Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Budaya & Adat Batak’ Category

Marga & Tarombo

Beberepa email masuk ke account saya: sampesitorus@gmail.com menanyakan tentang Marga dan Tarombo serta apa pentingnya kita mengetahui hal tersebut. Saya menduga pertanyaan ini dikirim oleh orang muda Batak yang ingin mempeajari/mengetahui Habatakon.

Dengan segala keterbatasan yang saya miliki saya mencoba menjawabnya melalui tuisan ini. Dengan senang hati kami menerima masuan untuk melengkapi, agar pemahaman kita lebih baik.

MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal). Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang Batak merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki laki yang meneruskan marganya. Note: sebagai Batak Kristen kita harus meninggalkan anggapan tersebut. Perempuan atau laki-laki sama-sama berharga dimata TUHAN, dan kita berkewajiban untuk mempertanggung jawabkannya kepada TUHAN melalui mendidik, membesarkan, menyekolahkan dan menjadikannya anak TUHAN(pengikut Kristus).

Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu. Menurut buku “Leluhur Marga Marga Batak”, jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.

TAROMBO adalah silsilah, asal usul menurut garis keturunan ayah. Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga (more…)

Read Full Post »

Dari dulu sudah banyak pemuda/i Batak yg telah memasuki usia 30 tahun namun belum juga menunjukkan tanda-tanda akan menikah.

Saat ini kondisi tersebut semakin “mendalam” karena telah menjadi trend dan sangat umum kita jumpai khususnya pemudi (boru) Batak yang belum menikah padahal usianya sudah mencapai 35 tahun. Di dok halak natua-tua nunga tobang.

Kira-kira faktor apa yang menyebabkan hal tersebut ?.

Tadi sore (Sabtu 15/5/2010) setelah selesai ulaon Patua Hata & Marhusip Nagogo rencana pernikahan pariban kami Mega br Sirait dengan calon mempelai pria Darwin Hutajulu, kami sempat berbincang-bincang dengan Tulang & Nantulang Sirait par Lumban Dolok.  Dari perbincangan tersebut beberapa hal yg menjadi penyebab kami simpulkan sbb:

  • Kesibukan

Saat ini di perantauan (JABODETABEK) angka naposo sibuk dengan pekerjaaan, berangkat pagi hari pulang larut malam.

  • Pendidikan & Karier

Secara umum angka naposo sekarang terkonsentrasi mengejar karier dan pendidikan. Baik pria maupun wanita

  • Kurang intensitas & wadah pertemuan

Disadari saat ini kurang intensitas pertemuan anatara naposo disebabkan beberapa hal misal naposo sekarang cenderung kurang aktif di kegaiatan gereja. Semangat kedaerahan (sahuta – sakecamatan) telah drastis menurun. Contoh: era 1980-an masih ada punguan naposo bulung LUNASI (Lumban Lobu, Nagatimbul, Silamosik), Naposo Parporsea, dsb. Padahal diakui wadah tersebut menjadi sarana saling bertemu dan kesempatan untuk saling mengenal (pantun Darimana datangnya lintah, Dari sawah turun ke kali, Darimana datangya cinta dari mata turun ke hati).

  • Terlalu banyak memilah & memilih

Ternyata budaya Jawa: bibit, bobot, bebet sudah mengkultur dalam diri naposo saat ini entah karena pergaulan atau jangan-jangan karena sudah ikut makan tempe :). Khusus untuk pemudi (boru Batak) yang menjadi penganut poin ini ada pesan natua-tua(angka namborum) sbb:

Tole ma anggia unang mamillithu, sotung gabe parsoban botari ho. (Jangan terlalu memilih, nanti seperti pencari kayu bakar yang kesorean). Konon pencari kayu yang berangkat pagi masih bisa milih kayu yang akan di tebang, misal yang lurus dan besar. Namun jika yang sudah kesorean maka apapun yang ditemui diambilnya daripada pulang tanpa membawa kayu bakar malah akan jadi omongan.

Saya jadi ingat akan pameo tentang anak gadis yang suka pilih-pilih sbb:

Usia remaja   16 – 19  -> siapa sih/ siap elo.

Usia Pemudi 20 – 22  -> siapa dia

Usia Pemudi 23 – 25 -> siapa ya

Usia Pemudi 26 – 28 -> siapa dong

Usia Tobang 29 – keatas  -> siapa aja deh (ini yg disebut Parsoban Botari)

Semoga pembaca tidak bagian dari yang terlalu mlah milih ate ?

Yakinlah bahwa: TUHAN akan membuat semuanya indah pada waktuNya. Ingat waktu TUHAN bukan waktu kita, artinya kita harus tetap berusaha, biarlah akhirnya TUHAN yang menentukan, Amin !

Tabe mardongan tangiang,

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Beberapa pertanyaan masuk ke email saya intinya menanyakan bagaimana mangampu di angka ulaon las ni roha. Saya rasa ini adalah respon positif :) atas postingan saya sebelumnya perihal mangampu di ulaon mangapuli/pasahat hata togar-togar.

Jujur saya bukanlah Raja Parhata dan sesungguhnya belum layak jadi panungkunan. Kalaupun saya menulis itu semata-mata berbagi pengetahuan berdasarkan apa yang saya baca dan panuturion ni angka natua-tua serta pengalaman melihat dan memperhatikan di angka ulaon yang saya ikuti.

Saya menyadari budaya berbagi ilmu ini masih jarang kita lakukan, banyak yang pengetahuannya tentang adat & budaya Batak sangat mumpuni namun “kurang” dalam hal berbagi (kurang melakukan pencerahan tu angka dongan).

Dengan segala keterbatasan yang saya miliki dibawah ini saya share perihal mangampu di ulaon las ni roha di jabu. Note: yang kita kategorikan ulaon las ni roha di jabu yakni: Pabosurhon (pasahat ulos mula gabe), Pasahat Ulos Parompa (saat ini sering diberikan waktu Tadidi / Baptis), Kesaksian Iman (Sidi- malua sian pangkangkungi), Manuruk Jabu.

Ulaon yang lain umumnya sudah kategori ulaon mangajana yakni Marhusip, Ulaon Unjuk (pesta nikah), Ulaon na Monding.

Untuk detailnya saudara/i dapat membacanya di:

https://sitorusdori.wordpress.com/category/ulaon-las-ni-roha-suka-cita/

Semoga tulisan tersebut dapat menambah wawasan kita bersama.

Horas,

CSt. Sampe Sitorus

Read Full Post »

Belakangan ini saya memperhatikan banyak orang yang kurang paham makna mangampu, secara khusus mangampu ketika datang punguan atau orang2 yang mengasihi kita memberikan penghiburan (dorongan moril untuk meneguhkan keluarga yang berduka).

Saya katakan kurang paham karena ketika mangampu hasuhuton seringkali malah bercerita tentang akhir hidup dari almarhum (yg baru meninggal), padahal seyogyanya hal itu di sampaikan ketika jujur barita(jujur ngolu) yang merupakan pemaparan riwayat hidup (secara singkat) hingga ke acara partuatna (acara adat sebelum dimakamkan).

Perlu kita pahami bersama bahwa mangampu pada dasarnya adalah menyampaikan terima kasih kepada orang-orang yang sudah datang memberikan penghiburan (dukungan moril) kepada keluarga yang ditinggalkan.

Berdasarkan panuturion ni angka natua-tua, maka ketika mangampu tidak perlu panjang-lebar, just strike to the point. Contoh mangampu:

Di hamu sude namanghaholongi hami, maulitae godang ma hupasahat hami di haroromu na pasahat hata apul-apul, hata togar-togar. Anggiatma antong  marhite hata nauli hata togar-togar dohot pangidoanmuna tu Amanta Debata, dipargogoi hami jala dipasaut angka pangidoanta i hombar tu lomo ni rohaNa. Asa on pe dohonon nami ma songon nidok ni natua-tua:

Aek marjullak-jullak sian tonga-tonga ni batu
Jullak-jullak nai bahenon tu tabu tabu laho boanon tujabu
Hata nauli hata togar-togar naung pinasahat mu tu hami
Ampuon nami ma i antong martonga ni jabu.

Asa mardangka ma inna jabi-jabi marbulung ia situlan
Sude angka pangidoanta marhite tangiangnta saluhut na mai di pasaut Tuhan.

Naung sampulu pitu jumadi sampulu ualu
Saluhut hata nauli naung pinasahat mu tu hami, hu ampu hami ma i antong martonga ni jabu.
Botima, mauliate ma, songon i ma pangampuon sian hami.

Read Full Post »

Beberapa pembaca blog : https://sitorusdori.wordpress.com  search tulisan mengenai apakah adat Batak bertentangan dengan ajaran agama Kristen. Untuk menjawab pertanyaan ini sangat dibutuhkan orang yang berkompeten. Oleh karenanya saya anjurkan sdr/i untuk mengunjungi blog:
http://rumametmet.com/category/injil-batak-modernitas

Blog ini milik bapak Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap, STh.
Beliau adalah pendeta HKBP yang saat ini melayani di HKBP Ressort Serpong yang berlokasi di Villa Melati Mas – Serpong.
Selamat mengunjungi blog beliau. Semoga terjawab rasa ingin tahu sdr/i.

Horas

CSt. Sampe Sitorus

Read Full Post »

Mamuro

Mamuro

Mamuro

Tahu dan masih ingat kah pembaca hal Mamuro ?
Ternyata di Tangerang tepatnya di daerah Angris – Karawaci samping perumahan Permata Medang saat ini musim mamuro atau dalam bahasa mereka (Sunda Tangerang) disebut Komplong. Rasa rindu dan penasaran saya terobati sudah karena hari ini Kamis 06/05/2010 sekitar pukul 06.30 wib saya mampir di sawah ibu Komih dan berbincang sejenak sambil mengambil beberapa gambar.

Mamuro atau komplong adalah kegiatan mengusir kawanan burung yang datang memakan bulirbulir padi yang mulai terisi (bahasa batak nunga rung).

Read Full Post »

Setelah membaca beberapa tulisan di blog ini seorang pembaca menanyakan kepada penulis apa yang dimaksud dengan serta tugas dan peran Parsinabung dan Panamboli.

Semula saya tidak percaya kalau ybs benar-benar tidak mengetahuinya. Belakangan saya ketahui bahwa dia adalah seorang muda yang sedang belajar tentang adat Batak. Saya sangat senang ternyata generasi muda Batak punya keinginan besar untuk mempelajari budayanya. Akhirnya saya katakan padanya bahwa sesungguhnya saya belumlah layak sebagai narasumber dan masih jauh dari yang ada di benaknya bahkan saya sendiri juga masih muda (35 tahun-red) dan masih dalam proses belajar (masih sangat banyak yg harus saya pelajari).

Saya jadi lebih bersemangat untuk berbagi apa yang saya ketahui melalui bacaaan dan panuturion dari para orangtua (senior kita).

Berikut kami jelaskan tentang Parsinabung dan Panamboli. (more…)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: