otomatis saya memanggilnya Hahadoli dan dia memanggil saya Anggidoli.

Atas dasar contoh diatas, maka dapat kita simpulkan:
1. Sebutan Ampara HANYA BERLAKU SEMENTARA diawal pertemuan/perkenalan hingga kita martarombo (saling berkenalan menurut silsilah garis keturunan).
2. Setiap bertemu/berkenalan dengan dongan tubu (semarga) KITA HARUS segera/langsung martarombo agar tahu persis kedudukan masing-masing.
3. Setelah tahu kedudukan masing-masing maka TIDAK diperkenankan lagi menggunakan sebutan Ampara.

4. Untuk perempuan hanya ada sebutan Pariban yang selevel usia atau Namboru kepada yang lebih tua. Kita tida mengenal istilah Ampiri.

Demikianlah yang dapat saya bagikan, semoga bermamfaat. Bila ada pemahaman lain silahkan ditambahkan.

Teriring salam dan doa

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Pertanyaan diatas mungkin sedikit menggelitik. Namun akan membuat rasa penasaran bagi orang yang belum mengerti apa itu sisuan bulu.

Umpasa sijolojolo tubu mandok:

Sinuan bulu sibaen na las
Pinungka partuturon asa horas-horas.

Sinuan bulu sibaen na las

Dahulu kala setiap membuka perkampungan baru (mamungka huta) maka akan dibuat parik(tanggul) yang mengelilingi kampung, parik tersebut  juga ditanami bambu (disuan bulu). Adapun tujuan pembuatan parik adalah sebagai benteng untuk menyulitkan binatang buas yang akan mengganggu/mengusik ketentraman warga kampung. Adapun tujuan menanam bambu selain bertujuan sebagai pagar pengaman juga untuk melindungi warga kampung dari dinginnya terpaan angin. Maklumlah hembusan angin sangat dingin bahkan bisa menusuk hingga ke sendi-sendi tulang.

Gelar ”sisuan bulu” disebut karena setiap kampung baru diawali dengan menanam bambu disekitar kampung sebagai pagar atau benteng kampung. Gelar sisuan bulu “diberikan”  kepada mereka yang membuka perkampungan. Selanjutnya mereka dinamai “Raja Huta”. Raja Huta ini adalah orang yang memprakarsai pembukaan ”huta” yang baru dan dia disebut juga sebagai ”sipungka huta” atau ”sisuan bulu”.  Raja huta ini bukan merupakan penguasa tunggal dan tertinggi tetapi dalam penyelenggaraan kepemimpinan teritorial dan pemerintahan dia bersama dengan sejumlah ”pangitua ni huta” (sesepuh atau pemuka masyarakat) sehingga kepemimpinan huta bersifat kolektif bukan partial.

Selanjutnya mereka (pemimpin kolektif – sisuan bulu dan sesepuh/pemuka masyarakat) inilah yang membuat aturan/tatanan hukum dikampung tersebut dan merekalah tempat bertanya. Kelak kemudian jika terjadi pelanggaran maupun perselisihan kepada merekalah dimintakan pertimbangan atas sanksi atau hukuman yang akan diberikan.

Demikian juga halnya jika akan melaksanakan kegiatan adat maka

Pusuk ni tobu na poso, uramuram ni situma,
Sungkunon ma gogo tu na poso, ruhut adat tu natuatua.

Kepada kaum muda kita tanyakan hal yang berkaitan dengan kesiapsediaan (kemampuan tenaga dan persiapan) untuk melaksanakan kegiatan dimaksud. Kepada para tetua kita tanyakan tentang ruhut-ruhut paradaton(aturan maupun adat istiadat).

Pinungka partuturon asa horas-horas.

Dahulu kala sangat lumrah terjadi perang antar kampung maupun antar marga mengingat satu kampung biasanya hanya dihuni satu marga tertentu. Jadi tak jarang jika terjadi perang antar kampung maka melibatkan marga dan umumnya belum memiliki ikatan kekerabatan (partuturon). Untuk menghindari perang antar kampung yang sudah pasti akan merugikan semua pihak, maka beberapa marga sepakat untuk menjalin hubungan kekerabatan baik itu melalui pernikahan putra putri mereka maupun melalui ikatan janji (marpadan). Sangat logis dan masuk akal apabila telah terjalin hubungan kekerabatan, maka kemungkinan perang antar marga/kampung tersebut akan sangat kecil karena bagaimana mungkin pihak hulahula menyerang kampung parboruonnya, demikian sebaliknya tidak mungkin pihak parboruon menyerang kampung hulahulanya.

Jika demikian halnya maka gelar sisuan bulu hanya kepada mereka yang membuka perkampungan baru. Jadi jika ada orang yang merasa sisuan bulu padahal dia tidak membuka perkampungan baru, maka sesungguhnya orang tersebut adalah pembual/pembohong besar yang gila hormat dan merasa dirinya orang terpandang.

Sai daoma sian hita angka sisongon i ate ? (Jauhlah dari kita sikap seperti itu, bukan?).

Semoga tulisan ini menambah wawasan kita tentang sisuan bulu.

Pinadomu ni (dirangkum oleh):

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Referensi dan daftar pustaka:

http://haumanarata.wordpress.com/2009/12/09/jabatan-tohonan-sintua-majelis-di-hkbp/

Panuturion ni angka natuatua.

(more…)

Read Full Post »

Disetiap kegiatan mandok hata maka hampir pasti kita akan mendengar beberapa umpasa yang merupakan doa dan harapan dari si yang menyampaikan umpasa. Begitu satu umpasa selesai di sampaikan maka secara otomatis khalayak ramai yang hadir pada acara tersebut menyahutinya Ima tutu (yg sering terdengar emma tutu).

Seorang kawan bertanya apa makna “Ima tutu” tersebut ?. Sepanjang pengetahuan saya maka arti dan makna “Ima tutu” tersebut adalah mengaminkan doa dan harapan dari si yang memberikan petuah maupun umpasa tersebut.

Dalam beberapa kali kesempatan bertemu dan berbincang tentang Budaya Batak dan KeKristenan dengan amang Pdt. A. Silitonga, BSM, menurut beliau sesungguhnya dahulu kala kata “Ima tutu” itu masih harus diikuti kata “Olop olop” yang bermakna dengan suka cita kami menerima doa dan harapan tersebut. Menurut beliau saat ini sudah sangat jarang mendengar kata “Olop olop” tersebut dan itu menandakan terjadinya pergeseran pada budaya Batak.

Penasaran akan hal tersebut saya juga bertanya kepada beberapa “natua-tua” dan umumnya mereka membenarkan bahwa sesungguhnya sesudah kata “Ima tutu” maka langsung diikuti kata “Olop olop”.

Contoh ketika Hulahula menyampaikan umpasa:

Bintang na rumiris ma tu ombun nasumorop.
Anak pe antong di hamu riris boru pe tung torop.

Langsung di sahuti oleh pihak parboruon( keluarga yang menerima petuah dan umpasa tersebut) dengan ungakapan “Ima tutu, Olop olop”.

Memang saya akui sepanjang pengamatan saya di setiap pesta unjuk (pesta nikah) hampir tidak pernah mendengar kata “Ima tutu” yang langsung diikuti kata “Olop olop”.  Yang umum berlaku  ialah mardalan ma Olop olop dung sidung mangampu (dipenghujung acara adat sebelum ditutup dengan doa oleh Hulahula/Parboru, maka dilaksanakan acara Olop olop) yang menurut hemat saya maknanya jauh berbeda.

Lantas apa upaya kita ?. Saya mulai mempraktekkan hal tersebut. Sabtu 27 Agustus 2011 lalu ketika saya menjadi Raja Parhata ulaon pasahat sulang sulang pahompu marga Sitorus tu hulahula i Raja Sirait di Aula Gereja Oikumene Perumnas I Bekasi (Jl. Komodo Raya), maka setiap Hula-hula Sirait menyampaikan umpasa saya langsung jawab “Ima tutu, Olop olop”.

Saya akan berupaya untuk konsisten melakukan hal itu dalam setiap kesempatan mengingat makna yang luar biasa dari kata “Ima tutu, Olop olop” tersebut.

Semoga tulisan ini dapat menjadi bagian dari upaya pencerahan kepada generasi muda Batak yang rindu untuk mengenal dan mempelajari budaya Batak.

Tangerang 01 September 2011.

Teriring salam dan doa.

St. Sampe Sitorus/ br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Saya sedang berupaya untuk mengerti betul arti umpasa. Rasa penasaran membuat saya untuk mencari tahu arti setiap kata dan makna yang terkandung pada setiap umpasa. Saya juga berupaya agar tahu latar belakang / filosopi yang terkandung didalamnya.

Tulisan ini akan terus saya perbaharui setiap mendapatkan pengetahuan yang baru tentang umpasa. Berikut beberapa yang dapat saya posting.

1.   Paukpauk hudali, Pagopago tarugi.
      Natading taulahi, Nasega tapauli.
 
Hudali = cangkul
Tarugi=kayu batang pohon enau(pakko), jenis kayu ini biasanya dipakai sebagai patok batas tanah karena terkenal tidak mudah busuk. Biasanya kayu batang enau ini dipantikkon (dikubur) di parbalohan (sudut batas sawah dengan sawah milik orang lain). Sangat pantang untuk memindahkan patok , namun jika rusak secepatnya untuk diganti dengan disaksikan oleh pemilik sawah yang berbatasan dengan kita.

Jika kita artikan maka umpasa diatas mengandung makna sbb:

Jika kita membajak sawah maka bagian yang tertinggal/terlewatkan belum terbajak akan kita ulangi bajak kembali agar tidak ada bagian sawah yang tidak terbajak.

Ada batas (patok) yang jelas yakni pago yang biasanya terbuat dari kayu batang enau. Jika kayu batas tersebut rusak maka kita akan memperbaikinya agar batas tetap ada dan tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Dalam artian sehari-hari bila ada tindakan atau perbuatan yang kurang maupun lebih (ter) mohon maaf dan mari kita perbaiki bersama agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.

Demikian sementara yang dapat kami bagikan, sambil menunggu masukan dari para pembaca untuk menambah khasanah pengetahuan kita tentang umpasa.

Medang Lestari 28 Agusutus 2011

Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Sabtu 09 Juli 2011 kami menghadiri pesta pernikahan (pesta unjuk)mempelai pria marga Siburian dan mempelai perempuan boru Manullang bertempat di Gedung Sejahtera Pondok Gede. Kami Sitorus sian Lumban Tongatonga Silamosik hadir sebagai Hulahula Anak Manjae dari keluarga Parboru (Manullang).

Sudah menjadi kebiasaan saya setiap menghadiri undangan adat Batak maka saya akan dengan seksama memperhatikan setiap tahapan pelaksanaan adat. Maklumlah saya sedang semangat belajar menjadi Raja Parhata. Berikut ini menurut pengamatan saya yang kurang lazim di pesta unjuk tersebut sbb:

Tintin Marangkup sesama marga Manullang.

Parboru adalah marga Manullang (mempelai wanita boru Manado diain menjadi boru Manullang/menjadi boru Tulangnya mempelai pria). Hulahula dari paranak berarti marga Manullang. Dengan demikian pengantin pria mangalap boruni Tulangnya (menikah dengan paribannya). Jadi seyogyanya untuk pernikahan seperti ini TIDAK BERLAKU Tintin Marangkup, melainkan SURUNG SURUNG Tulang tangkas.

Namun apa yang terjadi di pesta unjuk tersebut ?. Tintin marangkup dan semua “panghataion dohot umpasa” berjalan sebagaimana lazimnya seorang mempelai pria menikah dengan boru marga lain. Seolah Parboru dan Hulahula ni Paranak (Tulangnya mempelai pria) beda marga. Bahkan umpasa ini dikatakan Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, boru marga dia pe dialap bere i sai tong doi boru ni Tulang. Bukankah berenya menikahi boru mereka yakni boru Manullang ? Jadi seharusnya umpasa tersebut TIDAK mereka kemukakan. Bagaimana mungkin marga Manullang mengatakan kepada sesama marga Manullang mulai sadarion sisada boru ma hita. Bukankah sudah sejak dahulu kala marga Manullang sisada boru ?. Menurut hemat saya seharusnya pihak parboru hanya pasahathon surung surung Tulang tangkas ni helanya. Menggelitik juga ketika pihak Tulang tangkas agak “tertawa cenderung seperti kurang serius” ketika mangalusi hata ni parboru.

Menurutku hal tersebut sebuah bagian rangkaian adat yang terkesan dipaksakan untuk terlaksana, seolah olah setiap pesta unjuk harus ada tintin marangkup.

Note: Tintin marangkup secara gamblangnya dimaknai sebagai kesepakatan/berjanji antara Tulangnya mempelai pria dengan orangtua mempelai wanita bahwa meskipun mempelai pria menikah bukan dengan putri mereka melainkan dengan putri dari marga lain, namun mereka akan memperlakukan mempelai wanita sama seperti putri mereka sendiri. Pihak Tulangnya mempelai pria akan memperlakukan si mempelai perempuan sama seperti putri mereka. (Sisada boru ma nasida). Kesepakatan ini sesungguhnya membawa konsekuensi logis dalam banyak hal.

Boha pandapot ni angka dongan ?. Bahen hamu pandapot muna ate?

Berikut saya kutip dari penjelasan dari bapak Patuan Raja Bonar Siahaan, seorang budayawan Batak Toba yang tinggal di Siboruon, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir :

https://togapardede.wordpress.com/2012/08/21/kesalahan-tintin-marangkup-dan-sinamot/

Pada pesta perkawinan orang Batak Toba, kedua belah pihak pengantin selalu memberikan sejumlah uang terhadap “tulang” (paman) mempelai laki-laki yang disebut tintin marangkup. Istilah tintin marangkup berasal dari kata “tarintin marangkup” yang digunakan sebagai tanda pada anak ternak yang telah dipilih agar kelak menjadi miliknya. Setelah anak ternak yang dipilih telah dapat dipisah dari induknya, pada saat itulah diberikan uang atau apa pun sesuai kesepakatan, dan itu dinamai “tobus tarintin”.

Dalam adat masyarakat Batak Toba, lanjut Bonar Siahaan, laki-laki yang akan menikah selalu lebih dulu “manulang tulang” untuk memohon doa restu agar dia kelak serasi dan bahagia dengan calon isteri serta mendapat keturunan putera dan puteri. Belakangan ini dikenal istilah parmisi tu tulang.

Pada saat manulangi inilah orangtua si laki-laki menyerahkan sejumlah uang sebagai tobus tarintin, sebab anak laki-lakinya tidak berniat mempersunting puteri tulangnya.

“Pada zaman dulu pemuda atau anak gadis yang marpariban harus saling permisi bila salah satu dari mereka lebih dulu menikah, dan itulah penyebab uang yang diserahkan dinamai tobus tarintin,” kata Siahaan.

Sebagai wujud doa restu, maka saat itu sang tulang mangulosi berenya yang disebut “ulos panghopol”. Seterusnya bila suatu saat berenya (keponakan) itu menikah dengan perempuan dari marga lain, maka tulang tidak wajib lagi mangulosi sebab itu dianggap “manumpahi” (membantu) pihak pengantin perempuan.

Ada falsafah bagi orang Batak Toba, kata Bonar Siahaan, yaitu “dangha do dupang amak do rere, ama do tulang, anak do bere.” Seandainya orangtua dari berenya tidak mampu menikahkan berenya, maka tulangnya berkewajiban menikahkan atau setidaknya membantu pembiayaan pernikahan berenya.

Dan itulah sebabnya bila berenya menikah, seluruh tulang membawa beras di dalam tandok untuk meringankan beban orang tua berenya, bukan “si pir ni tondi” seperti anggapan zaman sekarang.

Apabila seseorang tidak atau belum manulangi tulang, maka sang tulang enggan menghadiri pernikahan dan tidak akan “martogi”, sebab itu dianggap tidak menghargai atau menghormatinya. Namun setelah orang Batak telah banyak merantau, mulailah ditinggalkan kebiasaan manulangi tulang sebelum menikah dengan alasan waktu yang kurang mendukung. Maka pada saat pesta pernikahan, kedua belah pihak mempelai secara bersama-sama datang menemui tulang untuk menyerahkan penghormatan yang kita kenal dengan tintin marangkup, disertai ungkapan “hot do jabu i, hot margulang- gulang, boru ni ise pe nahuoli i, hot do i boru ni Tulang.”

“Maka sampai saat ini keturunan dari berenya tetap dianggap sebagai boru, bukan bere atau ibebere, dan itu dapat dibuktikan dengan kata ‘boru natua-tua dan boru naposo’, bukan ‘bere natua-tua atau bere naposo

Tabe mardongan olop-olop.

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Jotjot pinarrohahon hatiha mandok hata diangka rumang ni ulaon, ulaon nametmet (dijabu) manang ulaon nabalga (mangajana) didok angka namandok hata tarsongon on:

Pinuji ma Tuhanta ala asi dohot holong ni rohaNa boi hita marnatampak marpungu di tingki on, marbonsir ma i naung manjalo pandidion nabadia …. , sipata dipartingkian naasing hatiha mangapuli binege adong namandok: marbingkas ma i naung jumolo dialap Tuhanta ina na tahaholongi on.

Panuturion ni natua-tua (ala nuaeng on ahu marsiajar gabe Raja Parhata jadi godang do pinangido panuturion sian angka natua-tua termasuk ma angka Raja Parhata Senior), didok SITONGKA do dohonon hata marbonsir manang marbingkas hatiha mandok hata iba.

Aha umbahen na di dok nasida songon i on do:

Marbonsir sian hata bonsir marlapatan do i (dalam bahasa Indonesia-  penyebab, yang menyebabkan, disebabkan karena), namun lebih cenderung ke hal yang negatif. Contoh: Bonsir soada do nian parbadaan nasida. Bonsir hasesega, Bonsir hamamago.

Marbingkas sian hata bingkas, molo na bingkas ima “sambil” (dalam bahasa Indonesia perangkap). Dikampung halaman kami “sambil” adalah sejenis perangkap. Untuk menangkap burung Silopak dipasanglah “sambil” – perangkap berupa sangkar burung dimana didalam sangkar ada burung Silopak betina, maka burung Silopak jantan akan datang mendekat dan ketika burung jantan masuk, maka otomatis “sambil” tertutup (masuk perangkap). Demikian juga untuk menangkap “aili” (babi hutan) maka dipasang “sambil” -sejenis ranjau, ketika babi hutan tadi menginjak maka otomatis  kawat sling melibas leher maupun bagian tubuh babi hutan tersebut.

Molo songon i aha do sidohonon ? Tarsongon on ma nian:

Pinuji ma Tuhanta ala asi dohot holong ni rohana boi hita marnatampak marpungu di tingki on, SIALA naung manjalo pandidion nabadia …. , SIALA naung jumolo dialap Tuhanta ina na tahaholongi on.

Siala sian hata ala, namarlapatan (bahasa Indonesia) oleh karena.

Contoh:

Marbonsir ma i -> maknanya sesungguhnya kita kurang menyukai hal itu terjadi.

Marbingkas ma i -> maknanya sesungguhnya kita menghindari hal tersebut terjadi, tapi apa daya kita telah terperangkap didalamnya.

Siala -> maknanya oleh karena, cenderung positif.

Memang sulit menjelasakan perbedaan kata Bonsir, Bingkas dan Siala, namun jika dalam rangkaian kalimat maka maknanya akan jauh berbeda.

Alai nang pe songon i hatangki di tambai angka dongan ate ?

Tabe mardongan tangiang,

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus).

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: