Feeds:
Posts
Comments
  1. Suhut , kedua pihak yang punya hajatan
  2. Parboru, orang tua pengenten perempuan=Bona ni hasuhuton
  3. Paranak, orang tua pengenten Pria= Suhut Bolon.
  4. Suhut Bolahan amak : Suhut yang menjadi tuan rumah dimana acara adat di selenggarakan.
  5. Suhut naniambangan, suhut yang datang
  6. Hula-hula, saudara laki-laki dari isteri masing-masing suhut
  7. Dongan Tubu, semua saudara laki masing-masing suhut
  8. Boru, semua yang isterinya semarga dengan marga kedua suhut
  9. Dongan sahuta, arti harafiah “teman sekampung” semua yang tinggal dalam huta/kampung komunitas (daerah tertentu) yang sama paradaton/solupnya.
  10. Ale-ale, sahabat yang diundang bukan berdasarkan garis persaudaraan (kekerabatan atau silsilah) .
  11. Uduran, rombongan masing-masing suhut, maupun rombongan masing-masing hula- hulanya.
  12. Raja Parhata (RP) &  Protokol (PR) adalah orang yang menjalankan rangkaian acara adat dan masing-masing Paranak maupun Parboru sebelumnya telah menunjuk yang menjadi Raja Parhata (RP) & Protokol (PR) nya.
  13. Namargoar, Tanda Makanan Adat , bagian-bagian tubuh hewan yang dipotong yang menandakan makanan adat itu adalah dari satu hewan (babi/lembu/kerbau) yang utuh, yang nantinya dibagikan.
  14. Jambar, namargoar yang dibagikan kepada yang berhak, sebagai legitimasi dan fungsi keberadaannya dalam acara adat itu.
  15. Dalihan Na Tolu (DNT), terjemahan harafiah ”Tungku Nan Tiga” satu sistim kekerabatan dan way of life masyarakat Adat Batak (Somba marHula-hula,Manat marDongan tubu, Elek margelleng/ boru)
  16. Solup, takaran beras dari bambu yang dipakai sebagai analogi paradaton, yang bermakna di huta mana acara adat batak di laksanakan, maka solup/paradaton dari huta itulah yang dipakai sebagai rujukan, atau disebut dengan hukum tradisi “sidapot solup do na ro.

Disarikan dari berbagai sumber

    Boasa di dok halak Batak boras sipirnitondi? Jala sude do boras na gabe sipirnitondi? Hatorangan najempek sian angka natua-tua, di nauju i godangan manduda tangan dope nasida, nang pe naung adong losung aek dohot gumpar. Dipasuhi nasida do boras botana i, ima muse diosas nasida (hasil tumbukan yang terbaik di pisah dan di simpan tersendiri).

    Molo adong ualon pesta di halak Batak dibahen ma boras i tu pinggan di padomu dohot angka donganna songon naung tarsurat ditingki pesta unjuk i. Disahalahon raja do (disahalahon lapatanna ditangianghon tu Mulajadi), ipe asa margoar sipirnitondi.  Tung godang pe boras di angka partiga-tiga, ndang digoari i sipirnitondi.

    Jadi boa nama si nuaeng on ? Boras na biasa ta jomput dohot ta bahen tu pinggan jotjotan na tatuhor sian warung tingki laho tu ulaon na ma, jala ala naung Kristen hita dang masa be di sahalahon (tangianghon tu Mulajadi).

    Alusna ta makna i ma i gabe Parbue Pir manang Parbue Gabe jala ta pasahat ma i marhite tangiang tu Amanta Debata Pardenggan Basa asa di pasu-pasu hita saluhutna.

    Angka natua-tua mandok: Molo manjomput sipirnitondi (Parbue Pir) tu na niupa do parjolo jomputon, alana ibana do umbahen di patupa ulaon i. Ipe asa tu na manjomput i, dungi di saurhon ma muse tu natorop. I ma namargoar parbue liat-liat asa liat gabe, liat horas.

    Alai ianggo pandapothu (penulis) songonon :

    Tu na mangupa i do parjolo (na naeng manjomput parbue pir), baru pe tu na ni upa, dungi di saurhon ma tu natorop.

    Dasar pemikiran : ingkon pir (togu) do tondi ni na naeng pasahathon sipirnitondi (Parbue Pir) baru pe boi ibana pasahathon.

    Contoh : Jomputon ma Parbue Pir i jala dohonon Pir ma tondi ku, ipe asa pasahathon tu na ni upa (pir ma tondim ……), dung i di saurhon tu natorop, jala dohonon Horas, Horas, Horas.

    Artinya kita memohon kepada Tuhan agar kita di mampukan melakukan hal tersebut. Mungkin tidak salah jika kita analogikan dengan pendeta yang akan melayani perjamuan kudus, pendeta tersebut sebelum melayani perjamuan kudus maka dia akan berdoa dan mengucap syukur (agar di mampukan), barulah kemudian dia makan roti dan minum anggur dan selanjutnya melayani perjamuan.

    Horas

    Sampe Sitorus (A. Hitado Managam)

    Virus H1N1 telah merambah ke salah satu pesantren di Jayanti Tangerang (lewat Balaraja ke arah Cikande-Serang).

    Salah satu kemungkinan penyebab cepatnya penyebaran virus ini dari seorang yang terjangkit ke orang lain oleh karena di pesantren ada budaya “cium tangan” . Kontak fisik seperti ini merupakan wadah yang paling cepat dalam penyebaran virus flu H1N1.

    Berikut update yang kami dapat dari General Announcement PT. Multi Bintang Indonesia.

    H1N1 Pesantren

    Mungkin sudah banyak diantara pembaca yang sudah mendengar acara sepeda santai Tour De Samosir yang akan dilaksanakan pada Jumat 31 Juli 2009 yang akan datang. (Atau malah ada yang belum tahu).

    Berikut  web site nya :

    http://www.tour-de-samosir.project-tapanuli.org/indexIndo.html

    Tahukan anda bahwa ternyata pengagasnya adalah ito kita  Nelly Andon br Sitorus yang huta hatubuannya di Parongil – Dairi. Selain mempromosikan pariwisata Samosir, sesungguhnya acara tersebut adalah bagian dari upaya ito Nelly untuk pengumpulan dana bagi BEA SISWA pelajar dari Samosir dan bantuan dana untuk SMP N Parongil -Dairi. (luar biasa)

    Berikut petikan tentang ito kita itu :

    Saya lahir dan menghabiskan masa kecil di Sumatra Utara, tepatnya di Dairi, Tanah Batak. Lahir dari orang tua asli suku Batak (Ayah dari marga Sitorus, ibu dari Boru Sirait). Pada saat saya berusia 9 tahun, saya kehilangan ayah tercinta, sehingga saya banyak belajar kehidupan ini dari ibunda almarhum, yang sangat saya sanjung dan cintai dimasa hidupnya. Ibu yang betul-betul tangguh dan mampu membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya, yang jumlahnya sangat besar, saya adalah nomor 10 dalam keluarga. Setelah lulus SMP dari SMPN Parongil, di Dairi, ibu dan keluarga kita pindah ke Jakarta dengan tujuan agar anak-anaknya bisa melanjutkan sekolah di sekolah menengah atas dan perguruan tiggi. Pada tahun 1984, saya berhasil lulus dari Akademi Bank Indonesia, di Jakarta. Setelah lulus kuliah, saya bertemu dengan seorang pria Inggris, yang kemudian menjadi suami saya hingga sekarang, dan dengan sangat bangga dan bersyukur kepada Allah, kita masih tetap bahagia sekalipun sudah menikah selama 21 tahun, dan tinggal di kota yang penuh rintangan sperti London. (untuk detailnya silahkan baca di :http://www.andons.co.uk/indexIndo.html

    Sebagaimana pernah kita bicarakan di arisan bulan Juni di rumah A. Andreas par Cikokol, pada dasarnya kita semua bangga atas upaya dan perbuatan ito kita ini.

    Hal tersebut saya sampaikan ke ito itu via email ke: nelly@andons.co.uk

    Berikut petikan percakapan kami via email
    2009/7/22 Nelly Andon <nelly@andons.co.uk>
    – Hide quoted text –

    Horas ito, salam kenal.

    Bangga dan sangat terharu menerima surat ini dari ito. Itoku posisi dimana? Medan, Toba atau Jakarta?

    Ito, saya berbuat hal yang sangat kecil sekali karena bangga jadi boru Batak dan cinta dengan Tanah Batak. Tanah yang sangat indah dan kaya tapi sumber alam yang tidak begitu dikelola. Saya sangat prihatin bahwa banyak orang2 Batak pintar di seluru dunia ini, tapi masih kurang ada perhatian untuk pulang. Jadi secara pelan-pelan aku sebagai boru Batak nun jauh di negeri orang, ingin sekali mengajak teman-teman untuk peduli. Kita anak-anak Batak adalah harapan Tanah Batak, parjalang atau bukan parjalang, siapa lagi ito yang bisa kita harapkan membangun huta. Orang2 non Batak pastilah ingin membangun kampung masing2. Jadi hanya kita-kita turunan Bataklah yang bisa diharapkan mengembangkan Tanah Batak.

    2 Hari lagi saya akan ke Toba, dan ada rencana ke Porsea dan Balige. Kalau ito di huta, mungkin kita bisa martarombo ito, minum kopi di pasar porsea. Semoga bisa ketemu. Kalau itu ada waktu datanglah ito bersepeda di Samosir J.

    Botima jolo ito sian ahu, mauliate di angka dukunugan sian hamu sude angka ibotongku  na burju. Salam buat semua anggota Pomparan ni Raja Sitorus.

    Horas.

    Nelly Andon Br Torus.

    From: Sampe Sitorus [mailto:sampesitorus@dosroha.com]
    Sent: 22 July 2009 10:43
    To: nelly@andons.co.uk
    Subject: Horas Ito

    Horas,

    Pertama. saya mau sampaikan rasa kagum luar biasa saya kepada ito (Nelly boru Sitorus).
    Saya dapat alamat ito ketika saya baca tour-de-samosir.

    Luar biasa kerja keras dan upaya yang ito lakukan untuk mempromosikan Samosir terlebih upaya
    pengumpulan dana bagi SMP Parongil.

    Yang membuat saya kagum adalah meskipun ito sudah lama meninggalkan “huta hatubuan” tetapi tetap ingat
    dan mau berbuat hal yang sangat baik.

    Tentang upaya ito ini pernah kami bicarakan di punguan Pomparan Raja Mandidang Sitorus se Jabotabek. Dan kami semua hula-hulamu sangat bangga atas apa yang ito lakukan ini.

    Punguan kami ni adalah pomparan Sitorus Dori yang berasal dari Porsea – Tobasa secara khusus Lumban Tonga-tonga (Silamosik) & Dolok Nagodang (Lumban Nabolon).

    Tuhan memberkati ito dan keluarga, serta seluruh usaha dan upaya ito.

    Sampe Sitorus
    https://sitorusdori.wordpress.com
    http://bonangindah.wordpress.com

    Menetes air mataku membaca email balasan ito kita itu.
    Betul, kitalah yang harus peduli tu tano hatubuanta.

    Syukur kepada Tuhan, GBU.

    Sampe Sitorus

    I Korintus 14 : 40

    Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.

    Sebagai umat Kristiani kita di ajarkan untuk hidup dalam keteraturan. Bahkan keseharian kita harus berlangsung dengan sopan dan teratur. Alih-alih tentang keteraturan, belakangan ini banyak hal kita jumpai di luar keteraturan. Salah satu contoh adalah dalam hal berkendara. Banyak pengendara baik roda dua maupun roda empat yang tidak mengindahkan keteraturan baik rambu lalu lintas maupun kelengkapan berkendara, dsb. Contoh kecil yang mungkin sepele adalah lampu rem yang sesungguhnya sangat vital.

    Banyak pengendara roda dua maupun roda empat yang mengganti mika merah lampu rem dengan warna putih crystal bahkan memasang lampu tambahan yang sangat menyilaukan bagi pengendara di belakangnya. Bukan tidak mungkin ketika melakukan pengereman, pengendara di belakang justru tidak bisa melihat karena silau dan terjadilah tabrakan.

    Tabrakan bisa dipicu banyak sebab. Hal sepele seperti lampu rem yang mati pun sanggup membuat kecelakaan beruntun dan fatal di jalan raya. Itu sebabnya, lampu rem termasuk bagian yang harus kita periksa sebelum menjalankan mobil. Pastikan komponen penting ini menyala terang dengan warna merahnya. Karena letaknya di belakang, kami sarankan Anda untuk menginjak-injak pedal rem dan melihat pantulan cahayanya untuk memastikan lampu rem berfungsi dengan baik.

    Bagaimana jika kita baru tahu bahwa lampu rem mati tatkala kita sedang asyik nyetir mobil di jalan raya? Untuk meminimalisir kebingungan pengendara lain, atasilah masalah ini dengan menghidupkan lampu kecil. Paling tidak, mereka yang berada di belakang akan lebih aware dengan posisi mobil kita. Selain itu, sebaiknya juga lebih memperhatikan jarak aman berkendara serta jangan melakukan pengereman mendadak.

    Begitu tiba di tempat, segera lakukan pemeriksaan. Ganti komponen-komponen yang memang sudah rusak. Pemeriksaan dapat dilakukan mulai dari luar. Jika lampu rem hanya mati satu, kemungkinan besar yang bermasalah adalah bohlam lampu yang mati tersebut. Buka mika dan ganti dengan bohlam yang baru.

    Tetapi jika lampu rem mati kedua-duanya, kemungkinan besar sekring stop putus. Periksa saja sekring stop yang umumnya terletak di bawah setir. Posisi yang lebih pasti bisa dilihat di buku manual mobil. Copot dan lihat apakah ada bagian sekring yang terputus. Jika ya, solusi mengatasi lampu rem yang mati adalah dengan mengganti sekring rusak ini..

    Jika di antara kita ada pengendara/pemilik kendaraan yang menggunakan mika putih atau memasang lampu tambahan yang sangat menyilaukan, melalui kesempatan ini saya himbau untuk kembali ke standar. Ingat hal itu membahayakan orang lain dan juga diri kita sendiri.

    Sudahkah anda periksa lampu rem anda ?

    Horas, GBU

    CSt. S. Sitorus, SE

    Referensi:
    http://www.astraworld.com

    Ikan Batak (Tor soro) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai budaya dan nilai ekonomis penting khususnya bagi masyarakat Batak, Jawa Barat dan Sumatera Utara. Di danau Toba (Sumatera Utara) Tor soro serta tiga jenis ikan lainnya yaitu Neolissochilus thienemanni, N. sumatranus, N. longipinis dikenal sebagai ikan Batak.

    Ikan Batak mempunyai ukuran relatif besar, yang tersebar di Sumatra dan Jawa antara lain di Kabupaten Kuningan, Kabupaten Sumedang (Jawa Barat) dan di Kabupaten Kediri (Jawa timur). Di Kabupaten Kuningan, ikan tersebut dipelihara di beberapa kolam tua dengan sumber air yang cukup dan dianggap keramat, dengan sebutan ikan “Dewa”.

    Ikan Batak belum dapat dibudidayakan secara intensif karena pasok benih hanya mengandalkan hasil pemijahan di alam, sedangkan populasinya di alam semakin menurun dan cenderung langka, sehingga dikhawatirkan akan punah. Selanjutnya masalah yang dihadapi dalam pembenihan jenis-jenis ikan perairan umum adalah kesulitan untuk mendapatkan induk yang matang kelamin dengan kualitas telur yang baik.

    Kegiatan penelitian domestikasi ikan Batak (Tor soro) di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor saat ini telah dapat membiakan secara alami dan buatan. Hasil pemijahan ikan tersebut berupa benih telah dipergunakan sebagai bahan restoking di danau Toba, Sumetera Utara.

    PERSYARATAN KUALITAS AIR

    Ikan Batak cocok dengan air yang jernih dan mengalir terus serta suhu relatif rendah, dengan dasar kolam berbatu-batu koral dan berpasir. Contoh kualitas air yang cocok bagi pembenihan ikan Batak adalah di Instalasi Penelitian Perikanan Air Tawar Cijeruk, (lihat padaTabel 1).

    Tabel 1 .Parameter sifat Fisika dan Kimia air Instalasi Penelitian Perikanan Air Tawar Cijeruk.

    Parameter Kisaran
    Oksigen terlarut (mg/l) 6,8 – 7,0
    pH 6,0
    Suhu (°C) 21-24
    C02 (mg/l) 2,2-4,5
    Kesadahan (mg/l) 12,3
    Debit Air (litcr/detik) 6-6,35
    Kecerahan Air >2,5m

     

     

    PEMELIHARAAN INDUK Ikan dapat matang gonad dengan baik dengan diberi pakan berupa pelet, dengan kandungan protein sekitar 28-30 % dan lemak sekitar 7 %, dengan jumlah 2-3 % bobot badan per hah. Induk-induk sangat responsif terhadap pakan buatan ini.

    Induk betina yang matang kelamin di Cijeruk mempunyai bobot 1450-2270 g, sedangkan jantan 1380-3500 g. Telur ikan Batak yang siap dipijahkan mempunyai ukuran diameter 29-3,3 mm.

    PEMIJAHAN

    Ikan Batak mudah berbiak secara dengan cara mengatur tinggi air diturunkan sekitar 30 cm selama 7 kemudian dinaikan sedikit demi s mencapai tinggi maksimal. Ikan jantai betina disimpan di dalam ki pemeliharaan. Perbandingan jumlah jantan dan betina adalah 1:2. Ikan memijah secara alami sekitar 9-14 Kemudian induk-induk akan membersihkan dasar kolam (batu kerikil) dengan radius sekitar 30 cm. Ikan akan memijah di habitat tersebut dan telur berada di sela-sela batu koral. Telur menetas 4 5 hari pada suhu air 19 – 21° C. Benih akan nampak sekitar 5 hari kemudian.

    • Pemijahan dengan pembuahan buatan.

    Induk yang telah matang gonad dirangsang dengan hormon gonadotropin (HCG) 500 u/kg untuk ikan betina setelah 24 jam dilanjutkan dengan Ovaprim dosis 0,8 ml/kg bobot badan, sedangkan induk jantan hanya dengan Ovaprim 0,5 ml/kg bobot badan. Sekitar 18 24 jam setelah penyuntikan induk betina akan ovulasi.

    Ikan yang akan mengeluarkan telur (nampak gelisah) ditangkap dan perutnya dialin (diurut) untuk mengeluarkan Kemudian dicampur dengan sperm diaduk dengan bulu ayam. Satu induk ukuran 1,650 – 3,200 kg i menghasilkan 1.050 -2.650 butir telur.

    PERAWATAN TELUR, LARVA DAN BENIH Telur ditetaskan di aquarium atau corong penetasan. Larva dipelihara di akuarium dan diberi pakan zooplankton(Brachionus, Moina) atau naupli Artemia sampai larva berukuran 2-3 cm, dan kemudian ditebar dalam bak atau kolam dan di pakan Tubifex dilanjutkan pakan berupa tepung. Benih ukuran panjang 5 cm akan dicapai setelah pemeliharaan 60 hari. Selanjutnya benih tersebut siap didederkan di bak atau dibesarkan di kolam.

    Ihan Sudah langka.

    Ihan memiliki nilai religius tersendiri, terutama dalam upacara adat. Sekarang, ikan tersebut mulai langka. Karena penangkapan terus berlangsung, tapi perkembang biakan di alam menurun.

    Pada jaman dulu penangkapan ihan di danau toba biasanya dengan menggunakan sabaran berupa susunan batu di tepi danau sehingga ihan masuk dengan tenang. Setelah mereka masuk, pintu sabaran ditutup lalu dilakukan penangkapan. Tidak terjadi pemburuan ke lubuk pemijahannya yang dapat mengganggu pertumbuhan jentik. Pamijahan ikan lazimnya di hulu sungai yang jernih untuk menghindari prederator yang ada dikolam raksasa itu. Sungai Binangalom di Kecamatan Lumbanjulu adalah alam habitat ihan batak. Masyarakat sekitar yang hendak menangkap ihan dari sungai itu sudah punya aturan dan cara tersendiri. Aturan dan cara itu tujuannya untuk tidak terjadi perusakan apalagi niat menghancurkkan ikan sakral itu. Namun, masyarakat disana pernah mengutarakan kekecewaan mereka, ketika masyarakat dari kota datang menangkap ikan di sungai itu dengan menggunakan stroom listrik. Itu akan membunuh anak ikan, keluh mereka. Belum ada peraturan daerah untuk perlindungan ikan langka itu.

    Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan Tobasa, melaksanakan kegiatan “Pembuatan Kolam Penampungan”. Tujuannya, agar ikan yang keluar dari lubuk dimaksud, dapat tertampung . Diharapkan, lubuk larangan yang menjadi habitat ihan yang menjadi kebanggan orang Batak ini, bisa dilestarikan. Tujuan paling utama, yaitu pelestarian. Lubuk larangan akan dipagari berdasarkan nilai etika dan estetika. Sehingga, pada gilirannya bisa berpeluang menjadi objek agro wisata minat khusus. Eksistensi ihan batak yang legendaris, harus dapat dipertahankan.

    Aek Sirambe, diyakini merupakan habitat paling sesuai. Juga, merupakan situs menarik yang unik dan legendaris. Disana sudah dibangun sebuah kolam untuk pembiakan ihan itu dan selanjutnya dilepas kehilir sungai. Bila ini berhasil, sungai itu akan dipenuhi ihan yang dapat ditangkap dan dimakan.

    Kualitas air sirambe sangat bagus, memungkinkan untuk syarat hidup ikan yang sudah hampir langka ini. Yaitu, hanya bisa hidup pada air jernih yang terus mengalir deras, dengan suhu relatif rendah 21 – 25 derajat Celcius. Kebiasaan dari ikan ini, berkelompok dan beriring (mudur-udur).

    Dengke Simudurudur

    Ada pemahaman saat ini bahwa dikatakan simudurudur karena ikan yang sudah dimasak dijajarkan beberapa ekor diatas nasi dalam piring. Namun leluhur kita yang arif dan bijak itu tidak menggambarkan sifat mati untuk harapan sifat hidup. Ihan dan porapora memiliki sifat hidup mudurudur ke satu arah tertentu. Ini tidak dimiliki sifat ikan mas, menurut pengamatan para leluhur.

    Yang dikatakan masyarakat batak dengke simudurudur adalah ihan dan porapora. Ikan mas tidak termasuk kategori dengke simudurudur, tapi disebut dengke namokmok. Kedua jenis ihan dan ikan mas dikategorikan juga dengke sitiotio, tidak termasuk porapora. Simudurudur adalah sebutan dari sifat ikan itu semasih hidup, yaitu ihan dan porapora. Simudurudur bukan menggambarkan (sifat) ikan yang sudah mati, dimasak dan dibariskan dalam piring. Leluhur selalu menggambarkan sifat hidup dan untuk hidup. Porapora adalah pilihan kedua dalam acara mangupa setelah ihan. Ikan mas adalah pilihan ketiga. Saat ini masyarakat adat sudah melupakan sifat ikan itu yang marudurudur dan telah mengatakan itu pada ikan mas dan menjadi pilihan pertama (karena Ihan langka).

    Pandohan tingki pasahat upa –upa (pasahat dengke).

    Dengke Sitiotio do ginoaran dengke na huupahon hami on, asa anggiat tio parngoluan mu tujoloan on; Dengke Simudurudur do huhut goarna asa sai tongtong tu joloan on sai denggan hamu mudurudur marsihaholongan di sude parngoluanmuna; Dengke Saur do deba goarna, asa anggiat nian saur hamu rap saur matua, saur di hahipason; ginoaran dope on Dengke Sahat asa sahat ma nian sude nauli nadenggan sahat pangabean sahat parhorasan di hamu lehonon ni Amanta Debata Pardenggan basa i.

    Ihan Batak = Ikan Kancra / Ikan Dewa ?

    Konon ikan sejenis dapat kita temukan di tempat pemandian Cibulan (masuk wilayah Cilimus) dekat kaki Gunung Ciremai Desa Manislor, Kuningan- Jabar. Oleh masyarakat sekitar di kenal dengan sebutan ikan dewa / kancra. Warga sekitar “meng-keramat-kan” ikan-2 tsb dimana konon menurut cerita bahwa ikan-2 tsb merupakan klangenan dari para leluhur suatu kerajaan Pasundan dan hidup di lokasi tsb secara turun-temurun

    Sumber :

    Balai Riset perikanan Budidaya Air Tawar Bogor Jln. Sempur No.1 Bogor Telp. 0251- 313200 Fax. 0251- 327890 E-mail : brpbat@telkom.net

    Monang Naipospos ->http://tanobatak.wordpress.com/

    Berikut berita terbaru tentang pandemik Flu H1N1 yang ternyata sudah merambah hingga ke wilayah Curug – Tangerang.

    H1N1

    Sumber :

    INFLUENZA A – H1N1 ( UPDATE NEWS 16 JULI 2009)
    General Announcement PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk
    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: