Feeds:
Posts
Comments

Ditulis pada September 3, 2008 oleh tanobatak (http://tanobatak.wordpress.com)

R B MARPAUNG

Rumah adat bagi orang Batak didirikan bukan hanya sekedar tempat bemaung dan berteduh dari hujan dan panas terik matahari semata tetapi sebenanya sarat dengan nilai filosofi yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman hidup.

Beragam pengertian dan nilai luhur yang melekat dan dikandung dalam rumah adat tradisionil yang mestinya dapat dimaknai dan dipegang sebagai pandangan hidup dalam tatanan kehidupan sehari-hari, dalam rangka pergaulan antar individu.

Dalam kesempatan ini akan dipaparkan nilai flosofi yang terkandung didalamnya sebagai bentuk cagar budaya, yang diharapkan dapat menjadi sarana pelestarian budaya, agar kelak dapat diwariskan kepada generasi penerus untuk selalu rindu dan cinta terhadap budayanya.

Proses Mendirikan Rumah.

Sebelum mendirikan rumah lebih dulu dikumpulkan bahan-bahan bangunan yang diperlukan, dalam bahasa Batak Toba dikatakan “mangarade”. Bahan-bahan yang diinginkan antara lain tiang, tustus (pasak), pandingdingan, parhongkom, urur, ninggor, ture-ture, sijongjongi, sitindangi, songsong boltok dan ijuk sebagai bahan atap. Juga bahan untuk singa-singa, ulu paung dan sebagainya yang diperlukan.

Dalam melengkapi kebutuhan akan bahan bangunan tersebut selalu dilaksanakan dengan gotong royong yang dalam bahasa Batak toba dikenal sebagai “marsirumpa” suatu bentuk gotong royong tanpa pamrih.

Sesudah bahan bangunan tersebut telah lengkap maka teknis pengerjaannya diserahkan kepada “pande” (ahli di bidang tertentu, untuk membuat rumah disebut tukang) untuk merancang dan mewujudkan pembangunan rumah dimaksud sesuai pesanan dan keinginan si pemilik rumah apakah bentuk “Ruma” atau “Sopo”.

Biasanya tahapan yang dilaksanakan oleh pande adalah untuk seleksi bahan bangunan dengan kriteria yang digunakan didasarkan pada nyaring suara kayu yang diketok oleh pande dengan alat tertentu. Hai itu disebut “mamingning”.

Kayu yang suaranya paling nyaring dipergunakan sebagai tiang “Jabu bona”. Dan kayu dengan suara nyaring kedua untuk tiang “jabu soding” yang seterusnya secara berturut dipergunakan untuk tiang “jabu suhat” dan “si tampar piring”.

Tahapan selanjutnya yang dilakukan pande adalah “marsitiktik”. Yang pertama dituhil (dipahat) adalah tiang jabu bona sesuai falsafah yang mengatakan “Tais pe banjar ganjang mandapot di raja huta. Bolon pe ruma gorga mandapot di jabu bona”.

Salah satu hal penting yang mendapat perhatian dalam membangun rumah adalah penentuan pondasi. Ada pemahaman bahwa tanpa letak pondasi yang kuat maka rumah tidak bakalan kokoh berdiri. Pengertian ini terangkum dalam falsafah yang mengatakan “hot di ojahanna” dan hal ini berhubungan dengan pengertian Batak yang berprinsip bahwa di mana tanah di pijak disitu langit jungjung.

Pondasi dibuat dalam formasi empat segi yang dibantu beberapa tiang penopang yang lain. Untuk keperluan dinding rumah komponen pembentuk terdiri dari “pandingdingan” yang bobotnya cukup berat sehingga ada falsafah yang mengatakan “Ndang tartea sahalak sada pandingdingan” sebagai isyarat perlu dijalin kerja sama dan kebersamaan dalam memikui beban berat.

Pandingdingan dipersatukan dengan “parhongkom” dengan menggunakan “hansing-hansing” sebagai alat pemersatu. Dalam hal ini ada ungkapan yang mengatakan “Hot di batuna jala ransang di ransang-ransangna” dan “hansing di hansing-hansingna”, yang berpengertian bahwa dasar dan landasan telah dibuat dan kiranya komponen lainnya juga dapat berdiri dengan kokoh. Ini dimaknai untuk menunjukkan eksistensi rumah tersebut, dan dalam kehidupan sehari-hari. Dimaknai juga bahwa setiap penghuni rumah harus selalu rangkul merangkul dan mempunyai pergaulan yang harmonis dengan tetangga.

Untuk mendukung rangka bagian atas yang disebut “bungkulan” ditopang oleh “tiang ninggor”. Agar ninggor dapat terus berdiri tegak, ditopang oleh “sitindangi”, dan penopang yang letaknya berada di depan tiang ninggor dinamai “sijongjongi”. Bagi orang Batak, tiang ninggor selalu diposisikan sebagai simbol kejujuran, karena tiang tersebut posisinya tegak lurus menjulang ke atas. Dan dalam menegakkan kejujuran tersebut termasuk dalam menegakkan kebenaran dan keadilan selalu ditopang dan dibantu oleh sitindangi dan sijongjongi.

Dibawah atap bagian depan ada yang disebut “arop-arop”. Ini merupakan simbol dari adanya pengharapan bahwa kelak dapat menikmati penghidupan yang layak, dan pengharapan agar selalu diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam kepercayaan orang Batak sebelum mengenal agama disebut Mula Jadi Na Bolon sebagai Maha Pencipta dan Khalik langit dan bumi yang dalam bahasa Batak disebut “Si tompa hasiangan jala Sigomgom parluhutan”.

Di sebelah depan bagian atas yang merupakan komponen untuk merajut dan menahan atap supaya tetap kokoh ada “songsong boltok”. Maknanya, seandainya ada tindakan dan pelayanan yang kurang berkenan di hati termasuk dalam hal sajian makanan kepada tamu harus dipendam dalam hati. Seperti kata pepatah Melayu yang mengatakan “Kalau ada jarum yang patah jangan di simpan dalam peti kalau ada kata yang salah jangan disimpan dalam hati�.

“Ombis-ombis” terletak disebalah kanan dan kiri yang membentang dari belakang ke depan. Kemungkinan dalam rumah modern sekarang disebut dengan list plank. Berfungsi sebagai pemersatu kekuatan bagi “urur” yang menahan atap yang terbuat dari ijuk sehingga tetap dalam keadaan utuh. Dalam pengertian orang Batak ombis-ombis ini dapat menyimbolkan bahwa dalam kehidupan manusia tidak ada yang sempurna dan tidak luput dari keterbatasan kemampuan, karena itu perlu untuk mendapat nasehat dan saran dari sesama manusia. Sosok individu yang berkarakter seperti itu disebut “Pangombisi do ibana di angka ulaon ni dongan” yaitu orang yang selalu peduli terhadap apa yang terjadi bagi sesama baik di kala duka maupun dalam sukacita.

Pemanfaatan Ruangan

Pada bagian dalam rumah (interior) dibangun lantai yang dalam pangertian Batak disebut “papan”. Agar lantai tersebut kokoh dan tidak goyang maka dibuat galang lantai (halang papan) yang disebut dengan “gulang-gulang”. Dapat juga berfungsi untuk memperkokoh bangunan rumah sehingga ada ungkapan yang mengatakan “Hot do jabu i hot margulang-gulang, boru ni ise pe dialap bere i hot do i boru ni tulang.”

Untuk menjaga kebersihan rumah, di bagian tengah agak ke belakang dekat tungku tempat bertanak ada dibuat lobang yang disebut dengan “talaga”. Semua yang kotor seperti debu, pasir karena lantai disapu keluar melalui lobang tersebut. Karena itu ada falsafah yang mengatakan “Talaga panduduran, lubang-lubang panompasan” yang dapat mengartikan bahwa segala perbuatan kawan yang tercela atau perbuatan yang dapat membuat orang tersinggung harus dapat dilupakan.

Di sebelah depan dibangun ruangan kecil berbentuk panggung (mirip balkon) dan ruangan tersebut dinamai sebagai “songkor”. Di kala ada pesta bagi yang empunya rumah ruangan tersebut digunakan sebagai tempat “pargonsi” (penabuh gendang Batak) dan ada juga kalanya dapat digunakan sebagai tempat alat-alat pertanian seperti bajak dan cangkul setelah selesai bertanam padi.

Setara dengan songkor di sebelah belakang rumah dibangun juga ruangan berbentuk panggung yang disebut “pangabang”, dipergunakan untuk tempat menyimpan padi, biasanya dimasukkan dalam “bahul-bahul”. Bila ukuran tempat padi itu lebih besar disebut dengan “ompon”. Hal itu penyebab maka penghuni rumah yang tingkat kehidupannya sejahtera dijuluki sebagai “Parbahul-bahul na bolon”. Dan ada juga falsafah yang mengatakan “Pir ma pongki bahul-bahul pansalongan. Pir ma tondi luju-luju ma pangomoan”, sebagai permohonan dan keinginan agar murah rejeki dan mata pencaharian menjadi lancar.

Melintang di bagian tengah dibangun “para-para” sebagai tempat ijuk yang kegunaannya untuk menyisip atap rumah jika bocor. Dibawah para�para dibuat “parlabian” digunakan tempat rotan dan alat-alat pertukangan seperti hortuk, baliung dan baji-baji dan lain sebagainya. Karena itu ada fatsafah yang mengatakan “Ijuk di para-para, hotang di parlabian, na bisuk bangkit gabe raja ndang adong be na oto tu pargadisan” yang artinya kira-kira jika manusia yang bijak bestari diangkat menjadi raja maka orang bodoh dan kaum lemah dapat terlindungi karena sudah mendapat perlakuan yang adil dan selalu diayomi.

Untuk masuk ke dalam rumah dilengkapi dengan “tangga” yang berada di sebelah depan rumah dan menempel pada parhongkom. Untuk rumah sopo dan tangga untuk “Ruma” dulu kala berada di “tampunak”. Karena itu ada falsafah yang berbunyi bahwa “Tampunak ni sibaganding, di dolok ni pangiringan. Horas ma na marhaha-maranggi jala tangkas ma sipairing-iringan”.

Ada kalanya keadaan tangga dapat menjadi kebanggaan bagi orang Batak. Bila tangga yang cepat aus menandakan bahwa tangga tersebut sering dilintasi orang. Pengertian bahwa yang punya rumah adalah orang yang senang menerima tamu dan sering dikunjungi orang karena orang tersebut ramah. Tangga tersebut dinamai dengan “Tangga rege-rege”.

Gorga

Disebelah depan rumah dihiasi dengan oramen dalam bentuk ukiran yang disebut dengan “gorga” dan terdiri dari beberapa jenis yaitu gorga sampur borna, gorga sipalang dan gorga sidomdom di robean.

Gorga itu dihiasi (dicat) dengan tlga warna yaitu wama merah (narara), putih (nabontar) dan hitam (nabirong). Warna merah melambangkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan yang berbuah kebijaksanaan. Warna putih melambangkan ketulusan dan kejujuran yang berbuah kesucian. Wama hitam melambangkan kerajaan dan kewibawaan yang berbuah kepemimpinan.

Sebelum orang Batak mengenal cat seperti sekarang, untuk mewarnai gorga mereka memakai “batu hula” untuk warna merah, untuk warna putih digunakan “tano buro” (sejenis tanah liat tapi berwana putih), dan untuk warna hitam didapat dengan mengambil minyak buah jarak yang dibakar sampai gosong. Sedangkan untuk perekatnya digunakan air taji dari jenis beras yang bernama Beras Siputo.

Disamping gorga, rumah Batak juga dilengkapi dengan ukiran lain yang dikenal sebagai “singa-singa”, suatu lambang yang mengartikan bahwa penghuni rumah harus sanggup mandiri dan menunjukkan identitasnya sebagai rnanusia berbudaya. Singa-singa berasal dari gambaran “sihapor” (belalang) yang diukir menjadi bentuk patung dan ditempatkan di sebelah depan rumah tersebut. Belalang tersebut ada dua jenis yaitu sihapor lunjung untuk singa-singa Ruma dan sihapor gurdong untuk rumah Sopo.

Hal ini dikukuhkan dalam bentuk filsafat yang mengatakan “Metmet pe sihapor lunjung di jujung do uluna” yang artinya bahwa meskipun kondisi dan status sosial pemilik rumah tidak terlalu beruntung namun harus selalu tegar dan mampu untuk menjaga integritas dan citra nama baiknya.

Perabot Penting

Berbagai bentuk dan perabotan yang bernilai bagi orang Batak antara lain adalah “ampang” yang berguna sebagai alat takaran (pengukur) untuk padi dan beras. Karena itu ada falsafah yang mengatakan “Ampang di jolo-jolo, panguhatan di pudi-pudi. Adat na hot pinungka ni na parjolo, ihuthononton sian pudi”. Pengertian yang dikandungnya adalah bahwa apa bentuk adat yang telah lazim dilaksanakan oleh para leluhur hendaknya dapat dilestarikan oleh generasi penerus. Perlu ditambahkan bahwa “panguhatan” adalah sebagai tempat air untuk keperluan memasak.

Di sebelah bagian atas kiri dan kanan yang letaknya berada di atas pandingdingan dibuat “pangumbari” yang gunanya sebagai tempat meletakkan barang-barang yang diperlukan sehari-hari seperti kain, tikar dan lain-lain. Falsafah hidup yang disuarakannya adalah “Ni buat silinjuang ampe tu pangumbari. Jagar do simanjujung molo ni ampehon tali-tali”.

Untuk menyimpan barang-barang yang bernilai tinggi dan mempunyai harga yang mahal biasanya disimpan dalam “hombung”, seperti sere (emas), perak, ringgit (mata uang sebagai alat penukar), ogung, dan ragam ulos seperti ragi hotang, ragi idup, ragi pangko, ragi harangan, ragi huting, marmjam sisi, runjat, pinunsaan, jugia so pipot dan beraneka ragam jenis tati-tali seperti tutur-tutur, padang ursa, tumtuman dan piso halasan, tombuk lada, tutu pege dan lain sebagainya.

Karena orang Batak mempunyai karakter yang mengagungkan keterbukaan maka di kala penghuni rumah meninggal dunia dalam usia lanjut dan telah mempunyai cucu maka ada acara yang bersifat kekeluargaan untuk memeriksa isi hombung. Ini disebut dengan “ungkap hombung” yang disaksikan oleh pihak hula-hula.

Untuk keluarga dengan tingkat ekonomi sederhana, ada tempat menyimpan barang-barang yang disebut dengan “rumbi” yang fungsinya hampir sama dengan hombung hanya saja ukurannya lebih kecil dan tidak semewah hombung.

Sebagai tungku memasak biasanya terdiri dari beberapa buah batu yang disebut “dalihan”. Biasanya ini terdiri dari 5 (lima) buah sehingga tungku tempat memasak menjadi dua, sehingga dapat menanak nasi dan lauk pauk sekaligus.

Banyak julukan yang ditujukan kepada orang yang empunya rumah tentang kesudiannya untuk menerima tamu dengan hati yang senang yaitu “paramak so balunon” yang berarti bahwa “amak” (tikar) yang berfungsi sebagai tempat duduk bagi tamu terhormat jarang digulung, karena baru saja tikar tersebut digunakan sudah datang tamu yang lain lagi.

“Partataring so ra mintop” menandakan bahwa tungku tempat menanak nasi selalu mempunyai bara api tidak pernah padam. Menandakan bahwa yang empunya rumah selalu gesit dan siap sedia dalam menyuguhkan sajian yang perlu untuk tamu.

“Parsangkalan so mahiang” menandakan bahwa orang Batak akan berupaya semaksimal mungkin untuk memikirkan dan memberikan hidangan yang bernilai dan cukup enak yang biasanya dari daging ternak.

Untuk itu semua maka orang Batak selalu menginginkan penghasilan mencukupi untuk dapat hidup sejahtera dan kiranya murah rejeki, mempunyai mata pencaharian yang memadai, sehingga disebut “Parrambuan so ra marsik”.

Tikar yang disebut “amak” adalah benda yang penting bagi orang Batak. Berfungsi untuk alas tidur dan sebagai penghangat badan yang dinamai bulusan. Oleh karena itu ada falsafah yang mengatakan “Amak do bulusan bahul-bahul inganan ni eme. Horas uhum martulang gabe uhum marbere”.

Jenis lain dari tikar adalah rere yang khusus untuk digunakan sebagai alas tempat duduk sehari-hari dan bila sudah usang maka digunakan menjadi “pangarerean” sebagai dasar dari membentuk “luhutan” yaitu kumpulan padi yang baru disabit dan dibentuk bundar. Tentang hal ini ada ungkapan yang mengatakan “Sala mandasor sega luhutan” di mana pengertiannya adalah bahwa jika salah dalam perencanaan maka akibatnya tujuan dapat menjadi terbengkalai.

Penutup

Nilai budaya itu sangat perlu dilestarikan dan hendaknya dapat ditempatkan sebagai dasar filosofi sebagai pandangan hidup bagi generasi penerus kelak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai budayanya, karena itu Bangso Batak perlu menjaga citra dan jati dirinya agar keberadaannya tetap mendapat tempat dalam pergaulan hubungan yang harmonis.

Penulis juga mengakui bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna maka segala bentuk saran dan masukan yang sifatnya membangun akan diterima dengan senang hati, Kiranya Tuhan memberkati kita semua. HORAS

Arti harafiah tumpak adalah sumbangan bentuk uang, tetapi melihat keberadaan masing-masing dalam acara adat. Mungkin istilah yang lebih tepat adalah tanda kasih.

Sebagai tanda kasih, siapakah yang memberikan tumpak dan kepada siapa ? Semuanya itu tergantung ulaon (acara) adat nya.

Mangompoi Jabu  (Termasuk Mamasuhi/Manuruk Jabu)

Yang memberikan tumpak (tanda kasih) adalah : Boru, Bere – Ibebere termasuk Ale-ale. Biasanya tidak ada acara khusus untuk memberikan tumpak (tanda kasih) namun biasanya di serahkan ketika akan pulang sambil di salamkan.

Di beberapa ulaon Mamasuhi/Manuruk jabu yang penulis ikuti ada yang menyerahkan setelah selesai mandok hata sambil menyalam (manjalang) suhut.

Pengamatan penulis Dongan tubu  dan Dongan sahuta pun sudah lebih sering menyalamkan amplop. (mungkin melihat sisi praktisnya, padahal seharusnya Dongan tubu dan Dongan sahuta membawa Parbue Gabe / beras).

Pesta Unjuk (Di gedung)

Yang memberikan tumpak adalah undangan Suhut Paranak (undangan pihak keluarga mempelai pria). Termasuk di antara undangan Suhut Paranak adalah: Dongan tubu, Boru, Bere – Ibebere termasuk Ale-ale.

Setelah selesai santap makan, Protokol Paranak memohon ijin kepada Protokol Parboru agar di beri waktu untuk menerima undangan yang akan pasahat tumpak.

Biasanya Pamarai pihak paranak bertugas menyampaikan “mangido pagurupion” (silahkan baca tulisan tugas Pamarai, Simanggokhon &  Paidua Ni Suhut Paranak)

Undangan menyerahkan TUMPAK dengan datang panggung ke tempat SUHUT duduk sembari memasukkan amplop (ampau) ke dalam Ampang/Jual (wadah tempat manjalo tumpak) yang disediakan dihadapan Suhut Paranak, Namun ada juga yang langsung di salamkan ke Suhut Paranak.

Ulaon Sari Matua , Saur Matua, Maulibulung

Yang memberikan tumpak adalah : Dongan tubu, Boru, Bere – Ibebere termasuk Ale-ale.

Setelah Paidua ni Suhut manggora, maka : Dongan tubu, Boru, Bere – Ibebere termasuk Ale-ale menyerahkan TUMPAK dengan datang ke tempat SUHUT (anak almarhum) berdiri sembari memasukkan amplop (ampau) ke dalam Ampang/Jual (wadah tempat manjalo tumpak) yang disediakan di hadapan Putra tertua almarhum.

Note:

Di ulaon mamoholi, tardidi dan malua (lepas sidi) biasanya Boru, Bere – Ibebere termasuk Ale-ale menyalamkan amplop berisi uang..

Amplop berisi sejumlah uang tersebut tidak masuk kategori tumpak namun sebagai :

Ulaon Disebut Diserahkan ke
Mamoholi / Tardidi Pasibadak/Pasibaju Ibunya Bayi
Malua / Lepas Sidi Si Palas roha ni namalua Yang lepas sidi

Pengamatan penulis Dongan tubu  dan Dongan sahuta pun sudah lebih sering menyalamkan amplop. (mungkin melihat sisi praktisnya, padahal seharusnya Dongan tubu dan Dongan sahuta membawa Parbue Pir / beras).


Disarikan dari berbagai sumber dan pengalaman penulis
Sampe Sitorus  (A. Hitado Mangam)
  1. Suhut , kedua pihak yang punya hajatan
  2. Parboru, orang tua pengenten perempuan=Bona ni hasuhuton
  3. Paranak, orang tua pengenten Pria= Suhut Bolon.
  4. Suhut Bolahan amak : Suhut yang menjadi tuan rumah dimana acara adat di selenggarakan.
  5. Suhut naniambangan, suhut yang datang
  6. Hula-hula, saudara laki-laki dari isteri masing-masing suhut
  7. Dongan Tubu, semua saudara laki masing-masing suhut
  8. Boru, semua yang isterinya semarga dengan marga kedua suhut
  9. Dongan sahuta, arti harafiah “teman sekampung” semua yang tinggal dalam huta/kampung komunitas (daerah tertentu) yang sama paradaton/solupnya.
  10. Ale-ale, sahabat yang diundang bukan berdasarkan garis persaudaraan (kekerabatan atau silsilah) .
  11. Uduran, rombongan masing-masing suhut, maupun rombongan masing-masing hula- hulanya.
  12. Raja Parhata (RP) &  Protokol (PR) adalah orang yang menjalankan rangkaian acara adat dan masing-masing Paranak maupun Parboru sebelumnya telah menunjuk yang menjadi Raja Parhata (RP) & Protokol (PR) nya.
  13. Namargoar, Tanda Makanan Adat , bagian-bagian tubuh hewan yang dipotong yang menandakan makanan adat itu adalah dari satu hewan (babi/lembu/kerbau) yang utuh, yang nantinya dibagikan.
  14. Jambar, namargoar yang dibagikan kepada yang berhak, sebagai legitimasi dan fungsi keberadaannya dalam acara adat itu.
  15. Dalihan Na Tolu (DNT), terjemahan harafiah ”Tungku Nan Tiga” satu sistim kekerabatan dan way of life masyarakat Adat Batak (Somba marHula-hula,Manat marDongan tubu, Elek margelleng/ boru)
  16. Solup, takaran beras dari bambu yang dipakai sebagai analogi paradaton, yang bermakna di huta mana acara adat batak di laksanakan, maka solup/paradaton dari huta itulah yang dipakai sebagai rujukan, atau disebut dengan hukum tradisi “sidapot solup do na ro.

Disarikan dari berbagai sumber

    Boasa di dok halak Batak boras sipirnitondi? Jala sude do boras na gabe sipirnitondi? Hatorangan najempek sian angka natua-tua, di nauju i godangan manduda tangan dope nasida, nang pe naung adong losung aek dohot gumpar. Dipasuhi nasida do boras botana i, ima muse diosas nasida (hasil tumbukan yang terbaik di pisah dan di simpan tersendiri).

    Molo adong ualon pesta di halak Batak dibahen ma boras i tu pinggan di padomu dohot angka donganna songon naung tarsurat ditingki pesta unjuk i. Disahalahon raja do (disahalahon lapatanna ditangianghon tu Mulajadi), ipe asa margoar sipirnitondi.  Tung godang pe boras di angka partiga-tiga, ndang digoari i sipirnitondi.

    Jadi boa nama si nuaeng on ? Boras na biasa ta jomput dohot ta bahen tu pinggan jotjotan na tatuhor sian warung tingki laho tu ulaon na ma, jala ala naung Kristen hita dang masa be di sahalahon (tangianghon tu Mulajadi).

    Alusna ta makna i ma i gabe Parbue Pir manang Parbue Gabe jala ta pasahat ma i marhite tangiang tu Amanta Debata Pardenggan Basa asa di pasu-pasu hita saluhutna.

    Angka natua-tua mandok: Molo manjomput sipirnitondi (Parbue Pir) tu na niupa do parjolo jomputon, alana ibana do umbahen di patupa ulaon i. Ipe asa tu na manjomput i, dungi di saurhon ma muse tu natorop. I ma namargoar parbue liat-liat asa liat gabe, liat horas.

    Alai ianggo pandapothu (penulis) songonon :

    Tu na mangupa i do parjolo (na naeng manjomput parbue pir), baru pe tu na ni upa, dungi di saurhon ma tu natorop.

    Dasar pemikiran : ingkon pir (togu) do tondi ni na naeng pasahathon sipirnitondi (Parbue Pir) baru pe boi ibana pasahathon.

    Contoh : Jomputon ma Parbue Pir i jala dohonon Pir ma tondi ku, ipe asa pasahathon tu na ni upa (pir ma tondim ……), dung i di saurhon tu natorop, jala dohonon Horas, Horas, Horas.

    Artinya kita memohon kepada Tuhan agar kita di mampukan melakukan hal tersebut. Mungkin tidak salah jika kita analogikan dengan pendeta yang akan melayani perjamuan kudus, pendeta tersebut sebelum melayani perjamuan kudus maka dia akan berdoa dan mengucap syukur (agar di mampukan), barulah kemudian dia makan roti dan minum anggur dan selanjutnya melayani perjamuan.

    Horas

    Sampe Sitorus (A. Hitado Managam)

    Virus H1N1 telah merambah ke salah satu pesantren di Jayanti Tangerang (lewat Balaraja ke arah Cikande-Serang).

    Salah satu kemungkinan penyebab cepatnya penyebaran virus ini dari seorang yang terjangkit ke orang lain oleh karena di pesantren ada budaya “cium tangan” . Kontak fisik seperti ini merupakan wadah yang paling cepat dalam penyebaran virus flu H1N1.

    Berikut update yang kami dapat dari General Announcement PT. Multi Bintang Indonesia.

    H1N1 Pesantren

    Mungkin sudah banyak diantara pembaca yang sudah mendengar acara sepeda santai Tour De Samosir yang akan dilaksanakan pada Jumat 31 Juli 2009 yang akan datang. (Atau malah ada yang belum tahu).

    Berikut  web site nya :

    http://www.tour-de-samosir.project-tapanuli.org/indexIndo.html

    Tahukan anda bahwa ternyata pengagasnya adalah ito kita  Nelly Andon br Sitorus yang huta hatubuannya di Parongil – Dairi. Selain mempromosikan pariwisata Samosir, sesungguhnya acara tersebut adalah bagian dari upaya ito Nelly untuk pengumpulan dana bagi BEA SISWA pelajar dari Samosir dan bantuan dana untuk SMP N Parongil -Dairi. (luar biasa)

    Berikut petikan tentang ito kita itu :

    Saya lahir dan menghabiskan masa kecil di Sumatra Utara, tepatnya di Dairi, Tanah Batak. Lahir dari orang tua asli suku Batak (Ayah dari marga Sitorus, ibu dari Boru Sirait). Pada saat saya berusia 9 tahun, saya kehilangan ayah tercinta, sehingga saya banyak belajar kehidupan ini dari ibunda almarhum, yang sangat saya sanjung dan cintai dimasa hidupnya. Ibu yang betul-betul tangguh dan mampu membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya, yang jumlahnya sangat besar, saya adalah nomor 10 dalam keluarga. Setelah lulus SMP dari SMPN Parongil, di Dairi, ibu dan keluarga kita pindah ke Jakarta dengan tujuan agar anak-anaknya bisa melanjutkan sekolah di sekolah menengah atas dan perguruan tiggi. Pada tahun 1984, saya berhasil lulus dari Akademi Bank Indonesia, di Jakarta. Setelah lulus kuliah, saya bertemu dengan seorang pria Inggris, yang kemudian menjadi suami saya hingga sekarang, dan dengan sangat bangga dan bersyukur kepada Allah, kita masih tetap bahagia sekalipun sudah menikah selama 21 tahun, dan tinggal di kota yang penuh rintangan sperti London. (untuk detailnya silahkan baca di :http://www.andons.co.uk/indexIndo.html

    Sebagaimana pernah kita bicarakan di arisan bulan Juni di rumah A. Andreas par Cikokol, pada dasarnya kita semua bangga atas upaya dan perbuatan ito kita ini.

    Hal tersebut saya sampaikan ke ito itu via email ke: nelly@andons.co.uk

    Berikut petikan percakapan kami via email
    2009/7/22 Nelly Andon <nelly@andons.co.uk>
    – Hide quoted text –

    Horas ito, salam kenal.

    Bangga dan sangat terharu menerima surat ini dari ito. Itoku posisi dimana? Medan, Toba atau Jakarta?

    Ito, saya berbuat hal yang sangat kecil sekali karena bangga jadi boru Batak dan cinta dengan Tanah Batak. Tanah yang sangat indah dan kaya tapi sumber alam yang tidak begitu dikelola. Saya sangat prihatin bahwa banyak orang2 Batak pintar di seluru dunia ini, tapi masih kurang ada perhatian untuk pulang. Jadi secara pelan-pelan aku sebagai boru Batak nun jauh di negeri orang, ingin sekali mengajak teman-teman untuk peduli. Kita anak-anak Batak adalah harapan Tanah Batak, parjalang atau bukan parjalang, siapa lagi ito yang bisa kita harapkan membangun huta. Orang2 non Batak pastilah ingin membangun kampung masing2. Jadi hanya kita-kita turunan Bataklah yang bisa diharapkan mengembangkan Tanah Batak.

    2 Hari lagi saya akan ke Toba, dan ada rencana ke Porsea dan Balige. Kalau ito di huta, mungkin kita bisa martarombo ito, minum kopi di pasar porsea. Semoga bisa ketemu. Kalau itu ada waktu datanglah ito bersepeda di Samosir J.

    Botima jolo ito sian ahu, mauliate di angka dukunugan sian hamu sude angka ibotongku  na burju. Salam buat semua anggota Pomparan ni Raja Sitorus.

    Horas.

    Nelly Andon Br Torus.

    From: Sampe Sitorus [mailto:sampesitorus@dosroha.com]
    Sent: 22 July 2009 10:43
    To: nelly@andons.co.uk
    Subject: Horas Ito

    Horas,

    Pertama. saya mau sampaikan rasa kagum luar biasa saya kepada ito (Nelly boru Sitorus).
    Saya dapat alamat ito ketika saya baca tour-de-samosir.

    Luar biasa kerja keras dan upaya yang ito lakukan untuk mempromosikan Samosir terlebih upaya
    pengumpulan dana bagi SMP Parongil.

    Yang membuat saya kagum adalah meskipun ito sudah lama meninggalkan “huta hatubuan” tetapi tetap ingat
    dan mau berbuat hal yang sangat baik.

    Tentang upaya ito ini pernah kami bicarakan di punguan Pomparan Raja Mandidang Sitorus se Jabotabek. Dan kami semua hula-hulamu sangat bangga atas apa yang ito lakukan ini.

    Punguan kami ni adalah pomparan Sitorus Dori yang berasal dari Porsea – Tobasa secara khusus Lumban Tonga-tonga (Silamosik) & Dolok Nagodang (Lumban Nabolon).

    Tuhan memberkati ito dan keluarga, serta seluruh usaha dan upaya ito.

    Sampe Sitorus
    https://sitorusdori.wordpress.com
    http://bonangindah.wordpress.com

    Menetes air mataku membaca email balasan ito kita itu.
    Betul, kitalah yang harus peduli tu tano hatubuanta.

    Syukur kepada Tuhan, GBU.

    Sampe Sitorus

    I Korintus 14 : 40

    Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.

    Sebagai umat Kristiani kita di ajarkan untuk hidup dalam keteraturan. Bahkan keseharian kita harus berlangsung dengan sopan dan teratur. Alih-alih tentang keteraturan, belakangan ini banyak hal kita jumpai di luar keteraturan. Salah satu contoh adalah dalam hal berkendara. Banyak pengendara baik roda dua maupun roda empat yang tidak mengindahkan keteraturan baik rambu lalu lintas maupun kelengkapan berkendara, dsb. Contoh kecil yang mungkin sepele adalah lampu rem yang sesungguhnya sangat vital.

    Banyak pengendara roda dua maupun roda empat yang mengganti mika merah lampu rem dengan warna putih crystal bahkan memasang lampu tambahan yang sangat menyilaukan bagi pengendara di belakangnya. Bukan tidak mungkin ketika melakukan pengereman, pengendara di belakang justru tidak bisa melihat karena silau dan terjadilah tabrakan.

    Tabrakan bisa dipicu banyak sebab. Hal sepele seperti lampu rem yang mati pun sanggup membuat kecelakaan beruntun dan fatal di jalan raya. Itu sebabnya, lampu rem termasuk bagian yang harus kita periksa sebelum menjalankan mobil. Pastikan komponen penting ini menyala terang dengan warna merahnya. Karena letaknya di belakang, kami sarankan Anda untuk menginjak-injak pedal rem dan melihat pantulan cahayanya untuk memastikan lampu rem berfungsi dengan baik.

    Bagaimana jika kita baru tahu bahwa lampu rem mati tatkala kita sedang asyik nyetir mobil di jalan raya? Untuk meminimalisir kebingungan pengendara lain, atasilah masalah ini dengan menghidupkan lampu kecil. Paling tidak, mereka yang berada di belakang akan lebih aware dengan posisi mobil kita. Selain itu, sebaiknya juga lebih memperhatikan jarak aman berkendara serta jangan melakukan pengereman mendadak.

    Begitu tiba di tempat, segera lakukan pemeriksaan. Ganti komponen-komponen yang memang sudah rusak. Pemeriksaan dapat dilakukan mulai dari luar. Jika lampu rem hanya mati satu, kemungkinan besar yang bermasalah adalah bohlam lampu yang mati tersebut. Buka mika dan ganti dengan bohlam yang baru.

    Tetapi jika lampu rem mati kedua-duanya, kemungkinan besar sekring stop putus. Periksa saja sekring stop yang umumnya terletak di bawah setir. Posisi yang lebih pasti bisa dilihat di buku manual mobil. Copot dan lihat apakah ada bagian sekring yang terputus. Jika ya, solusi mengatasi lampu rem yang mati adalah dengan mengganti sekring rusak ini..

    Jika di antara kita ada pengendara/pemilik kendaraan yang menggunakan mika putih atau memasang lampu tambahan yang sangat menyilaukan, melalui kesempatan ini saya himbau untuk kembali ke standar. Ingat hal itu membahayakan orang lain dan juga diri kita sendiri.

    Sudahkah anda periksa lampu rem anda ?

    Horas, GBU

    CSt. S. Sitorus, SE

    Referensi:
    http://www.astraworld.com
    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Join 1,708 other followers

    %d bloggers like this: