Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Budaya & Adat Batak’ Category

Tulisan ini saya dedikasikan untuk putraku Hitado Managam Sitorus(saat ku tulis dia berusia 7 tahun 11 bulan) yang sangat tertarik dengan budaya Batak bahkan berkeinginan kelak menjadi Raja Parhata. Kiranya kelak tulisan ini menjadi salah satu warisan yang sangat berharga bagi dia.

Berhubung proses penulisan membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran, maka dengan hormat kepada para pembaca yang budiman yang ingin me repost di blog maupun media lain agar mencantumkan sumbernya dan jika tidak keberatan silahkan copy paste apa adanya.

Saya sangat kecewa karena beberapa tulisan saya sebelunya di re post di blog maupun media lain namun tidak mencantumkan sumber.

Saya pribadi setiap membuat tulisan berupaya semaksimal mungkin untuk menuliskan sumber dan referensi selama masih saya dapatkan sumbernya. STOP hentikan plagiat.

Demikian harap maklum.

Horas.

Contoh panghation ulaon Pasahat Sulangsulang pahompu di ari Sabtu 19 Maret 2011 kel. Jeffer Hawer Sitorus,SE,MM dohot parumaennami Mira Koesoema Rany br Tampubolon, SH (A.Imanuel Yosua Magistero Sitorus).

Dung sidung marbagi jambar dohot manjalo pangurupion (tumpak) sian boru, ale-ale dohot dongan tubu, diudut ma tu namarhata. Tarsongon on ma partordingna:

Protokol Sitorus ->Raja Boltok).

Ima tutu ala naeng mulaanta ma manghatai dohot hulahulanta Raja i Raja Tampubolon, onpe di hamu haha doli Raja Dori dohot haha doli Raja Pane, di dok natua tua molo tinallik huling huling tarida ma holi holi, molo anggina bona ni hasuhuton hahadoli Raja Dori dohot hahadoli Raja Pane ma antong na gabe Parsinabung dohot Panamboli. Dihamu hahadolinami, ala di hami raja Boltok ma hasuhuton hupasahat hami ma tu hamu asa hamu ma na gabe Raja Parsinabung dohot Panamboli di ulaonta sadarion, partingkian on hupasahat hami ma tu hamu hahadoli nami. (more…)

Read Full Post »

Kamis 17 Pebruari 2011 sekitar pukul 08 pagi saya terima berita bahwa Nantulang Op. Harry Sitanggang br Naibaho (ibunda dari lae A.Harry Sitanggang/br Nainggolan) telah berpulang ke pangkuan Bapa di surga. Sebagai sekretaris Punguan Raja Sitanggang Sektor Tangerang Kota, maka saya pun segera menyebarluaskan informasi tersebut via sms kepada seluruh anggota punguan sbb: Info dari amang Dr. Sudin Sitanggang, nunga jumolop dialap Tuhanta nasogot Natoras Boru(ibu)ni lae A.Harry Sitanggang. Marhiteon pinabotohon asa ria ma hita sude Pomparan Raja Sitanggang manungkir tu bagas nasida borngin on di Taman Royal. Diangka na boi denggan ma tumibu ro laho mandongani suhut.

Sebagaimana telah kami ketahui bersama bahwa lae A.Harry Sitanggang ini adalah Wakil Ketua Punguan Raja Sitanggang dohot Boruna Wilayah Tangerang dan selama ini beliaulah yang menjadi Raja Parhata diangka ulaon adat di punguan Wilayah Tangerang. (Note: mungkin karena yang lain belum berani tampil sehingga “hampir” selalu beliau yang menjadi Raja Parhata). Terpikir olehku bahwa Hula-hula i Sitanggang menyadari situasi ini sehingga diantara mereka akan saling berkoordinasi untuk persiapan angka na hombar tu parmonding ni natua-tua khususnya untuk acara malam itu. Sekitar  pukul 19.15 Wib saya pun tiba di rumah duka, tampak sudah hadir dari Punguan Sitanggang Wilayah Tangerang adalah lae A.Bobay Sitanggang/br Sinaga (Ketua Sektor Tangerang Kota). Singkat cerita sesuai dengan keputusan keluarga dipagi hari maka jasad almarhumah Jumat pagi akan dibawa ke Bonapasogit (Tanjung Bunga Samosir) dan semua ulaon adat akan dilaksanakan disana.

Meski demikian malam pukul itu sekitar pukul 20.20 Wib dilaksanakan ulaon “mangido tangiang” laho paborhat keluarga besar sebagai ganti dari Tonggo Raja laos pamasuk bangke ni natua-tua i tu jabu-jabuna (mompo tu jabu na so pinungka ni tanganna). Pertanyaannya jika demikian siapa yang akan mangadopi hula-hula Naibaho dan horong ni Tulang ? Hatiku pun dag dig dug, siapa yang akan mangadopi Hula-hula Naibaho dohot horong ni Tulang ?.  Terlihat olehku lae A.Rimbun Sitanggang (Ketua PURASITABOR Sejabotabek), tapi apa mungkin dia yang langsung mangadopi karena dia hasuhuton bolon (haha doli ni A.Harry / ompung kandung kakak beradik). Setelah lae A. Rimbun melihat situasi maka dengan terpaksa beliau memutuskan untuk mangadopi langsung Hula-hula dohot horong ni Tulang. Acara “mangido tangiang” pun dimulai, sesuai arahan lae A. Rimbun Sitanggang, maka mau tidak mau lae A.Bobay Sitanggang(Ketua Sektor Tangerang Kota) harus berperan sebagai protokol dan selanjutnya panghataion dipasahat tu lae A. Rimbun Sitanggang.  Dengan berterus terang lae A. Rimbun Sitanggang menjelaskan kepada Hula-hula Naibaho dohot sude horong ni Tulang sekaligus memohon pengertian atas kondisi yang melatar belakangi mengapa beliau sendiri na mangadopi Hula-hula. Pada saat manjahahon jujur ngolu ni Op. Harry Sitanggang br Naibaho terlihat mulai berdatangan Hula-hula i (Sitanggang).

Apa yang dapat kita pelajari dari uraian diatas ?. Mohon maaf (santabi bolon) di sangap ni hamu hula-hulanami marga Sitanggang ndang adong maksud manggurui manang pamalomalohon, alai asa tu dengganna angka ulaonta tu joloan ni ari indok rohangku beberapa point penting yang patut kita perhatikan sbb:

1.       Penting dan mendesak Kaderisasi Raja Parhata di lingkungan Punguan Raja Sitanggang Wilayah Tangerang.

2.       Generasi muda (keluarga muda) Pomparan Raja Sitanggang perlu lebih sering mengikuti angka ulaon baik las ni roha maupun dok ni roha.

3.       The show must go on, meskipun kita belum menjadi Raja Parhata namun bila situasi seperti diatas kita harus berani tampil. Contoh lae A.Bobay Sitanggang ternyata beliau mampu mengemban tugas sebagai protokol.

4.       Pentingnya mengetahui posisi kita dalam suatu ulaon. Dalam hal contoh diatas marga Sitanggang adalah suhut. Oleh karenanya suhut sudah harus mangarade paimahon haroro ni Hula-hula dohot Tulang, bukan seperti kemarin Hula-hula dohot Tulang nunga ro jala pungu hape hasuhuton marga Sitanggang baru 1 hingga 2 keluarga naung mangarade. Note: ianggo hami boru nunga rade sian pukul 19.15 Wib, padahal di boa-boa marhite sms “ hu ondolhon hami do “ tu angka hula-hula i asa tumibu ro.

Apa yang kami uraikan dalam tulisan diatas bisa saja terjadi di punguan semua marga termasuk di hita Pomparan ni ompunta Raja Sitorus. Ala ni i rap marsiajar mahita ate ?

Tabe mardongan tangiang

St. Sampe Sitorus, SE

 

Read Full Post »

Terkadang kita menganggap hal sepele mengenai Buku Partording Ni Ulaon Pesta Unjuk (buku berisi data-data yang berhubungan dengan pelaksanaan pesta adat pernikahan yang biasa dipegang oleh Protokol, Raja Parhata dan beberapa natua-tua yang duduk sebarisan dengan Raja Parhata).

Tahukah kita bahwa buku tersebut sangat penting ?. Protokol dan Raja Parhata akan kerepotan jika buku tersebut belum tersedia ketika mereka sudah tiba di gedung. Kenapa bisa demikian ?.  Protokol dan parhobas tidak akan tahu manjou (memanggil dan mempersilahkan masuk) para undangan khususnya horong ni Hula-hula dohot Tulang.

Berikut ini contoh Buku Partording Ni Ulaon Pesta Unjuk angginami Lumumba Sitorus, SE dohot oroanna (na gabe anggiborunami) Nova SiskaThiorida br. Marpaung, Amd.  Silahkan klik link berikut ini:

Contoh Buku Panduan Pesta Lumumba

Yang seringkali terlupakan adalah berapa rangkap Buku Partording Ni Ulaon Pesta Unjuk ini di cetak ?. Pengalaman pribadi kami menyediakannya dalam 6 rangkap dengan perincian untuk : Protokol, Panambol (Sibagi Jambar), Parsinabung(Raja Parhata), Paidua ni suhut, Hasuhuton (yang duduk di panggung – berkaitan dengan kapan akan menyerahkan angka nahombar” (uang dalam amplop, dll), Natua-tua (kiri-kanan Raja Parhata). Jadi sangat kami sarankan untuk menyediakannya minimal 6 rangkap dan di jilid rapih.

Note:

1. Perihal layout dan tampilan bisa di lakukan improvisasi namun jangan karena mau tampil bagus malah yang berkepentingan dengan buku tersebut kesulitan untuk membacanya.

2. Buku Partording Ni Ulaon Pesta Unjuk ini seyogyanya sudah dibawa boru/parhobas yang duluan berangkat ke gedung (ketika Raja Parhata datang sudah tersedia, tidak lagi menunggu hasuhuton pulang dari gereja).

Semoga tulisan ini dapat membantu.

St. Sampe Sitorus / br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Seorang teman bercerita bahwa saat ini di bonapasogit menjadi trend para pangaranto yang hampir pensiun membangun rumah di kampung halamannya. Menanggapi cerita tersebut saya kata katakan bahwa mungkin ada keinginan untuk menikmati masa pensiun dan hari tua di kampung halaman.

Kawan tersebut menimpali, ya memang sih ada sisi positifnya namun konon ada juga belakangan ini datang mengaku bahwa di suatu kampung tersebut ada parjabuan (tanah partapakan) mereka padahal sepanjang pengetahuan orang sekampung tersebut orang yang mengaku-ngaku itu tidak punya parjabuan disana.

Akhirnya saya jadi teringat hal yang melatarbelakangi saya menulis parhutaan di kampung kami Lumban Tongatonga – Silamosik.

Note: baca tulisan saya di link dibawah ini

https://sitorusdori.wordpress.com/2010/11/23/parhutaan-lumban-tongatonga-silamosik-i/

Jujur saya pun khawatir nanti akan ada orang yang mengaku bahwa ompung mereka berdomisili di Lumban Tongatonga.  Syukur kepada Tuhan rasa khawatirku itu kemungkinan tidak akan terjadi karena sangat jelas bahwa namarhuta (bertempat tinggal) di Lumban Tongatonga hanyalah pomparan Op. Paralatan yakni 4 kakak beradik Op. Julu Debata, Op. Sisuhunan, Op. Saelan dan Op. Paian).

Bagaimana membuktikan hal tersebut ? Dalam tradisi Batak hanya “nampuna huta” yang memiliki jabu Ruma. Di Lumban Tongatonga hanya keturunan 4 kakak beradik tersebut yang memiliki parjabuan.

Jadi jika kemudian ada yang datang dan mengaku bahwa mereka memiliki parjabuan di Lumban Tongatonga, perlu di pertanyakan bukti kebenarannya.

Perlu di ingat bahwa namarhuta di Lumban Tongatonga adalah Pomparan Op. Paralatan. Generasi sebelumnya kemungkinan besar masih marhuta di Dolok Galasa yakni perkampungan di atas Lumban Tongatonga.

Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan kita bersama akan arti pentingnya “mangaramoti” tading tadingan ni ompunta (merawat dan melestarikan warisan leluhur) agar tidak timbul permasalahan di kemudian hari. Artinya kalaupun kita tidak bisa mempertahankan keutuhan jabu ruma gorga warisan kita, setidaknya ketika di parumpak (dirubuhkan) maka bekas parjabuan tersebut haruslah kita beri tanda misalnya dengan di pasang pondasi atau patok.  Namun yang lebih penting sesunguhnya adalah mengupayakan untuk mandulo (mengunjungi) kampung halaman.

Note: klik link di bawah ini

https://sitorusdori.wordpress.com/2010/09/07/memaknai-lagu-arga-do-bonani-pinasa/

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi kita bersama.

Tabe mardongan tangiang.

St. Sampe Sitorus, SE

 

Read Full Post »

Salahkah bila nama ompung (kakek moyang) kita jadikan nama putra kita ?

Pertanyaan diatas datang dari seorang kawan yang kebetulan memberikan nama putranya dengan mengambil nama ompung mereka. Rupanya saudara-saudaranya keberatan atas pemberian nama tersebut dan secara terang-terangan di minta agar nama tersebut tidak dijadikan nama panggilan si anak.

Jawaban singkat saya sepanjang pengetahuan saya pemberian nama ompung kepada anak (pinomparnya- keturunannya) tidaklah salah. Namun memang ada persyaratan tertentu yang harus di penuhi, walaupun itu tidak tertulis namun sesungguhnya tersirat. Apakah persyaratan tersebut ?

Dari panuturion almarhum ayah saya maka dalam tradisi Batak mangalap goar ni ompung haruslah melalui musyawarah keluarga dan ketika meminta persetujuan tersebut haruslah ada semacam acara khusus yakni semacam makan bersama (diginjang ni sipanganon). Yang mengajukan permintaan mangalap goarni ompung juga haruslah dari garis keturunan tertua (sihahaan) kecuali dang marindang baoa (garis keturunan tertua tadi tidak punya anak laki-laki maka garis keturunan tinodohon/adiknya berhak mengajukan). Beberapa pertimbangan seseorang mengajukan mangalap goar ni ompung adalah agar nama besar ompung mereka terlestarikan. Oleh karena itu tidaklah sembarangan memberikan nama ompung kepada seoarang anak. Diharapkan anak ini nanti akan manjungjung baringin ni ompungnya dan keluarga besarnya.

Salah satu contoh na mangalap goar ialah ayah kami Op.Tamado Sitorus yang benama lengkap Paian Sahala Halomoan Sitorus. Paian adalah nama ompung kami di generasi 10 (baca tulisan Sekali lagi tentang TAROMBO admin blog). Konon ketika ompungku (ayahnya ayahku) akan memberikan nama tersebut terlebih dahulu dibuat acara martonggo raja (mengumpulkan tetua adat tentu termasuk seluruh keturunan Op. Paian).

Dengan penjelasan tersebut akhirnya kawan tadi maklum dan mengakui bahwa mereka memberikan nama tersebut tanpa merundingkannya terlebih dahulu dengan saudara-saudaranya yang lain (haha-anggi). Betul memang dia adalah garis keturunan tertua.

Pantas saja haha – angginya keberatan dan meminta nama itu tidak dijadikan panggilan sehari-hari. Begitu toh.

Rupanya soal mangalap goar ini mulai trend saat ini, bahkan belakangan saya ketahui seorang haha doli (Sitorus pomparan ni Dori sian horong ni Lumban Nabolon) memberikan nama ayahnya menjadi nama putranya (nama putranya itu langsung mengambil nama kakeknya). Contoh: nanti putraku Hitado Managam di karunia putra, kemudian dia memberikan nama putranya Sampe. Ini sungguh luar biasa dan tidak terbayangkan oleh  saya bagaimana nanti ketika saya berkunjung ke rumah mereka atau sebaliknya, aku sedang memangku cucuku tersebut dan datanglah paruamenku naburju memanggil anaknya: ” Sampe makan dulu nak !” .  Bah dang terbayangkon ate ???.

Jadi kalau bisa saya simpulkan mangalap goar ni ompung setidaknya dilakukan dengan jarak minimal 3 generasi (generasi ke 4 baru bisa mangalap goar ni ompungna).

Alai hatangku ma i,  Boha pandapot ni angka dongan ? Ditambai angka dongan ate !

Tabe mardongan holong

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Sabtu siang tanggal 08 Januari 2011 saya menghadiri pesta ujuk pamuli boru (menikahkan putrinya) hulahula i Raja Sitanggang di BPU Ruma Gorga I Tanjung Duren – Jakarta Barat.

Sebagai boru (istriku boru Sitanggang) maka saya pun dengan senang hati marhobas (turut serta melayani agar acara berjalan lancar dan sukses). Syukur kepada Tuhan Yesus, doa dan harapan semua orang yang hadir terkabul, acara demi acara berjalan dengan khidmat dan lancar. Tiba waktunya akan pasahathon (menyerahkan) todoan, maka untuk sementara waktu dihentikan karena Kepala Dinas Perhubungan Tangerang  dan istri (kalau saya tidak salah namanya adalah bapak Gatot dan istrinya boru Siregar)  hadir dan hendak menyampaikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Note: hasuhuton parboru bekerja di Dinas Perhubungan Tangerang.

Sebenarnya hal tersebut masih biasa dan dapat dimaklumi khalayak ramai termasuk saya sendiri. Namun ada yang agak membuat saya “kurang nyaman” karena ternyata pihak hasuhuton parboru (Sitanggang) memberikan  ulos dengan alasan cendera mata yang langsung di uloshon(sampirkan) oleh tetua  adat Sitanggang kepada bapak Gatot dan istrinya boru Siregar.

Mohon maaf, memang tidak ada salahnya memberikan cindera mata kepada undangan khusus dan mungkin bukan urusan saya untuk mengkomentari hal tersebut, namun saya merasa perlu memberikan pandangan pribadi saya untuk sama-sama kita renungkan dan berharap mendapat masukan dari para pembaca budiman.

Kenapa saya agak “kurang nyaman” ? Alasannya sbb:

  1. Parboru sendiri belum memberikan ulos Passamot dan Ulos Hela, kok tamu/undangan sudah duluan di ulosi.
  2. Tulang Rorobot hasuhuton parboru adalah marga Siregar (Hulahula ni hulahula – dalam hal ini Hulahula Sinabutar dan Hulahula ni Sinabutar adalah Siregar).  Bukankah simatua boru ni hasuhuton parboru adalah boru Siregar ? Berarti yang di ulosi tadi adalah pariban dari simatua ni parboru. Lantas bagaimana mungkin Sitanggang mangulosi Simatuanya. Sebaiknya cendera mata yang diberikan tidak berupa ulos.

Sekali lagi santabi bolon di sangap ni Hula-hula i, saya tidak ada tendensi apa-apa, dan tidak merasa lebih tahu bahkan menyalahkan siapapun. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menampung masukan dari pembaca, barangkali mungkin ada hal yang kurang saya pahami sehingga melalui tanggapan yang masuk dapat menambah wawasan saya.

Tabe mardongan holong,

St. Sampe Sitorus, SE

Read Full Post »

Mamasuhi jabu/bagas (syukuran memasuki rumah baru) dengan mengadakan acara Partangiangan (Ibadah Syukur) pada dasarnya adalah satu hal yang baik dan sewajarnya di lakukan oleh setiap keluarga Batak Kristen.Dengan demikian berarti yang bersangkutan bersyukur atas segala berkat yang telah mereka terima dari Tuhan Sang Sumber Berkat.

Namun belakangan ini kami perhatikan ada semacam trend semua orang  mengadakan acara Partangiangan (Ibadah Syukur) pada hari Minggu bahkan bertepatan dengan jam ibadah di gereja (pukul 10.00 wib) dengan mengundang pendeta dari gereja tempat dia terdaftar sebagai jemaat. Adapun alasan pemilihan hari Minggu karena Hula-hula bisanya di hari tersebut (Jumat dan Sabtu ada ulaon/pesta), sementara waktu pelaksanan pukul 10.00 wib alasannya “Parnangkok ni Mataniari”. Cilakanya keluarga besar dan sanak famili dari tuan rumah tidak “marminggu” dan mereka menganggap toh disana juga dilaksanakan Ibadah bahkan tak jarang tuan rumah mengundang jemaat yang satu wijk (sektor) dengannya.

Ini menjadi dilematis bagi seorang pendeta (khususnya pendeta HKBP), karena pendeta seharusnya melayani di Parmingguon di gereja. Dan menurut aturan yang berlaku di HKBP seyogyanya permintaan seperti itu tidak dilayani. Namun di sisi lain jemaat beranggapan bahwa seyogyanya pendeta melayani karena toh itu juga ibadah. Pernah suatau kejadian pendeta melayani di acara memasuki rumah sementara pelayan firman di gereja seorang Sintua. Pernah juga terjadi terpaksa pendeta sibuk mencari pendeta pengganti untuk menjadi pelayan firman di gereja karena pendeta tersebut akan melayani ruas yang memasuki rumah baru.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, seandainya ada 2 atau 3 anggota jemaat yang melaksanakan acara yang sama atau sejenis pada hari Minggu dan meminta pendeta untuk melayani serta mengundang jemaat satu wijk (sektor) dengannya untuk menghadiri Ibadah Syukur tersebut, bagaimana jadinya ?. Bisa-bisa gereja kosong.

Atas hal tersebut marilah kita renungkan bersama. Menurut pemahaman saya marilah kita upayakan acara tersebut tidak dilakukan di hari Minggu melainkan di hari Sabtu. Jika pun terpaksa karena partingkian (masalah waktu) dilaksanakan hari Minggu, maka sebaiknya Ibadah Syukur dilakukan setelah jam ibadah (parmingguon) di gereja. Contoh: Acara Hula-hula  dohot Tulang pasahat napalas roha ni pamoruonna hasuhuton (memberi ulos dan dengke)  dilakukan terlebih dahulu dimulai sekitar pukul 10:oo wib, kemudian sekitar pukul 12.00 setelah pendeta datang (selesai parmingguon di gereja) dilanjutkan dengan Ibadah Syukur baru marsipanganon. Setelah marsipanganon baru kemudian dilanjutkan dengan marhata sigabe-gabe. Artinya sude angka nauli nadenggan na pinasahat ni Hula-hula dan Tulang di pasingkop ma dohot acara partangiangan.

Atau jika punya prinsip bahwa ibadah harus lebih dahulu, maka ya sabarlah menungggu pendeta. Perihal parnangkok ni mataniari harus dimaknai bukan lagi letter leg sekitar pukul 10.00 wib, toh juga kalau mau jujur rumah tersebut sudah lebih dahulu kita tempati beberapa hari lalu baru dibuat acara mamasuhi jabu. Sangat jarang dan hampir tidak ada rumah yang benar-benar baru di masuhi (tempati) pada hari acara tersebut dilaksanakan. Jadi kalau mau benar-benar menempati rumah pada saat parnangkok ni mata ni ari (fajar merekah menuju terik matahari – melambangkan kehidupan yang bersinar cerah / meningkat) ya lakukanlah ketika pertama kali pindah (memasuki rumah tersebut) disanalah lakukan doa bersama anggota keluarga.

Khusus bagi kita Pomparan Raja Mandidang Sitorus, marilah kita upayakan agar acara mamasuhi jabu tidak dilaksanakan hari Minggu. Marilah kita mamfaatkan hari Minggu untuk bersekutu dan beribadah di gereja kita masing-masing.

Ini sekedar masukan, barangkali ada pemikiran yang lain agar Ibadah di gereja tidak terkendala ?.

Tabe mardongan holong na sian Tuhanta Jesus Kristus.

St. Sampe Sitorus, SE

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d bloggers like this: