Feeds:
Posts
Comments

Apa sih pauseang ?
Pauseang adalah pemberian Hulahula dari harta benda miliknya(parbagiananna) kepada borunya.
Tentu proses pemberiannya secara adat dan diketahui oleh haha anggina untuk menghindari perselisihan dikemudian hari.
Berikut adalah penjelasan yang saya kutip dari buku Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak, ditulis oleh Drs DJ. Gultom Raja Marpodang- hal 507.
Pauseang adalah benda pemberian oleh hulahula kepada boru dalam bentuk lahan. Sekarang ini dikenal dengan tanah pauseang. Tano pauseang pada mulanya berasal dari bawaan putri waktu perkawinananya termasuk lahan yang diberikan oleh hulahula waktu maningkir tangga yang menjadi modal dasar untuk mandiri rumah tangga baru tersebut. Ulos na sora buruk-indahan arian juga masuk kategori tano pauseang. Sifat dari tano pauseang adalah USAKO yang tidak boleh dibagi tetapi diwarisi dan dikuasai oleh keluarga yang mendapat (menerima dari hulahulanya), tetap terikat kepada nilai pemersatu untuk rumpun keluarga dan bernilai restu dari hula-hula. Masih ada ikatan moral tanah pauseang dengan hulahula yang memberikan. Pauseang tidak boleh berada pada marga lain selain kepada turunan penerima tano pauseang.
Pada suatu saat Hulahula pada tingkat Bona ni ari akan menuntut pauseang dikembalikan kepada mereka dengan versi lain, apabila dari pihak boru(penerima pauseang) tidak ada yang “manguduti” (menikah kembali dengan boru marga pemberi tano pauseang).
Dari sifat dan makna nilai tanah pauseang dapat kita lihat bahwa tanah pauseang tidak hanya bernilai materi tetapi mengandung nilai moral yang berkelanjutan pemersatu antara hulahula dengan boru.

Horas,
St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Agam)

NANG HUMUNTAL PE ANGKA ROBEAN
Cipt: Drs. Bonar Gultom (Gorga)

Molo masa angka parungkilan
Molo songgop manang hangalutan
Holan sada natau sitiopon
Hata ni Tuhan ni padan nai

Nang humuntal pe akka robean
Manang munsat dolok tu toruan
Padan asi roha hada mean
Padan ni Tuhan i sai hot doi

Sai ingot padan ni Tuhan mu
Manipat ari manang borngin golomonmu
Dang jadi ganggu be rohamu
Tuhan i nampuna ngolumi
Ngolumi

Nang humuntal pe akka robean
Manang munsat dolok tu toruan
Padan asi roha hada mean
Padan ni Tuhan i sai hot doi

(kembali ke: Molo masa….)

Pada setiap pemberkatan pernikahan pastilah bapak/ibu pendeta menekankan dasar penikahan bagi umat Kristen. Matius 19: 6 “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Bagi orang Batak Kristen pernikahan bukan hanya mempersatukan dua insan yang telah sepakat membentuk rumah tangga yang baru, melainkan juga setidaknya mempersatukan dalam tatanan adat 2 keluarga besar yakni keluarga besar (marga) mempelai pria dan keluarga besar (marga) mempelai wanita.
Ketika orangtua mempelai perempuan akan menyampirkan ulos hela, tentu mereka menekankan kembali nats Matius 19:6 tadi demikian juga rombongan Tulang dan horong ni Hulahula pastilah mengingatkan mempelai: “Tung na so jadi hamu marsirang, so sinirang ni hamatean”.
Hal tersebut jugalah yang mengikat kedua mempelai untuk senantiasa hidup rukun dan bilapun kemudian hari ada perselisihan dalam rumah tangga maka keduanya berupaya semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan persoalan dan menghindari perceraian (jangan sedikit-sedikit minta cerai).
Bagi orang Batak Kristen perceraian adalah aib.
Mungkin terdengarnya terlalu ideal. Namun hal itulah yang diharapkan oleh setiap orang Batak Kristen, perceraian adalah hal yang tabu dan sangat dihindari.

Belakangan ini dalam kenyataan sehari-hari mulai ada perceraian pada keluarga Batak Kristen. Apakah ini pengaruh perubahan zaman ?. Dari sisi agama jelas hal itu dilarang kecuali jika salah satu dari mereka secara sah dan meyakinkan (dengan bukti yang kuat) melakukan perzinahan. Salah satu hal yang diajarkan Yesus di bukit (Khitbah di bukit), Matius 5:32 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.

Dari perspektif adat Batak proses perceraian pun sangat berat dan rumit karena istri adalah boruni raja dan suami anak ni raja, maka segala tindak tanduk harus juga raja (ada etika dan sopan santun yang menunjukkan kedudukannya) sehingga kalaupun harus bercerai (sirang) maka yang boleh menggugat cerai hanyalah suami karena istrinya sudah “dialap”(dilamar dari keluarga besar perempuan dan dinikahi dengan prosesi adat) maka bila terpaksa harus bercerai haruslah “dipaulak” (dikembalikan kepada secara adat kepada keluarga besar perempuan).
Tentu secara adat bukan perkara mudah bagi pihak keluarga suami”paulak parumaen” (mengembalikan menantu kepada besan). Hal inilah yang membuat meskipun kenyataannya suami istri tidak lagi serumah (padaodao) pihak suami tidak mengembalikan istrinya kepada mertuanya.
Bila hal itu terjadi berikut adalah beberapa pertanyaan yang akan muncul dikemudian hari.

1. Bagaimana bila ternyata istri tersebut belum melahirkan anak bagi suaminya, si istri tidak “dipaulak” malah sisuami menikah lagi dengan wanita lain. Tidak ada alasan menceraikan istri karena belum dikarunia anak dan si suami pun dengan alasan tersebut tidak dibenarkan untuk menikah lagi (ingat pernikah Kristen adalah monogami). Si istripun tidak diperkenankan kembali sendiri kepada orangtuanya. Bila suaminya meninggalkannya maka dari sisi adat batak dia berhak untuk tetap dikeluarga suaminya, bila perlu dia menetap dirumah mertuanya. Namun demikian dia berhak meminta kepada mertuanya untuk mengembalikannya kepada orangtuanya. Nah ini yang bikin mertua pusing 7 keliling, sulit melaksanakannya tetapi bila sudah diminta oleh menantu maka HARUS dilaksanakan, dan rasa malu luar biasa karena ini termasuk aib besar.

2. Bila istri tidak “dipaulak” padahal dia telah melahirkan anak bagi suaminya, bagaimana kedudukannya ?. Selama dia tidak “dipaulak” maka dia tetap menjadi istri sah, adapun anak-anak yang dilahirkannya adalah anak sah dari sisuami, bahkan bila pun kemudian sisuami menikah lagi dan mendapatkan keturunan dari istri keduanya maka putera dan putri dari istri pertama adalah sulung (siangkangan) dari putera dan putri istri kedua. Putra putri istri pertama memiliki hak waris dari harta kekayaan kakeknya(ompung) dan bapaknya(among).

Selama seorang istri tidak “dipaulak” maka dia TIDAK BOLEH menikah karena dia masih paniaran (menyandang nyonya dari marga suaminya). Bila telah”dipaulak” maka dia telah putus hubungan dengan keluarga besar mantan suaminya termasuk dengan anak-anaknya, segala hak dan kewajibannya terhadap keluarga besar suami telah berakhir. Dengan demikian dia boleh menikah kembali dan segala hak dan kewajibannya mengikuti suami yang baru.

Bagaimana bila tidak “dipaulak” tetapi si perempuan tersebut menikah kembali ?. Sebelum melangsungkan pernikahan, maka seharusnya pihak laki-laki yang akan menjadi suaminya harus menanyakan status dari si perempuan karena bila ternyata belum “dipaulak” mereka telah melangsungkan pernikahan, maka secara adat hal itu dianggap “selingkuh” karena si perempuan masih paniaran (nyonya) marga suami terdahulu.
Bila ternyata belum “dipaulak” maka solusinya adalah marga pria calon suami datang menemui marga suami si perempuan dan mengutarakan maksud dan tujuannya serta meminta melepas si perempuan dari ikatan tentu dengan “membayar kompensasi” (salah satu diantaranya mengembalikan sinamot yang telah disampaikan keluarga pihak suami kepada pihak perempuan). Bila keluarga pihak suami tersebut menerima permintaan tersebut maka status si perempuan sudah sama dengan “dipaulak”.

Bila belum “dipaulak” semua anak yang lahir dari hasil pernikahan tersebut adalah anak dari marga terdahulu. Bahkan bila kemudian hari perempuan tersebut meninggal dunia maka putra putri dari suami pertama berhak untuk meminta ibunya dimakamkan di makam keluarga mereka, karena hak dan kewajiban perempuan tersebut belum lepas. Sebaliknya bila sudah “dipaulak” maka putra putri dari suami pertama tidak berhak apapun bahkan bila mereka hadir diacara adat meninggal “mantan” ibunya, kehadiran mereka sama seperti pelayat umum bukan sebagai anak.

Dengan demikian perceraian dalam masyarakat Batak Kristen adalah hal yang sangat tabu dan bila terpaksa dilakukan prosesnya sangat rumit, mendapat sanksi sosial dan dari sisi gereja (secara khusus HKBP) maka orangtua dan keluarga tersebut akan mendapat RPP (siasat penggembalaan). )* dibeberapa gereja lain istilahnya berbeda namun pada umumnya mendapat penggembalaan.

Catatan penting:
Seorang perempuan selama belum “dipaulak” suaminya maka dia adalah istri sah, memiliki hak dan kewajiban dikeluarga marga suaminya sepanjang hidupnya. Bila sudah “dipaulak” maka terhitung hari tersebut hak dan kewajiban dikeluarga marga suaminya berakhir dengan sendirinya.

Demikian pemahaman saya berdasarkan apa yang saya pelajari dan yang saya terima dari penjelasan para tetua adat.

Tabe mardongan tangiang.

Sampe Sitorus/br Sitanggang (A.Hitado Managam)

Betapa kecewanya saya hari ini (Sabtu 28 September 2013) mendengar permintaan lagu dari Parboru, Dongan Sahuta maupun para Hula-hula dan Tulang ketika akan mangulosi di pesta unjuk di Gedung Serba Guna Puri Agung Cengkareng -Jakarta Barat.

Bisakah pembaca yang budiman bayangkan bukankan lagu yang dinyanyikan mengiringi saat mangulosi adalah bagian dari doa dan harapan dari yang mangulosi. (note: mangulosi menyampikan ulos dengan terlebih dahulu menyampaikan doa dan harapan kepada TUHAN Sumber Segala Berkat dan Kasih Karunia).
Apakah ada makna doa pada lagu O Burung, Anak Medan, Boru Toba (ada bait body sexy, goyang aduhai), Goyang Deli, Selayang Pandang ?. Hancur generasi berikutnya oleh karena ulah para orangtua yang “gintal” berjoget.

Menurut hemat saya kalau hanya ingin joget datangnya ke tempat berjoget jangan ke pesta unjuk (pesta adat pernikahan), silahkan berjoget sepuasnya disana.

Harus kita yakini setiap ucapan dan bait lagu yang dinyanyikan adalah bagian dari doa dan harapan.
Ayo kita berubah oleh pembaharuan budi.

Teriring doa dan salam.
St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Sahat tu sadarion ndang polin dope pangantusionku (belum lengkap/belum puas – jawaban yang saya dapat belum memuaskan pertanyaanku) taringot tu suhi ni ampang naopat.
Didok natuatua di Bona Pasogit ia namargoarhon suhi ni ampang naopat sasintongna ninna ima:
1. Dongan tubu,
2. Hulahula,
3. Boru
4. Raja (Raja Huta/Natuatua ni Huta),
Poda ni sijolojolo tubu mandok manat” mardongan tubu, “somba” marhulahula, “elek” marboru, “pantun” marraja. Laos dipaihuthon do dohot uhum tusi, molo sala tu suhi ni ampang naopat, ingkon; “sulangan” dongan tubu, “parpisoan” hulahula, “parulosan” boru, “bulangbulangan” raja.

Hape molo ditano parserahan on namasa niida diangka pesta unjuk tarsongon on ma:
Suhi ni ampang naopat di horong ni Paranak:
1. Pamarai/Pangamai – amangtua ni namangoli,
2. Simanggokhon/amanguda ni namangoli,
3. Sihunti ampang/iboto ni namangoli manang namboruna
4. Hulahula/Tulang ni namangoli (sijalo tintin marangkup)
On ma tugas & peran ni Pamarai & Simanggokhon:

http://sitorusdori.wordpress.com/2009/06/30/tugas-pamarai-simanggokhon-paranak-di-ulaon-unjuk-pesta-nikah/

On ma Tugas & Peran ni Sihunti Ampang dohot Boru Parlopes:

http://sitorusdori.wordpress.com/2010/08/10/tugas-boru-parlopes-dan-sihunti-ampang/

On ma Tugas & Peran Hulahula/ Tulang ni namangoli:

http://sitorusdori.wordpress.com/2009/06/30/tugas-peran-hula-hula-ni-paranak-tulang-ni-pangoli-di-ulaon-unjuk/

Suhi ni ampang naopat di horong ni Parboru:
1. Sijalo Bara-amangtua ni namuli,
2. Simandokhon/iboto ni namuli,
3. Sijalo Upa Parorot/Pariban manang Namboru ni namuli
4. Hulahula/Tulang ni namuli (sijalo upa Tulang).

On ma tugas & peran ni Sijalo Bara & Simandokhon:

http://sitorusdori.wordpress.com/2009/06/30/tugas-sijalobara-simanggokhon-paidua-ni-suhut-pihak-parboru-di-ulaon-unjuk-pesta-nikah/

Tugas & Peran ni Sijalo Upa Parorot dohot Boru Parlopes hampir sama dengan Sihunti Ampang dohot Boru Parlopes ni pihak paranak, bedanya adalah mereka menerima Upa Parorot.

On ma Tugas & Peran Hulahula/ Tulang ni namuli:

http://sitorusdori.wordpress.com/2009/06/30/tugas-peran-hula-hula-ni-parboru-tulang-ni-boru-muli-di-ulaon-unjuk/

Molo mangihuthon pandohan ni natua-tua na sian Bona Pasogit i, diparserahan on nunga dihalupahon halak hita hape Dongan Tubuna dohot Raja ni Dongan Sahuta (Natuatua ni huta).
Suang songon i pe nang angka Raja ni Huta (diparserahan tarajumi ma i pangurus ni parsahutaon/stm) ndang diharingkothon be laho panuturi diangka ulaon ni dongan sahutana ima ruasni punguan naginomgomanna. Holan patoroptorophon jala manolopi nama nasida ? Boha nama i ate ?.

Hulului pangantusion laho pamorahon parbinotoan dapot ma naginurathon ni amang Monang Naipospos, boima tajaha marhite on:

http://tanobatak.wordpress.com/2007/11/16/suhi-ni-ampang-naopat/

Marhite on pinangidohon tu amanta raja dohot inanta soripada, tuturi hamu hami angka sundut naumposo asa lam dasip pangatusion dohot parbinotan nami taringot tu paradatonta i.
Disiala haradeon muna manuturi hami, parjolo hupasahat hami mauliate godang.

Tabe Mardongan Tangiang

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus).

Haduan unang lupa ho amang dihami natorasmon, amangtuam, amangudam, namboru suang songoni nang haha anggim,ibotom. Marudur do hami amang martangiang laho parborhathon ho nanaeng marsingkola tu Den Haag Belanda i. Sotung gabe songon ende namarjudul LUPA DO HO.
Peop i amang anak hasian, jungjung goarni amongmi, goarni ompungmi, nang goarni ompunta Raja Sitorus.

Tarsongon i ma pussuk jambu ni angka hata poda nang sipaingot na pinasahat ni angka namanghaholongi anaknami Yosef Ernes Sitorus anakni hahadoli Tumpak Sitorus/Etik br Sitohang (parompuon Raja Soulangon) namarhuta di Medang Lestari.

Hari ini Minggu 18 Agustus 2013, Yosef Ernes Sitorus berangkat ke negeri Belanda untuk menuntut ilmu di salah satu universitas di Den Haag. Selamat menempuh pendidikan ma ho poang anaha, tangiangnami diramoti Debata ma ho, dapot naniluluanmu jala jumpa na jinalahanmu.

Berikut adalah tata ibadah pemberangkatan yang kami laksanakan pada hari Minggu 11 Agustus 2013 lalu.
Partording ni Partangiangan Paborhathon Marsingkola

Horas.
St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus).

Molo marujung ngolu ni sasahalak tarlumobi naung marhasohotan (hot ripe) somal dipatupa do parrapoton (tonggo raja). Molo naposo dope na monding i somalna didok marhata raja ima dalan laho manariashon jala pabotohon jujur ngolu ni namonding jala sangkap ni hasuhuton tu dongan sahuta tarlumobi tu Tulang ni namonding i. Diama naporlu sihobasan namarpardomuan tusi ?.

Tarsongon on ma pardalanna.
Dung marujung ngolu ni sasahalak pintor dipabotohon ma tu horong ni hasuhuton (sapanganan). Dungi mardos ni roha ma nasida dohot hasuhuton bolon manaringoti sangkap ni hasuhuton isarana andigan ma disangkapi tu udean, didia udeanna dohot lan naasing. Paidua ni hasuhuton (ompu martinodohon) ma namanguluhon sude na hombar laho pabotohon namasa i dohot sangkap nasida laos pabotohon andigan parrapoton (tonggo raja) tu angka dongan tubu, boru, dongan sahuta, huria suang songoni nang tu horong ni Hulahula dohot Tulang (mangihut ma Bona Tulang, Tulang Rorobot sahat tu Bonaniari – hombar tu parmonding ni namonding – sarimatua-saurmatua).
Dung sahat boa-boa habot ni roha tu saluhut sisolhot laos manigor ma dihobasi angka naringkot tu ulaon tonggo raja isarana tenda, kursi, sipagogo suara(sound system) dohot sipanganon nahombar tu tonggo raja. Molo pinomat nunga sarimatua namonding i, ingkon patupaon ni hasuhuton do sipanganon namarsaudara (martudutudu sipanganon), alai molo ditoru ni sarimatuai dope ndang ingkon patupaon sipanganon namarsaudara. Lapatanna molo tung dipatupa hasuhuton pe sipanganon boi ma rambingan. Molo na so marhasohotan dope na monding i ndang talup patupaon ni hasuhuton sipanganon.
Molo di tano parserahan on alani angka partingkian nunga somal migor dipasahat tu “parkatering” . Alani i ingkon mangalapik hata do hasuhuton tu horong ni boru dohot dongan sahuta (jagar hata). Na porlu siparateatehon sotung magodanghu dipatupa sipanganon gabe lobi hape taboto do tangkas: Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok (manang aha pe sude do i peak tu hasuhuton, alani i unang gogo mandok, ingkon tiroanta do hasuhuton). Mansai porlu ingotonta taringot tu sipanganon, sadia godang pe tapatupa na laho suda do, alai mo tung hurang pe napatupa maradophon torop ni situan natorop na ro manungkir (pelayat) ndang masa manarita ala ulaon habot ni roha do, toho di ulaon las ni roha molo hurang sipanganon na dipatupa hasuhuton haurahan ma nasida ala ndang taruli sipanganon na niontang na.
Molo dung ditontuhon parrapoton bodarion isarana pukul 20.00 Wib, pintor digorga hasuhuton dohot paidua ni hasuhuton (dibuat draft) tarsongon on ma:
Jujur ngolu ni namonding ima mulai sian napomparhon na monding i pinomat (saotikotikna) 3 sundut tu ginjang ima ompung ni amongna margoar …. jala marhuta didia/sian dia hutana – piga anakna, anak ni i ima ompungni namonding on margoar …. – piga anakna, anak ni i ima among ni namonding margoar ….. piga anakna dohot boruna digoari sude, sahat ma tu namonding on andigan tubu, marhasohotan, piga dakdanak naung pinalumen ni Tuhanta, dipatorang angka naung marhasohotan anak mangalap boru ni raja i raja ……. sian (hutani hulahula i)- piga pahompu sian nasida, molo boru marhamulian tu anak ni parboruannami raja…. sian (hutani natoras ni hela i) piga pahompu sian nasida. Dungi dipadomu ma sude pinompar ni naung marujung ngolu i toropna ……
Catatan: mansai denggan do molo boi ta gorga sahat tu pardomuanta tu paidua ni hasuhuton, isarana molo hami Sitorus na sian Lumban Tongatonga Silamosik, ahu nunga disundut pasampululimahon (generasi ke 15 dari Sitorus), jala di sundut pasampuluhon(generasi ke 10) ma pardomuan ni ompunami opat namarhaha maranggi.
Riwayat parsahiton ni namonding, pajojoronta ma parsahiton ni namonding i sahat tu parmondingna.
Sangkap ni hasuhuton taringot tu partuat ni monding, isarana Partangiangan (mate makkar), Sarimatua manang Saur Matua hombar tu hagabeon/pinompar ni namonding i.
Denggan ma sude i disurat disada buku, dung i dipasahat ma annon botari tu natuatua ni punguan marga asa nasida marsiaturan ise na laho manariashon di ulaon tonggo raja (Raja Parhata ma namangaturhon saluhutna i).
Horong ni hasuhuton dohot dongan tubuna nunga ingkon mangarade di inganan partonggoan ni raja pinomat pukul 19.00 Wib. Ingkon jumolo do ro hasuhuton dohot dongan tubuna sian sude horong ni Hulahula dohot Tulang, sada hailaon do i di hasuhuton molo gabe Hulahula dohot Tulang paima haroroni hasuhuton namardongan tubu.
Dung jumpang tingkina, mardos ni roha ma namardongan tubu ise na gabe protokol, dung i marhuhuasi ma protokol asa rap marnatampak nasida namardongan tubu, dongan sahuta, boru dohot ale-ale.
Protokol
“ Loloan namarhabot ni roha (sarimatua/saurmatua), ala nunga jumpang tingkina hombar tu boaboanami hasuhuton bolon, borngin on patupaonta do ulaon parrapoton songon tonggo raja laho manariashon jala mangido panuturion hami hasuhuton sian horong ni Hulahula dohot Tulang taringot tu parmonding dohot ulaon partuatni ama/ina nanung jumolo marujung ngolu sian tongatonganta, alani i asa marnatampa ma hita rap hundul, suang songoni ma nang dihamu Raja ni Dongan Sahuta nami, didok natua-tua jonok dongan tubu jumonokan dongan parhundul. Amang Raja hamu do dongan parhundul ni hasuhuton nami di hutaon, alani i gomos hupangido hami asa tuturi hamu hami jala rap hita mangadopi horong ni Hulahula dohot Tulang nami. Suang songoni ma nang dihamu borunami asa mangarade ma hamu jala sigap laho manghobasi naringkot tu parrapoton on. Mauliate ma.”
Dungi diuduti manangkasi Hulahula dohot Tulang, didompakhon ma tu nasida.
“Amanta Raja dohot Inanta Namoragabe, Raja nami raja bolon, hombar tu boaboa nami rajanami nunga jumpang tingkina laho patupahon ulaon parrapoton, molo sian hami horong ni parboruon muna nunga mangarade hami raja nami laho mangido panuturion siang saluhut hamu nahuparsangapi hami. Alani i rajanami (digorahon sude horong ni Hulahula dohot Tulang) nunga hupatupa hami inganan hundulan ni Raja i dohot angka Nantulangnami, boha Raja nami nunga tipak hundulanni Rajai ?. (Somalna dialusi : Nunga) laos didok protokol ma : Mauliate ma Rajanami. Boha di roha ni raja i, adong dope sipaimaonta manang nunga boi pungkaonta panghataion, partingkian on hupasahat hami tu raja i.
Horong ni Hulahula dohot Tulang.
Somalna mangido partingkian nasida laho marsiaturan ise nasida nalaho gabe Raja Panuturi di parboruon nasida. Somalna mardos ni tahi jo parjolo Hulahula dohot Tulang, dung dos tahi nasida diuduti ma muse mardos tahi ise na gabe Raja Panuturi.

Raja Panuturi:
Dihamu raja ni parboruonnami nunga dos roha nami jala satahi hami horong ni Hulahula dohot Tulang molo tung sada silompa gadong, dua silompa puli, molo tung ahu pe namanghatahon saluhut do hami horong ni Hulahula dohot Tulang na gabe panuturi dihamu parboruon nami (somal sahundulan–sejejer do parhundul ni Hulahula dohot Tulang), alani i nunga mangarade hami asa partingkian on pe hupasahat hami ma tu hamu, botima.

Protokol:
Mauliate malambok pusu ma hami raja nami ala tangkas do dihatahon raja i naung mangarade raja i laho manuturi hami parboruonmuna.
Antong dihita namarhahamaranggi, suang songoni nang di raja ni dongan sahuta nami, ala naeng mangido panuturion ma hita sian horong ni Hulahula dohot Tulangta asa dos ma rohanta ta pasahat ma tu natua-tua i…….. (nunga ditodo hian ise nagabe Raja Parhata).
Raja Parhata (didompakhon ma bohi na tu nasida namardongan tubu):
Dihita namarhaha maranggi pomparan ni ompunta Raja ……. , mauliate ma didos ni tahinta. Tongon ditingki on dipabangkit hamu ahu nalaho mangido panuturion diparrapoton natapatupa diborngin on. Alani i dibagasan unduk dohot serep ni roha, huhalashon jala rade ma ahu laho mangulahon i, botima.
Dungi didompakhon ma bohina tu horong ni Hulahula dohot Tulang didok ma hatana:
Suang songoni ma dihamu nahuparsangapi hami… (dijahahon ma sude daftar horong ni Hulahula dohot Tulang), Raja nami, raja bolon ala naeng pungkaonta ma parapoton tarsongon ma nian pangidoan nami rajanami :
1. Parjolo ma hami pasahat tudu-tudu sipanganon (keterangan lihat catatan huruf tebal perihal sipangangon na marsaudara).
2. Udut tu si jahahonon nami ma jujur ngolu ni ama/ina naung jumolo monding, dohot riwayat parsahitonna sahat rodi tu parmondingna
3. Dungi tariashonon nami ma angka naung husangkapi/hurangrangi hami dungi mangido panuturion ma hami sian hamu nahuparsangapi hami Hulahula dohot horong ni Tulang suang songoni nang Raja ni dongan sahuta nami.
4. Mangampu ma hami hasuhuton,
5. Hulahula Mangujungi parrapoton (ditutup marhite tangiang)
6. Mompo / pamasuk tu jabujabuna.
7. Mangampu Bona ni Hasuhuton (paidua ni hasuhuton)
8. Marsipanganon
Boha rajanami tuturi hamu hami, molo nunga uli diroha ni raja i asa borhat ma hami pasahat tudu-tudu ni sipanganon.
Raja Panuturi:
Mauliate ma amangboru, nunga mansai uli indok roha nami on pe ulahon hamu ma.

1. Pasahat Tudutudu Sipanganon
Raja Parhata (didompakhon ma bohi na tu boru nasida):
Dihamu raja ni parhobas nami, boru nami asa boan hamu tu son tudutudu ni sipanganon asa borhat hami pasahathon tu Raja i.
Dung dipeakhon diadopan ni Hulahula dohot Tulang, diuduti Raja Parhata ma mandok:
Raja nami raja bolon, tangkas do hupangkilalahon hami denggan basa ni Amanta Debata tu hami parboruonmuna, Hata ni Tuhanta tarsurat di Filifi 4: 4 mandok: Marlas ni roha ma hamu tongtong dibagasan Tuhan. Namarningot ima hami ditingkion, nang pe tongon dibagasan habot ni roha hami tongtong do hami mandok mauliate tu Tuhan i ala tangkas do dipargogoi hami jala marparbue holong na sian Tuhan i dihita tarlumobi ma i disaluhut hamu nahuparsangapi hami namarholong ni roha dihami rade rohamuna ro manopot hami mangadopi boaboa nami diparmonding ni ama/ina na tahaholongi on. Ala ni raja nami molo tung hupatupa hami pe sipanganon namarsaudara dalan nami ma i rajanami laho manghalashon denggan basa ni Tuhanta suang songoni pasangaphon hamu hulahula nami. Asa sitiktik marsigompa golang-golang pangarahutna, tung songon on pe naboi hupatupa hami rajanami, Debata ma napasahat pasupasuna hombar tu lomo ni rohana. Dame nasumurung i ma na tongtong mian ditongatonganta, Amen, Botima Rajanami.
Raja Panuturi (Hulahula dohot Tulang ndang pola pasahat dengke).
Imma tutu, mauliate ma amangboru nunga dipasahat hamu tudutudu ni sipanganon, anggiat ma tutu songon tangiangmuna i, Debata ma namampargogoi hamu namarhabot ni roha, dilehon ma antong dihita ganup dame jala holong tongtong mian ditongatonganta. Amangboru tangkas do huboto hami anakni raja do hamu jala nabisuk, alani I amangboru taringot tu tudutudu ni sipanaganon naung pinatupa muna on asa denggan ma dihobasi berenami boru muna hombar tu solup namasa dihuta muna on, botima amangboru, laos uduti hamu.
2. Manjaha Jujur Ngolu ni namonding
Raja Parhata : Mauliate malambok pusu ma hami raja nami, rade ma hami mangulahonsa. Dihita namarhahamaranggi, hombar tu panuturion ni raja i asa tatuturi borunta laho pature tudutudu sipanganon on hombar tu solup namasa dihutanta. Boru nami, pature hamu tudutudu ni sipanganon on jala tangkas pasahat hamu tu hasahatanna. (somalna sahalak sian hasuhuton borhat mangihuthon parhobas laho manuturi boru nasida).
Raja nami raja bolon nuaeng pe udutan nami ma rajanami manjahahon jujur ngolu ni ama/ina naung jumolo marujung ngolu on. (somalna paidua ni hasuhuton do manjahahon). Dung sidung i laos diuduti Raja Parhata ma manariashon sangkap nasida.
3. Manariashon sangkap ni hasuhuton.
Raja Parhata:
Dihamu nahuparsangapi hami, Hulahula dohot Tulangnami (dijahahon sude horong ni Hulahula dohot Tulang), hombar tu jujur ngolu dohot riwayat parsahiton rodi parmonding ni ama/ina nami naung jumolo marujung ngolu on, nunga hurangrangi asa mangido panuturion ma hami tu hami nahuparsangapi hami, tarsongonon ma nanaeng siulahonon:
1. Pangidoan nami rajanami partuatni ama/ina nami on : …….. (misal sari matua/saurmatua)
2. Laos borngin on ma mompo tu jabujabuna.
3. Partuatna marsogot di ari …….. jala suanon/ tu udean di …………… (TPU….)
4. Boanna rajanami ……… (lombu sitio natinutungan – manang hombar tu hagabeon ni namonding)
5. Molo siat pangidoannami taringot tu ulos tarsongonon ma nian rajanami:
Ulos Saput sian Tulang nami apala Tulang ni ama/ina na monding on ima Raja i Raja …….
(catatan: sasintongna Tulang ni namonding do napasahat saput)
Ulos Tujung (saurmatua = ulos sampe tua) sian Hulahula nami (parboru) Raja i Raja ………
Ulos Holong (pinomat ingkon naung sarimatua do asa talup manjalo ulos holong).
Tarsongon ima naung hurangrangi hami, on pe rajanami asa tuturi hamu hami dia ma nanaeng siulahonon nami.
Raja Panuturi
Mauliate ma amangboru, nunga tangkasi dijahahon hamu jujur ngolu dohot riwayat ni lae/iboto nami naung marujung ngolu on, laos nunga ditariashon hamu angka naung nirangrangan muna, onpe mangido panuturion hamu sian hami saluhut horong ni Hulahula dohot Tulang, andorang so hupasahat hami panuturion asa lehon hamu ma jolo partingkian tu hami, mauliate.
Didompakhon ma bohina tu horong ni Hulahula dohot Tulang.
Dihita horong ni Hulahula dohot Tulang, nunga rap umbegesa hita di jujur ngolu dohot riwayat ni lae/ibotonta suang songoni di sangkap dohot pangidoan nasida, on pe asa denggan ma tatuturi nasida. Partingkian on parjolo hupasahat hami tu hamu haha parhundul nami (Tulang ni hasuhuton) Raja i Raja…… (mangalehon pandapot manolopi manang ndang dipangidoan ni hasuhuton). Molo ama do namonding, nasida ma napasahat saput, jadi sungkunon nasida ma jam piga ma haradeon ni hasuhuton manjalo haroro nasida. Molo pinomat nunga sarimatua namonding i laos hatahonon ni nasida ma piga ulos holong sipasahatonna dohot hasahatanna. Dung sidung Tulang diuduti ma muse tu Hulahula.
Molo ditoruni sarimatua do partuatni namonding i holang Hulahula dohot Tulangni namonding do na talup pasahat ulos, jala ndang mardalan ulos holong. Alai molo sarimatua/saurmatua ba sude ma ris horong ni Hulahula dohot Tulang mangelehon panuturion dohot manghatahon ulos holong sipasahaton nasida dohot hasahatanna.
Dung singhop sude, dipaampuhon Raja Panuturi ma tu Raja Parhata ni hasuhuton.
4. Mangampu hasuhuton.
Andorang so mangampu hasuhuton,
Raja Parhata mangido panuturion sian dongan sahuta.
Mauliate godang ma hupasahat hami tu hamu salauhut horong ni Hulahula dohot Tulang nami, Rajanami andorang so mangampu hami asa lehon hamu jo partingkian tu hami laho mangido panuturion sian Raja ni Dongan Sahuta nami.
Suang songoni ma di hamu nahuparsangapi hami raja ni dongan sahuta nami, tangkas do dipaihutihut hamu hami dipanghataionnami tarlumobi dinamangido panuturion hami sian saluhut horong ni Hulahula dohot Tulang, on pe rajanami on ma ombas na hami mangido panuturion siang hamu diangka panghataionnami atik tung adong na hurang lobi asa tuturi hami hami rajanami.
Raja ni Dongan Sahuta:
Mauliate ma dihami hasuhutonnami, mansai las rohanami jala sangap do antong hami dibahen hamu. Nuaeng pe di namangido panuturion hamu, dohonon nami tangkas do hupaihutihut hami hami dipanghataion muna dohot Hulahulamuna raja…. , Tulang Raja…..
Tangkas do huida hami songon nidok ni umpama:
Aek godang tu aek laut, Dos ni roha sibaen na saut. Tangkas do huida hami dos nirohamuna dinamangido panuturion hamu laos tangkas do dituturi saluhut horong ni Hulahula dohot Tulang hamu hasuhuton nami, on pe antong dohonon nami ma songon nidok ni umpasa:
Balintang ma pagabe tumundalhon sitadoan, arimu ma antong namarhula marboru gabe ala tangkas do hamu hupaihutihut hami marsipaolooloan.
Molo hami dongan sahuta rade ma hami mangurupi hami hasuhuton nami, dung simpul parrapoton on angka diama na naeng siulahonon nami denggan ma annon pasahat hamu tu hami, olat ni tarula hami patupaon nami do angka nadenggan, botima.
Raja Parhata:
Mauliate ma dihamu raja ni dongan sahutanami, tung mansai las rohanami dihata nauli hata nadenggan naung pinasahatmuna.
Saonari sahat ma partingkian tu hita hasuhuton laho mangampu, asa rap jongjong ma hita.
Baca tulisan saya lainnya yang sudah menjelaskan filosipi mangampu.
5. Simpul parrapoton, diujungi Hulahula marhite tangiang.

6. Mompo tu jabujabuna.
Digora protokolma nasida namardongan tubu diurupi boru laho pamasukhon bangke ni namonding I tu jabujabuna. Dung singhop dijouma Tulang dohot Hulahula laho patupa ulaon mompo. Somal dibuha marhite ende dohot tangiang, mandok hata, marende, diujungi dohot tangiang.
7. Mangampu Bona ni Hasuhuton (paidua ni hasuhuton)
Mandok mauliate siala naung denggan mardalan ulaon parmompo ni namonding i laos diuduti tangiang marsipanganon.
8. Marsipanganon
Laos marsingkat soring ma angka namarholong ni roha patupa pangapulion laho patoguhon haporseaon ni pinompar ni namonding i.

Songon i ma naboi pinaandar, anggiat ma manghorhon tu nadenggan jala gabe parsiajaran diangka naringgas roha laho marsiajar diangka paradatonta halak Batak.

Catatan:
Untuk mewujudkan tulisan ini butuh pengorbanan waktu, pikiran, tenaga dan materi. Setiap yang saya tulis adalah apa yang sudah saya lakukan (realita bukan teori).
Oleh karenanya mohon dengan sangat apabila hendak memposting ulang di blog lain agar menyebut sumbernya dan memberikan link (surel) ke blog kami http://sitorusdori.wordpress.com/2013/06/27/jujur-ngolu-dohot-tonggo-raja/
Jujur saya kecewa menemukan banyak tulisan saya di posting ulang diberbagai blog namun dibuat seolah-olah tulisan dari si yang empunya blog. Kekecewaan inilah yang membuat saya kurang bersemangat menulis, karena plagiator dengan cepat hanya copy paste sementara saya berjam-jam bahkan berhari-hari dan tak jarang harus begadang agar dapat menyelesaikan satu topik tulisan.

Tabe mardongan tangiang,

St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)- 08129052462.

Saat ini kami keluarga besar Pomparan Op. Paralatan Sitorus (Lumban Tongatonga – Silamosik) yang berdomisili di Jabodetabek sedang bergumul untuk meyakinkan anak kami Benny Sitorus agar rencana pernikahannya dapat berlangsung secara adat Batak. Tidak dapat dipungkiri bahwa pergumulan kami ini juga dialami oleh para orangtua yang anaknya telah lahir dan besar di tanah perantauan (misal Jabodetabek), dimana secara umum saat ini para pemuda/i Batak mulai mengkritisi makna adat Batak dalam pernikahan, bahkan tidak jarang disertai argumen akan kalkulasi biaya dimana berdasarkan pemahaman mereka pernikahan adat Batak tidak efisien dan cenderung pemborosan dengan asumsi sejumlah biaya yang harus dikeluarkan tersebut bila dimaamfaatkan sudah bisa menjadi uang muka (DP) untuk pembelian rumah.

Sebagai keluarga yang masih muda saya pribadi dapat menerima argumen mereka, namun saya juga punya kewajiban untuk menjelaskan kepada mereka apa itu adat Batak dan apa mamfaatnya.
Oleh karenanya saya berencana melalui tulisan memberikan pencerahan kepada generasi muda tentang pernikahan adat Batak, mamfaat serta konsekuensinya bila tidak menikah secara adat Batak.
Sementara saya sedang mencoba merangkai kata-kata dan membuatnya dalam bentuk tulisan, tiba-tiba di Facebook grup HATA BATAK (Partungkoan) anggidoli Freddy Bahara Hutajulu bertanya dan meminta masukan dari saya akan hal yang sedang dihadapinya. Berikut korespondensi kami melalui Facebook :

Pembicaraaan 2

Apa kesimpulan dari korespondensi kami tersebut ?.
Seorang ibu yang telah berusia 80 tahun meninggal dunia, semua anak-anaknya (baik anak maupun boru) telah berumah tangga dan telah dikarunia cucu baik dari anak maupun boru. Dalam adat Batak maka seyogyanya status meninggal ibu tersebut Saur Matua (tidak ada lagi kedukaan karena sudah tidak ada beban hidup yang masih dipergumulkan). Yang dapat saya “tangkap” secara ekonomi (finansial) semua keturunan almarhumah mampu untuk melaksanakan adat Saur Matua, namun terbentur karena ternyata putera sulungnya yang sudah menikah dan dikaruniai anak ternyata belum mangadati (nikah secara adat Batak).
Oleh karena hal tersebut diatas maka selama anaknya belum mangadati (pasahat sulang-sulang pahompu kepada keluarga besar mertuanya) maka adat Saur Matua tidak akan bisa dilaksanakan dan nama cucunya almarhum ibu dari putera sulungnya tidak akan pernah bisa disandangnya bahkan di makamnya tidak ditulis Op…. (nama anak dari putera sulung tersebut). Bahkan yang paling mengerikan adalah putera sulungnya dan menantunya tidak boleh menerima ulos holong dari siapapun di acara adat pemakaman sang ibu, jika ingin menerima ulos maka hanya putera sulung tersebut tanpa didampingi istrinya. Kenapa demikian ? Karena secara adat Batak mereka belum menjadi suami isteri karena mereka belum pernah menerima Ulos Hela (Ulos Marhasohotan)
Prinsip dalam adat Batak : Na so manjalo adat ndang talup pasahathon adat, na so pasahathon adat ndang talup manjalo adat. (Yang belum melaksanakan rangkaian adat tidak layak menerima adat, yang belum menerima adat tidak layak melaksanakan adat).
Dalam hal yang kami bahas diatas maka putera sulung almarhumah tersebut belum mangadati, oleh karenanya mereka (sebagai suami istri) tidak layak menerima ulos holong dan acara adat meninggal bagi ibunya tidak boleh mencantumkan nama cucu (anak) dari si sulung.
Bagaimana menjembatani hal tersebut ? Harus membujuk pihak keluarga mertua si sulung agar bersedia memberikan “dispensasi” dengan janji akan segera mangadati. Tapi sesungguhnya betapa malunya kita harus minta “dispensasi” saat orangtua kita meninggal dunia agar layak menerima ulaon Saur Matua ?.
Ya, kalau pihak mertua berbesar hati dan mau, bila tidak ?.

Itulah contoh nyata yang akan kita alami bila kita menikah tidak secara adat Batak. Perihal argumen kaum muda tentang pemborosan, tidak efisien dan ribet, sesungguhnya hal itu karena apa yang mereka lihat adalah merujuk kepada pesta pernikahan orang Batak yang dilakukan di gedung-gedung besar dan mewah. Pada hakekatnya pesta adat pernikahan orang Batak akan sah bila pesta adat tersebut dihadiri oleh unsur Dalihan Natolu, paopat sihalsihal. Siapakah mereka tersebut ? Yakni Hulahula dohot Tulang(Parboru dan Tulang Pangoli -mertua ayah kita, serta Tulangnya ayah kita), Dongan Tubu (kelompok marga ayah kita), Boru (kelompok saudara perempuan ayah kita) dan dilengkapi Dongan Sahuta(termasuk aleale dan warga gereja). Tidak perlu banyak orang yang diundang dan sangat memungkinkan dilaksanakan dirumah, artinya sederhana dan tidak perlu mewah (besarnya seperti ungkapan syukur baptis anak maupun lepas sidi).
Lho… bagaimana dengan prosesi adat yang terkesan berteletele dan satu harian penuh ?. Sesungguhnya banyak hal yang dilaksanakan berupa “bumbu-bumbu” (lebih banyak bumbu daripada ikannya) sebagai contoh bila di gedung sering kita lihat ketika akan memberikan Ulos Hela ada grup penari, ada lagu khusus sebelum mandok hata (memberi petuah, doa dan harapan),setelah menerima Ulos Hela pengantin diiringi lagu berjalan membawa bunga atau buah kepada Tulangnya kedua mempelai (sesungguhnya hal ini tidak ada dalam budaya Batak), dan lain sebagainya. Dapat kita bayangkan jika dilakukan dirumah maka akan jauh lebih simpel dan hemat biaya.

Sekarang ini banyak orang Batak “napatealtealhon”, karena dilihatnya orang lain pesta digedung yang kapasitas 1.000 orang maka dia tak mau kalah dicarinya gedung yang lebih besar, bahkan konon ada yang sampai berhutang asalkan pernikahan anaknya terkesan wah dan meriah. Lebih hebatnya lagi ada orang Batak yang dengan bangga mengatakan ” ah naramean pesta pangoli ni anakta i maradu so hasiatan hundulan ni natorop jala godang na sodapotan sipanganon” (ah luar biasa ramenya pesta pernikahan anak kita, sampai-sampai orang tidak kebagian tempat duduk dan banyak yang tidak makan). Lho bukankah hal tersebut aib (hailaon) bagi keluarga tersebut ? Mengapa ? Karena mereka mengundang tamu tanpa mempersiapkan tempat dan makanan bagi tamu yang diundangnya. artinya mereka mempermalukan dirinya dengan mengundang jauh lebih banyak dibanding kemampuan atau yang mereka persiapkan. Lha yang terjadi kok malah bangga bercerita, kalau boleh saya katakan “bursik deh, malumaluin”.

Mari kita kembali ke makna yang sesungguhnya, ADAT DO NA METMET, ADAT DO NA BALGA. Sah tidaknya pernikahan adat Batak tidak ditentukan oleh wah dan meriahnya pesta, YANG PENTING dihadiri unsur Dalihan Natolu paopat sihalsihal.
Mari kita renungkan, apakah yang baik bagi kita. Saya tidak ingin memaksakan bahwa harus nikah secara adat Batak, tetapi saya mengingatkan jika kita mengaku orang Batak maka kita berkewajiban melestarikan budaya yang tidak bertentangan dengan keyakinan (agama dan kepercayaan) kita. Mari kita sesuaikan tanpa menghilangkan makna.

Semoga tulisan ini menjadi pencerahan bagi kaum muda Batak agar tidak memandang pernikahan adat Batak hanyalah sebuah pemborosan, tidak efisien dan berteletele.

Tangerang Minggu 16 Juni 2013, tabe mardongan tangiang.
St. Sampe Sitorus/br Sitanggang (A. Hitado Managam Sitorus)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 877 other followers

%d bloggers like this: