Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Semoga tulisan ini menjawab permintaan akan contoh undangan syukuran atas Lepas Sidi (Manghatindanghon Haporseoan) yang datang dari beberapa pembaca/pengunjung  setiap blog ini.

Fresh Juice Pesta 5500

Undangan Malua sian panghanghungi (lepas sidi)

Semoga bermamfaat.

St. Sampe Sitorus, SE

Read Full Post »

Tadi pagi (Selasa 07/09) saya baca status Alex E Sitorus (Pomparan Raja Mandidang Sitorus gitu lho) yang memuat penggalan syair lagu berikut

ARGA DO BONA NI PINASA
 
Arga do bonani pinasa di angka naserep mar roha,
ai ido tona ni ompunta tu hita angka pinomparna.
 
Argado bonani pinasa di angka naburju ma roha
sai ingot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.
   
Ai tano hatubuan hi do tu si do ingkon mulak au …
Nang pe arga sinamot muna sai ingot ma mulak tu huta.
  
Arga do bona ni pinasa di angka na burju marroha
Sai ingot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa.
  
Dao pe au nuaeng marjalang, sambuloki  sai hot do i.
  
Sai i ngot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa
Sai i ngot ma mulak tu huta, mulak tu bona ni pinasa

Sekarang bagaimana kita memaknai lagu terebut ?

Terjemahan bebas lagu tersebut diatas kira-kira seperti ini:

Kampung halaman sangat berharga (berkesan mendalam) bagi orang yang bijaksana, sebagimana pesan orangtua bahkan nenek moyang kita.

Kampung halaman sangat dikenang (dirindukan) oleh orang yang baik hati, Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Aku harus pulang melihat  Tanah Kelahiranku (asal-usulku), meskipun aku telah termasyhur, banyak harta benda di negeri orang, Takkan kulupakan kampung halamanku.

Kampung halaman sangat dikenang (dirindukan) oleh orang yang baik hati, Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Meskipun aku jauh merantau di negeri orang, hatiku/ jiwaku tetap tertuju pada kampung halamanku.

Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman. Oleh karenanya ingat dan jangan lupa untuk pulang menjenguk kampung halaman.

Syair lagu diatas berlaku untuk semua orang, dan saya yakin itulah salah satu yang melatarbelakangi mengapa orang berbondong-bondong mudik ketika musim Hari Raya (Islam – Idul Fitri, Kristen -Natal & Tahun Baru).

Berbicara mengenai memaknai lagu diatas, maka menurut hemat saya, akan lebih bermakna bila mudik (pulang kampung) itu memberikan dampak positif bagi kampung halaman. Tidak sekedar silaturahmi atau malah pamer keberadaan di kampung kita.

Saya sangat tersentuh dengan ajakan lae Sebastian Hutabarat (pemilik Toba Art-Balige) ketika saya kemukakan rencana kami (pomparan Op Monggo Doloksaribu) untuk mandulo bonapasogit (mudik) pada akhir Desember 2011 yang akan datang. Lae Sebastian meminta kesediaan kami untuk berbagi dengan membangun fasilitas MCK sederhana sekalipun di kampung halaman (terutama di kampung /huta sekitar yang belum ada MCK umum).

Masuk akal juga ajakan tersebut karena kebanyakan kampung(huta) di Tobasa minim fasilitas MCK. Padahal putra-putri kampung-kampung tersebut banyak yang sukses di perantauan.

Yang terjadi adalah kecenderungan egoisme dengan membangun rumah modern dan fasilitas pribadi yang tidak dapat dinikmati oleh orang kampung. Tentunya orang sekampung akan sangat berterima kasih andaikan sebagian dana pembangunan rumah tersebut disisihkan untuk membangun MCK Umum yang dapat digunakan semua orang.

Semoga himbauan lae Sebatian Hutabarat tersebut dapat kita wujudkan. Adakah saudaraku tergerak hatinya untuk membangun MCK umum di kampung saudara ?

Note: Tulisan ini juga cara saya untuk menyampaikan pemikiran ini kepada semua perantau termasuk pomparan Op Monggo Doloksaribu dan tentu saja Keluarga Besar Pomparan Raja Mandidang Sitorus

Bona ni Pinasa suatu Lambang Perikehidupan

 Bagi suku bangsa Batak, istilahBona ni Pinasa bukanlah suatu hal yang baru. Terjemahan dalam bahasa Indonesia maka artinya adalah “pohon nangka”. Bila terdengar dalam suatu kalimat berbahasa batak arti Bona ni Pinasa tak lain adalah sebuah perumpamaan yang melambangkan “Huta Hatubuan” atau kampung tempat kita dilahirkan.
Dari sekian banyak jenis pohon kenapa para leluhur suku bangsa batak harus menggunakan pohon nangka sebagai salah satu simbol dalam kehidupan sehari-harinya. Hal Inilah dipercaya membuat orang-orang keturunan Batak yang berada di tanah perantauan bahkan diseluruh dunia akan selalu ingat jati dirinya.

Ada beberapa arti yang tersirat di dalamnya yaitu antara lain :

  1. PERTAMA, bila kulit pohon dilukai, digeret atau ditebas maka akan mengeluarkan getah yang berwarna putih dan akan mengalir terus memanjang ke bawah selama ia masih ada. Diumpakan terhadap keluarga dan keturunan orang Batak yang berada di perantauan dimana pun ia berada bila diurutkan tarombo (silsilah) akan tetap terhubung dan akan ingat kampung halaman.
  2. KEDUA, dalam satu buah nangka yang utuh terdapat buah dalam jumlah banyak dan terpisah oleh sekat-sekatnya. Dalam daging buah terdapat biji. Daging buah adalah bagian yang dapat dimakan dan diumpamakanlah ini sebagai jabu/rumah yang banyak berada dalam satu perkampungan.
  3. KETIGA, sekat-sekat pembatas antara buah tersebutdiumpamakan sebagai aturan, norma maupun adat istiadat yang mengatur hubungan antar keluarga dalam satu huta/kampung. Demikianlah eratnya hubungan antara sesama seperti rekatnya buah dan sekat pembatasnya.
  4. KEEMPAT, kulit buah nangka yang membungkus seluruh buah diumpamakan sebagai seorang pemimpin / raja yang berkuasa atas satu huta/kampung.
  5. KELIMA, biji buah nangka diumpamakan sebagai orang-orang penduduk kampung hidup secara turun temurun. Sebab kalau biji nangka ditanam dan dirawat akan dapat tumbuh.
  6. KEENAM, getah pohon diumpamakan sebagai (mudar) darah. Seorang ibu akan merasa kesakitan dan mengeluarkan darah pada saat melahirkan/persalinan, demikianlah setiap keturunan Batak dilahirkan, dibesarkan dan dewasa dengan perjuangan dan pengorbanan orang tua/nenek moyangnya. Sehingga tidak boleh sekali-sekali melupakan kesusahan orang tua itu.
  7. KETUJUH, batang kayu pohon nangka terkenal sangat kuat, keras, demikian juga akarnya tertanam banyak dan dalam ke bawah tanah. Inilah sebagai simbol betapa kuat dan teguhnya adat bagi orang Batak.

Banyak lagi kegunaan dari bagian-bagian pohon nangka (bona ni pinasa) yang berguna bagi manusia dan dapat dilambangkan bagi kehidupan bangsa Batak.

Pada jaman dahulu kala leluhur bangsa batak sering hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal diantaranya untuk mencari lahan pertanian, peperangan antar huta, mencari krhidupan yang lebih layak dan lainnya. Lazimnya kebiasaan mereka bila sudah menempati tempat tinggal baru dan diam disana, mereka menanam pohon nangka (“pinasa”). Itulah sebagai simbol kehidupannya dan termasuk dapat memenuhi beberapa keperluan dari pohon nangka tersebut.

Bila mereka harus meninggalkan tempat tersebut atau dengan kata lain pindah ke tempat lain, suatu hari mereka akan selalu ingat ke huta panuanan ni pinasa tadi. Mereka akan mencari dan menemukan bona ni pinasa itu sudah besar pohonnya dan berbuah banyak. Sehingga timbul lagi keinginan dalam hati untuk tinggal dan diam disana.

Demikianlah leluhur bangsa Batak membuat istilah Bona ni Pinasa sebagai suatu lambang perikehidupan dan kebiasaan untuk dapat dimengerti anak cucu keturunannya.

Tabe mardongan tangiang dohot olopolop,

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam)

Referensi:
1. Panuturion ni Natuatua.
2. Blog http://parpulosibayak-desa-lumbaninaina.blogspot.co.id/2013/05/bona-ni-pinasa-suatu-lambang.html
 

Read Full Post »

Kalo orang Batak menghadiri acara adat apalagi ulaon las ni roha (sukacita) pastilah pakainnya rapih dan necis. Kaum ibu pasti menggunakan kebaya dan songket Palembangnya atau kain suji Tarutung. Dilain pihak kaum bapak pasti dandy dengan jasnya yang necis.  Bagi kaum bapak orang Batak rasanya kurang pas jika tidak lengkap dengan dasinya. Dapat kita katakan masih sangat jarang pria Batak pakai jas namun tidak pakai dasi. (meski sebenarnya model pun banyak yang tidak pakai dasi ketika menggunakan stelan jas).

Nah bagaimana jika seorang Hula-hula sudah tampil parlente tapi tidak pakai dasi ? Inlah yang saya alami sendiri hari Sabtu 07/08/2010 lalu ketika menghadiri ulaon unjuk (pesta penikahan) ibebere kami di Bandung.  Semasih di penginapan, begitu selesai mandi dan ganti pakain baru ketahuan kalo dasi tidak terbawa. Alhasil sang istri tercinta pun sangat merasa bersalah karena kelupaan tidak memastikan ada dasi di koper.

Dengan gaya ala iklan salah satu permen mint (ingat hak sepatu si cewek patah satu, setelah makan permen tersebut dia cuek bebek malah patahkan hak yang satu lagi), demikian juga saya dengan santainya kubilang sama istriku : Ah.. no problemo, aku ini kan sudah ganteng jadi tidak pakai dasi pun akan terlihat rapih. (red..puji diri hamamago).

Tiba di gedung pesta pun …. aku PD aja seolah-olah tidak ada yang kurang.  Toh apa yang bisa diperbuat, apa harus mampir dulu ke toko beli dasi ?. Nggak mampir dulu aja tetap terlambat tiba di gedung karena Jalan Soekarno Hatta- Bandung macet dan ternyata lampu TL nya yang buanyak banget tersebut penyebabnya..

At the end pelajaran apa yang bisa kita petik ? Khusus kita kaum bapak, kalo sudah begitu janganlah marah-marah sama istri karena toh tidak menyelesaikan masalah. Easy going aja. Untuk para istri….. 1. Please check and rechek ketika menyiapkan pakaian suami. Toh kalo hal seperti diatas terjadi, pasti penilaian orang yang melihat adalah bahwa istrinya tidak perhatikan suaminya atau bahasa Bataknya: ” Ai so di atturehon inanta i do hu roha amantana on”.  2. Jangan sampai si IBLIS menggoda, kalo sering begitu nanti ada orang lain yang lebih memberi perhatian, apalagi ma angka boruni halak ion dohonon ma i ? Bisa bahaya khan ?

Pos ma roham hasian inang ni gellenghu, sai dao ma angka si songoni ate ?

St. S. Sitorus,SE (Amani Hitado Managam Sitorus)

Read Full Post »

Pernahkah anda tiba-tiba terhenti berbicara karena blank (bisa disebabkan konsentrasi buyar/lupa apa yang mau dikatakan) ?. Kebayangkan seperti apa jadinya kalo hal itu terjadi di pesta nikah orang Batak ketika pihak tulang akan pasahat ulos (menyampirkan ulos) ke pengantin ?.

Nah ini yang terjadi  Sabtu 07 Agustus 2010 lalu dengan kami rombongan Hula-hula Namarhahamaranggi, abang saya (A.Tamado par Cilegon) pas waktu mau menyampaikan umpasa tiba-tiba “mago pusuk”.  Bukannya dia tidak biasa mandok hata (di Cilegon sudah masuk jajaran “parhata”), tapi itu terjadi begitu saja.

Pasaribu Habeahan br Manullang, Bandung Sabtu 07/08/2010

Pasaribu Habeahan br Manullang, Bandung Sabtu 07/08/2010

Walaupun akhirnya dia ingat kembali apa yang mau disampaikan tapi kami sempat saling berbisik bahkan pihak parhatanya parboru (yg duduk di depan berhadapan dengan parhatanya paranak) sempat nyeplos: “bah namago do pusuk tulang ?”.

Setelah selesai mangulosi kami tertawa terbahak-bahak bahkan hingga malam hari di penginapan kami masih bahas. E… tahe boi do hape mago pusuk ate ? (Oala bisa juga blank begitu yah).

Read Full Post »

Beberapa teman bertanya apa arti sticker one way yang ditempel dikaca belakang kucing (sebutan Panther oleh Panther Mania).

Bahkan ada yang mengira saya team sukses salah satu calon Bupati Tangerang Selatan. Berikut sticker yang mereka lihat:

One Way Sticker Raja Mandidang

Daripada simpang siur akhirnya kujelaskan ke mereka bahwa sticker one way dimaksud adalah sarana pemberitahuan kepada khalayak ramai bahwa kami Pomparan (keturunan) Raja Mandidang Sitorus punya blog tempat kami bisa berbagi informasi, pengetahuan, menambah wawasan dan apa saja untuk kemajuan bersama. Dengan menempelkannnya di mobil maka dia menjadi semacam kampanye berjalan agar orang2 tahu terutama yang merasa keturunan Raja Mandidang Sitorus. Populasi kami sedikit, sudah gitu tersebar dan sepertinya silaturahmi terputus. Semoga dengan mengkampanyekan seperti ini akan terjalin kembali. (Boi pajumpang hami angka namardongan tubu).

Partungkoan Raja Mandidang Sitorus

Horas

St. S. Sitorus

Read Full Post »

Pernahkah anda datang mengahadiri suatu acara dengan pakaian yang tidak pas (tidak cocok) ?

Saya pernah mengalaminya ketika Acara Bona Taon Punguan Pomparan Raja Mandidang pada tahun 2003 lalu. Acara tersebut dilaksanakan di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur. Acara Bona Taon waktu tersebut merupakan yang pertama kali saya ikut sehingga saya tidak berpikir bahwa Bona Taon adalah acara resmi karena melihat alamat pesta di perkemahan pramuka maka yag ada dalam pikiran saya adalah acara santai bak jalan-jalan ke taman mini (lets say Family Gathering). Alhasil sayapun pakai kaos T Shirt dan celana pendek sementara istri saya  karena sedang hamil juga pakai baju hamil santai.

Begitu tiba dilokasi parkir dan turun dari mobil saya lihat orang-orang berpakaian ala ke pesta Batak,  kaum bapak memakai jas dan kaum ibu pakai kebaya & songket. (Jujur sesungguhnya sejak SMP kelas 3 saya sdh di Cilegon, SMA dan Kuliah sambilkerja di Tangerang, – jadi nggak udik banget deh). Dasar tidak pernah mau ikut ke acara2 Batak pada saat itu membuat saya seperti orang KUPER.

Alamak.. apa mau dikata, tidak mungkin lagi pulang dulu ke Tangerang, jadi deh masuk ke aula tempat acara di gelar. Setelah ibadah selesai dan sambutan-sambutan dilaksanakan sejumlah permainan termasuk lomba joget jeruk. Saya berusaha untuk tidak ikut perlombaan namun MC (inang mama Sarah) menarik kami dan wajib ikut. Anehnya kami menang dan mendapat bingkisan.

Para pembaca budiman… kebayang kan gimana tengsin nya peserta lain rapih pakai jas, awak pakai celana pendek. Cilakanya MC ngeledk lagi .. habis melihat kebun ya pak ?.

Kelihatannya memang konyol tapi jujur saya akui waktu itu saya tidak tahu acara apa itu Bona Taon. Yang ada di benakku ini gak beda dengan acara Family Gathering, toh dilaksanakan di bumi perkemahan.

Adakah anda pernah mengalami hal yang sama atau serupa ? Jika pernah ayo berbagi pengalaman.

St. S. Sitorus

Read Full Post »

Manuk ni pea langge hotek-hotek laho marpira.
Sirang na marale-ale lobian sian na matean ini
Ayam Pea langge berkotek-kotek ketika hendak bertelur
Berpisah (putus hubungan) yang ber kawan karib lebih sedih dari yang kehilangan (ditinggal mati) ibu kandung.

Ungkapan diatas menggambarkan betapa dalamnya rasa kehilangan yang dialami seseorang ketika harus berpisah dengan sahabat karibnya.

Dalam pemahaman orang Batak, maka yang dikategorikan ale-ale(kawan karib) tersebut diantaranya teman sepermainan, teman saparmituan, sobat karib, teman “hang out” termasuk dongan sahuta (jika di perantauan ini), rekan seprofesi, bahkan teman se-Gereja, dsb.

Dalam konteks paradaton (adat Batak) ale-ale (sihal-sihal) memegang posisi strategis sebagai penyokong Dalihan Na Tolu. Dalam setiap ulaon adat selain unsur Dalihan Na Tolu maka Sihal-sihal memegang peranan penting. Oleh karenanya kita mendengar ungkapan Dalihan Na Tolu paopat Sihal-sihal. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi mengapa dongan sahuta harus hadir (ada) dalam setiap kegiatan adat.

Jika di gambarkan Dalihan Na Tolu merupakan 3 buah batu besar yang berfungsi menjadi tungku untuk menyokong wadah memasak, maka Sihal-sihal merupakan beberapa batu kecil untuk menyokong 3 buah batu tungku tersebut agar tetap tegak berdiri (penopang).

Demikian pemahaman mengenai ale-ale dalam konteks habatakon. Bila ada pemahaman yang lebih baik untuk mendukung silahkan di tambahkan. Komentar dan masukan dari pembaca kami tunggu.

St. Sampe Sitorus

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: