Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Budaya & Adat Batak’ Category

Pernahkah anda datang mengahadiri suatu acara dengan pakaian yang tidak pas (tidak cocok) ?

Saya pernah mengalaminya ketika Acara Bona Taon Punguan Pomparan Raja Mandidang pada tahun 2003 lalu. Acara tersebut dilaksanakan di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur. Acara Bona Taon waktu tersebut merupakan yang pertama kali saya ikut sehingga saya tidak berpikir bahwa Bona Taon adalah acara resmi karena melihat alamat pesta di perkemahan pramuka maka yag ada dalam pikiran saya adalah acara santai bak jalan-jalan ke taman mini (lets say Family Gathering). Alhasil sayapun pakai kaos T Shirt dan celana pendek sementara istri saya  karena sedang hamil juga pakai baju hamil santai.

Begitu tiba dilokasi parkir dan turun dari mobil saya lihat orang-orang berpakaian ala ke pesta Batak,  kaum bapak memakai jas dan kaum ibu pakai kebaya & songket. (Jujur sesungguhnya sejak SMP kelas 3 saya sdh di Cilegon, SMA dan Kuliah sambilkerja di Tangerang, – jadi nggak udik banget deh). Dasar tidak pernah mau ikut ke acara2 Batak pada saat itu membuat saya seperti orang KUPER.

Alamak.. apa mau dikata, tidak mungkin lagi pulang dulu ke Tangerang, jadi deh masuk ke aula tempat acara di gelar. Setelah ibadah selesai dan sambutan-sambutan dilaksanakan sejumlah permainan termasuk lomba joget jeruk. Saya berusaha untuk tidak ikut perlombaan namun MC (inang mama Sarah) menarik kami dan wajib ikut. Anehnya kami menang dan mendapat bingkisan.

Para pembaca budiman… kebayang kan gimana tengsin nya peserta lain rapih pakai jas, awak pakai celana pendek. Cilakanya MC ngeledk lagi .. habis melihat kebun ya pak ?.

Kelihatannya memang konyol tapi jujur saya akui waktu itu saya tidak tahu acara apa itu Bona Taon. Yang ada di benakku ini gak beda dengan acara Family Gathering, toh dilaksanakan di bumi perkemahan.

Adakah anda pernah mengalami hal yang sama atau serupa ? Jika pernah ayo berbagi pengalaman.

St. S. Sitorus

Read Full Post »

copy posting from http://www.facebook.com/?ref=home#!/topic.php?uid=114557341917321&topic=96

LATAR BELAKANG

Disadari dan sangat dirasakan bahwa dimulai akhir 80-an dan berkembang pesat pada dasawarsa 90an, kemudian mulai melegenda sampai saat ini, telah muncul istilah yang sangat populer dikalangan orang muda suku batak (halak kita) dan terutama bagi mereka yang berada di daerah perantauan (luat parjalangan) yang biasanya adalah wilayah perkotaan.

Dikatakan bagi orang muda karena secara umum dan awalnya hal ini tidak pernah disebutkan dan berlaku bagi orang-orang tua (natua-tua), yang karena pengetahuan dan asal langsung dari kampung halaman (bona pasogit) sehingga tidak merasakan perlu memakai istilah tersebut, dimana seperti kita ketahui bersama bahwa mereka memiliki pengetahuan kekerabatan yang jauh lebih kental dan melekat dibandingkan orang-orang muda apalagi yang telah lahir dan atau tumbuh besar diperkotaan. (more…)

Read Full Post »

Dalam beberapa kesempatan saya datang “manungkir” (melayat) orang tua yang meninggal, maka seperti yang berlaku umum dilakukan ulaon Tonggo Raja. Setelah Tonggo Raja selesai maka almarhum/almarhumah “mompo tu jabu-jabuna” (dimasukkan ke peti jenazah) oleh dongan tubunya dengan disaksikan oleh Tulang dan horongnya Hula-hula. Setelah itu maka akan dilanjutkan dengan mardaun pogu (makan).

Sepanjang pengamatan saya hampir di semua Tonggo Raja parmonding ni Natua-tua makanan melimpah dan terkesan berlebih. Apa gerangan yang menyebabkan ?. Berikut beberapa hal yang mungkin penyebabnya: (more…)

Read Full Post »

Seseorang mampir ke partungkoan Raja Mandidang ini dan mencari tahu perihal judul diatas (kenapa ketika ditanya Hula-hula tentang partording ni tudu-tudu ni sipanganon naung pinasahat ni parboruonna umumnya di jawab surung-surung mu do i rajanami).

Penasaran tidak menemukan tulisan yang membahas hal tersebut, yg bersangkutan kirim email minta di jelaskan. Jujur… ini pertanyaan yg sulit untuk dijawab. Oleh karenanya saya memutuskan untuk memposting tulisan ini sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, semoga memenuhi harapannya.

Namun ada baiknya terlebih dahulu dibaca tulisan kami tentang jambar dan tudu-tudu sipanganon, berikut link nya:

https://sitorusdori.wordpress.com/2009/05/13/pangantusion-tu-jambar/

https://sitorusdori.wordpress.com/2009/05/24/tudu-tudu-sipanganon/

Setelah membacanya, dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya tudu-tudu sipanganon bukanlah serta merta menjadi surung-surung ni hula-hula, karena pada dasarnya tidak semua bagian dari tudu-tudu ni sipanganon itu menjadi hak/milik kepunyaaan hula-hula. Ada pihak lain yang berhak mendapatkan bagian yakni Tulang, Tulang Rorobot, Pariban, Boru, Dongan Sahuta/Ale-ale dan khusus ulaoan diluar pesta unjuk maka umumnya ihur-ihur menjadi hak milik hasuhuton paranak (yang punya hajat) bersama dengan dongan tubunya.

Lha kalau demikian adanya kenapa sering kita dengar Pande Hata hasuhuton paranak misalnya ulaon Pabosurhon dan Tardidi mengatakan Surung-surung ni hamu do i Rajanami ? (more…)

Read Full Post »

Marga & Tarombo

Beberepa email masuk ke account saya: sampesitorus@gmail.com menanyakan tentang Marga dan Tarombo serta apa pentingnya kita mengetahui hal tersebut. Saya menduga pertanyaan ini dikirim oleh orang muda Batak yang ingin mempeajari/mengetahui Habatakon.

Dengan segala keterbatasan yang saya miliki saya mencoba menjawabnya melalui tuisan ini. Dengan senang hati kami menerima masuan untuk melengkapi, agar pemahaman kita lebih baik.

MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal). Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang Batak merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki laki yang meneruskan marganya. Note: sebagai Batak Kristen kita harus meninggalkan anggapan tersebut. Perempuan atau laki-laki sama-sama berharga dimata TUHAN, dan kita berkewajiban untuk mempertanggung jawabkannya kepada TUHAN melalui mendidik, membesarkan, menyekolahkan dan menjadikannya anak TUHAN(pengikut Kristus).

Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu. Menurut buku “Leluhur Marga Marga Batak”, jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.

TAROMBO adalah silsilah, asal usul menurut garis keturunan ayah. Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga (more…)

Read Full Post »

Dari dulu sudah banyak pemuda/i Batak yg telah memasuki usia 30 tahun namun belum juga menunjukkan tanda-tanda akan menikah.

Saat ini kondisi tersebut semakin “mendalam” karena telah menjadi trend dan sangat umum kita jumpai khususnya pemudi (boru) Batak yang belum menikah padahal usianya sudah mencapai 35 tahun. Di dok halak natua-tua nunga tobang.

Kira-kira faktor apa yang menyebabkan hal tersebut ?.

Tadi sore (Sabtu 15/5/2010) setelah selesai ulaon Patua Hata & Marhusip Nagogo rencana pernikahan pariban kami Mega br Sirait dengan calon mempelai pria Darwin Hutajulu, kami sempat berbincang-bincang dengan Tulang & Nantulang Sirait par Lumban Dolok.  Dari perbincangan tersebut beberapa hal yg menjadi penyebab kami simpulkan sbb:

  • Kesibukan

Saat ini di perantauan (JABODETABEK) angka naposo sibuk dengan pekerjaaan, berangkat pagi hari pulang larut malam.

  • Pendidikan & Karier

Secara umum angka naposo sekarang terkonsentrasi mengejar karier dan pendidikan. Baik pria maupun wanita

  • Kurang intensitas & wadah pertemuan

Disadari saat ini kurang intensitas pertemuan anatara naposo disebabkan beberapa hal misal naposo sekarang cenderung kurang aktif di kegaiatan gereja. Semangat kedaerahan (sahuta – sakecamatan) telah drastis menurun. Contoh: era 1980-an masih ada punguan naposo bulung LUNASI (Lumban Lobu, Nagatimbul, Silamosik), Naposo Parporsea, dsb. Padahal diakui wadah tersebut menjadi sarana saling bertemu dan kesempatan untuk saling mengenal (pantun Darimana datangnya lintah, Dari sawah turun ke kali, Darimana datangya cinta dari mata turun ke hati).

  • Terlalu banyak memilah & memilih

Ternyata budaya Jawa: bibit, bobot, bebet sudah mengkultur dalam diri naposo saat ini entah karena pergaulan atau jangan-jangan karena sudah ikut makan tempe🙂. Khusus untuk pemudi (boru Batak) yang menjadi penganut poin ini ada pesan natua-tua(angka namborum) sbb:

Tole ma anggia unang mamillithu, sotung gabe parsoban botari ho. (Jangan terlalu memilih, nanti seperti pencari kayu bakar yang kesorean). Konon pencari kayu yang berangkat pagi masih bisa milih kayu yang akan di tebang, misal yang lurus dan besar. Namun jika yang sudah kesorean maka apapun yang ditemui diambilnya daripada pulang tanpa membawa kayu bakar malah akan jadi omongan.

Saya jadi ingat akan pameo tentang anak gadis yang suka pilih-pilih sbb:

Usia remaja   16 – 19  -> siapa sih/ siap elo.

Usia Pemudi 20 – 22  -> siapa dia

Usia Pemudi 23 – 25 -> siapa ya

Usia Pemudi 26 – 28 -> siapa dong

Usia Tobang 29 – keatas  -> siapa aja deh (ini yg disebut Parsoban Botari)

Semoga pembaca tidak bagian dari yang terlalu mlah milih ate ?

Yakinlah bahwa: TUHAN akan membuat semuanya indah pada waktuNya. Ingat waktu TUHAN bukan waktu kita, artinya kita harus tetap berusaha, biarlah akhirnya TUHAN yang menentukan, Amin !

Tabe mardongan tangiang,

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Beberapa pertanyaan masuk ke email saya intinya menanyakan bagaimana mangampu di angka ulaon las ni roha. Saya rasa ini adalah respon positif🙂 atas postingan saya sebelumnya perihal mangampu di ulaon mangapuli/pasahat hata togar-togar.

Jujur saya bukanlah Raja Parhata dan sesungguhnya belum layak jadi panungkunan. Kalaupun saya menulis itu semata-mata berbagi pengetahuan berdasarkan apa yang saya baca dan panuturion ni angka natua-tua serta pengalaman melihat dan memperhatikan di angka ulaon yang saya ikuti.

Saya menyadari budaya berbagi ilmu ini masih jarang kita lakukan, banyak yang pengetahuannya tentang adat & budaya Batak sangat mumpuni namun “kurang” dalam hal berbagi (kurang melakukan pencerahan tu angka dongan).

Dengan segala keterbatasan yang saya miliki dibawah ini saya share perihal mangampu di ulaon las ni roha di jabu. Note: yang kita kategorikan ulaon las ni roha di jabu yakni: Pabosurhon (pasahat ulos mula gabe), Pasahat Ulos Parompa (saat ini sering diberikan waktu Tadidi / Baptis), Kesaksian Iman (Sidi- malua sian pangkangkungi), Manuruk Jabu.

Ulaon yang lain umumnya sudah kategori ulaon mangajana yakni Marhusip, Ulaon Unjuk (pesta nikah), Ulaon na Monding.

Untuk detailnya saudara/i dapat membacanya di:

https://sitorusdori.wordpress.com/category/ulaon-las-ni-roha-suka-cita/

Semoga tulisan tersebut dapat menambah wawasan kita bersama.

Horas,

CSt. Sampe Sitorus

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,709 other followers

%d bloggers like this: